Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Nana tidak sempat mundur.
Steven mengangkat kepala.
Matanya langsung mengarah ke celah pintu, tajam dan gelap. Nana merasa seluruh tubuhnya membeku. Ia sudah berkali-kali tertangkap basah di pasar, tapi tidak pernah seperti ini. Di hadapan satpam, ia bisa berlari. Di hadapan Steven Sie yang berdiri di depan foto orang mati, bahkan napas pun terasa terlalu berisik.
"Keluar," katanya.
Nana tidak tahu apakah itu berarti keluar dari persembunyian atau keluar dari hidupnya.
Ia mendorong pintu sedikit, cukup untuk memperlihatkan diri. "Saya mau ambil air."
Steven menatapnya beberapa detik. Tidak marah. Tidak terkejut. Justru itu yang membuat Nana lebih tidak nyaman.
"Paviliun belakang punya dispenser."
"Airnya habis."
"Besok minta diisi."
Nana mengangguk. "Baik."
Ia berbalik cepat.
"Dan Nana."
Langkahnya berhenti.
Steven tidak bergerak dari meja kecil itu. Cahaya dupa membuat wajahnya tampak lebih pucat.
"Apa pun yang kau dengar malam ini, simpan untuk dirimu sendiri."
Nana menelan ludah. "Saya tidak mendengar apa-apa."
Untuk pertama kalinya, Steven seperti hampir tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan garis tipis yang membuat orang sadar bahwa ia tahu kebohongan itu.
"Bagus."
Nana pergi tanpa menoleh.
Pagi berikutnya, Rumah Besar Sie bergerak seperti mesin yang semua rodanya sudah dipoles. Pelayan membuka tirai. Sopir memanaskan mobil. Kepala pelayan membagi jadwal. Nana mendapat tugas membawa teko teh ke ruang rapat kecil di dekat ruang kerja William.
"Jangan masuk kalau belum dipanggil," pesan kepala pelayan. "Taruh nampan di meja samping. Jangan bicara kecuali ditanya."
Nana mengangguk.
Ruang rapat kecil itu pintunya tidak tertutup penuh. Dari celahnya, suara William terdengar rendah.
"Kalau kontrak pelabuhan itu lepas, mereka akan masuk lewat rantai distribusi. Setelah itu pabrik kita yang berikutnya."
Nana tidak mengerti semua istilahnya, tapi ia mengerti nada orang yang sedang dikepung.
Tamara menjawab, "Tim legal bilang tekanan dari pihak Victoria Wan makin terang-terangan. Mereka memakai perusahaan lapis. Di kertas terlihat bersih."
"Di kertas semua orang kaya terlihat bersih," suara Lusia menyela dengan malas. "Masalahnya, kenapa kita yang selalu terlihat panik?"
"Karena kau tidak pernah membaca angka," kata Tamara, masih lembut.
Hening sebentar.
Nana hampir tersenyum, lalu cepat menunduk.
"Stella tidak perlu tahu detail ini," ujar William.
"Stella bukan anak kecil," bantah Tamara.
"Dia sudah cukup memikirkan hal lain."
Nama Patrick tidak disebut, tapi Nana merasakan bayangannya lewat di ruangan itu.
Kepala pelayan memberi isyarat dari ujung lorong. Nana masuk dengan nampan. Aroma teh melati naik dari cangkir porselen. Ia menaruhnya satu per satu, mulai dari William, Tamara, Lusia, lalu kursi kosong di sisi kanan yang belum ia tahu milik siapa.
Saat berbalik, ujung lengan seragamnya menyentuh map cokelat di meja. Map itu bergeser. Beberapa lembar dokumen keluar setengah.
Nana langsung menahan napas.
Lusia melihatnya.
"Baru tiga hari sudah mulai menyentuh dokumen?"
"Maaf," ucap Nana cepat. "Tidak sengaja."
"Pencuri memang sering tidak sengaja."
Tangan Nana mengepal di sisi tubuhnya.
William menatapnya tanpa ekspresi. "Rapikan."
Nana merapikan map itu. Ia tidak membaca, tapi matanya menangkap satu baris besar di halaman atas: audit gudang lama, penundaan pengiriman, vendor baru dari Singapore.
Kata Singapore membuatnya ingat Victoria Wan.
"Pelan-pelan," suara seorang pria terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh.
