NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penagihan janji yang kasar

Tiga hari setelah insiden pelarian Alya, suasana di rumah orang tua Alika tidak lagi mencekam, melainkan berubah menjadi horor yang nyata. Pagi itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pagar rumah. Pak Broto turun dengan setelan jas yang tampak terlalu sesak untuk tubuh tambunnya. Ia tidak datang sendiri; dua pria berbadan tegap dengan wajah kaku mengikuti di belakangnya.

Ayah Alika yang wajahnya masih pucat karena tekanan darah tinggi, mencoba menyambut di teras. Namun, Pak Broto tidak membalas jabatan tangan itu. Ia langsung melangkah masuk ke ruang tamu tanpa dipersilakan, duduk di sofa utama, dan menyalakan cerutu.

"Mana Alya?" tanya Pak Broto. Suaranya berat dan serak, langsung pada inti persoalan.

"Dia... dia sedang menenangkan diri di rumah adiknya, Pak Broto. Anak muda sekarang memang agak keras kepala," jawab Ayah dengan nada suara yang bergetar. Ia berusaha tetap terlihat tenang, meski keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Pak Broto tertawa, tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Jangan bercanda dengan saya, Ahmad. Saya sudah setor uang muka lima ratus juta ke rekening perusahaanmu dua hari lalu. Itu bukan uang kecil. Itu uang kepercayaan. Kalau Alya tidak ada di sini hari ini untuk menandatangani berkas pranikah, saya anggap kamu sedang menipu saya."

Ibu Alika keluar dari dapur membawa nampan berisi teh, tangannya gemetar hebat hingga cangkir-cangkir itu berdenting pelan. "Silakan diminum dulu, Pak Broto. Kami sedang membujuk Alya agar segera pulang."

"Tidak perlu teh!" Pak Broto menggebrak meja kayu di depannya. Gelas teh itu berguncang, isinya tumpah membasahi taplak meja. "Saya tidak datang untuk minum. Saya datang untuk menjemput hak saya. Ahmad, kamu bilang anakmu itu penurut. Kamu bilang dia beda jauh dengan kembarannya yang nakal itu. Tapi apa ini? Dia kabur ke rumah laki-laki lain?"

"Farhan itu adiknya... maksud saya, suami dari kembarannya, Pak," bela Ayah lirih.

"Saya tidak peduli siapa dia! Mau dia suami, mau dia ustadz, saya tidak peduli!" Pak Broto berdiri, wajahnya memerah. "Dengar, Ahmad. Perusahaanmu itu sudah di ujung tanduk. Tanpa sisa uang dua miliar yang saya janjikan, besok pagi bank akan memasang plang penyitaan di depan rumah ini. Kamu mau jadi gelandangan di usia tua?"

Ibu Alika langsung menangis sesenggukan di sudut ruangan. Bayangan kehilangan rumah yang sudah mereka tempati selama tiga puluh tahun itu sangat mengerikan.

"Pak Broto, tolong beri kami waktu tiga hari lagi. Saya akan seret Alya pulang, kalau perlu saya ikat dia," kata Ayah, suaranya terdengar putus asa dan penuh kehinaan.

"Tidak ada tiga hari. Saya beri waktu sampai nanti malam pukul tujuh," Pak Broto menunjuk jam tangannya dengan kasar. "Kalau Alya tidak ada di rumah ini, atau kalau uang lima ratus juta itu tidak kembali utuh plus bunganya, dua orang saya ini akan tetap tinggal di sini. Mereka akan mulai menginventarisir barang-barangmu untuk saya angkut sebagai jaminan."

Dua pria tegap di belakang Pak Broto melangkah maju, berdiri di sisi pintu keluar, menutup akses bagi siapa pun untuk pergi. Mereka mulai melihat-lihat sekeliling rumah—menatap televisi besar, lukisan dinding, dan guci-guci pajangan—seolah-olah barang-barang itu sudah menjadi milik mereka.

"Kamu pikir saya main-main, Ahmad? Saya sudah menyiapkan kamar untuk Alya di rumah saya. Saya sudah memesan tiket bulan madu ke Singapura. Saya tidak suka dipermalukan oleh tukang bengkel dan anak kecil!" Pak Broto meludah ke lantai marmer ruang tamu, lalu melangkah keluar diikuti oleh ajudannya.

Begitu mobil Pak Broto menjauh, Ayah Alika ambruk ke kursi. Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Napasnya pendek-pendek.

"Telepon Alya... telepon Alika..." rintih Ayah pada istrinya.

Ibu segera mengambil ponsel dengan tangan yang masih gemetar. Ia menekan nomor Alika. Begitu sambungan diangkat, Ibu langsung berteriak histeris.

"Alika! Tolong Ayahmu! Pak Broto datang membawa preman! Dia mau menyita rumah ini nanti malam kalau Alya tidak pulang! Ayahmu pingsan, Alika! Cepat ke sini!"

Di seberang telepon, Alika yang sedang membantu Farhan merapikan alat-alat bengkel langsung terdiam. Ia menatap Farhan yang berdiri tak jauh darinya. Alika mematikan ponselnya dengan wajah pucat pasi.

"Ada apa?" tanya Farhan lugas.

"Pak Broto. Dia mengancam menyita rumah Ayah nanti malam kalau Alya tidak kembali. Ayah jatuh sakit," kata Alika. Suaranya tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh ketakutan.

Alika menatap suaminya. "Farhan, aku benci Ayah atas apa yang dia lakukan pada kita dan Alya. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka diusir seperti itu. Itu rumah satu-satunya yang mereka punya."

Farhan menghela napas panjang. Ia melepas sarung tangan kerjanya dan mencuci tangan di wastafel bengkel. "Siapkan dirimu. Kita ke sana sekarang. Bawa Alya juga. Kita tidak bisa terus lari. Masalah ini harus diputus akarnya hari ini juga."

Mereka bertiga berangkat dengan mobil Farhan. Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Alya terus menggenggam tasbih, bibirnya bergerak tanpa suara. Sementara Alika terus menatap ke luar jendela, memikirkan bagaimana cara menghadapi pria seperti Pak Broto yang punya uang dan kekuasaan untuk menghancurkan hidup keluarganya dalam semalam.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!