Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Engkong
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reynard Wijaya benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menyerah.
Aku juga tidak jauh berbeda.
Dua hari setelah ciuman yang menabrak gigi itu, aku masih tidak bisa menatap bibir Reynard tanpa mengingat bunyi tak kecil yang sangat memalukan.
Reynard, tentu saja, bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Pria itu bangun, bekerja, minum kopi hitam, dan memberi instruksi pada Pak Hadi dengan wajah setenang patung museum.
Sementara aku?
Aku tersedak air putih ketika Sari bertanya, "Nyonya Muda mau pakai lip balm?"
Malu sekali.
Pada Day 10, Reynard berkata kami akan ke Bandung.
"Bandung?" tanyaku.
"Menemui Antonius Tan."
Nama itu membuat dada tubuh ini bergetar hangat.
Engkong.
Ingatan Keira tentang rumah Liem penuh tekanan, tapi ingatan tentang Tan family house di Bandung berbeda. Bau kayu tua, teh panas, suara tongkat di lantai, tangan besar yang pernah mengusap kepala Keira kecil sambil berkata, "Cucu Engkong harus makan banyak."
Aku menatap Reynard. "Kau mau ikut?"
"Dia keluargamu."
"Kau tidak wajib."
"Aku suamimu."
Kalimat itu pendek.
Efeknya tidak pendek.
Perjalanan ke Bandung memakan waktu hampir tiga jam. Anto mengemudi, Reynard bekerja lewat tablet, dan aku mencoba tidak memikirkan bahwa pria di sebelahku sudah menciumku, menggenggam tanganku, tapi masih mungkin masuk kategori misteri orientasi tingkat nasional.
[Host masih memikirkan ciuman.]
Aku menutup panel dengan pikiran.
Tan family house di Bandung terletak di kawasan yang lebih tenang, dengan halaman penuh tanaman dan udara yang jauh lebih ringan daripada Jakarta. Begitu turun dari mobil, seorang perempuan muda berlari keluar dari teras.
"Ci Kei!"
Ia memelukku sebelum aku sempat siap.
Tubuh ini mengenal pelukan itu.
Natasha Tan.
Rambutnya sebahu, matanya hidup, suaranya lantang. Ia memakai celana jeans, kemeja putih, dan sepatu boots, sama sekali tidak seperti perempuan kaya yang diajari duduk manis.
"Gila, akhirnya datang juga!" Natasha menarikku mundur, menatap wajahku. "Dan kau cantik banget. Siapa yang selama ini bilang kau biasa saja? Matanya perlu servis."
Aku langsung suka dia.
"Nat," kataku, dan kata itu terasa alami.
Natasha melirik Reynard. "Ko Rey."
Reynard mengangguk. "Nat."
"Jaga Ci Kei baik-baik. Kalau tidak, aku gigit."
Anto batuk kecil di belakang.
Reynard hanya berkata, "Aku akan ingat."
Di ruang tengah, Antonius Tan duduk di kursi besar dekat jendela. Rambutnya putih, tubuhnya lebih kurus dari ingatan Keira, tapi matanya masih tajam. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berkemeja biru muda.
Vincent Tan.
Ia tersenyum ketika melihatku.
Senyumnya hangat, halus, dan sedikit terlalu lama.
"Keira," katanya. "Sudah lama."
Sebelum aku menjawab, Antonius mengetuk lantai dengan tongkat.
"Sini."
Aku berjalan mendekat, berlutut kecil di depannya tanpa berpikir. Tangan keriputnya menyentuh kepalaku.
"Kurus," katanya.
Aku hampir tertawa dan menangis sekaligus.
Komentar klasik kakek Asia Tenggara. Mau kiamat pun cucunya tetap dianggap kurang makan.
"Engkong juga kurus," jawabku.
Matanya melembut.
Reynard maju satu langkah. "Engkong."
Antonius menatapnya lama, terutama Topeng Perak di wajahnya. Ruangan mendadak tegang. Natasha siap membuka mulut, Vincent juga tampak waspada.
Lalu Antonius berkata, "Duduk. Kalau kau suami cucuku, jangan berdiri seperti tamu bank."
Aku menunduk menahan tawa.
Reynard duduk.
Si Kepo muncul.
[Pemindaian kesehatan tersedia.]
[Target: Antonius Tan.]
Aku menatap Engkong yang sedang menuang teh dengan tangan sedikit gemetar.
Panel berkedip.
[Kadar gula darah sangat tinggi.]
[Riwayat diabetes tidak terkontrol.]
[Risiko komplikasi: tinggi.]
Senyumku hilang.
