NovelToon NovelToon
Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Reinata Ramadani

"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."

Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.

Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.

Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.

"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamil

Semilir angin berhembus, menerbangkan dedaunan yang tampak pasrah membiarkan dirinya terombang-ambing.

Hari telah sore, jalan setapak yang biasa dilalui pemetik teh itu berangsur sepi.

Alina berdiri di ambang pintu rumahnya, memperhatikan daun-daun itu jatuh satu per satu di atas tanah merah yang lembab.

Hela nafas terdengar berat. Waktu seolah bergerak begitu lambat. Sudah satu bulan berlalu, namun wajah itu masih tampak murung.

Ribuan pertanyaan itu kembali memenuhi isi kepalanya. Bagaimana kabar laki-laki itu. Apakah ia sudah sembuh dari sakitnya. Apakah ada yang mengurusnya.

Laki-laki itu tidak bisa tidur sendiri. Ia harus memeluknya sepanjang malam.

"TEH, TETEH... ."

Teriakan itu berhasil membuyarkan lamunannya.

Pandangannya kini beralih pada sosok gadis kecil yang tengah berlari dengan sebuah rantang di tangannya.

"Dira. Jangan lari lari, sayang..." tegurnya.

Gadis berusia lima tahun itu menyengir, menampilkan barisan giginya yang tersusun rapi. "Hehe... ." Membuat Alina gemas dan sontak mencubit lembut pipinya. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu lari-lari, heummm?"

"Dira bawa ini untuk teh Alina, dari umi." Gadis itu menyodorkan sebuah rantang ke hadapan Alina.

Alina lantas meraihnya. "Terimakasih, sayang." Serunya sembari mengusap helai rambut Dira yang tergerai indah.

"Teteh kapan main ke rumah Dira? Sudah lama teh Alina tidak main ke rumah. Dira kesepian. Umi tidak seru kalau di ajak main." Keluhnya.

"Setelah pekerjaan teteh selesai, teteh nanti main ke rumahnya Dira, ya... ." Seru Alina, menciptakan binar indah di manik mata gadis kecil itu. "Janji ya teh?"

Alina menatap gemas pada gadis itu. Parasnya cantik, terlihat sangat polos seperti dirinya dulu. "Iya, teteh janji."

Hingga rasa pening itu tiba-tiba datang. Kepalanya terasa berat.

Alina memegangi kepalanya yang seolah berputar.

Sedang Dira, gadis kecil itu tampak panik saat melihat Alina limbung tak sadarkan diri.

"Teh, teteh kenapa? Tetehhh... ."

Dira berusaha membangunkan Alina. Namun sayang, Alina bahkan masih setia memejam.

Tak tahu harus bagaimana, Dira akhirnya memutuskan untuk berlari ke rumahnya, mencari bantuan dari umi nya.

"UMIII, UMIII... ."

Teriakan itu melengking, memaksa Umi Hannah keluar dari rumahnya.

"Ada apa, Dira."

"Umi, Teh Alina mii. Dira bangunin teh Alina, tapi teteh tidak bangun-bangun mi."

Membuat umi Hannah seketika terkesiap. Pikiran-pikiran buruk itupun berputar dalam kepalanya. Takut jika perempuan itu bertindak yang tidak-tidak karena permasalahannya.

Dengan menggandeng tangan Dira, umi Hannah pun segera mendatangi kediaman Alina.

Dan sontak saja, umi Hannah seketika terbelalak saat mendapati perempuan itu tergeletak di teras rumahnya.

"Lin... Alin..." Umi Hannah mengguncang bahu itu pelan, namun tak ada respon sedikit pun dari perempuan itu.

"Dira tunggu sini ya, jagain teteh, Ummi minta bantuan pak Yogi dulu."

Ummi Hannah segera pergk ke rumahnya pak Yogi, karena hanya beliau lah yang memiliki mobil di kampung itu, itupun hanya mobil bak pengangkut sayur.

"Astagfirullah, Alina kenapa Han. Tadi pagi masih menyapa saya perasaan." Itu respon pertama pak Yogi setelah mendengar laporan dari ummi Hannah.

"Saya juga kurang tau pak. Kesini niatnya mau minta bantuan pak Yogi mengantar kami ke klinik."

"Oh iya, sok mangga."

Saat itu, mega merah sudah menyemburat di langit. Lantunan adzan mulai samar terdengar di kejauhan, namun hal itu tak sedikit pun menghentikan laju sebuah mobil yang kini mulai membelah jalanan temaram.

Tak sampai setengah jam, mereka pun tiba di sebuah klinik. Dengan ditemani ummi Hannah, dokter pun segera memeriksa keadaan Alina yang masih tak sadarkan diri.

"Bagaimana dok?" Ummi Hannah bertanya dengan tak sabar.

Sejenak dokter itu terdiam. "Apa teteh keluarga pasien?"

Ummi Hannah menggeleng, "Saya tetangganya, Dok."

"Oh, oke. Kita tunggu pasien siuman saja ya Teh. Nanti akan saya sampaikan."

Tak berselang lama, Alina akhirnya sadarkan diri.

Raut wajah bingung tercetak jelas di wajah cantik itu. Alina masih mengingat jelas tengah bercengkerama dengan Dira sore itu. Tapi, mengapa ia ada di sini. Diruangan serba putih yang terasa begitu asing.

"Alhamdulillah Lin, kamu sudah siuman?" Ummi Hannah datang dengan segelas air putih ditangannya. Wajahnya tampak lega melihat perempuan itu akhirnya siuman setelah beberapa jam tak sadarkan diri.

