Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terkubur
"Jadi, selama lima tahun ini... aku adalah satu-satunya orang yang memikul beban atas kegagalan yang bahkan bukan salahku?"
Suara Alara terdengar pecah, hanya berupa bisikan yang tertelan kesunyian kamarnya. Ia masih menatap lembar kertas putih di tangannya, kertas yang memuat diagnosis Bagas dari masa lalu.
Hasil pemeriksaan itu tertulis hitam di atas putih: "Normal." Tidak ada hambatan, tidak ada kelainan.
Alara merasakan hawa dingin merambat dari ujung jemarinya hingga ke tulang punggung.
Selama ini, ia hidup di bawah bayang-bayang rasa bersalah yang diciptakan oleh ibu mertuanya. Ia membiarkan harga dirinya diinjak-injak, membiarkan tubuhnya disuntik dengan berbagai macam hormon, dan membiarkan jiwanya terkikis hanya karena ia percaya bahwa "kekurangan" ada pada dirinya.
Bagas pun selalu diam, membiarkan ibunya menyalahkan Alara di setiap kesempatan, seolah-olah pria itu setuju bahwa Alara adalah pihak yang cacat dalam pernikahan mereka.
Alara meletakkan kertas itu di atas tempat tidur dengan tangan gemetar. Ia kemudian meraih map berisi rekam medis miliknya sendiri. Ia membandingkan keduanya. Jika Bagas normal, dan kondisinya sendiri hanya memerlukan terapi ringan yang seharusnya bisa diatasi dengan kerjasama pasangan, lalu mengapa tidak ada anak yang hadir?
Sebuah ingatan muncul di benak Alara. Ingatan tentang Bagas yang selalu menolak ajakan dokter untuk pemeriksaan bersama di tahap lanjut. Ingatan tentang Bagas yang selalu pulang larut malam tepat di masa subur Alara, atau tiba-tiba harus melakukan perjalanan dinas yang tidak terencana.
"Apakah ini disengaja?" pikiran itu menghantamnya seperti palu godam.
"Apakah selama ini Bagas memang tidak ingin memiliki anak denganku, atau ada sesuatu yang lebih gelap yang tidak pernah kusadari?"
Kemarahan yang selama ini tertahan di tenggorokan kini berubah menjadi api yang membakar sisa-sisa kesabarannya. Ia tidak lagi merasa sedih; ia merasa bodoh. Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Suara bel rumah yang berdenting nyaring membuyarkan lamunannya.
Alara menyeka sisa air mata di sudut matanya, lalu berdiri dengan perasaan yang sudah jauh berbeda dari satu jam yang lalu. Ia keluar dari kamar, melangkah menuruni tangga dengan tatapan dingin yang tak terbaca.
Di ruang tamu, pemandangan itu menyambutnya seperti sebuah penghinaan yang nyata. Sebuah koper berukuran besar berwarna krem tergeletak di tengah ruangan, tepat di samping sofa favorit mereka. Nindy berdiri di sana, mengenakan gaun cantik, dengan senyum manis yang terpoles sempurna di wajahnya.
"Alara, kamu sudah bangun?" sapa ibu mertua. Nada suaranya penuh dengan kehangatan yang palsu, jenis kehangatan yang hanya muncul jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Mulai hari ini, Nindy akan tinggal di sini. Kamu tahu, persiapan untuk pernikahan kedua Bagas butuh waktu, dan kami merasa akan lebih efisien jika Nindy sudah beradaptasi dengan ritme rumah ini."
Alara mematung. Ia menatap ibu mertua, lalu beralih ke Nindy yang membalas tatapannya dengan angkuh.
"Tinggal di sini? Tanpa bertanya kepadaku?" tanya Alara dengan suara tenang, namun setiap kata terasa seperti es.
"Apa perlu meminta izinmu?" sahut Wendah sambil mendengus.
"Kamu adalah istri yang tidak bisa memberikan hasil. Kamu harusnya bersyukur Nindy mau turun tangan membantu keluarga ini mendapatkan keturunan."
Alara tidak menjawab. Ia tahu, berdebat dengan wanita itu hanya akan menghabiskan energi yang kini sangat ia butuhkan untuk menyusun langkah selanjutnya.
Tak lama kemudian, suara pintu utama terbuka.
Bagas melangkah masuk, wajahnya terlihat letih dengan setelan kantor yang mulai kusut. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat matanya menangkap koper besar milik Nindy di ruang tamu. Ia tampak terperangah.
