Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Bel tanda fase pembuatan dimulai berbunyi pukul sembilan tepat.
Aula yang tadi penuh bisik-bisik langsung berubah menjadi ruang kerja. Peserta menunduk di meja masing-masing. Lampu kerja menyala. Kamera dokumentasi bergerak pelan di antara barisan, menjaga jarak agar tidak mengganggu.
Di tribun, penonton juga ikut menahan suara. Ada yang benar-benar ingin melihat karya. Ada yang hanya menunggu seseorang gagal. Di baris belakang, Brandon melipat tangan, wajahnya tegang tanpa ia sadari. Ia belum sepenuhnya percaya Keira, tetapi melihat tiga pria yang pernah melecehkannya duduk tidak jauh membuatnya gelisah.
Seline mulai lebih dulu.
Ia membuka kotak material dengan gerakan halus, menempatkan Batu Rubi Darah Merpati di tengah rancangan brosnya. Sketsa Bros Merak miliknya memang megah. Ekor merak terbuka, rubi menjadi pusat tubuh, garis logam mengalir keluar seperti bulu yang akan dipenuhi batu kecil.
Batu Rubi berseru, "Gue bakal jadi bintang panggung! Rubi darah merpati, baby! Nggak ada yang bisa ngalahin gue!"
Keira mendengar sambil mengatur safir retak di atas kain lembut.
Teknik Seline tidak buruk.
Itu justru bagian yang membuatnya berbahaya. Ia punya dasar, punya tangan yang cukup stabil, punya guru yang cukup terkenal. Tetapi dari cara ia mengikuti sketsa, Keira bisa melihat sesuatu yang kosong.
Seline membuat bentuk yang cantik.
Ia tidak mendengar jiwa materialnya.
Di meja juri, Cicely memperhatikan muridnya dengan harapan yang sulit disembunyikan. Prof. Hartono mengamati semua peserta secara merata, sesekali mencatat.
Keira menunduk pada safir retaknya.
"Kita mulai?" bisiknya.
Batu Safir menjawab kecil, "Aku takut pecah makin parah."
"Aku tidak akan memaksamu melawan retakanmu." Keira mengambil pensil desain. "Kita akan mengikuti arahnya."
Ia membuat garis pertama.
Retakan utama safir itu membentang miring. Jika dipaksa disembunyikan, batu itu akan terlihat rusak. Jika diikuti, retakan itu bisa menjadi urat sayap.
Kupu-kupu.
Tubuh dari titanium. Sayap dari safir retak. Pecahan berlian sebagai cahaya di sepanjang garis luka. Mutiara cacat sebagai titik lembut di ujung sayap, bukan pusat perhatian, tetapi napas terakhir.
Ia tidak memilih kupu-kupu karena bentuk itu mudah disukai. Ia memilihnya karena metamorfosis tidak pernah rapi. Ada fase gelap, sempit, dan menjijikkan sebelum sesuatu bisa membuka sayap. Retakan safir itu bukan gangguan pada konsep. Retakan itu konsepnya.
Wulan, dari meja tidak jauh, melihat sekilas dan matanya melebar.
Keira belum mulai mengukir ketika panitia mengumumkan material tambahan kecil boleh diambil dari meja cadangan.
Ia berdiri mengambil pecahan berlian ekstra.
Saat itulah Seline bergerak.
Gerakannya tidak besar. Hanya lewat di belakang meja Keira sambil membawa kain pembersih, seolah hendak menuju tempat sampah kecil. Tangannya turun sebentar. Pisau ukir Keira yang asli menghilang dari sisi kanan meja.
Sebagai gantinya, pisau lain diletakkan di sana.
Mata pisaunya tampak sama jika dilihat sekilas.
Tetapi benda tidak pernah diam di depan Keira.
Ketika Keira kembali, jeritan langsung datang dari meja Seline.
"TOLONG! GUE DICULIK! Ini bukan meja gue! Nona, aku di sini! Di sini!"
Pisau ukir asli Keira berteriak seperti korban penculikan sinetron.
Di meja Keira, pisau pengganti menghela napas pasrah.
"Gue mah emang dari lahir tumpul. Mau gimana lagi. Jangan berharap banyak, ya."
Keira menatap pisau tumpul itu.
Lalu menatap Seline.
Seline menunduk pada rubinya, sangat fokus, sangat tidak bersalah.
Keira tidak marah.
