Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan tahun yang belum selesai
Nama itu menggantung di ruangan cukup lama sebelum ada yang bicara lagi.
Rani, yang sejak tadi diam mendengarkan sambil berpura-pura sibuk melipat jaket Dimas, akhirnya angkat suara. "Reza adiwangsa yang sama kayak di artikel marketeers tahun lalu? Yang disebut 'arsitek ekspansi agresif Vertex Group ke sektor kreatif'?"
Alya mengangguk pelan, matanya masih menatap ponsel di meja seperti berharap panggilan tadi hanya salah dengar.
"Delapan tahun," katanya, lebih ke dirinya sendiri. "Delapan tahun aku pikir dia udah lupa nama aku. Ternyata dia yang justru inget persis, sampai tau harus mulai dari mana buat hancurin aku."
Dimas duduk di kursi seberangnya, memilih kata-kata dengan hati-hati—ia belajar semalam bahwa Alya tidak butuh orang yang buru-buru menenangkan sebelum ia sendiri selesai memahami apa yang ia rasakan.
"Kenapa Studio Ruma?" tanya Dimas. "Dari semua klien kita, kenapa dia mulai dari situ?"
Alya menghela napas panjang. "Karena Ruma itu bukti hidup bahwa aku bisa bangun sesuatu tanpa dia. Pak Broto itu klien pertama aku setelah keluar dari Werkstatt—orang yang percaya sama aku waktu aku bahkan belum punya kantor, cuma modal laptop dan portofolio yang nyaris bikin aku dituntut. Kalau Reza berhasil rebut Ruma, itu bukan cuma soal bisnis buat dia. Itu kayak dia mau buktiin: apa pun yang Alya bangun, cepat atau lambat, Reza bisa ambil lagi."
"Itu personal," kata Rani pelan, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.
"Sangat personal," Alya mengangguk. "Dan itu masalahnya. Kalau ini cuma soal bisnis, aku tau cara ngelawannya—kita udah bahas semalam, fokus ke hubungan, bukti nyata, bukan angka proposal. Tapi kalau Reza main di level personal, dia bisa lakuin hal-hal yang nggak akan dilakuin kompetitor bisnis biasa."
"Contohnya?" tanya Dimas.
Alya diam sebentar, seperti menimbang seberapa jauh ia siap membuka luka lama pagi ini.
"NDA yang aku tanda tangan waktu keluar dari Werkstatt," katanya akhirnya, "salah satu klausulnya larang aku pake nama atau logo apa pun yang mirip identitas visual yang aku buat waktu di sana, seumur hidup, di mana pun aku kerja berikutnya. Waktu itu aku pikir klausul itu konyol, nggak akan pernah relevan lagi. Tapi kalau Reza sekarang cek ulang portofolio Alinea, dan nemu kemiripan apa pun—bahkan yang nggak sengaja—dia punya dasar hukum buat nuntut kita. Bukan cuma rebut klien. Tuntutan pelanggaran NDA bisa bikin Alinea tutup dalam sebulan, sebelum kita sempat bela diri di publik."
Ruangan itu hening. Dimas merasakan sesuatu yang berbeda dari kepanikan semalam—ini bukan lagi soal strategi bisnis biasa, kompetitor yang menawarkan harga lebih murah. Ini seseorang yang tahu persis di mana titik lemah Alya, dan sudah menyiapkan senjata itu bertahun-tahun sebelum saat yang tepat.
"Kita butuh pengacara," kata Dimas akhirnya. "Bukan besok, sekarang. Sebelum Reza sempat gerak lebih jauh dari sekadar tawaran ke klien."
"Aku kenal orangnya," kata Rani tiba-tiba, membuat Dimas dan Alya menoleh bersamaan. "Kakak sepupu saya, Mbak Tantri, praktik hukum korporat khusus sengketa kekayaan intelektual dan kontrak kerja. Kantornya di Kuningan. Saya bisa hubungi sekarang, minta waktu ketemu hari ini juga."
Alya menatap Rani lama, seperti baru sadar seberapa banyak yang tidak ia ketahui soal asisten mudanya ini. "Kamu nggak pernah cerita soal itu."
"Nggak pernah kepikiran relevan," Rani mengangkat bahu, meski nada suaranya menunjukkan ia cukup bangga bisa membantu di momen seperti ini. "Sampai sekarang."
Mbah Tantri atau lebih formalnya, Tantri Wibisono, S.H., M.Kn., seperti yang tertulis di kartu nama yang ia sodorkan siang itu di kantornya yang penuh rak buku hukum membaca salinan NDA yang berhasil Alya temukan dari email lama, dengan ekspresi yang tak berubah selama sepuluh menit penuh.
"Klausul non-kompetisi identitas visual ini," katanya akhirnya, meletakkan kertas itu di meja, "secara hukum lemah, tapi bukan berarti nggak berbahaya. Yang berbahaya bukan klausulnya menang di pengadilan—kemungkinan besar nggak akan menang, karena batasan 'seumur hidup' itu sendiri biasanya dianggap nggak masuk akal secara hukum ketenagakerjaan. Yang berbahaya itu prosesnya. Gugatan kayak gini bisa makan waktu satu sampai dua tahun buat selesai, dan selama itu, nama Alinea bakal terus disebut 'sedang dalam sengketa hukum' setiap kali ada klien baru cek reputasi kalian."
"Jadi mereka nggak perlu menang," kata Alya pelan. "Mereka cuma perlu bikin kita keliatan bermasalah cukup lama."
"Persis," kata Tantri. "Itu taktik yang sering dipakai perusahaan modal besar lawan kompetitor kecil. Bukan menang di substansi, tapi menang di daya tahan."
Dimas mencondongkan badan. "Jadi apa yang bisa kita lakuin?"
Tantri menatap mereka bertiga bergantian, lalu tersenyum tipis—senyum yang menurut Dimas terlalu tenang untuk situasi seburuk ini, tapi justru itu yang membuatnya sedikit lega.
"Ada dua pilihan," katanya. "Kalian tunggu sampai mereka betulan gugat, baru kita lawan di pengadilan itu makan waktu dan bikin nama kalian tersandera lama. Atau," ia berhenti sebentar, "kalian duluan yang gerak. Ajukan somasi balik, tuduh Vertex Capital dan Reza adiwangsa secara pribadi atas percobaan gangguan bisnis yang nggak sehat—unfair business interference—berdasarkan bukti pendekatan sistematis ke klien-klien kalian dalam waktu berdekatan. Itu nggak cuma pertahanan. Itu bikin mereka yang harus mikir dua kali sebelum lanjut, karena sekarang mereka juga punya risiko hukum kalau maju terus."
Alya menatap Dimas, lalu Rani, sebelum kembali ke Tantri.
"Berapa lama kita punya waktu buat mutusin?" tanyanya.
Tantri melirik kalender di mejanya. "Kalau Reza udah kirim kontrak resmi ke Pak Broto kemarin sore, kemungkinan besar dia juga udah siapin langkah ke baswara dan Kanaya minggu ini. Saya sarankan—" ia menatap Alya lurus, "kalian putuskan sebelum akhir minggu. Karena kalau ini bener personal buat Reza, kayak yang kalian bilang, dia nggak akan nunggu kalian siap."