NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - AKU HANYA MERINDUKANMU

Suara langkah Wulan nyaris tak terdengar di koridor yang sunyi itu. Berdiri di hadapan pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, ia mendadak bingung harus berbuat apa — pagi ini kepalanya panas dan kakinya berlari tanpa pikir panjang; kini, ketika tujuan sudah berada di depan mata, keberanian itu justru tinggal separuh.

Sebuah suara yang agak dingin tiba-tiba mengalun dari dalam kamar. "Siapa itu?" Nada suaranya pendek, tegas, tanpa basa-basi — khas orang yang tidak menyukai gangguan.

Keraguan kecil di hati Wulan lenyap dibasmi suara itu. Sudah terlanjur datang; mustahil baginya berbalik pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Bagaimanapun, hari ini justru ia yang datang menuntut keinginannya sendiri.

Meskipun Kesultanan memiliki kebiasaan bahwa pria dan wanita tidak boleh bertemu sebelum menikah, Wulan tidak bisa menahan debar jantungnya. Lagi pula, ia sudah terbiasa berkulit tebal, jadi dicoba saja. Ia mengulurkan tangan dan mendorong pintu hingga terbuka, lalu melangkah masuk dengan tenang. Lagi pula, ia tidak datang sejauh ini hanya untuk berdiri di ambang pintu dan menyerah. Ia melangkah maju, tegak dan yakin.

Nalendra mendengar suara dari arah pintu dan mendongak dengan ringan. Saat matanya bertemu dengan mata gelap Wulan, jejak keterkejutan melintas di wajahnya. "... Wulan?" Ia jelas tidak menyangka pengunjungnya adalah gadis yang tiga hari lagi akan dinikahinya itu. Ia yang biasa menguasai segala hal, untuk sesaat kehilangan kata-kata.

"Hm." Wulan menjawab, dan sambil berjalan mendekat, ia dengan cepat melirik tata letak ruang kerja ini — gulungan kaligrafi dan lukisan di dinding, pena dan tinta yang tertata rapi di atas meja. Semuanya tidak berbeda dengan tata letak di kehidupan lampau, seolah waktu tidak pernah berjalan di tempat ini. Semuanya terasa seperti hari-hari yang dulu ia lalui bersama.

Nalendra sedikit mengernyit dan tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatapnya dengan dingin, seolah ingin melihat trik apa yang akan dilakukan gadis di hadapannya kali ini. Selama ini Wulan selalu menghindar darinya — kedatangannya hari ini pasti menyimpan sesuatu.

Wulan dengan tenang duduk di sampingnya. Ia melirik teko keramik ungu di atas meja dari sudut matanya, lalu tiba-tiba bertanya, "Ada air?" Kepolosannya membuat suasana yang tadinya kaku sedikit melunak. Pertanyaan itu keluar dengan nada santai, seperti kebiasaan kecil yang sudah lama tertanam di antara mereka.

Nalendra tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Setelah mendengar pertanyaannya, ia hanya terdiam beberapa saat, meletakkan kuas lukis di tangannya, lalu menuangkan secangkir teh panas untuknya. Gerakannya tenang, tetapi perhatiannya tersembunyi di balik sikap dinginnya yang biasa.

Wulan mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir teh itu dan membawanya ke bibirnya tanpa banyak berpikir.

Sebelum teh menyentuh bibirnya, sebuah tangan dengan persendian yang tajam mencegat cangkir teh itu. Wulan tidak tahu mengapa dan tanpa sadar mengangkat kepalanya untuk melihat Nalendra.

Nalendra mengambil cangkir teh dari tangannya dan meletakkannya di atas meja di depannya, lalu menunduk dan berkata dengan tenang, "Panas. Biarkan dingin dulu sebelum kau meminumnya." Suaranya datar, tetapi ada kelembutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Sudut bibir Wulan sedikit melengkung, dan ia duduk lebih dekat dengannya, berani — sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di kehidupan lampau. Sekarang ia tahu betul betapa berharganya momen seperti ini. Di dunia ini hanya segelintir orang yang berani duduk sedekat ini di samping Panglima Senja. Napasnya sendiri terasa berat, namun dadanya justru tenang — aneh, dan menyenangkan.

