NovelToon NovelToon
OBSESSION OF THE SEVEN

OBSESSION OF THE SEVEN

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Harem
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.

Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.

Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.

Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Baru di Istana Kaca (2)

Kembalinya Althea ke dalam cengkeraman 'Septem Foundation' tidak disambut dengan kemarahan, interogasi kasar, ataupun hukuman fisik yang melepuh. Sebaliknya, ketujuh pria itu memperlakukannya dengan kelembutan yang begitu ekstrem hingga terasa mengerikan.

Ia dijemput dari kota kecil di Prancis seolah-olah dirinya adalah seorang putri yang baru saja pulang dari perjalanan jauh yang melelahkan. Namun, kelembutan itu adalah bentuk manipulasi tertinggi. Althea segera menyadari bahwa kata-kata

Rm di bawah kabut Saint-Malo bukanlah gertakan belaka: sangkar emasnya kali ini tidak lagi memiliki retakan. Mereka telah belajar dari kesalahan setahun lalu.

Pagi pertama di musim yang baru, Althea terbangun bukan di kamar lamanya yang bernuansa gotik di lantai tiga. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah paviliun khusus yang baru saja selesai dibangun di tengah-tengah kediaman utama.

Paviliun itu adalah sebuah mahakarya arsitektur modern yang mengerikan. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca tebal anti-peluru berlapis cermin satu arah (one-way mirror). Dari dalam tempat tidur king-size yang empuk, Althea bisa melihat ke luar menatap hamparan taman pinus dan langit abu-abu yang mulai meneteskan gerimis. Namun, ia tahu betul bahwa dari luar, tidak ada satu pun orang yang bisa melihat ke dalam, kecuali melalui sistem kamera pengawas tersembunyi yang mendeteksi setiap kedipan matanya.

Tempat ini bukan lagi kamar tidur, ini adalah akuarium raksasa di mana ia menjadi satu-satunya objek pajangan.

Di atas meja rias marmer putih di sudut ruangan, sebuah buku tebal bersampul kulit hitam dengan logo perak 'Septem' sudah menanti. Dengan langkah kaki yang lemas, Althea berjalan mendekat dan membuka halaman pertamanya. Di sana, tertulis sebuah judul dengan tinta emas yang tegas: "Protokol Kenyamanan Althea Regulasi Bersama".

Althea membalik lembar demi lembar, dan dadanya terasa semakin sesak membaca aturan gila yang telah mereka formulasikan selama satu tahun masa pelariannya. Ini adalah kontrak kepemilikan mutlak yang telah dibagi dengan presisi yang gila:

-Senin (Milik Kim Seokjin): Hari kontrol kesehatan dan nutrisi mutlak. Tidak ada satu pun kalori, obat, atau cairan yang masuk ke tubuh Althea tanpa pemeriksaan klinis dan persetujuan Jin.

-Selasa (Milik Min Suga): Hari ketenangan psikologis. Althea wajib menghabiskan waktu di ruang audio bawah tanah, mendengarkan gubahan melodi terbaru Suga yang dirancang secara ilmiah untuk menekan stimulasi trauma dan kecemasannya.

-Rabu (Milik Jung J-Hope): Hari interaksi visual dan spasial. J-Hope memegang kendali penuh atas navigasi fisik Althea. Althea diizinkan berjalan di taman luar, namun ia harus mengenakan pakaian dengan sensor taktil yang terhubung langsung ke ruang kendali J-Hope.

-Kamis (Milik Park Jimin): Hari sosialisasi terbatas. Jimin akan mendampingi Althea dalam setiap interaksi interpersonal di dalam kediaman, memastikan tidak ada tatapan atau kata-kata dari pelayan atau staf yang bisa menjangkau Althea tanpa filter posesifnya.

-Jumat (Milik Kim Taehyung): Hari estetika dan keabadian. Althea wajib duduk di singgasana galeri seni selama tiga jam penuh untuk menyelesaikan lukisan kanvas raksasa yang setahun lalu sempat tertunda oleh pelariannya.

-Sabtu & Minggu (Milik Jeon Jungkook & Rm): Hari pengamanan perimeter dan legitimasi hukum. Jungkook mengawal setiap langkah fisik Althea dengan sistem proteksi militer melekat, sementara Rm mengintegrasikan dokumen masa lalu Althea ke dalam aset hukum tertinggi yayasan, menjadikannya milik mereka secara legal di mata hukum dunia.

Althea menutup buku itu dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat, dan air mata keputusasaan kembali mengalir di pipinya. Ini bukan lagi sekadar obsesi liar yang saling bertubrukan seperti musim lalu; ini adalah obsesi yang telah terorganisir dengan sangat rapi, ilmiah, dingin, dan legal. Mereka tidak lagi bertengkar memperebutkannya di ruang kerja Rm. Mereka telah mendistribusikan dirinya seperti aset berharga.

