NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Perjanjian Damai Berakhir

Tiga hari telah berlalu sejak Desa Tagawa berubah menjadi hamparan abu, namun gema tragedi yang terjadi di desa kecil di perbatasan itu justru semakin meluas ke seluruh Benua Aldabaron. Jalan-jalan perdagangan yang biasanya dipenuhi kereta pengangkut hasil panen kini dipenuhi para pengungsi yang meninggalkan kampung halaman karena takut menjadi sasaran berikutnya. Setiap penginapan, pos perbatasan, hingga pasar-pasar kecil dipenuhi percakapan mengenai satu peristiwa yang sama, tetapi tidak ada dua cerita yang benar-benar serupa. Di tengah kekacauan informasi, kebenaran perlahan terkubur oleh ketakutan dan desas-desus yang sengaja disebarkan oleh tangan-tangan yang bekerja dari balik bayangan.

Di wilayah utara, para agen rahasia Empire Krusador bergerak jauh lebih cepat daripada para utusan resmi. Mereka menyamar sebagai pedagang, pengelana, tentara bayaran, bahkan pendeta keliling yang menawarkan doa bagi para korban perang. Ke mana pun mereka pergi, mereka membawa kisah yang telah dipersiapkan dengan sangat rapi. Mereka menceritakan bahwa Desa Tagawa dihancurkan oleh pasukan Green Continent yang membelot dan menyerang warga sipil tanpa ampun. Mereka mengaku melihat sendiri bendera Green Continent berkibar di tengah kobaran api, melihat perlengkapan militer Green Continent berserakan di lokasi kejadian, bahkan menyebut bahwa beberapa prajurit yang gugur mengenakan perlengkapan khas wilayah timur.

Rumor yang diulang berkali-kali akhirnya mulai dipercaya sebagai kenyataan.

Tidak sedikit orang yang sebenarnya meragukan cerita tersebut, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di lokasi pembantaian tampak mendukung tuduhan itu. Di antara puing-puing desa ditemukan pedang, panah, pecahan zirah, hingga lambang-lambang militer yang mengarah kepada Green Continent. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa seluruh bukti itu sengaja ditinggalkan oleh pasukan Krusador sebelum mereka meninggalkan desa, menjadikan kebohongan tampak lebih meyakinkan daripada kenyataan.

Di sisi lain perbatasan, kabar mengenai kehancuran Desa Tagawa akhirnya tiba di Greenville, pusat persekutuan Green Continent.

Ruang sidang utama yang biasanya digunakan untuk membahas perdagangan kini dipenuhi para pemimpin negara bagian, komandan militer, dan utusan dari berbagai wilayah. Suasana yang menyelimuti ruangan itu begitu tegang hingga tidak seorang pun memulai percakapan dengan suara pelan. Di atas meja panjang terbentang peta Aldabaron, sementara laporan-laporan dari perbatasan terus berdatangan tanpa henti.

Raja Alaric Greenville berdiri memandangi seluruh dokumen yang berada di hadapannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya memperlihatkan kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikan.

"Apakah laporan ini telah dipastikan kebenarannya?" tanyanya.

Seorang utusan dari wilayah perbatasan melangkah maju.

"Kami menemukan Desa Tagawa telah musnah, Yang Mulia. Tidak ada satu pun bangunan yang masih utuh. Selain itu, ditemukan pula perlengkapan militer yang mengarah kepada pasukan Green Continent."

Ucapan itu langsung memancing kegaduhan.

"Itu tidak masuk akal!"

"Kita tidak pernah mengirim pasukan ke desa itu."

"Pasti ada seseorang yang mencoba memprovokasi perang."

Suara-suara saling bertumpang tindih memenuhi ruangan.

Lady Seraphine Windcrest, komandan Korps Penunggang Naga dari Kota Angin, menatap peta di hadapannya dengan wajah serius.

"Aku tidak percaya pasukan kita melakukan hal semacam itu."

Jenderal Gareth Lodrie menganggukkan kepala.

"Pasukan Benteng Lodrie tidak menerima perintah penyerangan apa pun. Jika benar ada unit yang bergerak, maka mereka bertindak tanpa izin, atau seseorang sedang berusaha menjebak kita."

Raja Alaric menghela napas panjang.

"Masalahnya bukan lagi apakah kita percaya atau tidak."

Ia memandang seluruh hadirin.

"Masalahnya adalah apa yang dipercaya oleh Empire Krusador."

Jauh di utara, Istana Kekaisaran Krusador berdiri megah di tengah ibu kota yang dikelilingi benteng raksasa. Di balik kemegahan itu, sebuah pertemuan tertutup tengah berlangsung.

