NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Teror Bagi yang Bertanya

Tiga hari telah berlalu sejak malam jahanam itu, dan rumah Sekar telah berubah menjadi zona mati di ujung kampung. Tidak ada lagi tetangga yang berani sekadar menyapa di depan pagar. Aura dingin yang pekat, bau kemenyan yang samar namun menolak hilang, serta selentingan miring tentang "penyakit aneh" Sekar telah menyebar seperti wabah. Sekar benar-benar mengurung diri. Dia tidak lagi pergi ke kampus. Di dalam kamarnya yang remang, dia menghabiskan waktu dengan meratapi kulit lengannya yang kian mengilap memucat, sementara sisik di punggungnya terus berdenyut, mengakar semakin dalam ke tulang belakangnya.

Namun, isolasi buatan Kalingga tidak menghentikan Dinda.

Dinda adalah sahabat terdekat Sekar sejak semester pertama kuliah. Dia adalah tipe gadis yang rasional, keras kepala, dan teramat peduli. Sejak Sekar mendadak menghilang tanpa kabar dan hanya mengirimkan pesan singkat berupa untaian kalimat kaku yang tidak menyerupai gaya bahasanya, firasat Dinda langsung bergolak. Dinda tahu ada yang tidak beres. Dia tahu tentang rahasia kelam keluarga Sekar yang perlahan mulai terkuak belakangan ini.

Sore itu, langit di atas kampung mendadak mendung pekat. Awan hitam bergulung-gulung rendah, menciptakan kegelapan prematur yang tidak wajar pada pukul empat sore. Angin bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang saat Dinda menghentikan sepeda motornya di depan pagar besi rumah Sekar yang berkarat.

Suasana di sekitar rumah itu teramat sunyi. Sepi yang ganjil, seolah-olah seluruh serangga dan burung telah mati atau melarikan diri dari radius seratus meter.

"Sekar? Tante Rahayu?" panggil Dinda sembari melangkah turun dari motornya. Suaranya terdengar cempreng dan hampa, langsung ditelan oleh keheningan yang tebal.

Dinda berjalan mendekati pagar besi yang tertutup rapat. Namun, baru saja tangannya hendak menyentuh selot besi pagar, sebuah suara desiran halus yang teramat masif menghentikan gerakannya.

Sreeet... sssss... sss...

Jantung Dinda mencelos. Di balik celah bawah pagar kayu dan di antara rerumputan liar di halaman rumah Sekar, tanah seolah-olah bergeser dan hidup. Puluhan, ratusan, hingga perlahan menjadi ribuan ekor ular tanah berukuran kecil—sebesar ibu jari manusia dengan warna cokelat kehitaman dan lurik merah darah—merayap keluar dari balik bebatuan dan celah fondasi.

Mahluk-mahluk melata itu bergerak serempak, saling tumpang-tindih di atas tanah hingga membentuk sekat barikade hidup setinggi mata kaki tepat di sepanjang garis pagar bagian dalam. Ribuan kepala kecil itu mendongak serentak ke arah Dinda. Mata mereka yang hitam pekat berkedip dingin, dan lidah-lidah bercabang mereka menjulur keluar-masuk, menciptakan suara desisan kolektif yang terdengar seperti bisikan ribuan orang jahat di dalam kegelapan.

Dinda melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri sempurna. Sebagai manusia normal, instingnya meneriakkan satu kata: Lari.

Namun, saat dia mendongak ke arah jendela kamar Sekar, dia melihat gorden tipis di sana bergerak. Selama beberapa detik, Dinda bersumpah melihat siluet Sekar berdiri di balik kaca. Wajah sahabatnya itu tampak begitu kurus, pucat, dan matanya memancarkan kesedihan yang teramat dalam, seolah-olah sedang memohon pertolongan yang tidak bisa diucapkan.

Rasa iba dan keras kepala Dinda mengalahkan rasa takutnya.

"Sekar! Aku tahu kamu di dalam!" teriak Dinda.

