Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HONEYMOON PHASE - Part 1
“Hey,” Gea mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya, Jay.
“Aku udah sampe rumah, nih.”
Senyumnya mengembang lebar setelah mendengar suara sang kekasih disebrang sana.
“Udah bebersih belom?” tanya Gea.
“Lima menit lagi, deh. Capek banget rasanya pantat aku,” adu Jay, disusul gelak tawa renyah pria itu sendiri yang terdengar renyah di telinga Gea.
Gea ikut terkekeh. Pikiran gadis itu langsung melayang pada memori hari ini, saat mereka berdua harus pergi ke puncak untuk survei vila bersama ketua divisi acara, divisi perlengkapan, dan ketua pelaksana. Perjalanan hari itu memang penuh cerita.
Mulai dari sempat tersesat di jalan, malah ditawari vila per kamar oleh calo, berputar-putar mengecek beberapa lokasi dari list yang sudah dibuat, bahkan mereka sampai tidak sempat makan siang.
“Nanti ketemu tempat makan kita makan dulu lah, udah laper banget gue,” kata Tia, ketua divisi acara, saat mereka masih di jalan dari vila terakhir yang mereka cek.
Akhirnya, makan siang yang dirapel dengan makan malam mereka baru teralisasi saat mereka sudah kembali memasuki area Bogor. Alasan utamanya, selain takut rasanya tidak cocok di lidah, rasa lapar yang hebat justru baru terasa setelah semua tugas mereka selesai dikerjakan.
“Besok aku jemput ya,” suara Jay di telepon seketika membuyarkan lamunan Gea.
Gea seketika ingat kalau hari Minggu besok rapat mereka masih berlanjut di himpunan. Apa itu arti hari libur bagi anak kura-kura alias kuliah rapat seperti mereka?
“Kita besok rapat siang, kan, ya?” tanya Gea memastikan.
“Iya. Kenapa, Yaya?”
Yaya adalah panggilan khusus dari Jay untuk Gea. Panggilan sayang, katanya.
“Besok ada acara dulu pagi-pagi. Paling besok aku langsung di-drop di kampus sama Papa.”
“Ooh, kamu besok ada acara keluarga?”
“He-eh. Bisa diambekin Papa nanti kalo aku gak ikut,” ucapnya terkekeh pelan.
“Ya udah, pulangnya nanti wajib sama aku. Sekalian kita makan ketupat sayur padang. Katanya kamu lagi bm ketupat sayur padang, kan?” tagih Jay
Netra Gea berbinar.
“Ih, iya! Minggu lalu udah sih dibeliin sama Ibun, tapi rasanya kurang nendang. Jadi masih kepengen lagi.”
“Aku tau tempat ketupat sayur padang yang enak banget. Besok jangan lupa bawa jaket loh, ya.”
“Iya, besok aku bawa jaket. Ay, aku tidur duluan, ya? Udah ngantuk banget, nih. Kamu langsung bebersih, terus tidur.”
“Iya. Night night, Yaya.”
“Night, Ay.”
...****************...
“Kita jadiin ajalah langsung nih,” cetus Nindy setelah rapat mereka selesai sore itu.
“Apa?” tanya Risa bingung.
“Itu, Ris, yang rencana kumpul kita Minggu lalu.”
“Oh, iya! Si Jay mana tuh bocahnya?” kepala Risa memanjang mencari sesosok pria berbadan gempal, yang ternyata ada di depan himpunan. Tanpa babibu, Risa langsung memanggil Jay untuk masuk dan bergabung bersama mereka.
“Kenapa?” tanya Jay begitu duduk disamping Gea.
“Anak-anak pada ngajakin makan, Ay. Yang rencana Minggu lalu, kan belom kesampean juga,” jelas Gea pada sang kekasih.
“Ooh. Ayo deh. Sekarang banget?”
“Iya, sekarang aja,” jawab Nindy semangat.
“Kemana kita?” tanya Karin ikut menimpali.
“Sayur ketupat padang pada doyan gak?” tanya Jay menawarkan solusi, “ayang gue lagi pengen
makan itu soalnya.”
“Ceilah…. ‘ayang gue’ banget gak tuh,” ledek Karin, membuat mereka tertawa.
“Gue bawa pacar ya,” ucap Risa tiba-tiba, “orangnya udah di jalan mau jemput gue soalnya.”
“Gak apa-apa, Ris, biar Jay sekalian kenalan juga,” sahut Gea setuju.
“Cowok lo anak mana deh, Ris?” tanya Jay penasaran.
“Anak Neo.”
“Jurusan apa? Arsi juga?”
“Bukan, anak bisnis dia,” jawab Risa di tanggapi dengan anggukkan paham oleh Jay.
Lima belas menit kemudian, Risa mendapat kabar kalau kekasihnya sudah sampai dan menunggunya di lobi. Mereka berlima langsung berpamitan dengan anak-anak himpunan yang lain, lalu berjalan beriringan menuju lobi gedung Fakultas Teknik.
Dari kejauhan, tampak seorang pria tinggi sambil melempar tersenyum hangat. Risa langsung berlari kecil dan mengapit lengan kiri kekasihnya itu.
“Capek ya?” pria tinggi itu mengusap lembut puncak kepala Risa penuh kasih sayang.