Nalendra melihat tingkah lakunya yang tidak normal, dan ekspresi terkejut di matanya semakin dalam. Gadis ini sungguh berbeda dari yang ia kenal.

"Apakah kau sudah sarapan?" tanya Nona Ketujuh tanpa sedikit pun merasa malu, seolah pertanyaan itu adalah hal yang paling biasa di dunia.

Nalendra tidak berkata apa-apa.

"Apakah kau ingin keluar jalan-jalan?" Nona Ketujuh melanjutkan dengan nada ringan, seakan ajakan itu hanya untuk menghabiskan waktu kosong.

Nalendra masih tidak berbicara. Namun di dalam hatinya, ia semakin bingung dengan kelakuan gadis ini. Jika mata bisa berbicara, Wulan yakin pria itu sedang menuliskan seribu pertanyaan di dalam benaknya.

"Jangan diam saja." Nona Ketujuh tidak putus asa. Semakin ia diabaikan, semakin ia memaksa untuk mendapat perhatian.

Nalendra menatapnya seperti orang yang melihat hantu, seolah tidak percaya bahwa ini benar-benar Wulan yang dulu selalu menghindarinya.

"Kenapa kau menatapku seperti ini?" Nona Ketujuh menyatakan dirinya tidak bersalah, dengan mata yang berbinar polos.

Akhirnya, Nalendra menghela napas rendah, sedikit menolehkan kepalanya, dan berkata tanpa daya, "Wuri, berhentilah membuat masalah." Ada nada pasrah di suaranya, seperti orang tua yang tak sanggup menghadapi anak manjanya.

Panggilan yang sudah lama hilang itu keluar dari mulutnya, dan hati Wulan bergetar. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Nalendra memanggilnya seperti itu. Ia menjadi linglung sejenak, membiarkan kata itu menggantung di udara, terasa akrab dan hangat. Dulu panggilan itu selalu ia terima dengan gembira; kemudian ia sendiri yang menjauh, dan sejak saat itu tak ada lagi yang berani menyebutnya begitu.

"Aku tidak membuat keributan." Setelah sadar kembali, Wulan mendekat lagi dengan enggan, seolah tidak ingin kehilangan satu inci pun jarak di antara mereka. Ia ingin terus dekat, sampai dingin di wajah itu perlahan mencair oleh hangatnya kehadirannya.

Nalendra menatapnya dengan saksama untuk beberapa saat, dengan sedikit ketidakberdayaan di alisnya yang terlalu indah. "Wuri, sudah kukatakan sebelumnya — jika kau tidak ingin menikah denganku, aku bisa meminta Sultan mencabut dekret itu. Tetapi jika kau masih ingin menikahi Pangeran Cendana, masalah ini..." Kata-katanya tidak selesai, tetapi di dalamnya tersimpan kehati-hatian yang menyakitkan.

Wulan menyela sebelum ia selesai berbicara, "Siapa yang berkata aku tidak ingin menikah denganmu?" Ia mengangkat alisnya, seolah menantang seluruh isi dunia yang mencoba meragukan keputusannya.

Nalendra melihat ekspresi gadis yang murah hati itu, alisnya masih sedikit mengernyit. "Lalu kenapa kau seperti ini hari ini?" Ia tidak bisa membaca perubahan yang terjadi sekaligus.

"Yah..." Wulan merenung sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan tenang. "Aku hanya merindukanmu. Tidak bisakah aku datang dan menemuimu?" Pertanyaan itu sederhana, tetapi jatuh dengan berat di hati Nalendra. Untuk pertama kalinya, ia berkata jujur tentang isi hatinya di hadapan pria ini.

Nalendra terkejut. Tidak satu kata pun mampu keluar dari bibirnya.

Dia yang selalu tenang itu kehilangan kata-kata untuk sesaat.

Jawaban tak terduga ini sungguh mengejutkannya. Di antara ribuan kemungkinan yang ia kira, tidak ada satu pun yang sedapat ini. Seperti petir yang menyambar langit tenang di musim kemarau, jawaban itu mengubah segalanya.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!