NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

"Ugh, l-lepaskan aku."

Dimas meronta hebat di udara sambil mencengkeram lengan kuat Sony.

Wajahnya mulai berubah menjadi ungu gelap karena kehabisan oksigen.

Mata Dimas mendelik ke atas hingga hanya memperlihatkan bagian putihnya saja.

Sony menatap pria malang itu tanpa ada ekspresi sedikit pun di wajahnya.

Bruk.

Sony tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh Dimas jatuh menghantam lantai kayu yang berdebu.

"Uhuk uhuk uhuk."

Dimas terbatuk dengan sangat keras sambil memegangi lehernya yang memerah parah.

Dia meraup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya dengan sangat rakus.

Air mata dan air liur bercampur menjadi satu menghiasi wajahnya yang sudah berantakan.

"Kau benar-benar berniat membunuhku, bajingan."

Dimas bergumam parau di sela-sela batuknya yang menyakitkan.

"Aku memang berniat membunuhmu malam ini, Dimas."

Sony perlahan berjongkok di depan Dimas dengan tatapan mata yang sangat tajam.

"Tapi melihatmu mati dengan cepat sepertinya terlalu menguntungkan untukmu."

Sony menepuk pelan pipi Dimas yang sudah basah oleh keringat dingin.

"Aku berubah pikiran sekarang."

Dimas mendongakkan kepalanya menatap Sony dengan sisa-sisa rasa takut di matanya.

"A-apa maumu sebenarnya dariku?"

"Kau sudah mengambil perusahaanku, uangku, dan rumah sakit milik keluargaku."

"Apa lagi yang tersisa dariku yang mau kau rampas sekarang?"

Dimas berteriak putus asa dengan suara yang serak dan parau.

"Aku mau kebenaran yang selama ini keluargamu sembunyikan."

Sony berdiri perlahan dan menunjuk lurus ke arah balkon lantai dua yang gelap.

"Katakan semuanya di depan lensa kamera itu sekarang juga."

"Atau aku sendiri yang akan mencabut lidahmu dari mulutmu malam ini juga."

"Tidak."

"Aku tidak akan pernah mau melakukannya."

Dimas menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Kalau aku mengaku sekarang, aku akan menghabiskan sisa hidupku di dalam penjara."

"Itu sama saja dengan mati perlahan-lahan, Sony."

Sony tersenyum sangat dingin mendengar penolakan keras kepala pria itu.

"Leo, bawa barang yang aku minta padamu tadi."

Sony memberikan perintah singkat tanpa perlu menoleh ke belakang sama sekali.

Tap tap tap.

Leo berjalan maju mendekati mereka berdua sambil membawa sebuah koper perak kecil di tangannya.

Klik.

Leo membuka koper besi itu dan mengeluarkan sebuah botol kaca berukuran sangat kecil.

Di dalam botol itu terdapat cairan berwarna ungu pekat yang terlihat agak kental.

Mata Dimas langsung membelalak lebar melihat botol kaca aneh tersebut.

Nafasnya kembali tertahan di tenggorokan saking kagetnya.

"K-kau."

"Dari mana kau mendapatkan botol racun itu?"

Dimas menunjuk botol di tangan Leo dengan jari telunjuk yang terus bergetar.

"Ini adalah jenis racun saraf yang sama persis dengan yang ayahmu gunakan dulu."

"Racun yang membuat ayahku terkena serangan jantung palsu sepuluh tahun yang lalu."

Sony mengambil botol itu dari tangan Leo dan memutarnya perlahan di depan wajah Dimas.

"Aku menghabiskan banyak waktu dan uang untuk menemukan sisa racun ini."

"Ternyata ayahmu membelinya dari pasar gelap Sindikat Bayangan dengan harga yang sangat fantastis."

Dimas menelan ludahnya dengan susah payah mendengar fakta itu.

Tubuhnya gemetar hebat seolah suhu di ruangan itu mendadak turun drastis.

"Kalau kau tidak mau membuka mulutmu dengan jujur di depan kamera."

"Maka aku akan memaksamu meminum cairan ungu ini sampai habis ke tetes terakhir."

"Aku jamin rasanya akan sangat menyakitkan sebelum jantungmu benar-benar berhenti berdetak."

Sony membuka tutup botol gabus itu dan mendekatkannya perlahan ke bibir Dimas.

Bau menyengat yang sangat aneh langsung menusuk rongga hidung Dimas.

"T-tidak, jauhkan benda itu dariku."

