Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aroma Debu dan Kekuasaan Semu
Jarak dari Pabrik Tua menuju Pasar Lama tidak terlalu jauh — sekitar dua puluh menit jika berjalan santai, atau sepuluh menit jika mengendarai motor. Tapi bagi Kael, Bastian, Niko, dan Mikhael, perjalanan kali ini terasa lebih cepat dari biasanya. Langkah mereka teratur, tidak tergesa-gesa tapi pasti, seolah sudah tahu persis apa yang akan mereka hadapi nanti.
Jalanan di selatan kota dipenuhi debu yang beterbangan setiap kali ada orang atau kendaraan lewat. Di sisi kiri dan kanan jalan berdiri rumah-rumah kayu yang saling berhimpitan, atapnya terbuat dari daun kering atau seng yang sudah berkarat. Warga yang melihat mereka lewat segera menyingkir, menundukkan kepala, atau masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Mereka mengenali siapa keempat orang ini — meskipun jarang terlihat berkeliling, kehadiran mereka selalu membawa rasa hormat sekaligus waspada.
"Kalian lihat?" tanya Bastian sambil berjalan di sebelah Kael, matanya menatap lurus ke depan. "Biasanya jalanan ini ramai dengan orang yang berjalan pulang pergi, tapi hari ini sepi sekali. Sudah pasti kabar tentang kelompok baru itu sudah menyebar dan membuat orang takut keluar rumah."
Niko yang berjalan agak di belakang sedikit, matanya mengamati setiap sudut jalan, setiap lorong sempit yang bisa jadi tempat persembunyian. "Roderick ini bukan orang bodoh. Kalau dia berani bertindak sebesar ini, berarti dia sudah memikirkan langkahnya. Mungkin dia mengira kita tidak akan segera bertindak, atau mengira kita sudah lemah karena terlalu lama diam."
"Atau dia hanya terlalu sombong untuk berpikir panjang," sahut Mikhael sambil tersenyum tipis, tapi senyumnya kali ini tidak sampai ke matanya. "Orang yang baru merasakan sedikit kekuasaan biasanya paling cepat lupa diri."
Setelah berjalan beberapa menit lagi, aroma bumbu masakan, kopi, dan debu jalanan yang khas mulai tercium semakin kuat. Suara orang berbicara, barang dagangan ditata, dan kendaraan lewat mulai terdengar jelas — tanda mereka sudah mendekati Pasar Lama.
Namun, begitu berbelok ke ujung jalan utama, suasana yang terlihat membuat mereka berhenti sejenak.
Pasar Lama yang biasanya ramai dan berisik, kini terasa hening dan tegang. Pedagang yang biasanya duduk santai memanggil pembeli, sekarang hanya menunduk diam, tangannya meremas ujung kain atau peralatan dagangan mereka. Di sepanjang jalan utama, berdiri puluhan pemuda berpakaian serba gelap, memegang tongkat kayu sepanjang lengan, dan berjalan mondar-mandir dengan tatapan angkuh. Di tengah alun-alun kecil di bagian paling ramai pasar, terlihat sosok yang duduk di atas meja panjang yang diambil dari kios pedagang.
Itu adalah Roderick.
Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan jas putih yang bersih dan terawat, sangat kontras dengan debu dan tanah di sekitarnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya terlihat tenang bahkan sedikit tersenyum, tapi matanya memandang sekeliling dengan pandangan yang meremehkan. Di tangannya, sebuah korek api perak dibuka dan ditutup berulang kali, menimbulkan bunyi "klik-klik" yang terdengar jelas di tengah keheningan itu.
Di sampingnya berdiri dua orang yang terlihat menjadi pengawalnya, badan mereka besar dan tegap, memandang ke segala arah seolah mengancam siapa saja yang berani melangkah lebih dekat.
"Lihat dia," gumam Bastian, tangannya sudah mengepal erat di samping tubuhnya. "Duduk di atas barang milik orang lain seolah itu takhta dia sendiri. Apa dia benar-benar tidak tahu siapa yang wilayahnya dia injak?"
Kael mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar mereka tetap tenang. "Jangan langsung meledak. Kita dekati dulu, bicara baik-baik. Lihat apakah dia masih bisa diajak berunding, atau memang sudah memilih jalan yang salah."
Mereka berempat melangkah masuk ke area pasar. Begitu kaki mereka menginjak jalan utama, tatapan semua orang langsung tertuju ke arah mereka. Para pedagang mengangkat kepala perlahan, matanya terlihat berharap sekaligus cemas. Sedangkan orang-orang yang berdiri berjaga di sepanjang jalan segera menghentikan langkah mereka, memegang tongkat lebih erat, dan membentuk barisan menghadap ke arah keempat sahabat itu.
