NovelToon NovelToon
MERESET TAKDIR SUAMIKU

MERESET TAKDIR SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Diam-Diam Cinta
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.

Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.

Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG-BAYANG SEMU.

Jam tiga malam, Kirana kembali tersentak dari tidurnya dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi dahi. Jantungnya bertalu begitu keras, sisa dari mimpi buruk yang baru saja menyergap kesadarannya. Rasa panik yang luar biasa mendadak merayapi seluruh rongga dada. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyibak selimut dan berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Kali ini, Kirana tidak lagi mengetuk atau membuka pintu secara diam-diam. Dengan sisa tenaga dan kepanikan yang membuncah, ia mendorong kenop pintu kamar Damar sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi deburan yang cukup keras akibat benturan daun pintu ke dinding pembatas.

Damar yang saat itu masih terlelap dalam tidur nyenyaknya langsung tersentak kaget. Pria itu membuka mata dan bermaksud ingin segera bangkit dari posisinya untuk memeriksa situasi. Namun, belum sempat kakinya turun dari ranjang, Kirana sudah melompat menubruk tubuh tegapnya dan langsung memeluk leher Damar dengan sangat erat.

"Ada apa, Kiran? Apakah kamu mengalami mimpi buruk lagi, hm?" tanya Damar dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur.

Kirana tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan itu. Damar yang terbiasa tidur tanpa mengenakan atasan langsung merasakan kehangatan yang menjalar di sekitar pundak dan dadanya. Ia sadar, air mata istrinya kembali luruh membasahi kulitnya.

"Aku tidak apa-apa, Kiran. Aku baik-baik saja di sini," bisik Damar lembut, mencoba menenangkan. Namun, setelah beberapa saat keheningan merayap, Damar berdeham pelan untuk mencairkan suasana. "Jangan memelukku seperti ini terus, nanti aku tidak bisa menahan diriku sendiri."

Mendengar itu Kirana spontan menjauhkan tubuhnya. Kesadarannya perlahan kembali sepenuhnya dan ia baru menyadari kalau suaminya memang sedang tidak memakai baju. Sembari menyeka hidungnya, Kirana menatap Damar dengan raut wajah yang merona tipis.

"Kenapa Kak Damar selalu tidak pakai baju sih kalau tidur? Nanti bisa masuk angin tau," tanya Kirana dengan suara yang terdengar sedikit sengau karena habis menangis.

Setelah Kirana melepaskan pelukannya, Damar langsung turun dari ranjangnya. "Aku sudah terbiasa dari dulu seperti ini, jadi tidak akan mungkin masuk angin," jawabnya santai sambil berjalan mengambil piyama kimononya berwarna hitam yang tergantung di dekat lemari.

Setelah memakai dan mengikat kimononya dengan rapi, Damar kembali duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah sembap istrinya. "Tapi, kenapa kamu tiba-tiba menangis lagi, hm?"

Kirana bergerak mendekat, matanya tertuju pada jemari kanan suaminya. "Kak, bisa nggak di buka saja cincin itu? lagian cincin itu sempitkan di jari Kakak?"

Damar langsung menatap cincin pernikahan yang sudah melekat di jari manisnya selama dua tahun belakangan ini. Apakah dia bermimpi lagi kalau aku meninggal hanya karena cincin ini? tanya Damar di dalam hatinya yang paling dalam.

"Kiran, ini adalah cincin pernikahan kita, tidak mungkin aku membukanya begitu saja. Apa kata orang-orang luar nanti kalau melihatku tidak memakainya?" tutur Damar dengan sabar. "Lagipula, selama aku tidak melepas cincin ini dari jariku, semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku berjanji tidak akan pernah membukanya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi."

Damar mengusap wajahnya yang masih didera rasa kantuk yang berat. "Dan sekarang, sebaiknya kamu kembalilah ke kamarmu di bawah. Ini masih jam tiga malam, Kiran. Aku masih mengantuk."

Damar bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak menguap tepat saat kalimat terakhirnya selesai terucap.

"Tidak mau! Aku mau tetap di sini untuk jagain Kakak," tolak Kirana keras kepala. "Kalau Kakak memang masih mengantuk, tidur saja lagi. Aku tidak akan mengganggu."

Karena rasa kantuknya sudah tidak bisa tertahan, Damar akhirnya memilih menyerah. Ia kembali membaringkan tubuh tegapnya di atas kasur, membiarkan Kirana yang masih duduk bersila di sisi kiri ranjangnya.

Dalam keheningan malam, Kirana memandangi lekat-lekat wajah Damar yang perlahan kembali terlelap. Di dalam hatinya, ia sempat memuji paras suaminya yang terlihat sangat tampan saat tidur tenang seperti itu. Damar memiliki proporsi tubuh yang sangat bagus, apalagi saat Kirana tidak sengaja melihat bidang dadanya yang sedikit terekspos di balik belahan kimono hitamnya.

Namun, kilasan romantis itu mendadak sirna tatkala ingatan Kirana kembali berputar pada bayangan genangan darah yang memenuhi wajah suaminya saat kecelakaan maut di masa depan terjadi. Rasa takut yang hebat kembali merayapi nadinya. Dengan sisa keberanian yang ada, Kirana akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Damar, mengambil posisi miring menghadap ke arah suaminya agar bisa terus memantau napas pria itu. Ia benar-benar takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Karena rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuh, Kirana akhirnya ikut terlelap di samping Damar.

Keesokan paginya, matahari sudah meninggi ketika Kirana perlahan membuka kedua kelopak matanya. Begitu kesadarannya terkumpul, ia menoleh ke samping dan mendapati kasur di sebelahnya sudah kosong melompong. Kepanikan seketika menyerang panca inderanya. Kirana langsung terduduk dan berteriak histeris memanggil nama suaminya.

