Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ceklek.
Pintu kamar rawat inap terbuka perlahan. Arka melangkah masuk dengan hati-hati, menjaga nampan di tangannya tetap stabil agar tidak tumpah.
Wajahnya yang kuyu terlihat penuh harap saat ia mendekati ranjang Sari.
"Mbak, ayo dimakan dulu. Tadi saya ambilkan bubur yang baru di ruang gizi," ucap Arka dengan nada selembut mungkin.
Ia meletakkan nampan itu di atas meja samping ranjang, lalu menatap Sari yang masih enggan berbalik. "Jangan membantah lagi, ya, Mbak. Dokter bilang kondisi Mbak sedang kritis."
Arka menarik kursi besi itu kembali, duduk di dekat Sari, namun ia menjaga jarak agar wanita itu tidak merasa terintimidasi.
"Supaya Mbak lekas sehat, dan tidak melihat wajah saya lagi," lanjut Arka, suaranya parau.
Ia menundukkan kepala, memandang lantai yang tadi ia bersihkan.
"Saya akan pergi setelah Mbak pulih nanti, agar Mbak tidak terganggu lagi dengan keberadaan saya."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Arka, sebuah bentuk kepasrahan total.
Pria itu menyadari bahwa kesalahannya sudah terlampau besar untuk dimaafkan begitu saja.
"Saya memang bodoh, Mbak. Saya pria yang sangat bodoh," bisik Arka, suaranya kini mulai pecah.
"Saya tidak bisa melihat wanita sebaik Mbak yang tulus mencintai saya. Saya buta oleh ego dan prasangka saya sendiri. Maafkan saya ya, Mbak... maafkan saya."
Di tengah kesunyian kamar, isak tangis yang tertahan akhirnya pecah.
Air mata Arka menetes, jatuh di atas punggung tangannya yang masih memerah bekas memungut pecahan mangkuk tadi.
Ia tidak lagi mencoba menutupi kerapuhannya; ia membiarkan Sari melihat betapa hancurnya ia karena penyesalan yang membakar hatinya.
Sari, yang sejak tadi menutup diri, mendengar isak tangis itu dengan jelas.
Ia merasakan guncangan di bahunya saat Arka menangis. Perlahan, Sari memutar kepalanya.
Ia melihat Arka yang sedang terisak di samping ranjangnya—seorang pria yang biasanya begitu keras kepala dan tegar, kini tampak hancur lebur di hadapannya.
Melihat Arka yang begitu rapuh, pertahanan terakhir Sari akhirnya runtuh.
Rasa marah yang membara di dadanya perlahan mendingin, menyisakan sisa-sisa kasih sayang yang ternyata belum sepenuhnya padam.
Dengan jemarinya yang masih lemas dan tertancap selang infus, Sari perlahan bergerak.
Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, namun ia mengulurkan tangannya dan menerima mangkuk bubur yang disodorkan Arka.
Meski tatapan matanya masih menyiratkan luka, Sari akhirnya mengangguk kecil.
Ia mulai menyendok bubur itu, membiarkan Arka tetap berada di sisinya.
Di ruangan itu, keheningan yang tadinya mencekam kini berubah menjadi keheningan yang penuh dengan penerimaan—sebuah langkah kecil untuk memulai proses memaafkan yang panjang.
Sari mengunyah sisa bubur terakhirnya dengan perlahan, membiarkan kehangatan makanan rumah sakit itu mengisi lambungnya yang semula kosong melompong.
Meskipun hambar, setidaknya tenaganya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Setelah meletakkan sendok ke dalam mangkuk yang kini kosong, Sari melirik Arka yang masih setia duduk di samping ranjang dengan mata sembap dan wajah yang sangat kuyu.
Sari tahu, pria di hadapannya ini belum makan apa pun sejak kemarin.
Perut Arka pasti jauh lebih keroncongan karena harus berlari mengejar bus, membopong tubuhnya yang pingsan, hingga terjaga semalaman suntuk di kursi besi yang keras.
"Pergilah cari sarapan untuk dirimu sendiri," ucap Sari datar, memecah keheningan dengan suara seraknya.