Pria itu berdiri sambil memegang tas kulit tua. Usianya lebih tua dari William atau mungkin terlihat begitu karena cara ia membawa tubuhnya, tenang dan tidak terburu-buru. Kemeja batiknya rapi, kacamatanya tipis, rambutnya memutih di pelipis. Di wajahnya ada senyum yang tidak memaksa orang untuk membalas.
William berdiri. "Albert."
Lusia langsung mengubah wajah. "Akhirnya Paman Albert datang. Rumah ini butuh orang waras."
Tamara menyambutnya dengan anggukan hangat. "Perjalanan lancar?"
"Surabaya masih suka membuat orang sabar," jawab Albert Sie ringan. Lalu matanya jatuh ke Nana yang masih memegang map. "Dan ini?"
Stella muncul dari belakang Albert, wajahnya cerah. "Nana. Aku yang membawanya."
"Ah." Albert melangkah masuk. "Anak yang membuat seluruh rumah punya topik baru."
Nana menunduk. "Maaf, Paman Albert."
Ia tidak tahu kenapa memanggilnya begitu. Mungkin karena semua orang di ruangan itu memancarkan rasa hormat yang berbeda kepadanya. Bukan takut seperti pada William, bukan menjaga jarak seperti pada Tamara, bukan waspada seperti pada Lusia.
Albert justru tersenyum.
"Kalau sudah dipanggil Paman, berarti aku harus bersikap seperti paman." Ia mengambil map dari tangan Nana, menyusunnya rapi, lalu meletakkannya kembali di meja. "Anak baru biasanya memang belum tahu meja mana yang bisa disentuh dan meja mana yang beracun."
Lusia tertawa kecil. "Beracun?"
"Di rumah keluarga besar, kadang kertas lebih berbahaya daripada pisau," jawab Albert.
Nana mendongak tanpa sadar.
Kalimat itu terlalu tepat.
William menunjuk kursi. "Duduk. Kami sedang membahas tekanan Victoria Wan."
Albert duduk di kursi kosong yang tadi Nana beri teh. Seolah kursi itu memang menunggu dirinya.
"Aku sudah dengar sedikit," katanya. "Mereka menekan dari pelabuhan karena ingin memaksa kita membuka data gudang. Jangan beri mereka pintu depan."
Tamara menatapnya. "Berarti?"
"Pakai pintu samping. Undang audit independen dari pihak yang mereka tidak bisa beli."
William diam. Lusia juga diam. Untuk pertama kalinya sejak Nana masuk ruangan itu, semua orang mendengarkan satu orang yang tidak perlu mengeraskan suara.
Albert menoleh kepada Nana.
"Nak, boleh tolong ambilkan satu cangkir lagi? Teh ini sudah dingin sebelum aku sempat meminumnya."
Nada suaranya biasa saja, tapi Nana mengerti. Ia diberi alasan untuk keluar dari ruangan sebelum lebih banyak mendengar.
"Baik, Paman Albert."
Di luar, Stella menunggu dekat pilar. Ia menghela napas lega.
"Dia baik, kan?"
Nana menatap pintu ruang rapat yang tertutup perlahan. Di dalam sana, suara Albert tetap tenang di antara nama Victoria Wan, pelabuhan, dan gudang lama.
Untuk pertama kalinya sejak masuk Rumah Besar Sie, Nana hampir ingin percaya pada penilaian orang lain.
"Kelihatannya begitu," jawabnya.
Stella menyikutnya pelan. "Untukmu, itu sudah pujian besar."
Nana tidak membantah.
Namun saat ia berjalan kembali ke dapur, ia melewati jendela samping ruang rapat. Dari pantulan kaca, ia melihat Albert masih tersenyum sambil bicara.
Hanya tangannya yang tidak tersenyum.
Jari-jarinya mengetuk meja tiga kali, berhenti, lalu mengetuk dua kali lagi. Pola itu terlalu rapi untuk kebiasaan biasa.
Nana berhenti setengah detik.
Di pasar, orang yang berjudi memakai pola seperti itu untuk memberi tanda. Tukang parkir liar juga begitu saat polisi lewat. Tiga ketukan, jeda, dua ketukan. Bukan gelisah. Bukan iseng. Ada pesan yang hanya dimengerti orang tertentu.
Lalu suara kepala pelayan memanggil dari ujung lorong, membuatnya cepat kembali berjalan.