NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Pengakuan Joko

Pukul empat lewat dua belas pagi, Joko Prabowo duduk di ruang pemeriksaan Polrestabes Surabaya dengan tangan kanan dibalut tebal.

Wajahnya pucat.

Matanya cekung.

Borgol di tangan kirinya terhubung ke cincin meja.

Adira duduk di depannya tanpa menaikkan suara.

Bambang berdiri di sudut, memegang map barang bukti.

Arka berada di ruang observasi di balik kaca satu arah. Jaket robeknya sudah masuk kantong bukti. Di tubuhnya sekarang hanya kemeja pinjaman dari gudang Satreskrim, kebesaran sedikit di bahu.

Ia belum tidur.

Kepalanya berat.

Tetapi matanya tidak bisa lepas dari Joko.

Di meja pemeriksaan, Adira meletakkan satu foto.

Freezer peti.

Lalu foto kedua.

Gergaji tulang elektrik.

Foto ketiga.

Empat belas kantong hitam.

Joko menatapnya, lalu memalingkan wajah.

"Saya mau pengacara," katanya serak.

"Hak Anda dicatat," jawab Adira. "Penyidik sudah menawarkan pendamping hukum. Anda menolak menandatangani karena tangan sakit. Kami siapkan berita acara. Sekarang saya hanya bertanya: perempuan itu siapa?"

Joko diam.

Adira mendorong foto meja potong stainless ke depan.

"Kami punya CCTV kamu keluar dari cold storage. Kami punya alat potong. Kami punya kantong plastik yang sama. Kami punya darah di drainase. Kami punya pisau daging yang kamu pakai menyerang petugas."

Bambang membuka map. "Dan kami punya saksi Pak Marto."

Joko tertawa pendek. "Saksi tua itu tidak tahu apa-apa."

"Benar," kata Adira. "Dia tidak tahu kamu memotong tubuh manusia di ruang sewa. Itu sebabnya dia bukan tersangka utama. Kamu iya."

Rahang Joko bergerak.

Arka melihat jari kiri Joko mengetuk meja.

Tidak beraturan.

Marahnya bercampur takut.

Takut.

Adira menurunkan suara. "Nama korban."

"Saya tidak ingat."

Adira mengambil foto potongan panggul dan dada yang sudah disusun di IKF. Tidak vulgar. Cukup untuk menunjukkan bahwa tubuh itu pernah manusia utuh.

"Kalau kamu tidak ingat namanya, kami akan cari sendiri. Tapi kepala dan tangan belum ditemukan. Kamu tahu di mana."

Joko menutup mata.

Balutan di tangan kanannya bergetar.

"Saya tidak mau mati ditembak," katanya tiba-tiba.

Bambang mendengus. "Tadi di gang kamu yang bawa pisau."

"Saya panik!"

Adira tidak terpancing. "Nama."

Hening.

Jam dinding berdetak tiga kali.

Akhirnya Joko berkata, "Dewi. Dewi Anggraini."

Arka menegakkan tubuh di balik kaca.

Adira tidak berkedip. "Umur?"

"Tiga puluh delapan. Dia... dia kenal saya dari pasar. Kadang pesan daging murah."

"Kapan terakhir bertemu?"

"Tiga minggu lalu."

"Di mana kamu membunuhnya?"

Joko menarik napas, lalu menunduk. "Di cold storage."

Bambang menulis cepat.

Adira bertanya satu per satu.

Ia menekan tanpa perlu berteriak.

Dengan ritme pisau kecil.

Kapan Dewi datang.

Siapa yang menghubungi.

Apa alasan dipanggil.

Kapan dipukul.

Alat apa yang dipakai.

Kapan tubuh dibekukan.

Kapan dipotong.

Kapan dibuang.

Joko menjawab makin lama makin pelan.

Ia mengaku memukul Dewi dari belakang dengan besi pendek setelah cekcok soal uang. Ia panik saat Dewi tidak bergerak. Ia menyimpan tubuh di freezer peti tiga hari. Setelah berita orang hilang mulai beredar di lingkungan pasar, ia memotong tubuh itu dengan gergaji tulang elektrik dan membuangnya bertahap di sekitar gudang logistik Rungkut.

Adira meletakkan pena. "Kepala dan tangan."

Joko menatap meja.

"Tong plastik biru. Saya masukkan kepala dan dua tangan ke dalam. Saya tambah semen."

"Di mana?"

"Kolam bekas tambang. Dekat perbatasan Sidoarjo. Orang sana bilang danau mati."

Bambang mengangkat wajah.

Adira berkata, "Titik pastinya."

Joko menyebut jalan, belokan, dan tanda warung tua.

Bambang langsung keluar untuk menyiapkan tim.

Di ruang observasi, Arka menulis cepat di buku kecil.

Dewi Anggraini.

Kepala dan tangan dalam drum plastik biru.

Semen.

Kolam bekas tambang.

Ia seharusnya merasa lega.

Pengakuan pertama sudah keluar.

Identitas korban punya jalan.

Tetapi panel dari gang tadi masih terpasang di kepalanya.

[Indikasi: 2 orang atau lebih]

Adira menoleh ke kaca satu arah, seolah tahu Arka masih belum puas.

Lima menit kemudian, ia keluar dari ruang pemeriksaan.

"Dok," katanya pelan. "Kamu dengar semuanya?"

"Dengar."

"Ada yang tidak cocok?"