“He-em,” jawab Risa seraya merajuk manja, “Chagiya, nanti kita makan-makan dulu, ya. Mau
ditraktir sama Gea,” imbuhnya. Chagiya adalah panggilan sayang Risa dalam bahasa Korea yang artinya adalah sayang.
“Oh, ya? Dalam rangka apa? Gea ulang tahun?”
“Baru jadian dia,” sambar Nindy cepat.
“Waah, selamet yaa. Cowok lo nih?” tanyanya ramah sambil melihat ke arah Jay yang berdiri di
samping Gea.
“Ay, kenalin, ini pacarnya Risa. Daniel Kim,” kata Gea memperkenalkan.
“Zayyan. Tapi panggil aja Jay,” ucap Jay ramah seraya mengulurkan tangan.
“Daniel,” sahut Daniel menjabat tangan Jay erat.
“Bule korea cowok lo, Ris?” tanya Jay santai sambil berjalan ke arah parkiran.
“Ho-oh. Blasteran korea-indo tapi lahir dan gede di Amrik.”
“Iyaa, terus pindah ke sini pas SMA,” tambahnya Daniel membenarkan ucapan pacarnya sembari tersenyum.
Sesampainya di parkiran, mereka berpisah. Gea naik motor bersama Jay, Risa bersama Daniel, dan Nindy semobil dengan Karin.
“Udah dapet, kan, shareloc-nya?” tanya Jay yang sudah di atas motor.
Nindy menurunkan kaca mobil dari balik kemudinya. “Sip, udah masuk. Kalo elo sampe duluan,langsung pesenin aja, ya. Di sana cuma ada lontong sayur atau ada menu yang lainnya?”
“Lontong sayur aja sih. Tapi di sekitaran sana banyak jualan makanan laen juga kalo lo mau.” “Samain aja deh, Jay, biar gampang,” sahut Karin yang duduk di sebelah Nindy.
“Ya udah, sana jalan duluan. Jangan ngebut-ngebut lo bawa temen gue!” ancam Nindy bercanda.
Jay terkekeh pelan. “Aman. Yuk!”
...****************...
Suasana warung ketupat sayur padang di pinggir jalan sore itu cukup ramai, untungnya mereka masih kebagian meja panjang di sudut ruangan. Aroma kuah gulai yang gurih dan kayu manis langsung menyambut indra penciuman begitu mereka masuk.
Sesuai janji, Jay langsung memesankan enam porsi ketupat sayur padang ditambah telur balado dan kerupuk merah yang melimpah. Tak lama setelah Jay memesan makanan dan minuman untuk mereka berenam, Karin dan Nindy datang lebih dulu kemudian disusul oleh Risa dan Daniel yang tetap bergandengan tangan.
“Gila, kuahnya medok banget, Jay. Rekomendasi lo gak gagal,” puji Nindy setelah suapan pertama.
“Iya, kan? Langganan gue nih dari semester satu,” sahut Jay bangga. Pria gempal itu lalu meraih sendok bersih, memotong telor balado di piringnya menjadi dua, lalu memindahnya setengahnya ke piring Gea. “Makan yang banyak, Yaya. Biar gak lemes lagi kayak kemaren.”
“Cieee… Yaya… ditiup dulu gak tuh ketupatnya biar gak kepanasan?” goda Karin yang duduk di depan mereka, membuat pipi Gea mendadak senada dengan warna kerupuk merah di piringnya.
“Rame banget, Kayin,” ledek Risa diikuti gelak tawa.
Di sebelahnya, Daniel sedang sibuk membersihkan sudut bibir Risa yang terkena kuah dengan tisu.Kedua orang yang sudah berpacaran sejak masa SMA itu dengan santai mengumbar kemesraan mereka. Karin, Nindy, dan Gea pun tidak aneh dengan pemandangan itu.
“Kita gak mau romantis-romantisan juga kayak mereka, Ya?”
Gea menyenggol lengan Jay dengan sikunya, “gak usah aneh-aneh, ih.”
Di tengah kunyahan ketupat sayurnya, Karin tiba-tiba mengetuk meja dengan sendok, memasang wajah mengitimidasi layaknya dosen penguji.
“By the way, Jay. Karena lo udah resmi jadi pacar Gea, ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku.”
Jay langsung menegakkan posisi duduknya, memasang tampang siap siaga.
“Siap, Kak Karin. Apa tuh?”
“Pertama, jangan pernah bikin Gea nangis. Kedua, kalau kalian berantem, jangan sampe Gea mogok makan. Dan ketiga, kalo lo macem-macem…,” Karin melirik Nindy.
“…Gue kempesin ban motor lo, Jay,” sambung Nindy dengan wajah resting bitch face-nya yang
legendaris, membuat Daniel yang sedang minum es teh hampir tersedak.
Tawa mereka pecah di warung makan itu. Jay terkekeh sambil mengangkat kedua jarinya membentu tanda peace. “Aman, Bos-Bos sekalian. Dijamin Gea bakal Makmur terus sama gue. Gak bakal gue bikin kurus."
“Bisa aja lo, Lontong!” sorak Nindy Gea memandangi Jay yang sedang tertawa lepas bersama sahabat-sahabatnya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Pria dengan pipi chubby di sebelahnya ini mungkin tidak menembaknya dengan sekeranjang bunga atau dengan suasana romantis, tapi melihat bagaimana Jay bisa membaur, Gea tahu dia tidak salah melabuhkan hati.
...****************...