"Kak Damar! Kak Damar di mana?!" teriak Kirana dengan suara melengking.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka. Damar keluar dari sana dengan rambut yang masih basah. "Ada apa, Kiran? Aku sedang mandi, kenapa pagi-pagi sekali sudah berteriak seperti itu?"

Kirana mengembuskan napas lega yang teramat sangat, memegangi dadanya yang sempat mencelos. "Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya ingin memastikan kalau Kakak masih ada di sini."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana buru-buru memalingkan wajah dan langsung berlari keluar dari kamar tidur Damar. Pipinya mendadak terasa panas terbakar karena rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak, ia baru saja melihat tubuh atletis Damar yang polos tanpa pakaian, hanya dibalut selembar handuk putih yang melingkar dari batas pinggang hingga lututnya saja.

Melihat salah tingkah istrinya yang langsung kabur, Damar hanya bisa menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Sedetik kemudian, raut wajahnya kembali berubah menjadi sangat serius tatkala mengingat rentetan ketakutan yang dialami Kirana sejak kemarin.

Damar berjalan menuju meja nakas dan mengambil ponsel pintarnya. Ia mulai berpikir dengan matang mengenai kondisi psikologis istrinya. Apa aku harus mencarikan dia dokter, ya? Kalau terus-terusan dilingkupi ketakutan seperti ini, itu pasti akan membuatnya depresi berat. Aku yakin dia mengalami trauma masa depan yang mendalam, batin Damar cemas.

Namun, kendala utama yang dipikirkan Damar adalah bagaimana cara membujuk Kirana agar wanita itu bersedia menemui seorang ahli medis. Kalau aku mengatakannya secara langsung, dia pasti akan menolak keras dan berpikir aku menganggapnya gila, pikirnya lagi.

Setelah menimbang beberapa opsi, sebuah ide melintas di benak Damar. Hm, aku harus menghubungi Dicky. Dia kan seorang dokter psikiater yang hebat.

Damar langsung mencari kontak nama temannya itu dan menekan tombol panggilan. Tak butuh waktu lama, terdengar suara bariton seorang pria menjawab di seberang telepon. Tanpa membuang waktu, Damar langsung menceritakan seluruh perihal keanehan dan trauma ketakutan yang sedang melanda istrinya secara mendetail.

Dicky di seberang telepon mendengarkan dengan saksama sebelum akhirnya memberikan sebuah saran yang solutif. "Begini saja, Damar. Aku akan berpura-pura datang berkunjung ke rumahmu untuk main. Nanti di sana baru kita lihat bersama bagaimana kondisi mental istrimu yang sebenarnya. Aku akan datang murni sebagai teman lamamu, biar dia tidak menaruh rasa curiga sedikit pun."

Damar mengangguk setuju di tempatnya berdiri, merasa lega dengan usulan sang sahabat. "Oke, kebetulan besok adalah hari akhir pekan. Jadi aku akan seharian berada di rumah, datanglah pada saat itu."

Setelah menyepakati jam dan rencana pertemuan rahasia tersebut, Damar pun mengakhiri sambungan telepon. Damar menaruh kembali ponselnya, berharap langkah awal ini bisa menjadi titik terang untuk menyembuhkan luka batin yang sedang menyiksa jiwa Kirana.

1
Radya Arynda
baby damar otw lah😃😃😃😃
Nia nurhayati
monggo mas damar puas"in dahh🤣🤣🤣
Lia siti marlia
adehhhh kak damar ketagihan nya 🤭🤭🤭itu adik bandel banget 😁😁😁
Lia siti marlia
wis mau unboxing lagi damar 🤗🤗🤗🤗🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
bukannya kemaren udah melebur y apa belum sempat unboxing
Nia nurhayati
semoga Samar selamat ya ..agar Kira na tidak sedih lagii
Lia siti marlia
aduhhh semoga sama damar selamat dari kejahatan c clenning sevice itu 🥺🥺🥺ayo ricko kamu harus gercep lindungi bosmu itu
Lia siti marlia
cie cie masa masa bucin mulai terealisasikan 🤭🤭🤭meskipun bahaya mengintai untumgnya punya asisten yang gercep seperti ricko dan kawan kawan 😁😁😁
Nuzul Lina
seru dan menarik banget cerita nya
Lia siti marlia
semangat buat kiran sama damar untuk mengubah masa depan yang kelam🤗🤗💪💪💪
Radya Arynda
semangaaaat💪💪💪💪
Mira Hastati
bagus
Radya Arynda
semangaaat,,jangan menyerah kirana,,, hadapi semua ber sama damar suami mu,,,kamu harus bisa💪💪💪💪💪
Lia siti marlia
akhirnya terkuak sudah rahasia itu 😁😁semoga kedepannya cinta kalian semakin erat 🤗🤗
Lia siti marlia
akhirnya cinta damar sama kirana terbalaskan juga 🤗🤗🤗 semangat juga buat kiran cari terus sumber malapetaka suamimu 🤗🤗🤗
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt thor
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
dome🌬️🌀🌀🌀
tengkiyuuu Thor....sudah kasih bab terbaikkk🤗🤗🤗
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
semangat update yaa thor. makasih update nyaaa.. jangan lama lama yaa crazy up ok😁a😁😁😁
dome🌬️🌀🌀🌀
akhirnya,,,,,.😁kalau ga ada keinginan kuat agar sembuh ga akan bisa lepas rasa trauma nya... hebas kiran demi laki2 yg dicintai dan dikasihi nya. rela kuat melawan rasa traumanya... heemmm semoga takdir buruk bisa berubah🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!