Arka menatap pintu ruang pemeriksaan. "Cocok untuk Dewi. Tapi belum tentu cocok untuk semua jejak di cold storage."

Adira diam.

Bambang yang baru kembali berhenti di ambang pintu. "Maksudmu?"

"Dia menjelaskan freezer, alat, pembuangan, kepala dan tangan. Tapi cold storage itu terlalu bersih untuk orang panik yang baru sekali melakukannya. Dan alatnya punya jejak penggunaan lebih dari satu pola."

"Kamu yakin?" tanya Bambang.

Arka mengusap mata yang terasa panas.

"Belum. Saya butuh lihat sampel lagi. Drainase, gergaji, kontainer."

Adira menatap jam. "Kamu sudah kerja lebih dari satu hari."

"Kalau saya tidur sekarang, sampel tetap menunggu. Kalau ada korban kedua, keluarganya juga menunggu."

Bambang menghela napas. "Keras kepala."

"Profesional," koreksi Arka.

"Keras kepala profesional."

Adira tidak tersenyum. "Saya beri dua jam. Setelah itu kamu tidur."

"Siap."

Pukul lima lewat tiga puluh, Arka kembali ke IKF.

Ruang autopsi sudah lebih sepi. Dr. Suherman duduk di meja administrasi dengan kopi hitam yang sudah dingin.

"Kamu belum tidur?" tanyanya.

"Belum, Dok."

"Saya juga belum. Kita tidak sedang berlomba."

Arka memakai jas pelindung baru. "Saya mau cek sampel cold storage."

Suherman berdiri. "Yang mana?"

"Swab drainase, residu dari gergaji, cairan lipatan kontainer."

Suherman tidak bertanya panjang. Ia hanya mengambil sarung tangan.

"Baik. Kita cek."

Kata kita membuat Arka berhenti sesaat.

Dulu Suherman berkata, jangan sentuh.

Sekarang ia berkata, kita cek.

Mereka membuka kotak sampel satu per satu.

Arka memeriksa foto dokumentasi dulu, baru wadah fisik. Swab drainase diberi kode D2-DRN-04. Residu gergaji berkode D2-SAW-02. Cairan kontainer berkode D2-CON-03.

Ia mengarahkan lampu kecil ke ujung swab.

Sistem tidak langsung muncul.

Ia pindah ke residu gergaji.

Panel abu-abu berkedip, lalu hilang.

Ia pindah ke sampel cairan dari lipatan kontainer.

Kali ini warna oranye muncul.

Warnanya tidak merah.

Warnanya tidak kuning.

Warnanya juga tidak abu-abu.

Oranye, seperti peringatan yang tidak mau berteriak tetapi juga tidak mau diam.

[DNA residu di gudang dingin]

[Tidak sesuai dengan korban kasus ini]

[Indikasi: korban lain]

Arka merasakan kulit kepalanya menegang.

"Arka?" Suherman bertanya.

Arka menunduk lebih dekat, seolah menemukan sesuatu pada sampel.

"Dok, sampel kontainer ini harus diprioritaskan untuk DNA."

"Kenapa?"

"Cairannya berbeda. Warna dan konsistensinya tidak sama dengan cairan dari kantong Dewi. Bisa kontaminasi lama. Bisa dari sumber biologis lain. Kita tidak boleh gabungkan asumsi."

Suherman mengambil kaca pembesar dan melihat. "Kamu mau pisahkan profil?"

"Ya. Swab ulang bagian lipatan kontainer. Juga drainase bawah meja potong. Jangan hanya cocokkan ke Dewi. Minta lab cek kemungkinan profil campuran."

Suherman diam beberapa detik.

Lalu ia berkata, "Kamu pikir Joko punya korban lain."

Arka tidak menyangkal.

"Saya pikir cold storage itu belum selesai bicara."

Ponsel Arka bergetar.

Pesan dari Adira.

Tim penyelam siap bergerak jam sepuluh. Lokasi kolam sudah diamankan.

Arka membaca pesan itu, lalu menatap sampel kontainer.

Ia mengetik balasan singkat.

Bu, setelah Dewi ditemukan, jangan tutup perkara dulu. Saya minta izin prioritaskan DNA tambahan dari cold storage.

Balasan Adira datang hampir langsung.

Alasan?

Arka menatap panel oranye yang masih menyala.

Ia tidak bisa menulis itu.

Maka ia menulis hal yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ada residu biologis pada kontainer yang tidak konsisten dengan sampel utama. Perlu verifikasi sebelum BAP final.

Tiga detik.

Lima detik.

Lalu Adira menjawab.

Saya anggap kamu delapan puluh persen yakin.

Arka hampir tertawa, tetapi terlalu lelah.

Ia membalas.

Belum sampai delapan puluh. Tapi cukup untuk tidak diabaikan.

Adira menjawab satu kata.

Proses.

Arka meletakkan ponsel.

Di depannya, sampel kecil itu terlihat tidak berarti.

Hanya noda dalam lipatan kontainer plastik.

Tetapi bagi sistem, noda itu adalah pintu kedua.

Dewi Anggraini baru mulai mendapatkan namanya kembali.

Dan di balik namanya, ada seseorang lain yang belum ditemukan.

Joko Prabowo sudah mengaku.

Masalahnya, pengakuan seorang pembunuh sering hanya sebesar dosa yang ia kira sudah diketahui polisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!