Mendengar perhatian kecil—walau disampaikan dengan nada yang masih dingin—kedua mata Arka langsung berbinar.
Ada rasa lega yang luar biasa menyergap dadanya. Arka menganggukkan kepalanya dengan cepat, seolah takut Sari akan berubah pikiran.
"Iya, Mbak. Saya cari sarapan dulu di depan ya," jawab Arka, suaranya masih menyisakan serak bekas tangis.
Ia berdiri dari kursi, membetulkan letak jaket hoodie-nya yang kusut. Sebelum melangkah menuju pintu, Arka sempat menoleh kembali, menatap Sari dengan pandangan lembut penuh kehati-hatian.
"Mbak, mau titip sesuatu? Barangkali Mbak bosan dengan air putih hangat dan mau dibelikan buah atau minuman lain?"
Sari tidak menatap Arka. Wanita itu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang menampilkan hiruk-pikuk halaman rumah sakit di bawah sinar matahari pagi.
Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanda bahwa ia tidak menginginkan apa pun.
"Baik, Mbak. Saya tidak akan lama. Kalau ada apa-apa atau infusnya habis, Mbak langsung pencet tombol merah di atas ranjang ya," pesan Arka dengan sangat telaten.
Setelah memastikan Sari bersandar dengan nyaman di bantalnya, Arka melangkah keluar dari Kamar 104 dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Meskipun tembok di hati Sari masih berdiri tegak, setidaknya celah kecil telah terbuka pagi ini.
Arka melangkah keluar dari kantin rumah sakit dengan membawa dua kantong plastik.
Di dalam kantong plastik berwarna bening, tampak satu porsi nasi pecel yang dibungkus daun pisang, dan di tangan lainnya, sebuah roti manis berbungkus plastik.
Ia tahu persis, meski Sari menolak tadi, wanita itu pasti akan merasa lapar lagi dalam beberapa jam ke depan karena tubuhnya membutuhkan asupan energi untuk melawan infeksi tifoid.
Begitu sampai di depan pintu kamar 104, Arka mengatur napasnya agar kembali tenang.
Ia tidak ingin wajahnya yang tegang mengganggu Sari.
Ceklek.
Arka masuk dan mendapati Sari masih dalam posisi yang sama, menatap keluar jendela.
Arka meletakkan bungkusan roti manis itu di meja samping ranjang, tepat di dekat jangkauan tangan Sari.
"Mbak, ini saya belikan roti. Kalau nanti lapar lagi, dimakan ya," ucap Arka lembut. Sari menoleh sedikit, melirik bungkusan roti itu, lalu mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih.
Arka kemudian duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang, lalu membuka bungkusan nasi pecel miliknya.
Sari memperhatikan gerak-gerik pria itu. Arka hanya membeli nasi pecel dengan lauk sederhana berupa dua potong tempe goreng dan sedikit rempeyek kacang.
Tidak ada ayam, tidak ada telur, hanya nasi dengan bumbu kacang yang sederhana.
Pemandangan itu entah mengapa membuat dada Sari berdesir.
Di tengah kemewahan yang selama ini ia miliki dan segala fasilitas duniawi yang ia kuasai, ia melihat seorang lelaki yang hidupnya begitu sederhana dan jauh dari kata berlebihan. Arka, lelaki yang kemarin ia anggap "bukan siapa-siapa", ternyata adalah lelaki yang mampu mencuri perhatiannya dengan kesederhanaan yang jujur.
Sari memandang Arka yang melahap nasi pecelnya dengan lahap, seolah itu adalah makanan paling enak di dunia.
Sari menyadari satu hal; dibalik segala kekacauan dan rasa sakit hati ini, ia masih tetap pria inilah yang dicintainya.
Pria yang mencintainya dengan cara yang sederhana, meski sempat tersesat oleh ego.
"Kenapa, Mbak? Mau sedikit?" tanya Arka tiba-tiba, menyadari tatapan Sari yang tertuju padanya.
Sari segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terukir di bibirnya.
"Tidak. Makan saja punyamu sampai habis," jawabnya ketus, namun kali ini tanpa rasa benci yang tajam, hanya rasa hangat yang aneh yang perlahan mulai menyusup kembali ke hatinya.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