Salah satu dari mereka, yang terlihat menjadi komandan kecil, melangkah maju dan berteriak lantang.
"Berhenti! Ini wilayah yang sekarang dikelola oleh Elang Berdarah! Siapa kalian yang berani masuk tanpa izin?"
Bastian mendengus pelan, tapi Kael melangkah maju sedikit ke depan, menatap orang itu dengan tatapan tenang namun memaksa orang lain untuk merasakan beratnya.
"Kami datang bukan untuk berkelahi tanpa alasan," jawab Kael dengan suara yang tidak keras tapi terdengar jelas sampai ke ujung pasar. "Kami ingin bertemu dengan pemimpin kalian, Roderick. Ada hal yang perlu dibicarakan."
Mendengar nama itu, bunyi klik korek api di tengah alun-alun terhenti. Roderick mengangkat kepalanya, menoleh perlahan ke arah mereka, lalu tersenyum lebih lebar — senyum yang terasa dingin dan meremehkan. Dia melambaikan tangannya pelan, memberi isyarat agar anak buahnya menyingkir sedikit.
"Boleh saja," teriak Roderick dengan suara yang lantang, bergema di seluruh tempat itu. "Aku sudah menunggu kedatangan kalian. Sudah lama aku mendengar tentang kelompok yang mengaku menjaga wilayah ini tapi hanya bersembunyi di balik tembok tua. Ayo, maju ke sini — biar kita lihat apakah penampilan kalian sehebat cerita yang beredar."
Bastian ingin melangkah cepat, tapi lengan bajunya ditahan oleh Niko. "Tenang. Dia sengaja memancing emosi. Jangan terjebak permainannya."
Mereka berempat berjalan maju melewati barisan orang-orang Elang Berdarah. Setiap langkah mereka terasa berat, dan setiap pasang mata yang melihatnya terasa menekan. Namun, Kael dan kawan-kawannya berjalan dengan kepala terangkat, punggung lurus, tanpa sedikit pun terlihat ragu.
Sesampainya di hadapan Roderick, mereka berhenti tepat tiga meter di depan meja tempat pria itu duduk. Roderick menatap mereka satu per satu, mulai dari Kael, lalu ke Bastian, Niko, dan terakhir Mikhael. Matanya berhenti sejenak seolah menilai kekuatan mereka, lalu mengangkat bahu santai.
"Jadi inilah yang disebut Malaikat Hitam?" katanya sambil memutar korek api di jari-jarinya. "Hanya empat orang? Tidak ada ratusan anggota seperti yang orang bicarakan? Ternyata namanya saja yang besar, tapi kenyataannya hanya segelintir orang yang bersembunyi."
"Jumlah bukanlah ukuran kekuatan," jawab Kael tenang, suaranya tidak terangkat tapi cukup tegas. "Kami datang bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk mengingatkanmu batas wilayah. Pasar Lama ini sudah lama berada di bawah pengawasan kami. Aturan yang berlaku di sini sudah disepakati bersama para pedagang. Siapa pun yang melanggarnya, harus bertanggung jawab."
Roderick mendengus, lalu tertawa kecil yang terdengar menyindir. "Aturan kalian? Batas wilayah? Itu semua hanya berlaku selama orang masih takut pada kalian. Tapi lihatlah sekarang — tidak ada yang lagi menghormati aturan itu. Kalau kalian benar-benar kuat, mengapa selama ini hanya diam saja? Mengapa membiarkan orang-orang ini hidup dalam ketakutan dan kemiskinan? Kalian hanya bersembunyi, menikmati hasil tanpa mau bekerja."
"Kita menikmati hasil hanya sebesar yang dibutuhkan," potong Niko dengan nada datar. "Uang yang kami terima hanya cukup untuk makan dan kebutuhan dasar. Kami tidak meminta lebih dari yang bisa mereka berikan. Sedangkan kamu meminta dua kali lipat, mengancam, dan merusak barang dagangan. Itu bukan perlindungan — itu pemerasan."
Wajah Roderick sedikit berubah, senyumnya masih tergantung di bibir tapi matanya mulai terlihat tajam. Dia menutup korek apanya dengan bunyi "klik" yang keras, lalu melompat turun dari atas meja, berdiri setinggi mata menghadap Kael.
"Pemerasan?" ulangnya pelan, suaranya mulai berubah menjadi dingin. "Dunia ini berjalan dengan kekuasaan. Kalau kamu tidak kuat, kamu akan ditindas. Kalau kamu tidak berani mengambil, orang lain akan mengambilnya dari tanganmu. Kalian terlalu lembut, terlalu memikirkan perasaan orang lain — itu sebabnya kalian tidak akan pernah naik ke tingkat yang lebih tinggi. Mulai hari ini, aturan baru berlaku di sini. Aku yang mengatur, aku yang menentukan, dan siapa pun yang menentang... akan menghadapi konsekuensinya."
