NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Teriakan Roy menggelegar memenuhi kamar Sintia. Amarahnya memuncak. Ia sudah berniat memberi pelajaran pada Rani karena merasa wanita itu telah bertindak keterlaluan. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, Sintia lebih dulu ambruk dan pingsan.

"Rani, tunggu saja. Aku pasti akan menghukummu!" bentak Roy.

Tanpa menunggu jawaban, ia segera mengangkat tubuh Sintia ke dalam gendongannya. Bersama ketiga anaknya, Roy bergegas meninggalkan rumah dan membawa wanita itu ke rumah sakit.

Setelah mereka pergi, kamar itu akhirnya kembali sunyi. Rani yang kini sendirian hanya menyunggingkan senyum sinis.

Awalnya, ia memang berniat mengikuti permainan sandiwara mereka sedikit lebih lama. Namun telepon dari Rico yang diterimanya di dapur tadi telah mengubah segalanya. Pria itu memberi tahu bahwa putranya sedang diawasi oleh orang-orang suruhan Roy dan Sintia.

"Daripada terus bermain petak umpet, bukankah lebih baik bermain terang-terangan?" gumamnya pelan.

Rani lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga. Wajahnya tampak tenang, seolah keributan yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dengan langkah anggun, ia meninggalkan kamar Sintia dan kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

***

Keesokan paginya, Rani terbangun setelah tidur nyenyak yang terasa begitu panjang. Ia meregangkan tubuhnya perlahan sambil menatap langit-langit kamar. Entah mengapa, ini terasa seperti tidur terbaik yang baru bisa ia nikmati. Mungkin karena dulu ia terlalu sibuk berusaha menyenangkan semua orang hingga lupa memberi dirinya sendiri kesempatan untuk beristirahat.

"Lumayan," gumamnya pelan.

Ia turun dari ranjang dan mengambil ponselnya yang baru saja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rico langsung menyambut pandangannya.

[Ran, semuanya sudah diatur.]

Senyum tipis terbit di sudut bibir Rani.

[Terima kasih, Ric. Aku akan menemuinya.]

Setelah membalas pesan itu, ia segera membersihkan diri dan berdandan. Penampilannya tidak jauh berbeda dari kemarin, tetapi kali ini ia memilih gaun merah menyala yang membuat auranya terlihat lebih tegas dan berani.

Begitu keluar dari kamar, ia memanggil salah satu pembantu.

"Tolong siapkan sarapan."

Wajah pembantu itu langsung berubah canggung.

"Maaf, Nyonya..." ujarnya ragu-ragu. "Tuan Roy sudah memberi perintah. Jika Nyonya tidak pergi ke rumah sakit dan meminta maaf pada Nona Sintia, kami tidak boleh melayani Nyonya ataupun membiarkan Nyonya menggunakan fasilitas rumah ini, termasuk makanan."

Rani terdiam sejenak alih-alih marah, ia justru tersenyum. Senyum yang begitu tenang hingga membuat pembantu itu tiba-tiba merasa tidak nyaman.

"Begitu rupanya." Tidak ada nada sedih ataupun kecewa dalam suaranya. Seolah-olah keputusan Roy sama sekali tidak berpengaruh padanya.

Pembantu itu tampak ragu sebelum kembali bertanya, "Nyonya, apa Anda ingin pergi ke rumah sakit? Kalau iya, sopir bisa mengantar Anda."

"Tentu saja."

Jawaban Rani terdengar santai, bahkan nyaris ramah. Namun, senyum tipis yang terukir di bibirnya justru membuat pembantu itu merasakan sesuatu yang aneh.

Dalam hati, Rani mencibir. 'Roy, kamu sendiri yang mengundangku ke sana. Jadi nanti, jangan salahkan aku kalau wanita kesayanganmu itu tidak sanggup menerima apa yang akan terjadi.'

Ia merapikan ujung gaunnya lalu melangkah keluar dengan tenang. Hari ini akan menjadi hari yang sangat menarik.

Tak lama kemudian, mobil yang membawanya tiba di rumah sakit. Rani turun dan berjalan menyusuri koridor menuju kamar rawat Sintia. Saat sampai di depan kamar, langkahnya sedikit melambat ketika mendengar suara percakapan dari dalam.

Pemandangan yang menyambutnya tidak jauh berbeda dari biasanya. Sintia berbaring di atas ranjang pasien dengan Roy dan ketiga putranya mengelilinginya. Mereka mengobrol hangat seolah-olah adalah sebuah keluarga yang utuh.