Vincent menangkap perubahan wajahku. "Kalau kau mau, aku bisa kirim semua hasil lab Engkong. Mungkin dokter Reynard punya rekomendasi lain."
Reynard mengangkat mata.
Tidak tajam, tapi cukup membuat Vincent sadar batas.
"Kirim ke saya," kata Reynard. "Saya akan minta dokter keluarga meninjau."
Vincent tersenyum sopan. "Tentu."
Di bawah meja, Natasha menyikut kakaknya. Aku pura-pura tidak melihat. Reynard juga pura-pura tidak melihat, tapi udara di antara dua pria itu mendadak punya rasa kompetisi halus yang membuat Si Kepo menampilkan ikon popcorn kecil.
Jadi itu sebabnya tubuhnya terlihat rapuh.
Natasha mungkin melihat perubahan wajahku. "Ci?"
"Engkong minum obat rutin?"
Antonius mendengus. "Obat bikin mulut pahit."
Natasha langsung mengangkat tangan. "Nah, dengar sendiri. Tiap hari berantem soal obat."
Vincent tersenyum lemah. "Dokter sudah menyarankan insulin, tapi Engkong keras kepala."
Insulin.
Panel Si Kepo berkedip seolah menunggu momen.
[Submisi tersedia: buat Antonius Tan menerima perawatan.]
[Hadiah: Insulin injector kit.]
Tentu saja. Alam semesta suka memberi misi sambil memegang leherku.
Makan siang di Bandung jauh lebih hangat daripada makan siang di Liem house. Natasha bicara cepat tentang bisnis kecilnya, Vincent menanyakan kabarku dengan sopan, Antonius sesekali mengomel karena semua orang mengatur makanannya.
Reynard mendengarkan lebih banyak daripada bicara.
Tapi ia berusaha.
Ketika Antonius bertanya, "Kau bisa main catur?"
Reynard menjawab, "Bisa sedikit."
Sedikit ternyata berarti membuat Antonius berpikir selama sepuluh menit di langkah ketiga.
Engkong mendengus. "Sombong diam-diam."
"Saya belajar dari orang yang lebih tua," jawab Reynard.
Jawaban aman. Rendah hati. Efektif.
Antonius menatapnya lagi. Kali ini bukan menilai topengnya, melainkan isi kepalanya.
"Kau tidak bicara banyak."
"Saya lebih suka membuktikan."
Antonius mengetuk bidak catur. "Bagus. Jaga Keira."
"Saya akan."
Tidak ada janji panjang.
Tapi aku percaya ia serius.
Sore menjelang, aku duduk berdua dengan Antonius di teras belakang. Angin Bandung dingin. Pohon-pohon bergoyang pelan. Di ruang tengah, Natasha sedang memaksa Reynard mencoba kue sus, sementara Vincent membantu pelayan membawa teh.
"Kau berubah," kata Engkong.
Aku menegang.
"Lebih hidup," lanjutnya.
Dadaku melunak.
"Dulu aku tidak berani."
"Sekarang?"
Aku menatap tanganku. "Sekarang aku sedang belajar."
Antonius mengangguk. "Bagus. Jangan jadi anak yang hanya bisa disuruh."
Mataku panas.
Si Kepo berkedip lagi.
[Submisi hampir selesai.]
Aku menarik napas. "Engkong, kalau dokter minta insulin, mau coba?"
Ia langsung mengerutkan wajah. "Kau juga mau ceramah?"
"Tidak. Aku mau tawar-menawar."
"Dengan orang tua?"
"Dengan konglomerat keras kepala versi Bandung."
Antonius tertawa.
Aku menggenggam tangannya. "Engkong coba perawatan. Aku janji lebih sering datang. Aku juga akan bawa makanan enak yang masih aman untuk gula darah."
"Makanan aman biasanya tidak enak."
"Aku akan cari yang enak."
Ia menatapku lama.
"Kau janji?"
"Janji."
Panel menyala.
[Submisi selesai.]
[Hadiah: Insulin injector kit tersedia di Ruang Penyimpanan.]
Aku mengembuskan napas lega.
Malam itu, sebelum kami pulang, Antonius memegang tangan Reynard.
"Topeng atau tidak, aku tidak peduli," katanya. "Yang penting kau jangan buat cucuku kembali menunduk."
Reynard menatapnya.
"Tidak akan."
Di mobil keluar dari Bandung, aku memeluk tas kecil berisi kue dari Natasha.
Hatiku hangat, tapi panel Si Kepo masih menyala.
[Insulin tersedia.]
[Catatan: penggunaan pertama membutuhkan keberanian dan alasan medis yang tepat.]
Aku menatap jalan gelap di depan.
Engkong akan baik-baik saja.
Harus.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih