NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Gelombang Pasukan Selatan dan Altar Ghaib

Matahari hari kedua pasca-runtuhnya Benteng Sayap Barat terbit dengan warna merah saga yang pekat, seolah mengisyaratkan tumpahan darah yang jauh lebih masif akan segera membasahi bumi Blambangan. Angin kering dari arah selatan bertiup kencang, membawa aroma asin air laut bercampur debu tanah liat yang gersang.

Di koridor utama Benteng Sayap Barat yang kini telah sepenuhnya beralih fungsi menjadi markas barisan depan Satria Pamungkas, keheningan fajar dipecahkan oleh suara langkah kaki yang mantap.

Satria melangkah keluar dari ruang utama, mengenakan jubah hitam barunya yang tampak memancarkan riak-riak energi biru keperakan samar.

Kenaikan ranah ke Ranah Wira Tahap 7 ditambah dengan integrasi penuh dua butir Pil Pengeras Tulang Segoro Wedi semalam membuat setiap gerak-geriknya memancarkan tekanan fisik yang luar biasa padat.

Setiap kali kakinya menapak, ubin batu di bawahnya bergetar halus menahan bobot ghaib tubuhnya.

Di belakangnya, Dyah Sekar Ayu berjalan dengan anggun namun mematikan. Jari manis tangan kanannya berkilau indah oleh safir dari Cincin Intan Segoro Muncar.

Setelah melalui malam penempaan dan penyelarasan sukma yang intens menggunakan Kitab Mantra Cundamani, aura dari Darah Suci Dewi Sri miliknya tidak lagi meluap-luap tanpa arah, melainkan terkondensasi dengan sangat rapi di dalam meridiannya.

Matanya yang jernih bagai es utara kini menyimpan kilatan tajam ghaib; ia telah sepenuhnya bertransformasi dari seorang putri keraton yang dilindungi menjadi sesosok malaikat pencabut nyawa yang berdiri tegak di samping sang Overlord.

"Satria, mata-mata yang dikirim Bagus Tejo sebelum dia kabur telah kembali," ucap Sekar Ayu, suaranya tenang namun sarat informasi taktis. "Adipati Bhre Wirabhumi tidak memilih untuk bertahan di dalam kota luar. Dia telah menggerakkan Senopati Kebo Marcuet dari perbatasan selatan bersama tiga puluh gajah perang berzirah baja. Mereka diperkirakan akan bergabung dengan Senopati Menak Jingga di Dataran Tinggi Watu Tulis dalam beberapa jam ke depan."

Satria menghentikan langkahnya di ujung balkon benteng, menatap hamparan padang rumput kering dan perbukitan batu yang membentang di hadapan mereka. Di bawah caping bambunya, wajah tampannya tampak dingin, tanpa ada sedikit pun riak kecemasan.

"Dua Senopati utama berkumpul di satu tempat, ditambah dengan pasukan gajah pertahanan... Adipati tua itu benar-benar menguras seluruh lumbung kekuatannya," sahut Satria datar. Seulas senyum tipis yang kejam terukir di sudut bibirnya. "Itu bagus. Menghancurkan mereka dalam satu pertempuran terbuka akan menghemat banyak waktuku."

Satria membuka menu sistem di dalam kesadarannya sejenak untuk memeriksa sisa poin dan kesiapan instrumen ghaibnya.

"Sistem, periksa jarak deteksi musuh terdekat dan kalkulasikan potensi perolehan poin dari penumpasan faksi Selatan."

[Bip! Memindai wilayah depan...]

Garda Depan Musuh: Pasukan Gajah Berzirah Senopati Kebo Marcuet (Ranah Satria Tahap 8). Jarak: 12 kilometer dari koordinat Anda saat ini.

Garda Utama Musuh: Senopati Menak Jingga (Ranah Satria Tahap 9) dengan Gada Kencana.

Estimasi Akumulasi Poin Penumpasan: 45.000 - 55.000 Poin Sistem jika kedua Senopati tewas dan pasukan gajah berhasil dilumpuhkan sepenuhnya.

Pemberitahuan Khusus: Mendeteksi adanya fluktuasi energi hitam yang tidak stabil dari arah Istana Dalam Blambangan. Kemungkinan besar target utama (Bhre Wirabhumi) sedang memanggil entitas luar.

Satria menutup layar hologramnya. Sifat anti-heronya yang penuh perhitungan langsung menangkap sinyal bahaya dari catatan khusus sistem tersebut. "Adipati tua itu sudah mulai membuka Altar Ghaib. Kita tidak boleh membuang waktu di dataran tinggi terlalu lama. Kita harus menyelesaikan pertempuran dengan Menak Jingga dan Kebo Marcuet sebelum matahari mencapai puncaknya."

"Aku akan menyiapkan kuda hitam milik Ronggolawe," ucap Sekar Ayu patuh, langsung melesat menuju halaman dalam benteng tanpa perlu instruksi lanjutan.

Sementara itu, di wilayah Istana Dalam Blambangan, di sebuah ruangan bawah tanah yang tersembunyi di balik dinding batu setebal lima meter, atmosfer terasa begitu menyesakkan hingga mampu membuat manusia biasa muntah darah seketika.

Ruangan itu tidak diterangi oleh obor biasa, melainkan oleh kobaran api berwarna hijau keunguan yang menyala di atas delapan cawan perunggu kuno yang mengelilingi sebuah altar batu hitam.

Adipati Bhre Wirabhumi berdiri di tengah altar dengan pakaian kebesaran yang kini telah basah oleh keringat dingin. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah belati perak berukir mantra terlarang.

Di depannya, di atas permukaan altar batu, tergeletak mayat tiga perawan suci yang baru saja dikorbankan; darah mereka mengalir masuk ke dalam ceruk-ceruk pahatan kuno di lantai, membentuk pola lingkaran sihir ghaib yang memancarkan bau busuk yang amat pekat.

“...Om Hyang Kala Jagat, Sang Hyang Segoro Kidul, bukakan gerbang tirai ghaibmu! Terima persembahan darah ini, kirimkan utusan suci untuk membinasakan musuh-musuh Blambangan!” Raung Bhre Wirabhumi, suaranya parau penuh keputusasaan sembari menusukkan belati perak itu ke telapak tangan kirinya sendiri, meneteskan darah Ranah Senopati miliknya ke pusat altar.

WUUUSH!

Udara di dalam ruang bawah tanah mendadak membeku. Api hijau di cawan perunggu melonjak setinggi langit-langit, sebelum akhirnya meredup hingga hampir padam.

Dari tengah-tengah altar batu hitam yang digenangi darah, asap hitam yang sangat tebal mulai mengepul, memadat membentuk pusaran energi yang perlahan-lahan mewujud menjadi sesosok manusia berpakaian jubah abu-abu koyak dengan wajah yang ditutupi topeng tulang ikan raksasa.

Dua bola mata di balik topeng tulang itu menyala dengan warna merah darah yang mengerikan, memancarkan tekanan aura yang jauh melampaui Ranah Satria—ini adalah seorang Kultivator Ranah Senopati Tahap 5 dari Faksi Bajak Laut Laut Selatan, sebuah perkumpulan sekte hitam luar yang terkenal kejam di sepanjang pesisir Dwipantara.

"Bhre Wirabhumi..." Suara sang utusan terdengar mendesis, bagai suara seribu ular yang melata di atas bebatuan kering. "Kau berani menggunakan jimat pemanggil kuno ini... Kau tahu harga yang harus kau bayar untuk kehadiran diriku di tempat gersang ini?"

Bhre Wirabhumi langsung berlutut dengan penuh hormat, melupakan statusnya sebagai penguasa tertinggi kadipaten. "Hamba tahu, Utusan Agung! Setengah dari hasil pajak pelabuhan Blambangan selama lima tahun ke depan akan menjadi milik faksi Anda! Hamba hanya memohon... bantai seorang pemuda bernama Satria Pamungkas dan bawa Putri Kadiri hidup-hidup ke hadapanku!"

Mendengar nama "Putri Kadiri", kultivator bertopeng tulang itu mengeluarkan tawa kering yang menyeramkan. "Hehehe... Dyah Sekar Ayu yang memiliki Darah Suci Dewi Sri itu ada di sini? Bagus, sangat bagus! Darah sucinya adalah bahan utama untuk tungku pemurnian pil ghaib Pemimpin Besar kami. Anggap urusanmu selesai, Wirabhumi. Pasukan selatanmu hanya akan menjadi umpan untuk menarik tikus kecil itu ke tempat ini, dan aku sendiri yang akan menguliti tubuhnya di depan matamu."

Di saat yang sama, di Dataran Tinggi Watu Tulis, pemandangan luar biasa yang menegangkan sedang berlangsung. Dataran tinggi berbatu hitam itu kini telah dipenuhi oleh barisan militer Blambangan yang sangat masif.

Di barisan paling depan, tiga puluh ekor gajah perang berukuran raksasa berdiri tegak dengan zirah lempengan baja yang menutupi kepala dan dada mereka. Di atas punggung masing-masing gajah, terdapat sebuah menara kayu kecil yang diisi oleh empat pemanah elit.

Di depan barisan gajah tersebut, Senopati Kebo Marcuet—seorang pria paruh baya bertubuh pendek kekar dengan senjata kapak raksasa bermata dua—berdiri berdampingan dengan Senopati Menak Jingga yang tampak anggun namun mematikan dengan zirah emasnya. Gada Kencana di tangan Menak Jingga terus memancarkan gelombang energi kuning yang membuat tanah di sekitarnya retak berantakan.

"Mereka datang," ucap Menak Jingga tiba-tiba, matanya menyipit menatap ke arah jalur pendakian dataran tinggi.

Dari kelokan jalan berbatu, seekor kuda hitam besar berlari dengan kecepatan konstan. Di atas pelana, Satria Pamungkas duduk dengan tenang, caping bambunya menutupi sebagian wajahnya dari terik matahari yang mulai menyengat. Di belakangnya, bersandar dengan erat, Dyah Sekar Ayu menatap lautan pasukan di hadapan mereka dengan pandangan yang dingin dan penuh kesiapan tempur.

Hanya dua orang melawan satu pasukan penuh kadipaten. Namun, atmosfer yang dibawa oleh kedatangan Satria justru membuat tiga puluh gajah perang Blambangan yang biasanya tak kenal takut mendadak gelisah, menghentak-hentakkan kaki mereka ke tanah batu dengan suara lenguhan yang dipenuhi kecemasan instingtual ghaib. Pertempuran penentu takdir Blambangan kini telah resmi berada di ambang letupan pertamanya.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!