Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hujan Besi dan Pembantaian Mutlak
Suara desingan laras ganda dari Menara Lontar Elektromagnetik menenggelamkan raungan lautan monster. Cahaya biru memancar terang di atas tembok Tatanan Besi Hitam, melepaskan badai kematian yang tidak pernah disaksikan oleh dunia ini sebelumnya.
TRANG-TRANG-TRANG-TRANG!
Ratusan paku baja seukuran lengan balita melesat membelah udara dengan kecepatan yang menembus ambang batas suara. Udara di depan gerbang seolah terkoyak.
Gelombang pertama monster yang terdiri dari Anjing Neraka Mutan dan Pengintai Kulit Besi (Tingkat 2 dan 3) sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk meronta. Paku-paku baja itu merobek sisik, menghancurkan tulang, dan memaku tubuh mereka ke aspal jalanan dengan kebrutalan absolut. Darah hitam dan merah bermuncratan, mewarnai jalan raya layaknya ladang pembantaian.
Dalam dua menit pertama, seratus monster mati tanpa bisa menyentuh tembok benteng.
"Luar biasa..." gumam Bara dengan mata terbelalak, cengkeramannya pada Gada Kejut mengendur sejenak. Ia melihat tubuh-tubuh monster itu hancur layaknya tahu yang dihantam martil.
Namun, Gelombang Binatang Buas ini bukan hanya sekumpulan hewan bodoh. Bau darah kawanannya justru memicu amarah makhluk-makhluk bertingkat lebih tinggi.
Dari balik kabut debu, puluhan makhluk raksasa muncul. Kadal Asam Pemakan Bangkai (Tingkat 4) dan beberapa varian monster berlapis zirah tulang menggunakan bangkai monster kecil sebagai perisai, mendorong maju menembus hujan paku baja. Laras menara lontar mulai memerah karena panas yang berlebihan.
"Mereka mendekati batas radius satu kilometer, Ketua!" lapor Lin Tian, matanya mengunci pergerakan monster-monster raksasa tersebut.
Yudha berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, wajahnya sedingin balok es. "Perhatikan baik-baik. Ini adalah keistimewaan takhta kita."
Tepat ketika kaki depan kadal raksasa pertama melewati garis imajiner dalam radius satu kilometer dari pabrik, sesuatu yang aneh terjadi.
Monster yang sedang berlari dengan kecepatan penuh itu tiba-tiba tersandung, moncongnya menghantam aspal hingga hancur. Tubuh makhluk itu seolah ditekan oleh gravitasi ganda. Tidak hanya satu, seluruh lautan monster yang melewati batas tersebut secara serentak melambat. Gerakan mereka menjadi kaku, dan auman mereka berubah menjadi rintihan berat.
Itu adalah efek pasif wilayah: Benteng Penekan. Atribut fisik seluruh musuh yang masuk ke wilayah Yudha dipotong paksa sebesar dua puluh persen. Di pertarungan hidup dan mati, penurunan kekuatan sebesar itu adalah vonis eksekusi.
Menara Lontar Elektromagnetik mengambil keuntungan penuh dari kelemahan tersebut. Lensa pelacaknya dengan mudah mengunci target-target raksasa yang kini bergerak lambat, menembakkan rentetan paku baja langsung menembus tengkorak mereka.
"Bara!" suara Yudha memecah kekaguman anak buahnya. "Monster yang pandai memanjat akan segera tiba di dasar tembok. Ingat tugasmu!"
Benar saja, puluhan Pengintai Kulit Besi yang selamat dari tembakan berhasil mencapai kaki tembok. Mereka menancapkan cakar-cakar tajam mereka, berusaha merayap naik ke atas logam hitam pekat tersebut.
Bara mengertakkan gigi, otot-ototnya menonjol. "Mati kalian semua!"
Ia mengangkat Gada Kejut miliknya tinggi-tinggi, lalu menghantamkan inti energinya langsung ke lantai logam di atas tembok.
BZZZTT!
Gelombang kejut listrik tegangan tinggi mengalir turun menyusuri dinding luar benteng. Monster-monster yang sedang merayap naik seketika tersengat, otot mereka kaku, lalu berjatuhan kembali ke bawah seperti serangga yang disemprot racun.
Lin Tian dan Lin Chen tidak tinggal diam. Mematuhi perintah ketua mereka untuk tidak turun dari tembok, kedua bersaudara itu berdiri di tepi batas. Lin Tian menghujamkan Tombak Penembus Tulangnya dari atas, menembus kepala monster yang mencoba melompat ke arah barikade. Sementara Lin Chen melemparkan potongan-potongan pelat baja tajam—yang telah disiapkan oleh pekerja—menggunakan kekuatan penuhnya, memenggal leher makhluk-makhluk itu dari jarak aman.
Pertahanan Tatanan Besi Hitam benar-benar mutlak. Tembok baja hitam itu menolak tergores sedikit pun.
ROAAARRR!
Sebuah raungan yang jauh lebih dahsyat dari gabungan seluruh monster tiba-tiba mengguncang udara. Suaranya memecahkan kaca-kaca bangunan di sekitar jalan raya.
Dari tengah lautan monster, seekor entitas puncak muncul. Bentuknya menyerupai beruang raksasa setinggi empat meter, namun tidak ada bulu di tubuhnya. Seluruh otot raksasanya terbungkus oleh lapisan batu darah yang tajam dan berdenyut merah menyala. Setiap langkahnya membuat tanah retak.
[Entitas Puncak Terdeteksi: Beruang Zirah Batu Darah - Tingkat 5 (Varian Pemimpin)]
Menara Lontar segera mengunci target tersebut. Tiga paku baja melesat menghantam dada sang beruang.