"Ini dimana Teh?" Tanya Alina, lemah.

"Ini di klinik. Tadi kamu pingsan, Lin." Seru Ummi Hannah. "Minum dulu Lin."

Alina menurut, dengan dibantu Ummi Hannah, ia menyeruput air itu, sedikit.

"Gimana, masih pusing?"

Alina mengangguk, "sedikit, Teh."

"Tadi Teteh takut sekali saat Dira lari-lari dan bilang kamu pingsan Lin. Kalau sakit jangan dipaksakan, istirahat dulu beberapa hari. Teteh takut kamu kenapa-kenapa." Seru ummi Hannah menasehati, tau jika perempuan itu selalu saja menforsir tubuhnya untuk bekerja terlalu keras.

"Aku tidak sakit, Teh. Cuma waktu itu tiba-tiba aja pusing, ngga tau kenapa."

"Alhamdulillah sudah siuman ya, teh Alina." Disaat yang bersamaan, Dokter itu akhirnya kembali.

"Gimana teh? Masih pusing? Atau ada keluhan lain?" Tanya sang dokter.

"Masih sedikit pusing dong. Saya kenapa ya Dok?"

"Boleh saya bicara dengan pasien saja?"

Saat ummi Hannah hendak beranjak, Alina menahan lengan perempuan itu. "Teh Hannah sudah seperti keluarga saya sendiri, Dok. Sampaikan saja, tidak apa-apa. "

Dokter itu pun mengangguk. "Baiklah. Dari pemeriksaan yang sudah saya lakukan, Teh Dira saat ini sedang mengandung."

Alina seketika itu membeku. Di saat itu, waktu seolah berhenti. Pikirannya kosong.

"Hamil?" Serunya, tak percaya.

Tangan yang gemetar itu perlahan mengusap permukaan perutnya yang masih rata.

"Saya beneran hamil, Dok?"

Alina bertanya dengan linglung. Tak percaya dengan diagnosa dokter kala itu.

"Iya, saat ini teh Alina sedang mengandung. Selamat ya Teh. Kandungannya di jaga baik-baik dan jangan terlalu kelelahan. Hindari pekerjaan pekerjaan berat juga agar dede bayi nya tidak ikut capek."

Alina masih berusaha mencerna ucapan dokter kala itu.

Hamil?

Apa benar ia sedang hamil?

Alina meraba-raba perutnya yang masih rata.

"Jadi, di dalam sini. Ada anakku dan mas Leon?"

Kedua matanya sudah berair, siap meloloskan isak sebelum akhirnya rengkuhan itu datang. Ummi Hannah merengkuh tubuh lemah itu. Punggung Alina bergetar hebat saat isak itu akhirnya tumpah.

"Teh-"

Suaranya tercekat. Alina tak mengerti harus bagaimana. Ia bahagia, tapi ia pun di rundung duka.

Dulu, laki-laki itu begitu mendambakan seorang putri. Setiap hari ia akan mengusap perutnya berharap di dalam sAna sudah bersemayam calon anak mereka.

Kini, di saat ia telah meninggalkan laki-laki itu, mengapa kabar baik itu baru ia dengar. Mengapa harus sekarang di saat ia tak memiliki sandaran.

"Aku harus gimana... ."

" Tidak apa-apa, Lin. Ini adalah berkah dari Tuhan."

"Tapi, ini bagaimana teh. Aku takut... ."

"Tidak apa-apa. Ayo kita besarkan sama-sama."

☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Hi chingu

Happy reading

Saranghaja

1
Nar Sih
sabar alina ,pssti ada keajaiban untuk marsha ,smoga leon trrbuka hati nya dan sgra menolong putri nya
Nia Rahmadini
kak boleh update nya double hehehe
Nar Sih
semoga dgn cerita dri umi hanah kmu bisa sadar akan slh mu leon ,dan sgra cri tau keadaan 4th lalu saat kmu tk sadar stlh kecelakaan itu
Sunarti Narti
Alhamdulillah akhirnya kebenaran segera terungkap, semoga kamu ga menyesal Leon
Nar Sih
semoga kali ini leon tebuka hti nya sadar akan kesalahan nya ,dan bnr,,bisa bantu marsha biar sembuh lgi ,dobel up lgi ya kak rei🙏🥰🥰
May Satibi Satibi
jangan lama" kak update nya ini novel favorit aku bulan ini
apiii
di tunggu up selanjutnya thor❤️
apiii
astagaa bacanya sambil tahan napas tegang bangt baca setiap kalimat ngena bngt🥹
apiii
parah banget jadi bapak🥹
apiii
thor singkat bangt🥲
Nia Rahmadini
kapan sih update lagi kak
apiii
akhirnya up lgi 🥲🥰
Nar Sih
dobel up yaa kakk 🙏👍
Nia Rahmadini
update lagi kak naangung cerita
apiii
makin penasarannn tapi harus nungguin part selanjutnya🥲
Nia Rahmadini
update kak lagi, cerita nya bagus banget.
Yuni Afiatun
suka setiap karya nya,,
tapi tunggu up nya harus bersabar
yulithong
hrs sabar menunggu ini🤔
Sun Rise
ok
Nar Sih
semoga kali ini sgra terungkap semua nya yg sbnr nya dan leon sadar dgn salah nya ,semagat ya alin juga semagatt untuk kak reinata moga up nya lancar💪💪🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!