Ia malah tersenyum kecil.
Batu Safir berbisik, "Kak?"
"Tidak apa-apa."
Beberapa menit kemudian, Seline pergi ke kamar mandi dengan langkah cepat. Mungkin ingin merapikan riasan sebelum tahap presentasi. Mungkin ingin memastikan wajah pemenangnya tetap sempurna.
Keira bergerak saat kamera dokumentasi berada di sisi lain aula.
Ia mengambil pisau tumpul dari mejanya, berjalan seolah mengambil kain pembersih, lalu menukar kembali dua pisau itu di meja Seline dalam satu gerakan tenang.
Pisau asli Keira kembali ke tangannya dan hampir menangis.
"Aku pulang! Aku pulang! Meja sendiri memang paling nyaman!"
Pisau tumpul, kini kembali ke meja Seline, mendesah. "Balik lagi ke takdir."
Batu Safir tertawa pelan. "Karma itu cepat banget ya, Kak."
"Kadang hanya butuh orang yang bisa mendengar."
Seline kembali tanpa menyadari apa pun.
Ia mengambil pisau tumpul itu dan mulai mengerjakan detail rubi.
Batu Rubi langsung panik.
"Eh? Ini pisaunya kok beda? Kok kasar? Woy, Seline! Ini pisau yang salah! Jangan tekan segitu! Aku mahal!"
Seline tentu tidak mendengar.
Goresan pertamanya terlalu keras.
Tidak sampai menghancurkan rubi, tetapi cukup membuat satu garis detail di pinggir bros menjadi kasar. Seline mengernyit, lalu menyalahkan sudut cahaya. Ia memperbaiki dengan cepat, tetapi kerusakan kecil itu tetap ada, tersembunyi bagi mata awam, jelas bagi mata desainer.
Keira kembali pada karyanya.
Pisau asli meluncur halus di tangannya.
Ia tidak memotong melawan retakan safir. Ia membiarkan garis alami itu menjadi pusat komposisi. Setiap belokan retak diperjelas menjadi urat sayap kupu-kupu. Pecahan berlian kecil disisipkan seperti embun yang menempel pada luka. Titanium dibentuk tipis menjadi badan kupu-kupu, ringan, dingin, hampir tak terlihat agar safir tetap bernapas.
Mutiara cacat ia pecah menjadi dua titik asimetris. Satu lebih besar, satu lebih kecil. Jika dipaksa simetris, keduanya akan tampak gagal. Jika dibiarkan tidak seimbang, keduanya menjadi seperti cahaya yang jatuh tidak serempak di ujung sayap.
Batu Safir mula-mula tegang.
Lalu suaranya berubah.
"Retakanku... jadi cantik?"
Keira menempelkan pecahan berlian terkecil di ujung garis retak. "Jadi punya arah."
"Jadi punya makna?"
"Setiap luka punya cerita. Dan ceritamu indah."
Batu Safir tidak bicara lagi untuk beberapa saat.
Keira tahu itu bukan karena sedih.
Kadang, benda pun perlu waktu untuk percaya bahwa dirinya tidak rusak.
Waktu bergerak cepat.
Seline bekerja semakin terburu-buru. Bros Merak miliknya memang selesai lebih dulu. Dari jauh, rubi merah itu menyala megah di tengah logam yang membentuk ekor merak. Penonton yang melihat dari tribun mulai berbisik kagum.
Batu Rubi masih mengomel, "Aku tetap mahal, tapi luka batinku akibat pisau tumpul tidak ternilai."
Seline menekan bel tanda selesai.
Ting.
Panitia segera mendekat dan menutup karyanya dengan tirai merah kecil untuk menunggu sesi presentasi.
Seline mengangkat dagu. Senyumnya kembali tenang. Ia melihat ke arah Keira, seolah ingin menunjukkan bahwa pemenang sudah menunggu di garis akhir.
Di meja Keira, karya itu belum selesai.
Ia masih menempatkan mutiara cacat terakhir di ujung sayap kanan.
Di bawah lampu kerja, sayap kupu-kupu dari safir retak mulai berkilau biru. Retakan yang dulu memalukan kini menjadi garis hidup yang memandu seluruh bentuk.
Aula menunggu.
Tirai merah Seline siap dibuka.
Keira menunduk, melakukan sentuhan terakhir pada sayap yang hampir terbang.
semangat thor💪