"Tante tenang saja, kami sudah membuat Mama datang ke sini. Hari ini juga dia pasti akan meminta maaf langsung pada Tante," ujar Aksan sambil tersenyum.

Sintia menggeleng pelan. "Aksan, jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga, Mama Rani sudah mengurus kalian selama sepuluh tahun. Tante tidak ingin kalian terus bermusuhan hanya karena Tante."

Arlan langsung mendengus tidak setuju. "Mengurus kami itu keinginannya sendiri. Kami tidak pernah memintanya."

"Benar," sambung Arjun tanpa ragu. "Aku paling benci kalau dia mulai berpura-pura jadi ibu yang baik. Seolah-olah dia melakukan semuanya tanpa pamrih."

"Arjun..." Sintia menegurnya pelan.

Namun pemuda itu sama sekali tidak peduli.

"Apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah sejak awal tujuannya jelas? Dia ingin kami menerimanya supaya nanti bisa mendapatkan bagian dari harta Papa untuk dirinya dan anak cacatnya itu."

Roy yang duduk di samping ranjang langsung melirik tajam ke arah Arjun. Namun putranya itu sama sekali tidak terlihat gentar. Sebaliknya, ia malah menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melanjutkan ucapannya.

"Lagian, Papa kenapa sih tidak menceraikannya saja lalu menikah dengan Tante Sintia?"

Aksan yang berada di sampingnya langsung mengangguk setuju.

"Iya, Pa. Kenapa?" tanyanya polos.

Pertanyaan itu membuat suasana kamar mendadak hening. Sintia tampak salah tingkah, sementara Roy hanya mengernyit tanpa segera menjawab.

Di saat itulah terdengar suara pintu terbuka.

Klek.

Semua orang spontan menoleh.

Di ambang pintu, Rani berdiri dengan gaun merah yang membalut tubuhnya dengan anggun. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar anak tirinya menyebut putranya cacat dan meminta suaminya menceraikannya.

Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Entah mengapa, mendengar kata cerai itu secara langsung justru jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan.

Tatapannya menyapu satu per satu wajah orang di dalam ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Arjun.

"Silakan lanjutkan," ucapnya santai. "Aku tidak ingin mengganggu sesi keluarga bahagia kalian."

Arjun yang tadi paling bersemangat meminta Roy menceraikan Rani langsung berdiri dan menghampirinya.

"Mama dengar semua, kan?" tanyanya. "Kalau kami memang ingin Mama bercerai dengan Papa."

"Iya, aku dengar." Rani mengangguk santai. "Aku juga jadi penasaran. Kenapa, ya, papamu belum menceraikan aku?"

"Itu karena Mama seperti lem!" sahut Arlan cepat. "Lengket dan susah dilepas."

Rani menoleh padanya.

"Arlan, kenapa kamu selalu paling semangat menjawab pertanyaan yang bahkan tidak ditujukan kepadamu?"

Arlan langsung mengerutkan dahi. "Memangnya salah?"

"Kalau tidak tahu jawabannya, diam itu lebih baik daripada terdengar bodoh."

"Kak Rani!" tegur Sintia. "Dia masih anak kecil."

Rani memfokuskan pandangan ke arahnya dan tersenyum tipis. "Benarkah? Kalau begitu maaf. Aku lupa ada yang lebih tua darinya tetapi kelakuannya tidak jauh berbeda."

Wajah Sintia langsung menegang.

Rani seolah baru menyadari sesuatu. "Oh iya, aku hampir lupa menanyakan keadaanmu." Tatapannya turun ke bibir Sintia. "Bagaimana? Mulutmu sudah sembuh? Atau masih terasa menjijikkan setiap kali mengingat makanan yang kamu makan kemarin?"

Seketika ekspresi Sintia berubah. Jemarinya mengepal kuat di atas selimut. Rasa malu dan marah yang ia rasakan kemarin kembali menyeruak. Ia ingin membalas, ingin menghapus senyum menyebalkan di wajah Rani itu.

Namun di depan Roy dan ketiga anaknya, ia tetap memaksakan senyum lembut yang selama ini menjadi senjatanya.

"Kak Rani, jika membenciku bisa membuatmu tenang aku rela," ucap Sintia yang langsung membuat wajahnya kaku.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!