Dia mengambil sebuah bilah kayu panjang yang tergeletak di tepi jalan. Dengan tangan gemetar, Dinda nekat mendorong pagar besi itu hingga terbuka dengan derit keras. Dia mengayunkan bilah kayu ke arah kumpulan ular tanah di depannya, berusaha mengusir mereka agar membuka jalan.

"Pergi! Pergi kalian!" jerit Dinda histeris.

Anehnya, ular-ular itu tidak menyerangnya secara agresif. Mereka justru membelah diri dengan luwes, memberikan celah kecil seolah-olah sengaja membiarkan Dinda masuk ke dalam jebakan yang lebih besar. Namun, hawa di dalam halaman rumah itu terasa berkali-kali lipat lebih dingin. Udara seakan menolak masuk ke dalam paru-paru Dinda, menyisakan rasa sesak yang mencekik tenggorokan.

Dinda berlari kecil melewati halaman, melompati sisa-sisa kumpulan ular, dan menggedor pintu depan rumah Sekar dengan brutal.

Gedor! Gedor! Gedor!

"Tante! Sekar! Buka pintunya! Ini Dinda!"

Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa seperti kuburan beton yang dingin. Namun, dari balik pintu kayu yang tebal, Dinda bisa mendengar suara desisan ganda yang besar—bukan dari ular kecil, melainkan dari sesuatu yang berukuran raksasa yang sedang merayap lambat di atas lantai ruang tamu. Bersamaan dengan itu, aroma kenanga busuk yang teramat tajam menyembur keluar dari celah bawah pintu, menghantam indra penciuman Dinda hingga gadis itu terbatuk-batuk, matanya perih dan berair.

Pada saat yang sama, sepasang mata ular tanah yang berada di dekat kaki Dinda mendadak berubah warna menjadi emas menyala.

Dinda tersentak. Rasa takut yang murni dan primitif akhirnya menjebol pertahanan logikanya. Dia tahu, ini bukan lagi urusan medis atau masalah keluarga biasa. Ini adalah wilayah setan.

Tanpa menunggu lebih lama, Dinda berbalik, berlari kesetanan keluar dari halaman rumah tersebut, mengabaikan bilah kayunya yang terjatuh. Dia melompat ke atas motornya, menyalakan mesin dengan tangan yang bergetar hebat, dan langsung tancap gas meninggalkan gang rumah Sekar tanpa berani menoleh ke belakang sama sekali.

Dia tidak tahu, bahwa dari balik kegelapan kaca jendela, sepasang mata emas bermata silet sedang menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan murka. Sang Kalingga tidak menyukai manusia yang terlalu banyak bertanya. Dan bagi mahluk seperti dirinya, setiap pelanggaran batas wilayah harus dibayar dengan harga yang teramat mahal.

Dinda tiba di rumahnya sendiri saat azan Magrib berkumandang di tengah guyuran hujan yang mendadak turun dengan deras. Tubuhnya basah kuyup, bukan hanya karena air hujan, melainkan karena keringat dingin yang terus mengucur.

"Kamu kenapa, Din? Kok wajahmu kayak lihat setan?" tanya ibunya saat melihat Dinda masuk ke rumah dengan tatapan kosong dan napas yang terengah-engah.

"Ngg-nggak apa-apa, Bu. Dinda cuma kecapekan," jawab Dinda terbata-bata. Dia segera berlari ke kamarnya, mengunci pintu, dan mengganti pakaiannya.

Malam itu, Dinda menolak untuk makan malam. Dia mengurung diri di bawah selimut, menyalakan seluruh lampu kamarnya, berusaha mengusir bayangan ribuan mata ular yang terus menghantui pikirannya. Dia berniat, besok pagi-pagi sekali, dia akan menceritakan keanehan rumah Sekar kepada pak RT atau orang pintar yang dia kenal. Dia harus menyelamatkan Sekar.

Namun, Dinda tidak pernah tahu, bahwa keputusannya untuk menerobos pagar sore tadi telah menandai dirinya sebagai target eksekusi gaib.

