Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Eehhh... Nggak bisa gitu dong...." Kata Lia merebut dengan cepat plastik itu dari tangan Adila.
"Yee... Nggak jelas Ante ini, tadi aja nggak mau!" kata Adila.
"Kata siapa nggak mau? Ante kan cuma mastiin bener apa nggak kamu kasih ini buat Ante, ntar kayak yang udah-udah lagi. Kamu kasih buat Ante tapi kamu ambil lagi juga!" kata Lia yang tanpa sungkan langsung membuka plastik berisi jajanan itu.
"Tau ah terserah Ante, Uti kita kapan jalan-jalannya?" tanya Adila pada Mama.
"Nanti ya kita tunggu Akung pulang dulu... Nanti kita tanya akung kapan kita jalan-jalan, oke cantik?" jawab Mama yang langsung di angguki oleh Adila dengan senyum mengembang.
"Emang bapak kemana Ma?" tanya Ryan.
"Bapak lagi ada urusan kerumah temannya, tadi di telpon!" kata Mama.
"Tumben banget Mama nggak ikut, biasanya kalau bapak kemana-mana Mama selalu ngintil di belakangnya!" kata Lia membuat Mama mendengus kesal.
"Itu karna Mama bosan dirumah, tapi kalau sekarang kan nggak. Ada Mbakmu dan juga tiga keponakan kamu ini, jadi Mama mendingan dirumah. Oiya Nis... Sebaiknya Adila kita masukkan ke Paud aja, gimana menurut kamu?" tanya Mama.
"Boleh si Ma, tapi.... Nanti siapa yang akan jagain Adila disana, Nisya nggak mungkin jagain Adila disana bawa sekaligus Hawa dan juga Ashyla!" jawabku.
"Gampang itu mah, nanti biar Mama yang nungguin disana. Pasti juga banyak kan ibu-ibu yang nunggu disana, gampanglah itu..." kata Mama.
"Apa nggak nanti aja Ma kita pikirin lagi kapan Adila masuk sekolah? Kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat, mengingat vidio viral itu dan juga kelakuan mertua dan ipar Mbak Nisya yang bisa aja membahayakan buat Adila kalau kita sedang lengah!" kata Syahrul yang juga di angguki Ryan.
"Bener apa kata Mas Syahrul Ma, lagian usia Adila juga masih terlalu muda untuk sekolah. Kasian kalau nanti justru kelamaan sekolahnya, dia bisa aja bosan!" kata Ryan.
"Kalau menurutku bosen sih nggak ya, karna kan kalau paud itu nggak belajar cuma mainan doang tapi pakai alat belajar disana. Nggak ada nulis dan nggak ada menghitung, tapi mungkin kondisinya aja yang masih belum memungkinkan untuk Adila sekolah ya karna vidio viral dan juga keluarga bang Gani yang bisa aja mengusik Adila di sekolahnya sih!" kata Lia membuat semuanya menganggukkan kepala.
"Berarti kita harus pastiin dulu keamanan Adila disekolah, terus menurut kalian gimana?" tanya Mama.
"Mendingan Mama masukin ke bimba yang di gang sebelah itu aja deh Ma, selain deket disana juga bagus untuk Adila belajar. Kalau Paud itu jauh dari sini, walaupun beda blok tapi tetep aja kan... Lumayan juga!" kata Lia.
"Emang ada bimba Li?" tanya Syahrul.
"Ada... Itu loh.. Rumah yang dihook itu, yang tadinya kosong diujung jalan gang depan itu!" kata Lia.
"Sejak kapan? Kok kita nggak tau?" tanya Ryan.
"Baru sih, kayaknya baru buka pendaftaran juga semester ini. Yang ngontrak baru itu disana buka bimba, tadi nya les biasa. Udah dua bulan ini kayaknya!" kata Lia.
"oh yang ngontrak buka les privat anak sd itu ya? Yang katanya yang ngajarnya becadar itu?" tanya Mama yang langsung di angguki oleh Lia.
"Bercadar? Kok kamu tau banyak Li?" tanya Ryan.
"Aku kalau pulang kampus suka ngobrol sama Mbak Diah Mas, orangnya baik kok lembut juga suaranya" kata Lia.
"kapan kamu kenal sama dia? Kayaknya Mama nggak pernah liat Li?" tanya Mama.
"Yaa emang jarang sih, karna Mbak Diah nya juga kan kuliah Ma. Dia juga jarang di rumah, kasian loh Ma. Dia yatim piatu!" kata Lia.
"Sok tau kamu Li!" kataku.
"Iihh Mbak di bilangin nggak percaya, nanti deh kapan-kapan Lia ajak ngobrol sama Mbak Diah. Lia udah punya kok kontaknya!" kata Lia.
"Eehhh gercep amat kamu... Lebih-lebih dari cowok-cowok ini..." kata Mama dengan mata mengarah kepada kedua anak lelakinya.
"Apaan sih Ma!" kata Syahrul.
"Tau nih Mama... Jangan mulai deh..." kata Ryan membuatku dan juga Lia terkekeh.
