NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Pahlawan

Keira baru menyadari ada orang lain ketika sebuah botol air diletakkan di sampingnya.

"Pak Kaizan?"

Sosok di sudut gelap tidak menjawab. Topi dan masker menutup wajahnya, sedangkan kedua tangannya berada di balik jas. Hanya napas berat yang terdengar.

Pintu di sisinya kembali terbuka sebelum lampu kabin menyala.

"Bos," kata Moreno dari luar. "Tim investigasi membutuhkan pernyataan awal Anda di pusat operasi."

Pria itu berhenti sepersekian detik, lalu turun melalui pintu sebelah. Keira hanya melihat garis bahu dan langkah cepatnya menjauh.

"Katanya mau bertemu saya," ujar Keira.

"Dia melihat kondisi Anda dan memutuskan debrief keselamatan lebih penting," jawab Moreno. "Mobil ini akan membawa Anda ke ruang kru."

Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi setidaknya tidak memaksa Keira berbicara saat tubuhnya masih gemetar.

Dia mengambil botol air. Tutupnya sudah dilonggarkan satu putaran, kebiasaan kecil yang biasa dilakukan Kai ketika tahu telapak tangannya lelah.

Keira menatap pintu yang baru tertutup.

"Ko Moreno, Kai ada di mana?"

Moreno menjaga wajah tetap tenang. "Terakhir saya tahu, dia sedang menyelesaikan urusan kerja."

Jawaban itu membuat rasa akrab di dalam mobil terasa semakin mengganggu.

Debrief berlangsung hampir tiga jam. Data penerbangan disegel, suara kokpit diamankan, dan seluruh kru memberi laporan terpisah agar ingatan mereka tidak saling memengaruhi. Keira hanya menyampaikan apa yang dia lihat, dengar, dan lakukan. Dia tidak menyimpulkan penyebab teknis di luar kewenangannya.

Pemeriksaan awal mengonfirmasi kerusakan fisik pada mesin kanan yang sesuai dengan dugaan bird strike. Kesimpulan resmi tetap menunggu investigasi otoritas dan pabrikan.

Menjelang malam, NusAir menerbangkan kru kembali ke Jakarta dengan penerbangan penempatan lain. Keira tidur hampir sepanjang perjalanan. Ketika ponselnya dinyalakan setelah mendarat, layar dipenuhi ratusan pesan.

Video FK980 berhenti di landasan sudah beredar luas. Tagar tentang penerbangan perdana, pendaratan satu mesin, dan first officer perempuan NusAir berada di daftar teratas. Beberapa akun menyebut Keira pahlawan langit. Akun lain memotong foto seragamnya dari unggahan lama Kevin.

Kevin mengirim pesan singkat: Saya tidak akan mengunggah apa pun tentangmu tanpa izin. Selamat sudah membawa semua orang pulang.

Vera mengirim tujuh belas pesan suara. Keira hanya mendengar yang pertama.

"Keira, jawab sekarang atau aku datangi semua bandara di Jakarta!"

Keira membalas dengan foto tangannya memegang air dan kalimat, Aku aman. Besok aku telepon.

Keesokan pagi, NusAir mengadakan konferensi pers terbatas di kantor pusat. Tim investigasi tidak mengizinkan spekulasi teknis. Perusahaan hanya mengonfirmasi 128 penumpang dan enam awak selamat tanpa cedera, pesawat diamankan, serta data diserahkan kepada otoritas.

Keira berdiri bersama kapten dan kepala awak kabin, bukan sendirian di depan logo perusahaan.

"Apakah Anda yang menyelamatkan pesawat?" tanya seorang wartawan.

"Tidak ada satu orang menyelamatkan pesawat komersial sendirian," jawab Keira. "Kapten mempertahankan kendali, awak kabin menjaga penumpang, pengatur lalu lintas memberi prioritas, dan tim darat menyiapkan landasan. Saya menjalankan tugas first officer sesuai latihan."

"Anda tidak takut?"

"Takut. Tapi ketakutan tidak boleh mengambil giliran sebelum checklist selesai."

Kalimat itu masuk ke banyak judul berita.

Setelah konferensi, bagian pelatihan menerbitkan audit lengkap seleksi FK980. Hasil anonim yang telah dikunci menunjukkan Keira tetap peringkat pertama dengan nilai 94,6, tanpa penyesuaian setelah insiden. Prestasi seleksi dan tindakan saat darurat berdiri sebagai dua bukti terpisah.

Kapten Hendra menyerahkan plakat keselamatan sementara kepada seluruh kru. "Ini penghargaan internal, bukan kesimpulan investigasi. Jangan biarkan media membuat kalian lupa istirahat."

Keira memeluk plakat itu. "Siap, Kapten."

Di ruang kosong setelah acara, dia menelepon Meilin melalui video.

