Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Dingin di Meja Makan
Matahari pagi menyusup pelan melalui selimut kabut tipis yang menyisa di balik jendela kaca besar ruang makan utama. Pendar cahayanya jatuh membias di atas meja makan marmer hitam yang panjang. Di atas meja, tersaji hidangan pagi yang sangat lengkap dan sempurna: nasi goreng seafood yang masih menggepulkan aroma harum, telur setengah matang, roti panggang dengan mentega meleleh, serta dua cangkir kopi hitam yang mengepulkan asap tipis.
Semua ini dipersiapkan sendiri oleh Nabila sejak pukul lima pagi.
Dengan tangan yang gemetar halus dan mata yang sembap membengkak akibat tangisan sepanjang malam, Nabila berdiri di samping meja makan. Ia mengenakan gaun rumah berwarna lembut yang terawat rapi, berusaha keras memoles wajahnya dengan riasan tipis demi menutupi pucat pasi di kulitnya. Hatinya bergetar hebat. Di dalam pikirannya, ada secercah harapan kecil yang putus asa—sebuah dorongan naif bahwa jika ia bertingkah seperti istri yang berbakti seperti dulu, mungkin... mungkin ada sedikit sisa kasih sayang di hati Arga yang bisa melunakkan vonis hancur yang membayang di depan mata.
Langkah kaki yang teratur dan mantap terdengar dari arah tangga kayu jati.
Nabila menahan napasnya. Dadanya berdebar begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
Arga melangkah masuk ke ruang makan. Pria itu sudah mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam pekat dengan dasi abu-abu gelap—penampilan khas seorang pemimpin besar yang siap menaklukkan dunia bisnis. Wajahnya sangat bersih, rambutnya tertata rapi, dan matanya jernih tanpa ada sedikit pun jejak lelah atau amarah yang tersisa dari ledakan konfrontasi tadi malam.
"M-mas Arga... selamat pagi," sapa Nabila dengan suara yang amat pelan, bergetar kaku oleh rasa takut dan canggung yang luar biasa. Ia menarik kursi utama dengan perlahan. "Aku... aku sudah siapkan sarapan favorit Mas. Kopi hitamnya juga tanpa gula, persis seperti yang Mas suka."
Arga menghentikan langkahnya sejenak. Matanya melirik kursi yang ditarik Nabila, lalu beralih menatap hidangan di atas meja. Tidak ada kekasaran dalam gerakannya. Arga melangkah mendekat, lalu menarik kursinya sendiri dan duduk dengan tenang.
"Terima kasih, Nabila," ujar Arga. Suaranya datar, begitu halus dan teratur, namun tidak memiliki bobot emosi sama sekali. Itu adalah jenis suara yang digunakan seorang pejabat tinggi saat menyapa orang asing di jalan.
Nabila dengan terburu-buru mengambil piring, mengisikan nasi goreng dan telur ke atas piring Arga. Tangannya gemetar hebat hingga sendok besi itu berdenting pelan beradu dengan porselen mahal.
"Mas... dicoba dulu," bisik Nabila penuh harap, duduk di kursi sebelah Arga—jarak yang dulu biasa menjadi tempatnya menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Arga mengambil sendoknya. Ia menyuapkan satu sendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan tenang dan sopan, lalu menelannya. Setelah itu, Arga meletakkan sendoknya kembali di tepi piring. Ia tidak menyentuhnya lagi.
Arga meraih cangkir kopinya, menyesapnya satu kali, lalu menegakkan punggungnya. Ia mengalihkan pandangannya dari piring dan menatap lurus ke arah Nabila.
Tatapan itu tiba.
Tatapan dingin di meja makan.
Itu bukan tatapan amarah yang membara, bukan pula tatapan penuh dendam yang menyala-nyala. Tatapan Arga begitu kosong, jernih, dan membeku—sebuah tatapan dari seorang pria yang menatap sebuah benda mati yang tak lagi memiliki nilai. Chemistry di antara mereka yang dulu hangat dan penuh gelora cinta kini bertransformasi menjadi ruang hampa udara yang membunuh. Nabila merasa seolah-olah dirinya sedang ditatap oleh patung es yang bernapas.
Nabila menelan ludahnya yang terasa sepahit racun. Sorot mata Arga menusuk tepat ke jantungnya, meremukkan sisa-sisa harapan naif yang ia bangun pagi ini.
"Mas Arga..." air mata yang sejak tadi ditahannya mulai merebak di sudut mata Nabila. Suaranya pecah oleh keperihan yang amat dalam. "Mas benar-benar sudah enggak menganggap aku ada? Mas... tolong bicaralah. Marahi aku, Mas... pukul aku kalau itu bisa bikin Mas lega... tapi jangan tatap aku seperti ini ..."
