Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
apakah harus membuka hati?
Pagi kembali datang membawa kehangatan mentari. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak mampu mencairkan hati Felisyah yang masih membeku terhadap Garendra.
Meski berbagai cara telah Garendra lakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan wanita itu, hasilnya tetap sama. Felisyah masih memilih diam, menatapnya dengan tatapan dingin seolah ada dinding yang tak bisa ditembus.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
Kevin melangkah masuk dengan wajah serius. Pagi itu ia sengaja dipanggil oleh Garendra untuk memeriksa kondisi Felisyah. Garendra tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa membahayakan wanita yang begitu ia lindungi.
Namun, sejak pertama kali melihat Felisyah, ada satu pertanyaan yang terus menghantui pikiran Kevin.
Siapa sebenarnya wanita ini?
Selama bertahun-tahun mengenal Garendra, belum pernah sekali pun aku melihatnya begitu mengkhawatirkan seorang wanita. Bahkan setelah kejadian dengan Monica, Garendra menutup hatinya untuk siapa pun.
Lalu, kenapa kali ini berbeda? Apakah Tante Sena mengetahui semua ini?
Tatapan Kevin tanpa sadar terus tertuju pada wajah Felisyah.
"Kalau sudah selesai berpikir, lakukan pekerjaanmu."
Suara dingin Garendra membuat Kevin tersentak.
Ia menelan ludah ketika melihat tatapan tajam sang sepupu.
"A-ah, iya."
Tanpa berani membantah, Kevin segera mendekati Felisyah dan melakukan pemeriksaan. Ini sudah kedua kalinya ia memasuki kamar VIP tersebut. Bahkan ia harus meninggalkan jadwal pasien lain karena panggilan langsung dari Garendra.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa menekan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Garendra singkat.
Kevin melepas stetoskopnya lalu menghela napas pelan.
"Sebenarnya dia sudah jauh lebih baik. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."
Meski menjawab dengan tenang, mata Kevin masih menyimpan rasa penasaran yang besar. Ia ingin bertanya langsung, tetapi ia tahu Garendra bukan orang yang akan memberi jawaban dengan mudah.
"Kalau begitu, aku permisi."
Kevin melangkah keluar ruangan, tetapi langkahnya tidak menuju ruang pasien lainnya.
Ia memiliki satu tujuan.
Mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang didekati Garendra.
Dengan cepat ia berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi, Sus. Saya ingin melihat data pasien yang berada di kamar VIP 01."
Suster itu mengangguk dan mulai mengetik sesuatu di komputer.
Sementara menunggu, pikiran Kevin semakin kacau.
Siapa dia?
Apa hubungan sebenarnya dengan Garendra?
Dan kenapa Garendra sampai seperduli itu dengannya?
Beberapa detik kemudian, suster itu mengangkat wajahnya.
"Maaf, Dok. Tidak ada data pasien yang terdaftar di kamar VIP 01."
Deg!
Jantung Kevin seakan berhenti sesaat.
Mata pria itu membesar tidak percaya.
"Tidak ada?" tanyanya memastikan.
"Ya, Dok. Kamar itu tercatat kosong."
Kevin terdiam.
Sebuah senyum tipis namun penuh arti muncul di wajahnya.
Ternyata sampai sejauh ini kau melindunginya, Garendra.
Ia mengenal sepupunya dengan sangat baik. Jika Garendra sudah turun tangan, tidak ada yang tidak bisa ia lakukan.
"Kalau begitu, aku harus mencari tahu dari orang lain."
Nama Tante Sena langsung muncul di pikirannya.
Jika ada seseorang yang mengetahui hal ini, pasti Tante Sena.
"Baik, Sus. Terima kasih."
Kevin berbalik dan berjalan pergi.
Namun semakin jauh ia melangkah, rasa penasarannya justru semakin besar.
Siapa sebenarnya Felisyah?
Dan rahasia apa yang membuat Garendra sampai menyembunyikan keberadaannya dari semua orang?
...****************...
Di tempat lain, tepatnya di kamar perawatan Pak Sanggara, Felisyah sedang menyiapkan makanan untuk sang ayah. Tangannya sibuk menyuapi dan merapikan keperluan ayahnya, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.
Bayangan tentang Garendra terus memenuhi benaknya. Rasa kecewa, bingung, dan berbagai emosi yang selama ini ia pendam masih memenuhi hatinya.