Wajah ibunya muncul dengan mata bengkak. "Mama baru tahu dari berita. Kenapa tidak menelepon semalam?"

"Aku sedang debrief dan ketiduran di pesawat pulang."

"Mama menelepon dua puluh tiga kali."

"Ponselku disimpan selama pemeriksaan. Maaf."

Meilin memeriksa wajah putrinya dari layar. "Ada yang sakit?"

"Tidak. Cuma lelah."

"Tunjukkan tanganmu."

Keira mengangkat kedua tangan, lalu berdiri agar ibunya melihat dia bisa berjalan normal. Barulah bahu Meilin turun.

"Semua orang bilang kamu pahlawan," kata Meilin.

"Aku bagian dari kru yang bekerja benar."

"Bagus. Tetap begitu. Terima pujiannya, tapi jangan ambil milik orang lain. Dan jangan mengecilkan bagianmu sendiri."

Keira tersenyum. "Nilai seleksiku juga pertama, Ma."

Tangis Meilin akhirnya jatuh. "Papa kamu tidak pernah tahu apa yang dia tinggalkan."

Kebahagiaan Keira sempat tersentuh luka lama, lalu ibunya segera menggeleng.

"Tidak usah bicara tentang dia. Kapan kamu pulang ke Bandung? Mama masak yang kamu suka."

"Setelah jadwal tenang. Janji."

Malamnya, pintu apartemen terbuka pada aroma sup ayam jahe, tumis sayur, dan nasi hangat. Kai berdiri di dapur memakai celemek lama Keira. Jam biru masih melingkar di pergelangannya.

Keira berhenti di ambang pintu. "Kamu tidak datang ke bandara."

"Aku baru selesai urusan."

"Di Jakarta?"

Jeda itu sangat pendek, tetapi Keira menangkapnya.

"Aku sempat keluar kota."

"Ke mana?"

"Surabaya."

Keira teringat pria bertopi di mobil CEO, botol yang tutupnya sudah dilonggarkan, dan siluet bahu dekat landasan.

Kai mendekat. "Kamu baik-baik saja?"

Semua pertanyaan menunggu di ujung lidahnya. Namun begitu Kai membuka tangan, tubuh Keira bergerak lebih dulu. Dia memeluk pinggang pria itu dan menempelkan wajah ke dadanya.

Detak jantung Kai terlalu cepat.

"Aku takut," bisik Keira. "Setelah selesai, aku benar-benar takut."

Kai menutup kedua lengan di punggungnya. "Aku tahu."

"Dari mana?"

"Karena aku juga takut."

Mereka berdiri lama di dekat pintu, ditemani Mochi yang duduk menempel pada kaki Keira.

Setelah napasnya tenang, Kai menarik kursi dan menyendokkan sup ke mangkuk.

"Makanlah, kamu pasti lelah."

Tidak ada hadiah mahal atau pesta. Hanya makan malam rumah, obat sakit kepala di dekat gelas, dan laki-laki yang mengupas jahe terlalu tebal karena tangannya masih sedikit gemetar.

Keira makan sampai mangkuknya kosong.

Ketika Kai mengambil mangkuk, Keira menahan pergelangan tangannya. "Kamu ada di Juanda, kan?"

"Iya."

"Dekat mobil Pak Kaizan?"

Kai tidak menarik tangan. "Moreno membawaku ke area operasi setelah pesawat berhenti."

"Kenapa?"

"Karena aku memintanya. Aku harus memastikan kamu selamat."

Jawaban itu menjelaskan keberadaan Kai, tetapi tidak menjelaskan bagaimana seorang pencari kerja dapat memasuki area darurat bersama asisten direktur utama.

"Kamu yang ada di dalam mobil?"

Tatapan mereka bertahan. Kaizan bisa mengakhiri semuanya saat itu.

"Aku ada di sana," katanya akhirnya.

"Kenapa tidak bicara?"

"Kalau aku bicara sebagai Kai, semua orang di luar akan bertanya kenapa aku berada di mobil CEO. Aku tidak ingin identitasku mengalihkan perhatian dari kondisimu."

Keira melepas tangannya perlahan. "Identitas yang mana?"

"Kei."

"Lusa," kata Keira. "Setelah acara pembukaan, kamu jelaskan semuanya. Tidak ada `segera` lagi."

Kaizan mengangguk. "Lusa."

Untuk pertama kalinya, batas waktu rahasia itu diucapkan oleh mereka berdua.

Saat dia mandi, ponsel Kaizan menerima pesan dari Moreno.

Bos, lusa acara pembukaan. Kamu yakin mau pakai cara itu buat dia tahu?

Kaizan menatap pintu kamar mandi, lalu mengetik jawaban.

Nggak ada cara yang lebih baik lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!