*KREK.*

Suara desis halus dari pintu kaca paviliun yang bergeser terbuka secara otomatis memutus pusaran pikiran Althea. Hari ini adalah hari Senin. Hari pertama dari Protokol bersama.

Jin melangkah masuk dengan langkah kaki yang teratur dan tenang. Pria tertua itu mengenakan jubah putih dokter yang sangat bersih di atas kemeja sutra birunya, memberikan kesan profesional sekaligus elegan yang intimidatif.

Wajah tampannya dihiasi oleh senyuman paling menawan dan hangat yang pernah Althea lihat sebuah senyuman yang dulu sempat membuatnya merasa aman, namun kini justru memicu rasa mual di perutnya.

Jin membawa sebuah nampan perak besar di tangannya. Di atas nampan itu terdapat mangkuk porselen berisi bubur oat organik dengan potongan buah segar, secangkir teh kamomil yang mengepulkan uap hangat, dan sebuah suntikan kecil berisi vitamin pelindung saraf.

"Selamat pagi, Althea-ku," sapa Jin, suaranya terdengar renyah dan penuh perhatian yang tulus.

Ia berjalan mendekati Althea yang langsung bergerak mundur hingga punggungnya menempel pada lemari pakaian. Jin tidak memaksa.

Dengan gerakan yang sangat anggun, ia meletakkan nampan perak itu di atas meja rias, lalu berjalan perlahan mendekati Althea. Jemarinya yang panjang dan hangat terangkat, menangkup dahi Althea dengan kelembutan seorang dokter yang sedang merawat pasien paling rapuh di dunia.

"Suhu tubuhmu sedikit rendah, dan detak jantungmu terlalu cepat. Kau pasti sangat gugup di lingkungan barumu," Jin berbisik lembut, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Althea yang berair.

"Bagaimana tidurmu di paviliun baru ini? Aku sendiri yang mendesain ventilasi udaranya agar kau mendapatkan kadar oksigen terbaik setiap malam. Tidak ada lagi mimpi buruk tentang sungai yang deras, bukan?"

Althea memalingkan wajahnya dengan kasar, melepaskan diri dari sentuhan tangan Jin.

"Tuan Jin... kumohon. Sampai kapan kalian akan memperlakukan aku seperti binatang percobaan di dalam akuarium kaca ini? Lepaskan aku..."

Senyuman di bibir tampan Jin tidak pudar sedikit pun, namun binar hangat di matanya mendadak lenyap, digantikan oleh sorot mata yang datar, dingin, dan sedalam palung laut. Tekanan auranya seketika membuat ruangan kaca itu terasa menyempit.

Jin berjalan kembali ke meja, mengambil mangkuk bubur dan sendok perak. Ia kembali mendekati Althea, menyendok sedikit bubur hangat tersebut, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Althea. Gerakannya begitu pelan, namun posisi tubuhnya yang mengunci sudut lemari mempertegas bahwa tindakan ini tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.

"Kami tidak sedang mengurung mu atau menjadikanmu eksperimen, Sayang. Kami sedang menyembuhkan mu dari racun dunia luar yang kejam," kata Jin dengan nada suara yang turun satu oktav, terdengar begitu pekat akan obsesi. "Satu tahun di Prancis sudah membuktikan bahwa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik.

Kau kembali kepada kami dengan tubuh yang lebih kurus, kulit yang pucat, dan penuh dengan kecemasan. Dunia luar merusak mahakarya ku."

Jin memajukan sendok peraknya, menyentuh bibir Althea yang terkatung rapat dengan ujung sendok.

"Buka mulutmu dan makanlah, Althea. Jangan membuatku harus menggunakan cara medis yang tidak kau sukai untuk memasukkan nutrisi ini ke dalam tubuhmu. Habiskan ini, sebelum Rm datang ke sini siang nanti untuk memeriksa tanda tangan pada berkas adopsi dan kepemilikan hukum mu."

Althea menatap sendok di depannya dengan perasaan campur aduk antara benci dan takut. Ia melirik ke arah dinding kaca searah di sebelah kanannya. Di balik samar nya kabut taman pinus di luar, ia bisa melihat siluet tegap Jeon Jungkook yang sedang berdiri siaga dengan seragam taktis hitamnya, mengawasinya seperti elang yang siap menerkam jika ia membuat satu gerakan mencurigakan.

Di dalam istana kaca yang baru ini, Althea menyadari satu hal yang menghancurkan harapannya: Musim kedua ini bukan lagi tentang bagaimana cara melarikan diri, melainkan bagaimana cara bertahan hidup tanpa kehilangan akal sehat di bawah ritme cengkeraman tujuh pria yang kini bergerak dalam satu harmoni yang sempurna.

Althea perlahan membuka mulutnya, membiarkan suapan pertama dari Jin masuk, menandai dimulainya hari-hari di bawah Protokol 'Septem' yang tanpa celah.

 

Bersambung~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!