Bastian sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia melangkah maju setengah langkah, dadanya membusung, matanya menatap tajam ke arah Roderick.
"Konsekuensi?" bentaknya lantang. "Kamu yang masih anak bawang berani bicara tentang konsekuensi? Kamu pikir dengan mengumpulkan tiga puluh orang yang tidak punya pengalaman bertarung, kamu bisa menguasai tempat ini? Kamu salah besar!"
Suasana langsung memanas. Orang-orang Elang Berdarah yang berdiri di belakang segera melangkah maju, mengelilingi keempat sahabat itu, tongkat kayu diangkat sedikit ke atas sebagai tanda siap menyerang. Pedagang di sekitar menunduk makin dalam, ada yang berdoa dalam hati, ada yang menahan napas karena takut pertarungan segera pecah.
Namun, Kael tetap tenang. Dia mengangkat tangan ke samping, memberi isyarat agar Bastian mundur sedikit. Matanya tidak beralih dari tatapan Roderick.
"Kami memberi kesempatan terakhir," kata Kael perlahan tapi tegas. "Tarik kembali permintaanmu, kembalikan uang yang sudah diambil, minta maaf pada pedagang yang kamu aniaya, dan tinggalkan wilayah ini. Kalau kamu melakukannya sekarang, kita anggap ini hanya kesalahpahaman dan tidak ada pertumpahan darah."
Roderick menatapnya dalam waktu lama, lalu tawa keras meledak dari mulutnya. Dia tertawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang, membuat anak buahnya di sekitar ikut tertawa mengejek.
"Kesempatan terakhir?" katanya sambil mengusap air mata tawa yang tidak ada di sudut matanya. "Kalian benar-benar lucu. Kalian datang dengan hanya empat orang, mengancam kelompok yang sudah memiliki kekuatan lebih dari tiga kali lipat jumlah kalian, dan masih berani memberi kesempatan? Lihat sekelilingmu — kalian sudah dikelilingi. Tidak ada jalan keluar kecuali mengakui kekuasaan kami, atau terbaring di tanah ini."
Dia mengangkat tangannya ke atas, dan suara tawa serta ejekan dari anak buahnya langsung berhenti. Suasana kembali hening, hanya tersisa suara angin yang berhembus dan debu yang beterbangan.
"Karena kalian dulu juga yang menguasai tempat ini, aku akan beri kesempatan juga," lanjut Roderick dengan nada yang lebih dingin. "Serahkan kendali wilayah ini, bekerja di bawah perintahku, dan aku akan membiarkan kalian hidup dengan aman. Kalau menolak... maka hari ini menjadi hari terakhir kalian berjalan bebas di Kota Veyra."
Bastian mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih, otot-otot lengannya menegang seolah siap meledak kapan saja. Mikhael sudah melangkah sedikit ke depan, posisinya siap menahan serangan dari segala arah. Niko berdiri agak di samping, matanya mengamati setiap posisi musuh, menghitung celah, dan mencari kelemahan yang bisa dimanfaatkan.
Namun, Kael masih berdiri tenang. Dia menatap Roderick seolah melihat anak kecil yang sedang berlagak gagah, bukan pemimpin kelompok yang mengancam nyawa mereka.
"Kamu sudah membuat pilihanmu sendiri," kata Kael pelan, suaranya terdengar berat dan pasti. "Ingat baik-baik apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini bukan pertarungan untuk menguasai kekuasaan, tapi pertarungan untuk mengingatkanmu bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar."
Roderick mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman dengan ketenangan yang terlihat seperti meremehkan itu. Dia mengangkat tangannya lebih tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat.
"Serang!"
Perintah itu baru saja keluar dari mulutnya, ketika puluhan langkah kaki bergerak bersamaan. Tongkat kayu diayunkan ke udara, suara teriakan menggelegar, dan bayangan serangan datang dari segala arah.
Namun, keempat sahabat itu tidak mundur selangkah pun.
Di belakang mereka, di ujung jalan yang masih agak jauh, seorang anak kecil yang baru saja selesai mengantar pesan berhenti dan menoleh ke arah keributan itu. Matanya terbelalak melihat apa yang akan terjadi, lalu dengan cepat berlari menjauh — dia tahu, setelah ini suasana di Pasar Lama tidak akan sama lagi.
Dan jauh di selatan kota, di dalam pabrik tua yang sunyi, Arda masih terbaring nyenyak di atas tumpukan karungnya. Dia tidak tahu bahwa waktu istirahatnya yang tenang perlahan mulai terganggu, dan masalah yang dia harapkan tidak akan datang, kini mulai bergerak mendekat selangkah demi selangkah.
Bersambung...