"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 #Terjebak
Bara Fernandez tidak segera bergerak ke bilik toilet mana pun meskipun kesepakatan manis baru saja keluar dari bibir ranum Anya. Alih-alih menyisih untuk bersembunyi, sepasang lengan kokohnya justru semakin mengunci pinggang Anya, membuat punggung gadis itu kian menempel ketat pada pinggiran marmer wastafel yang dingin. Seringai kemenangan di wajah tampan pria berumur tiga puluh lima tahun itu justru terlihat semakin menyebalkan.
Anya mendongak, matanya yang bulat bergetar karena rasa panik yang sudah mencapai ubun-ubun. "Om! Cepat sembunyi! Mau tunggu sampai Calvin mendobrak pintunya?!" bisik Anya frustrasi, tangannya mencengkeram erat lengan Bara.
Bara menundukkan kepalanya, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat kembali menyapu permukaan kulit wajah Anya. "Bagaimana aku bisa percaya pada kata-kata pemberontak kecil sepertimu, hm?" tanya Bara, suaranya berupa bisikan rendah yang sarat akan nada meremehkan sekaligus menggoda. "Seminggu yang lalu kamu menciumku lalu kabur setelah menyuruhku bersyukur. Bisa saja setelah keluar dari kamar ini, kamu kembali amnesia soal janjimu."
Anya benar-benar merasa terjebak. Sudut wastafel yang sempit ini mendadak terasa seperti labirin mematikan tanpa jalan keluar. Dan yang membuat Anya semakin merutuki dirinya sendiri adalah detak jantungnya. Jantung di balik gaun beludru merahnya berdegup begitu kencang dengan ritme gila-gilaan, sebuah perpaduan antara rasa takut setengah mati ketahuan oleh Calvin di luar, dan karena sepasang mata elang di hadapannya ini. Tatapan Bara seolah menembus langsung ke pusat jantungnya, menelanjangi seluruh pertahanan diri yang selama ini dia banggakan di hadapan papanya.
Anya merasa dia sudah gila. Dia harus membenci pria arogan ini, tapi tubuhnya justru membeku di tempat, terhipnotis oleh dominasi yang dipancarkan Bara.
"Om, aku serius..."
Ucapan Anya terputus sepenuhnya ketika Bara tiba-tiba memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman telak di atas bibir merah Anya.
"Emmph!" Anya terkesiap, matanya membelalak horor.
Ciuman kali ini sama sekali berbeda dengan ciuman darurat yang Anya lakukan di klab malam Heaven. Jika seminggu lalu Anya yang memegang kendali, maka malam ini Bara mengambil alih segalanya tanpa ampun. Bibir dingin Bara menekan bibir lembut beraroma ceri milik Anya dengan begitu dalam, menuntut pelunasan atas harga dirinya yang sempat terusik. Anya mencoba memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, tangannya memukul-mukul dada bidang Bara yang keras seperti batu, namun cengkeraman tangan Bara di pinggangnya justru semakin erat, mengangkat tubuh ramping Anya sedikit ke atas agar ciuman mereka semakin intens.
Tok! Tok! Tok!
"Anya! Kamu masih di dalam kan? Suaramu kok nggak ada?" Suara Calvin kembali menginterupsi dari luar, kali ini terdengar jauh lebih cemas dan tegas. "Aku akan panggil petugas hotel sekarang untuk membuka pintu ini dari luar ya? Takutnya kamu pingsan atau kenapa-kenapa di dalam."
Mendengar kata petugas hotel, adrenalin di dalam tubuh Anya melonjak ke tingkat maksimal. Kepanikan masif memberinya kekuatan ekstra. Dengan satu sentakan kuat, Anya berhasil memiringkan kepalanya, memutus pautan bibir mereka secara paksa. Napasnya memburu, bibir merahnya kini tampak sedikit bengkak dan basah akibat ulah Bara.
"Calvin! Jangan!" teriak Anya dengan suara yang sedikit serak, berusaha sekuat tenaga agar nadanya tidak terdengar gemetar.
Namun, Bara Fernandez tampaknya belum puas mempermainkan mangsanya. Ketika Anya berhasil menjauhkan bibirnya, ciuman Bara justru turun, mendarat di sudut rahang tegas Anya, lalu berpindah mengecup daun telinganya yang sensitif sebelum akhirnya turun ke ceruk leher putih mulusnya. Sentuhan bibir dan napas hangat Bara di lehernya membuat sekujur tubuh Anya meremang hebat, menahan desahan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya. Napas Anya semakin berantakan, naik turun dengan cepat di bawah kungkungan Bara yang terus mencium lehernya dengan posesif.
"Calvin... aku... aku tidak apa-apa!" seru Anya lagi setengah terengah-engah, tangannya mati-matian menjambak pelan rambut hitam Bara agar pria itu berhenti menggigit kecil lehernya. "Hanya... perutku tiba-tiba mulas sekali! Iya, perutku mulas!" Anya terpaksa mengarang bebas lagi dengan alasan paling memalukan sepanjang sejarah hidupnya.
Langkah kaki Calvin yang sempat terdengar hendak menjauh dari pintu seketika terhenti. "Mulas? Kamu salah makan, Anya?"
"I-iya! Sepertinya saus truffle tadi kurang cocok di perutku," sahut Anya cepat, matanya melotot tajam ke arah Bara yang kini mendongak, menatap wajah panik Anya dengan kilat tawa yang tertahan di matanya. Pria itu tampaknya sangat menikmati momen di mana Anya harus mengarang cerita konyol.