Sekitar pukul sebelas malam, lampu kamar Dinda mendadak berkedip-kedip. Pet. Lampu itu mati total, menyisakan kegelapan pekat yang instan di dalam kamarnya. Bersamaan dengan matinya lampu, suara hujan di luar rumah mendadak senyap, digantikan oleh keheningan malam yang teramat pekat dan mencekam.

Dan dari sudut langit-langit kamarnya yang gelap, suara desisan itu kembali terdengar. Kali ini, suaranya begitu dekat, tepat di atas kepalanya.

Hawa sedingin es membeku seketika di dalam kamar Dinda, mengembunkan setiap tarikan napasnya menjadi uap putih tipis. Dari sudut langit-langit yang gelap gulita, hawa anyir kenanga busuk menyembur turun, menyesaki paru-parunya. Dinda meringkuk di bawah selimut, matanya terpejam rapat, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dia mencoba meraba ponselnya di samping bantal, namun jemarinya terasa kaku, seolah-olah seluruh persendiannya telah membeku akibat penurunan suhu yang ekstrem ini.

Sreeet... Sreeet...

Suara gesekan sisik tebal di atas plafon kamar terdengar kian mendekat. Detik berikutnya, suara itu berpindah ke tiang ranjangnya. Sesuatu yang teramat berat dan masif sedang merayap turun. Beban kasur di bagian kaki Dinda perlahan amblas ke bawah, menandakan sebuah eksistensi raksasa baru saja menumpu bobotnya di sana.

Dinda ingin menjerit, namun tenggorokannya mendadak terkunci rapat, kering seumpama padang pasir.

Tiba-tiba, selimut yang membungkus tubuhnya ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata, menyentaknya hingga terlempar ke tengah kegelapan ranjang. Di sanalah, di kegelapan yang pekat, Dinda melihatnya. Sepasang mata emas berukuran sebesar cawan dengan pupil vertikal yang menyala seumpama bara api, menatap tepat ke arah jiwanya dari jarak hanya beberapa sentimeter.

"Kau... terlalu banyak tahu, manusia fana," sebuah suara bariton yang berat menggema langsung di dalam rongga dada Dinda, bukan lewat telinga. Suara itu bergetar begitu hebat hingga membuat jantung Dinda berdenyut kesakitan.

Sebelum Dinda sempat memproses rasa takutnya, lilitan dingin sewarna legam mengikat pergelangan kakinya. Lilitan itu merayap naik dengan kecepatan kilat, membungkus paha, pinggang, hingga dadanya dalam hitungan detik. Itu adalah ekor raksasa Sang Kalingga. Sisik-sisiknya yang kaku dan tajam menggores kulit piyama Dinda, menyalurkan rasa sakit yang membakar di balik dingin yang membekukan.

Lilitan itu menyempit dengan kekuatan yang mengerikan. Dinda bisa mendengar suara tulang rusuknya sendiri yang melengkung dan berderak di ambang batas patah. Paru-parunya kehabisan oksigen. Setiap kali dia mencoba mengembuskan napas, lilitan itu akan mengencang satu milimeter lagi, mengunci ruang dadanya hingga dia benar-benar sekarat di atas ranjangnya sendiri. Di kegelapan itu, wajah tampan bermahkota naga milik Kalingga perlahan muncul di balik bayangan, tersenyum lebar mengekspos deretan taring tajamnya yang berkilat.

"Jangan pernah mencampuri urusan permaisuriku lagi... atau nyawamu akan menjadi hiasan di dasar sendangku," desis Kalingga. Mahluk itu mengulurkan lidahnya yang bercabang, menyapu permukaan pipi Dinda, meninggalkan jejak lendir dingin yang berbau busuk.

Dinda merasakan kesadarannya mulai memudar. Pandangannya menggelap, dan tepat sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia merasakan sebuah hantaman gaib yang tak kasat mata menusuk tepat ke dalam pangkal tenggorokannya.

Keesokan paginya, cahaya matahari menembus jendela kamar Dinda yang berantakan. Gadis itu terbangun dengan sentakan hebat, terengah-engah seolah-olah baru saja keluar dari permukaan air setelah tenggelam berjam-jam.