Pak Sanggara yang memperhatikan putrinya sejak tadi hanya menghela napas pelan. Sebagai seorang ayah, ia sangat mengenal anaknya. Meski Felisyah berusaha terlihat kuat, ia tahu ada luka yang masih belum sembuh di hati putrinya.
"Nak," panggil Pak Sanggara dengan suara lembut.
Felisyah yang tersadar dari lamunannya segera menoleh.
"Iya, Yah?"
"Apapun yang terjadi dalam hidup ini, terkadang memang sudah menjadi bagian dari takdir yang harus kita terima," ucap Pak Sanggara sambil menggenggam tangan putrinya.
"Memang tidak mudah menerima seseorang yang awalnya asing lalu tiba-tiba menjadi bagian dari hidup kita. Ayah mengerti perasaanmu. Ayah tahu hatimu masih terluka dan butuh waktu untuk menerima semuanya."
Air mata Felisyah perlahan memenuhi pelupuk matanya.
"Tapi Nak, sekarang Garendra adalah suamimu. Dia juga memiliki kehidupan dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Apakah kamu tega membiarkannya terus mengesampingkan semua urusannya hanya untuk menemani dan menunggumu membuka hati?"
Felisyah terdiam. Ia tidak mampu menjawab.
"Selama ini Ayah melihat sendiri bagaimana Garendra menjagamu. Dia merawat Ayah, memenuhi semua kebutuhan kita, dan tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ayah merasa tidak enak padanya."
Pak Sanggara mengusap punggung tangan putrinya dengan penuh kasih.
"Ayah tidak meminta kamu langsung mencintainya. Jangan memaksakan hatimu untuk berubah dalam satu malam. Cukup berikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk mengenalnya lebih jauh."
Suara Pak Sanggara mulai bergetar.
"Jalani saja pelan-pelan, Nak. Siapa tahu orang yang awalnya hadir karena keterpaksaan justru menjadi orang yang akan menjagamu seumur hidup."
Perkataan sang ayah membuat hati Felisyah semakin sesak. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.
Benarkah ia terlalu keras kepada Garendra?
Sementara pria itu selalu berusaha memperbaiki kesalahannya dan tetap berada di sisinya tanpa menyerah.
Felisyah kembali mengingat perkataan Garendra. Pria itu memintanya untuk pulang bersamanya, tetapi ia menolak. Bukan karena benci, melainkan karena rasa takut yang masih memenuhi hatinya.
Ia belum siap memasuki kehidupan Garendra. Ia bahkan tidak tahu seperti apa rumah pria itu, siapa saja orang yang tinggal di sana, dan bagaimana penerimaan keluarga Garendra terhadap dirinya.
Baginya, menjadi istri Garendra terjadi begitu tiba-tiba. Wanita mana yang tidak merasa takut ketika harus memasuki lingkungan baru bersama pria yang dulu benar-benar asing baginya?
"Entahlah, Yah. Nanti Felisyah pikirkan lagi. Sekarang Ayah makan dulu, supaya cepat sembuh dan kita bisa pulang bersama," ucap Felisyah berusaha mengalihkan pembicaraan.
Pak Sanggara tersenyum tipis, tetapi di balik senyum itu tersimpan rasa khawatir untuk putri semata wayangnya.
"Nak, Ayah belum bisa pulang. Dokter bilang Ayah masih harus menjalani pemulihan dan pengawasan beberapa hari lagi," ucapnya lembut.
Beliau menggenggam tangan Felisyah.
"Kamu harus ikut suamimu. Meskipun hatimu belum sepenuhnya menerima Garendra, cobalah untuk memberinya kesempatan. Ayah melihat sendiri bagaimana dia menjagamu."
Mata Felisyah mulai melemah mendengar perkataan ayahnya.
"Dia terus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk memastikan keadaan kita baik-baik saja. Padahal Ayah tahu, Garendra bukan pria yang tidak memiliki kesibukan. Dia memiliki tanggung jawab dan pekerjaan yang harus diurus."
Felisyah menunduk. Hatinya kembali terasa sesak.
Ia mengingat semua yang telah dilakukan Garendra—cara pria itu menunggu di sampingnya saat ia sakit, kesabarannya menghadapi sikap dingin Felisyah, dan usahanya yang tidak pernah berhenti untuk mendapatkan maaf darinya.
Apakah ia terlalu keras pada Garendra? Ataukah ia hanya terlalu takut untuk membuka hatinya kembali?
Pertanyaan itu terus berputar di dalam benaknya.
semangat✍️😉