"Pergilah dulu, Calvin, aku akan segera keluar setelah ini," lanjut Anya, mencoba mengatur intonasi suaranya seadanya. "Aku sengaja mengunci pintunya karena... karena pintu bilik di dalam tidak bisa dikunci! Aku takut ada pengunjung atau pelayan perempuan lain yang tiba-tiba masuk saat aku sedang di toilet. Jadi aku kunci saja pintu utamanya."
Keheningan sempat merayap di luar pintu selama beberapa detik. Calvin tampaknya sedang mencerna alasan logis yang dijabarkan oleh mahasiswi Manajemen Bisnis di dalam sana.
"Oh... begitu ya? Baiklah kalau begitu," sahut Calvin akhirnya, terdengar percaya sepenuhnya pada ucapan tunangannya. Pria itu memang terlalu lurus untuk mencium adanya konspirasi gila di dalam toilet perempuan. "Aku pergi sekarang ya, Anya. Kalau butuh obat, bilang saja nanti biar aku mintakan ke pelayan."
"Iya, terima kasih, Calvin!"
Terdengar suara langkah kaki Calvin yang perlahan menjauh, meninggalkan koridor toilet dan kembali menuju ruang privat makan malam mereka.
Begitu memastikan suasana di luar sudah benar-benar aman, Anya langsung mengumpulkan seluruh tenaganya dan mendorong dada bidang Bara dengan kasar. Kali ini, Bara membiarkan dirinya mundur satu langkah, melepaskan kurungan lengannya dari pinggang Anya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan gaya yang sangat angkuh namun menawan.
Anya segera merapikan bagian depan gaun beludru merahnya yang sedikit berantakan. Dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, menatap Bara dengan pandangan mata yang dipenuhi kobaran amarah.
"Om ini... namanya pelecehan tahu nggak?!" ketus Anya dengan napas yang masih sedikit memburu, wajahnya merah padam sampai ke leher yang baru saja dicium oleh Bara.
Bara menaikkan satu alisnya, menatap Anya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat menyebalkan. "Pelecehan?" tanya Bara dengan nada suara baritonnya yang tenang. "Lalu aksi nekatmu menerobos ruang privatku seminggu yang lalu dan menciumku tanpa izin, kamu sebut apa, Zevanya? Apakah itu bukan pelecehan terhadap seorang Fernandez?"
Anya seketika terbungkam. Lidahnya mendadak kelu untuk mendebat argumen pria di hadapannya ini. Sialan, dia selalu kalah telak jika pria ini sudah mengungkit insiden di klab Heaven.
"Ah, sudahlah! Aku malas berdebat dengan Om!" ketus Anya kesal. Dia berbalik, meraih tas beludru hitamnya di atas wastafel, lalu bersiap melangkah menuju pintu untuk keluar dari ruangan terkutuk ini.
"Tunggu dulu, Gadis Manis," suara bariton Bara kembali menginterupsi langkah Anya tepat sebelum jemari lentik gadis itu menyentuh gerendel pintu.
Anya menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan tatapan jengah. "Apa lagi, Om?!"
Bara melangkah mendekat perlahan, senyum misterius kembali terukir di wajah tampannya yang bersih tanpa jambang. "Jangan lupakan perkataanmu beberapa menit yang lalu di bawah wastafel itu. Kamu sudah berjanji akan menuruti apa saja mauku sebagai imbalan agar rahasiamu tetap aman."
Anya mendengus sinis, lalu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Bara. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba mengembalikan gaya usil dan kepedeannya yang sempat hilang.
"Hah? Nggak bisa begitu dong, Om!" protes Anya dengan nada meremehkan yang dibuat-buat. "Kesepakatan itu sudah batal secara otomatis! Om kan sudah mengambil imbalan sendiri dengan menciumku secara paksa barusan. Lagian... tadi kan aku menyuruh Om untuk sembunyi di bilik toilet, tapi nyatanya Om sama sekali tidak mau sembunyi dan malah terus mengurungku di sini!"
Anya tersenyum penuh kemenangan, merasa dia berhasil menemukan celah hukum dalam kesepakatan darurat mereka.
Namun, Bara Fernandez bukanlah pria sembarangan yang bisa dikecoh oleh argumen anak kuliahan. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu justru terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat seksi namun sarat akan manipulasi yang cerdas.
Bara berjalan hingga berhenti tepat di depan Anya, menundukkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan tinggi gadis itu.
"Ciuman tadi itu... adalah pelunasan awal untuk drama 'buah ceri' yang kamu karang di depan keluargaku tadi," bisik Bara dengan nada suara yang sangat tenang namun mengunci. "Sementara soal janjimu untuk menuruti apa saja mauku... aku sudah memenuhi bagianku dengan tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat Calvin berada di depan pintu. Jika tadi aku mengeluarkan satu kata saja, rahasiamu sudah hancur malam ini juga."
Bara menegakkan kembali tubuhnya, menatap Anya yang kini kembali melongo karena argumennya dipatahkan dengan begitu mutlak. Bara mengulurkan satu tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut sisa lipstik yang berantakan di sudut bibir Anya.
"Jadi, Zevanya Anneliza... hutangmu masih utuh di tanganku. Bersiaplah untuk menuruti perintahku selanjutnya," bisik Bara penuh arti sebelum dia berbalik, membuka gerendel pintu toilet dengan santai, dan melangkah keluar terlebih dahulu meninggalkan Anya yang masih mematung menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.