Dimas merangkak mundur dengan sangat panik menjauhi sosok Sony.

"Aku tidak mau mati konyol karena meminum racun itu."

Sony terus melangkah maju mengikuti pergerakan Dimas dengan langkah santai.

"Kalau begitu bicaralah sekarang juga."

"Waktumu hanya lima detik sebelum aku mematahkan rahangmu dan menuangkannya secara paksa."

"Satu."

Sony mulai menghitung mundur dengan nada suara yang mematikan.

"Tunggu Sony, tolong jangan lakukan ini padaku."

"Dua."

"Beri aku waktu untuk berpikir sebentar saja."

"Tiga."

Sony sama sekali tidak mempedulikan rintihan Dimas itu.

Tangan kiri Sony sudah terangkat ke udara bersiap untuk mencengkeram rahang Dimas.

"Empat."

"Baiklah baiklah, aku mengaku."

Dimas menjerit keras sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Mental pria sombong itu akhirnya benar-benar hancur lebur malam ini.

Sony menghentikan gerakannya dan langsung tersenyum puas.

"Pilihan yang sangat cerdas untuk bertahan hidup."

"Nadhira, pastikan lensa kameramu fokus pada wajahnya saat ini."

Sony sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke lantai dua.

"Kameraku sudah merekam wajahnya dengan sangat jelas dari tadi, Sony."

Suara Nadhira terdengar membalas dari atas balkon kayu yang gelap.

Sony kembali menatap Dimas yang masih duduk gemetar di atas lantai berdebu.

"Mulai bicaralah dari awal, Dimas."

"Ceritakan bagaimana cara ayahmu membunuh ayahku hari itu."

Dimas menarik nafas panjang dengan bahu yang masih naik turun.

Dia menatap ke arah lantai kayu dengan pandangan kosong yang menyedihkan.

"Sepuluh tahun yang lalu, perusahaan orang tua kita memenangkan proyek tender raksasa dari pemerintah."

"Keuntungan dari proyek itu bernilai hingga puluhan triliun rupiah bersih."

Dimas memulai ceritanya dengan suara pelan dan sedikit serak.

"Ayahku menjadi sangat serakah dan ingin menguasai seluruh uang itu sendirian."

"Dia mengundang ayahmu datang ke mansion ini dengan alasan untuk merayakan kemenangan proyek kita."

Sony mendengarkan setiap kata itu dengan otot rahang yang mengeras.

Meskipun dia sudah tahu kebenarannya, mendengarnya langsung dari mulut musuhnya tetap terasa menyakitkan.

"Ayahku diam-diam mencampurkan racun saraf ungu itu ke dalam gelas wine milik ayahmu."

"Racun itu bekerja dengan sangat cepat tanpa meninggalkan jejak apapun di aliran darah."

"Ayahmu langsung terkena serangan jantung parah dan meninggal dunia saat perjalanan menuju ke rumah sakit."

Dimas mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya dengan kasar.

Bukan air mata penyesalan untuk korban, melainkan air mata ketakutan akan nasib buruknya sendiri.

"Lalu bagaimana dengan semua bukti korupsi yang dituduhkan pada keluargaku?"

Sony kembali bertanya untuk mengarahkan pengakuan itu menjadi lebih detail.

"Aku yang membuat semua dokumen palsu itu, Sony."

"Setelah ayahmu meninggal, kami butuh alasan kuat untuk mengambil alih seluruh saham milik keluargamu."

"Jadi aku menyuap beberapa auditor dan polisi korup untuk memalsukan laporan keuangan perusahaannya."

Dimas terus berbicara memuntahkan semua kebusukan masa lalunya.

"Kami membuat seolah-olah ayahmu yang menggelapkan uang proyek besar itu sebelum dia meninggal."

"Lalu saat kau mencoba mencari tahu kebenarannya lima tahun lalu."

"Aku menyewa orang untuk memasukkan narkoba ke dalam mobilmu dan melaporkanmu ke polisi."

"Aku sengaja membuatmu membusuk di penjara agar tidak ada lagi orang yang mengganggu bisnis perusahaanku."

Suasana di ruang tamu mansion itu mendadak menjadi sangat hening.

Hanya terdengar suara nafas kasar dari Dimas dan juga erangan para pembunuh bayaran yang tergeletak di lantai.

Di atas balkon sana, Nadhira menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis.

Dia tidak menyangka betapa kejam dan liciknya keluarga Pratama menghancurkan hidup orang yang sama sekali tidak bersalah.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!