"Mimpi... itu cuma mimpi..." batin Dinda menghibur diri, meskipun seluruh tubuhnya terasa remuk redam dan memar kebiruan berbentuk sulur melingkar tercetak jelas di sekeliling pinggang dan lengannya.

Pintu kamarnya diketuk dari luar. Ibunya masuk dengan wajah cemas. "Dinda? Kamu gak apa-apa? Semalam Ibu dengar ada suara berisik dari kamarmu, tapi pintunya gak bisa dibuka dari luar."

Dinda membuka mulutnya. Dia berniat untuk berteriak, menceritakan teror ular raksasa semalam, menceritakan tentang kondisi Sekar, dan meminta ibunya untuk memanggil bantuan. Dia ingin berteriak sekeras-kerasnya.

Namun, tidak ada suara yang keluar.

Dinda membelalakkan mata. Dia mencoba lagi, mengerahkan seluruh tenaga dari diafragmanya untuk memproduksi kata. Yang terdengar hanyalah suara embusan angin hampa yang parau dari tenggorokannya. “Huuuh... uuuh...”

Panik, Dinda mencengkeram lehernya sendiri. Dia berlari ke arah cermin riasnya. Saat dia membuka mulut lebar-lebar, dia melihat pangkal lidahnya telah membiru kehitaman, seolah-olah telah mati rasa dan lumpuh total akibat racun gaib yang ditanamkan Kalingga semalam. Pita suaranya telah dikunci. Dia telah diubah menjadi bisu.

"Dinda? Kamu kenapa, Nduk? Kok diam saja?!" Ibunya mulai panik, memegangi pundak Dinda.

Dinda meraih secarik kertas dan sebuah pena di atas meja. Dengan tangan yang gemetar hebat hingga nyaris merobek kertas, dia mencoba menuliskan kata: SEKAR.

Sreeet!

Baru saja huruf 'R' selesai ditulis, tangan Dinda mendadak kaku, mengalami kram ekstrem yang sangat menyakitkan hingga pena di tangannya patah menjadi dua. Setiap kali otaknya berniat untuk memikirkan atau menyampaikan informasi tentang Sekar—baik lewat tulisan, isyarat tangan, maupun ketikan ponsel—saraf-saraf di tubuhnya akan langsung mengunci secara otomatis, menyiksanya dengan rasa sakit yang luar biasa seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke otaknya.

Kalingga tidak hanya merenggut suaranya; mahluk itu telah merantai seluruh akses komunikasi Dinda yang berkaitan dengan Sekar.

Di saat yang sama, di dalam kamarnya yang temaram, Sekar sedang duduk menghadap jendela. Jarak rumah mereka memang jauh, namun entah mengapa, Sekar bisa merasakan getaran keputusasaan Dinda dari kejauhan.

Sekar menatap telapak tangan kirinya yang kini telah sepenuhnya memucat, licin tanpa pori-pori. Air matanya menetes, namun tidak lagi terasa hangat; air mata itu terasa dingin saat mengalir melewati pipinya yang mulai ditumbuhi sisik-sisik mikro kelabu.

"Maafkan aku, Dinda..." bisik Sekar dengan suara desisan ganda yang kini terdengar semakin dominan dan matang. "Jangan mendekat lagi... jangan ada yang mendekat lagi."

Pintu kamar Sekar berderit pelan. Ibunya, Rahayu, mengintip dari balik celah dengan tatapan ketakutan yang kini bercampur dengan kepasrahan yang hampa. Mereka berdua tahu, perimeter gaib yang dibangun oleh Sang Kalingga telah sempurna. Rumah ini telah resmi terputus dari peradaban manusia. Tidak ada lagi sahabat, tidak ada lagi tetangga, tidak ada lagi penolong. Yang tertinggal hanyalah Sekar, ibunya, dan hitung mundur yang kian menyempit menuju malam Sabtu Kliwon berikutnya, di mana sang pemilik sah dari tubuh bersisik itu akan datang kembali untuk menuntut haknya secara utuh.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!