Kaisar Magnus Krusador duduk di singgasananya sambil membaca laporan yang baru diterimanya. Wajah penguasa tua itu tampak muram.

"Desa perbatasan dihancurkan..."

Ia menutup laporan tersebut perlahan.

"Perjanjian damai telah menjaga kestabilan benua selama bertahun-tahun. Siapa pun pelakunya, mereka telah melakukan kesalahan besar."

Di sisi kanan ruangan berdiri Putra Mahkota Lucien Krusador. Berbeda dengan sang ayah, wajahnya justru tetap tenang, bahkan nyaris tidak memperlihatkan emosi apa pun.

"Yang Mulia," katanya dengan suara tenang, "seluruh bukti yang kita terima menunjukkan keterlibatan Green Continent. Jika kita membiarkan tindakan itu tanpa balasan, kekaisaran akan dianggap lemah."

Magnus mengangkat pandangan.

"Aku masih menginginkan penyelidikan."

Lucien menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.

"Tentu, Ayahanda."

Namun, sesaat kemudian senyum tipis muncul di sudut bibirnya ketika Kaisar kembali memusatkan perhatian pada laporan lain.

Senyum itu hanya berlangsung sekejap.

Tidak seorang pun di dalam ruangan menyadarinya.

Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan.

Utusan perdamaian dikirim dari Greenville menuju Krusador.

Pada saat yang sama, utusan Krusador juga bergerak menuju Green Continent.

Akan tetapi, sebelum kedua rombongan sempat bertemu, berbagai rumor baru telah lebih dahulu menyebar ke seluruh penjuru Aldabaron. Cerita mengenai pembantaian di Desa Tagawa berkembang menjadi puluhan versi berbeda, masing-masing semakin membangkitkan kemarahan masyarakat. Di kota-kota perbatasan mulai terjadi bentrokan kecil antara warga yang saling menuduh. Jalur perdagangan terganggu, kapal-kapal dagang memilih menunda pelayaran, dan harga Kristal Rune melonjak tajam karena semua orang mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Di tengah situasi itu, pasukan Krusador diam-diam mulai memindahkan Meriam Rune ke beberapa benteng perbatasan. Aktivitas tersebut dilakukan dengan alasan latihan rutin, tetapi jumlah pasukan yang bergerak jauh melebihi biasanya. Di sisi lain, Green Continent tidak memiliki pilihan selain memperkuat pertahanannya agar tidak dianggap lengah.

Kedua pihak sama-sama mengaku hanya bersiap menghadapi ancaman.

Namun, ketika dua pasukan besar saling berhadapan dengan senjata yang telah siap digunakan, sebuah percikan kecil sudah cukup untuk memicu kobaran api yang tidak dapat lagi dipadamkan.

Percikan itu akhirnya datang beberapa hari kemudian.

Sebuah pos penjagaan di wilayah perbatasan diserang oleh kelompok tak dikenal yang meninggalkan lambang Green Continent di lokasi kejadian. Hampir bersamaan, sebuah iring-iringan logistik Green Continent disergap oleh orang-orang yang mengenakan perlengkapan Krusador. Tidak ada yang mengetahui bahwa kedua serangan tersebut kembali dilakukan oleh agen-agen yang bekerja di bawah perintah Putra Mahkota Lucien.

Ketika laporan kedua insiden itu tiba di meja para pemimpin, kesabaran yang tersisa akhirnya habis.

Utusan perdamaian ditarik pulang.

Gerbang-gerbang benteng ditutup.

Lonceng perang dibunyikan di berbagai kota.

Perjanjian damai yang selama bertahun-tahun menjaga keseimbangan Aldabaron resmi dinyatakan berakhir.

Di seluruh penjuru benua, para pandai besi mulai menempa senjata siang dan malam tanpa henti. Kristal Rune berkualitas tinggi dipindahkan menuju gudang-gudang militer. Para pemuda dipanggil untuk bergabung dengan pasukan, sementara keluarga-keluarga mulai menyimpan persediaan makanan karena menyadari bahwa masa damai telah benar-benar usai.

Di sebuah balkon tinggi Istana Krusador, Putra Mahkota Lucien memandang ke arah selatan, tempat Green Continent berada di balik cakrawala.

"Permainan baru saja dimulai," gumamnya pelan.

Di kejauhan, suara genderang perang mulai bergema dari berbagai penjuru Aldabaron, menandai dimulainya konflik terbesar yang pernah mengguncang benua itu, sementara seorang pemuda bernama Ryosuke Tagawa masih berjalan sendirian meninggalkan desa yang telah menjadi makam keluarganya, tanpa menyadari bahwa tragedi yang menimpanya telah berubah menjadi perang yang akan menyeret seluruh dunia ke dalam pusaran darah, ambisi, dan takdir.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!