Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : LOGIKA YANG CACAT
Aroma kopi hitam dan udara dingin dari pendingin ruangan mendominasi ruang kerja utama Tuan Besar Ouroboros.
Di atas meja kayu ek yang panjang, tiga buah monitor melengkung berukuran besar menyala, menampilkan baris-baris kode enkripsi dan grafik arus data.
Seluruh jaringan komunikasi, jalur logistik, hingga sistem pengawasan kediaman kini telah terintegrasi di sana.
Julian Vance berdiri tenang di samping meja, satu tangannya terbenam di saku celana. Wajahnya memasang senyum profesional yang penuh percaya diri.
Sang Ayah—pemimpin tertinggi organisasi—menatap layar-layar tersebut dengan mata menyipit. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja kayu, mengikuti pergerakan data yang mengalir cepat.
"Semua celah keamanan yang sebelumnya dipakai faksi Adrian sudah ditutup, Tuan," papar Julian. "Saya juga memasang mirror-server. Kalau ada yang mencoba menyadap perimeter logistik barat lagi, sistem ini tidak hanya memblokir mereka, tapi langsung mengunci lokasi geografis dan identitas digitalnya dalam hitungan detik."
Sang Ayah menghentikan ketukan jarinya. Pria tua yang terkenal pelit pujian itu perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Bagus," ucap Sang Ayah, suaranya yang berat dipenuhi kepuasan yang jarang terjadi. Beliau menoleh, menatap Julian. "Dalam waktu kurang dari dua hari setelah kekacauan di dermaga, kamu bisa bangun benteng digital seperti ini. Reputasimu di Eropa Timur ternyata bukan sekadar omong kosong, Julian."
Julian membungkuk sedikit, menerima pujian itu dengan gestur yang sangat sopan. "Sebuah kehormatan bisa membantu Ouroboros, Tuan. Saya hanya memastikan apa yang Anda bangun tidak akan rusak karena kelalaian kecil."
Sang Ayah terkekeh rendah. "Mulai hari ini, aku kasih kamu akses penuh tanpa batas ke seluruh basis data finansial dan logistik organisasi. Amankan semuanya."
"Akan saya laksanakan, Tuan," jawab Julian dengan binar mata yang berkilat licik.
Dari balik pintu kaca buram yang menghubungkan ruang kerja dengan koridor luar, siluet Elara dan Dante tampak berdiri tegak. Elara baru saja hendak melangkah masuk ketika ia mendengar dialog terakhir ayahnya.
Elara melangkah masuk dengan gaun hitamnya. Di belakangnya, Dante mengikuti seperti biasanya.
"Ayah," sapa Elara datar, matanya melirik sekilas ke arah monitor yang menyala terang sebelum beralih ke Julian.
"Ah, Elara. Pas sekali kau di sini," Sang Ayah berdiri, menunjuk ke arah monitor dengan cerutunya. "Lihat apa yang dilakukan konsultan baru ini. Julian baru saja memberikan kita kendali atas seluruh pergerakan digital organisasi. Tidak akan ada lagi tikus seperti Adrian yang bisa bergerak di bawah tanah tanpa sepengetahuan kita."
Julian menoleh ke arah Elara, senyumnya kembali terukir. "Saya hanya melakukan bagian saya, Nona Elara."
"Kerja bagus, Tuan Julian," ucap Elara, suaranya dingin. "Ayah memujimu, dan itu artinya pekerjaanmu memang bagus. Namun, ingatlah satu hal dalam organisasi ini..." Elara melangkah mendekati Julian hingga ia bisa mencium aroma parfum mahal pria itu.
"...sistem digital terbaik sekalipun tetap diciptakan oleh manusia. Dan manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi serakah lalu membuat kesalahan. Aku harap Anda tidak termasuk dalam kategori manusia yang... cacat logika seperti itu."
Julian tidak mundur sedikitpun. Ia justru menikmati intimidasi Elara. "Tentu saja, Nona Elara. Saya adalah pria yang sangat disiplin. Saya tahu persis kapan harus menahan diri, dan kapan harus... bergerak maju."
Sang Ayah, yang tidak menyadari ketegangan psikologis di antara ketiga anak muda di depannya, menepuk pundak Julian dengan keras. "Bagus. Julian, ikut aku ke ruang bawah. Ada beberapa detail faksi Eropa Timur yang ingin aku diskusikan denganmu."
"Dengan senang hati, Tuan," jawab Julian.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..