TRANG! TRANG!
Bunga api memercik besar, namun paku-paku itu hanya mampu membuat retakan kecil pada zirah batu darahnya sebelum akhirnya terpental. Beruang raksasa itu menggeram marah, mencabut sebuah tiang lampu jalan yang tertanam di aspal, lalu melemparkannya layaknya tombak ke arah menara pelontar.
"Ketua!" seru Lin Chen, bersiap melompat untuk menangkis tiang besi raksasa yang melayang menuju mereka.
"Tahan posisimu," ucap Yudha tenang.
Sesaat sebelum tiang lampu itu menghantam tembok, sebuah kubah energi transparan berwarna keemasan berkedip menutupi udara di atas mereka.
BOOM!
Tiang lampu itu menabrak perisai energi dasar wilayah, hancur menjadi serpihan logam bengkok, dan jatuh tanpa bisa menyentuh sehelai rambut pun dari orang-orang di atas tembok.
Yudha melangkah maju ke tepi tembok, menatap beruang raksasa yang kini berjarak kurang dari seratus meter.
"Kau menembakkan seluruh amunisi tanpa ampun," kata Yudha perlahan, seolah berbicara pada menara lontarnya sendiri. "Waktunya pendinginan."
Menara Lontar Elektromagnetik berhenti berputar, moncong larasnya mengeluarkan asap putih tebal.
Yudha meregangkan lehernya hingga berbunyi krek, lalu merentangkan lengan kanannya. Urat-urat merah di Lengan Baja Pelebur mulai menyala terang, memancarkan hawa panas yang membakar rintik hujan di sekitarnya menjadi uap.
"Lin Tian, Lin Chen. Perhatikan baik-baik," ucap Yudha, suaranya dipenuhi niat membunuh yang pekat. "Tembok bisa menahan gempuran, senjata mekanis bisa membantai ribuan pion. Tapi untuk menanamkan rasa takut mutlak di dunia ini... kau harus menghancurkan pemimpin mereka dengan tanganmu sendiri."
Yudha menolak pinggiran tembok, tubuhnya melesat layaknya meteor hitam yang jatuh dari langit, terjun lurus ke tengah-tengah lautan monster dan langsung mengarah pada sang Beruang Zirah Batu Darah.
Melihat manusia kecil yang berani menantangnya, beruang raksasa itu berdiri dengan dua kaki belakangnya, mengangkat kedua cakar batunya yang berukuran sebesar mobil, bersiap meremukkan Yudha di udara.
Yudha tidak menghindar. Di puncak lompatannya, Atribut Kecerdasan 33 titiknya mengkalkulasi titik terlemah dari zirah batu sang monster. Ia memusatkan seluruh energi dari Inti Api ke ujung telapak tangan mekanisnya.
[Kemampuan Aktif: Genggaman Tungku - Batas Maksimal!]
WUUUSSHH!
Suhu melampaui seribu derajat Celcius meledak dari tangan Yudha, menciptakan bola api putih di sekeliling lengannya.
"Meleleh," desis Yudha dingin.
Ia menabrakkan dirinya langsung ke arah cakar raksasa yang menyambutnya. Alih-alih terhempas, telapak tangan Yudha menembus cakar batu darah itu layaknya pisau panas membelah lilin. Batu sekeras baja meleleh menjadi lava cair dalam hitungan milidetik.
Beruang raksasa itu meraung kesakitan yang memekakkan telinga. Namun Yudha tidak berhenti. Memanfaatkan momentum jatuh, ia menggunakan tubuh beruang itu sebagai pijakan, melesat naik menuju dada makhluk tersebut, dan menghujamkan lengan bajanya tepat ke tengah-tengah jantung yang tersembunyi di balik zirah.
Suhu ekstrem membakar habis organ dalam monster itu secara instan.
Raungan monster itu terputus seketika. Tubuh raksasanya menegang, asap hitam mengepul dari mulut, mata, dan lubang di dadanya. Detik berikutnya, beruang setinggi empat meter itu ambruk ke tanah dengan dentuman keras, mengubah aspal menjadi kawah kecil.
Sisa monster yang menyaksikan raja mereka dibunuh hanya dalam satu serangan langsung kehilangan nyali. Insting hewan mereka yang sebelumnya dikuasai amarah kini dikalahkan oleh teror mutlak. Ratusan monster yang tersisa berbalik arah, melarikan diri dengan panik meninggalkan wilayah Tatanan Besi Hitam.
Yudha mendarat dengan anggun di atas aspal yang bersimbah darah. Ia mencabut lengannya dari dada sang beruang, membiarkan darah kental yang mendidih menetes dari jemari mekanisnya.
Suara denting keemasan bergema di langit wilayah tersebut.
[Ujian Takhta Berhasil Dilewati!]
[Kelangsungan Wilayah Terjamin. Menyerap sisa energi dari entitas musuh yang terbunuh di dalam radius.]
[Wilayah Peringkat 1 mendapatkan tambahan energi cadangan sebesar 40%.]
[Tingkat 5 -> Tingkat 6]
[Anda mendapatkan 10 Poin Atribut Bebas (Bonus Penyelesaian Ujian Takhta).]
Sorak-sorai yang menggelegar meledak dari balik tembok baja hitam. Para pekerja kasar menangis bahagia, sementara Bara meneriakkan nama ketua mereka hingga suaranya parau. Lin Tian dan Lin Chen saling memandang, melihat pantulan rasa hormat yang tak tergoyahkan di mata masing-masing.
Di tengah genangan darah dan ratusan bangkai musuh, Yudha berdiri sendirian. Ia menatap ke arah pusat kota, di mana kompetisi antar fraksi manusia masih menyisakan abu dan keputusasaan.