"Ibu? Apa yang dilakukan koper ini di sini?" tanya Bagas, suaranya terdengar cemas.
"Bagas, Nak, selamat datang," sapa sang ibu dengan suara yang mendayu-dayu.
"Ibu sudah memutuskan. Demi kenyamananmu dan agar rencana kita segera terlaksana, Nindy akan tinggal di sini mulai hari ini. Dia akan membantu urusan rumah tangga dan mempersiapkan segalanya."
Semua orang di ruangan itu membeku. Fokus tertuju pada Bagas. Alara menahan napas, menatap suaminya lekat-lekat. Inilah saatnya. Inilah detik di mana Bagas akan membela martabat pernikahannya, atau justru membiarkannya hancur berkeping-keping.
Alara masih berharap, di lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa Bagas akan mengatakan 'tidak'. Bahwa Bagas akan berkata, 'Aku masih punya istri di rumah ini, Bu. Keputusan seperti ini harus dibicarakan bersama.'
Namun, keheningan menyelimuti ruangan itu terlalu lama. Bagas tampak bimbang, matanya berpindah dari wajah ibunya yang menuntut, ke wajah Nindy yang penuh harap, lalu terakhir ke arah Alara yang menatapnya dengan kekecewaan yang mendalam.
"Aku... aku akan membicarakan ini nanti," ucap Bagas akhirnya. Suaranya pelan, datar, tanpa ketegasan.
Kalimat itu bukan penolakan. Kalimat itu adalah izin.
Ibu mertua tersenyum lebar, sebuah kemenangan yang mutlak. Nindy melangkah maju, memegang lengan Bagas dengan akrab, seolah ia sudah benar-benar menjadi bagian dari rumah itu.
Alara tidak mengeluarkan suara. Ia tidak memprotes, tidak menjerit, dan tidak lagi memohon. Ia hanya menundukkan kepala, memutar balik badannya, dan mulai melangkah kembali ke atas.
Di dalam hatinya, sesuatu benar-benar telah patah. Harapan yang selama ini ia gantungkan pada Bagas, harapan bahwa suaminya masih mencintainya dan menghargai janji pernikahan mereka, kini hancur lebur.
Rahasia hasil pemeriksaan medis yang ada di kamarnya kini terasa seperti beban yang konyol. Mengapa ia harus merasa bersalah? Mengapa ia harus merasa dirinya tidak berharga?
Saat ia sampai di ambang pintu kamar, ia sempat menoleh ke bawah untuk terakhir kalinya. Bagas masih berdiri di sana, membiarkan tangannya disentuh oleh Nindy.
Alara masuk ke kamar, menguncinya dengan rapat, dan menempelkan punggungnya ke pintu. Rumah yang selama bertahun-tahun ia jaga dengan penuh cinta, rumah yang ia bersihkan setiap hari dengan harapan akan ada tangis bayi di dalamnya, kini telah kehilangan jiwanya. Penghuni baru telah datang untuk merebut tempatnya, dan suaminya sendiri yang membukakan pintu untuk itu.
Kini, Alara tidak lagi menangis. Ia hanya menatap dingin ke arah lemari tempat berkas medisnya tersimpan. Rahasia itu bukan lagi beban, melainkan senjata. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah, Alara tahu bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan sendirian lagi.
Alara merogoh laci meja rias, mengeluarkan sebuah buku harian tua yang sudah berdebu. Jemarinya gemetar saat membuka lembar demi lembar yang berisi catatan keuangan dan pengeluaran rumah tangga yang selama ini ia kelola dengan sangat teliti. Matanya berhenti pada satu halaman, tepat di bulan di mana Bagas mengaku melakukan pemeriksaan medis tersebut.
Di sana, tertulis pengeluaran besar yang ia anggap sebagai biaya rumah sakit, namun setelah mencocokkan tanggal dan nominalnya dengan bukti transfer yang terselip, jantungnya hampir berhenti.
Uang itu tidak pernah sampai ke rumah sakit tersebut. Alara terkesiap, menyadari bahwa Bagas telah memalsukan segalanya, bukan hanya tentang keturunan, tetapi tentang siapa yang sebenarnya selama ini ia cintai dan untuk apa uang keluarga mereka selama ini benar-benar digunakan. Kebenaran yang lebih kelam baru saja terungkap, dan itu bukan sekadar tentang anak.
Bersambung...
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