"Lagian kalian sampai setua ini nggak pernah ngenalin perempuan ke Mama, jangan bilang kalau kalian ini belok ya?" tanya Mama membuat keduanya membelalakan mata.
"Mama... Jangan sembarangan ya! Kita ini nggak belok, kita cuma mau fokus kekerjaan dan juga kuliah Magister!" kata Syahrul.
"Iyaa... Itu kamu yang Gila belajar, nah kamu Ryan.. Apa alasan kamu?" tanya Mama.
"Lah Mama ini gimana... Mas Syahrul aja masih mau lanjut kuliah apalagi aku yang udah semester akhir ini, lagi sibuk-sibuknya nggak ada mikirin kesana... Apalagi bener kata Mas Syahrul kalau kerjaan kita itu numpuk!" kata Ryan membuat Mama menghela nafas kasar.
"Nah.. Kamu denger kan Nis, kalau Mama bahas soal perempuan pasti ada aja jawabannya. Heran Mama juga!" kata Mama.
ditengah percakapan itu... Terdengar ponsel Lia berbunyi, tertera nama Iparnya dilayar ponsel tersebut.
"Kenapa lagi tuh nenek lampir nelpon Mbak?" tanya Lia.
"Nggak tau juga..." kataku sambil mengangkat panggilan telpon dari Mbak Lika.
"Assala....." belum aku selesai mengucapkan salam, terdengar suara pekikan nyaring dari sebrang telpon.
"Nisyaaa... Apaapaan kamu! Hapus postingan itu? Siapa yang udah kamu bayar buat viralin vidio itu, hah?!" pekik Mbak Lika membuatku menjauhkan telpon dari telingaku.
"Apaan sih Mbak.. Siapa yang bayar orang buat viralin vidio itu..."
" Alaahh kamu nggak usah banyak ngeles deh, kamu sengajakan mau bikin kita sekeluarga malu dan buat seolah kamu menderita dan juga korban?" kata Mbak Lika yang langsung memutus perkataan ku begitu saja.
"Mbak ini nuduh tanpa bukti terus, Mbak.. Di vidio itu jelas di ambil dari kejauhan, lagian semuanya juga terekam dengan jelas. Mana mungkin aku nyuruh orang, kerajinan banget deh!" jawabku dengan nada kesal.
"Terus kalau bukan kamu siapa? Nggak mungkin kan tiba-tiba ada orang yang vidioin dan viralin kejadian kayak gitu kalau nggak ada yang suruh, udah deh kamu nggak usah banyakan ngeles. Kamu tuh jahat ya Nis... Kebangetan kamu ngelakuin hal kayak gini sama aku dan juga keluarga. Kamu tega bikin suami kamu dan keluarga dihujat kayak gini, bener-bener kamu ya...!" kata Mbak Lika.
"Terserah apa kata kamu Mbak... Aku nggak peduli, lagian semuanya emang kesalahan kalian yang mengusik hidup aku bukan kesalahan aku, seharusnya kalian introspeksi bukan malah semakin menjadi!" kataku yang langsung memutus sambungan telpon.
"Ngomong apa dia Nis?" tanya Mama dengan wajah tak sabar mendengarkan ceritaku.
"Biasa Ma.. Nyalahin aku, dia pikir aku nyuruh orang buat bikin vidio itu dan memviralkannya!" jawabku membuat semuanya membelalakan mata.
"mereka nyalahin kamu Mbak? Mereka itu bodoh atau gimana sih ya?" tanya Lia.
"Tunggu, vidio apa sih?" tanya syahrul.
"Lah kamu nggak tau Mas?" tanya Lia yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Syahrul.
"Vidio perkelahian tadi, viral di media sosial. Kamu cek aja media sosial kamu!" kata Mama. Syahrul langsung mengecek akun sosmed nya dan membuka semua saluran beranda mikiknya, hampir semua membahas soal vidio viral itu.
"Astaga... Sampe segininya Mas?" kata Ryan yang juga mengecek soal media miliknya.
"Ini... Siapa yang upload pertama kali?" tanya Syahrul yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"Mas... Coba kamu perhatiin, kayaknya yang upload vidio ini tetangga depan nggak sih?" tanya Ryan.
"Tetangga depan? Nggak mungkin Ryan, sebelum kejadian itu Mama liat kalau ibu itu lagi nyapu halaman!" kata Mama.
"Ma... Emangnya yang tinggal disana cuma ibu itu doang? Kan ngga mungkin Ma, pasti ada anaknya atau keluarga yang lain!" kata Ryan yang juga di benarkan oleh Syahrul.
"Ryan bener Ma. Kita harus minta orang itu buat takedown vidionya sebelum semakin banyak yang repost!" kata Syahrul.
"Mas... Percuma kali, vidio itu udah banyak yang repost dan udah seviral ini sekarang. Kita tinggal tunggu aja nanti stasiun tv pada undang Mbak Nisya keAcara-Acaranya atau ke podcast-podcast Hahahaha!" kata Lia membuatku mendengus kesal.
Bersambungg...
****
Halooo guys... Ayo kita buat hari ini bisa ajukan kontrak, dan semoga kontraknya di setujuin sama adminnya yaaaa🤲