Arga menopang kedua tangannya di atas meja, menyatukan jemarinya dengan sikap yang sangat elegan.
"Mengapa aku harus memarahimu, Nabila?" tanya Arga, nada suaranya mengalun seperti bisikan angin di atas kuburan yang sunyi. "Amarah adalah perasaan yang dialokasikan untuk orang yang masih kita pedulikan. Dan kamu... sudah tidak berada di ruang itu lagi."
Nabila teresak, memegangi dadanya yang dihantam rasa sakit yang tak terbayangkan. Kata-kata Arga tidak diucapkan dengan nada tinggi, namun dampaknya ribuan kali lebih mengerikan daripada bentakan. Logika narasi di antara mereka telah berbalik total : Nabila, yang dulu merasa memegang kendali atas perasaan Arga, kini hanyalah sesosok jiwa yang memohon remah-remah perhatian dari pria yang telah sepenuhnya mati rasa padanya.
"Mas... aku menyesal," tangis Nabila pecah, jemarinya terulur di atas meja mencoba menggapai tangan Arga. "Aku tahu aku berdosa... aku dibutakan oleh gairah dan uang dari Reza... tapi demi Allah, Mas, hati kecilku selalu tahu kalau Mas adalah satu-satunya suami yang paling baik buat aku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya ..."
Jemari Nabila yang dingin hampir menyentuh kulit tangan Arga. Namun, sebelum sentuhan itu terjadi, Arga mengangkat tangannya dengan tenang, mengambil saputangan dari saku jasnya, lalu menyeka bibirnya perlahan.
Ia menghindari sentuhan Nabila tanpa ada gerakan kejut—sebuah penolakan yang begitu halus namun sangat menghancurkan.
"Kesempatan?" Arga menyunggingkan senyum tipis—senyuman paling dingin yang pernah terukir di wajahnya. "Nabila, saat kamu melangkah masuk ke kamar hotel bersama Reza... saat kamu menandatangani berkas pencairan uang itu dengan senyuman serakah... kamu sendiri yang membuang kesempatan itu ke dalam selokan."
Arga melirik jam tangan mewahnya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi tepat.
Suara sirine mobil yang menggelegar samar-samar mulai terdengar dari kejauhan, merayap mendekati gerbang kompleks perumahan megah mereka.
Wajah Nabila seketika berubah pasi. Isak tangisnya terhenti oleh ketakutan baru yang membekukan darahnya. "M-mas... suara apa itu?"
Arga berdiri dari kursinya dengan sangat tenang. Ia merapikan jas hitamnya, mengancingkan kancing bagian tengahnya, lalu menatap Nabila dari ketinggian posisinya.
"Itu adalah petugas pengadilan dan tim kepolisian, Nabila," ujar Arga dengan suara yang berat, penuh wibawa, dan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Hari ini, surat penyitaan atas rumah ini, seluruh rekening pribadimu, serta surat panggilan pemeriksaan tindak pidana penggelapan dana atas namamu resmi dieksekusi."
"Mas Arga!" jerit Nabila histeris. Ia melompat dari kursinya dan berlutut di samping Arga, memeluk kaki suaminya dengan erat. "Mas! Jangan lakukan ini! Aku takut, Mas! Tolong aku! Aku bisa dipenjara!"
Arga menundukkan pandangannya. Di bawah tatapan dinginnya, ia membiarkan istrinya menangis meraung-raung memeluk kakinya di atas lantai marmer ruang makan. Dulu, Arga akan mengorbankan nyawanya agar Nabila tidak meneteskan satu tetes air mata pun. Namun pagi ini, air mata Nabila hanyalah konfirmasi dari kemenangan keadilan atas pengkhianatan.
"Kamu yang memilih jalan ini bersama Reza, Nabila," bisik Arga sangat pelan, nada suaranya datar tanpa riak emosi. "Sekarang, nikmatilah setiap hidangan dari pilihanmu sendiri."
Dengan gerakan yang tegas namun terkontrol, Arga melepaskan cengkeraman tangan Nabila dari kakinya, melangkah melewatinya tanpa berbalik lagi.
Di belakangnya, di tengah meja makan yang dipenuhi hidangan pagi yang tak tersentuh, Nabila tersungkur menangis histeris—menyadari bahwa tatapan dingin Arga di meja makan pagi ini adalah batas akhir dari seluruh dunianya yang telah hancur total.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt