Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 6
Di kaki Perbukitan Wuji, angin malam bertiup kencang membawa aroma darah yang pekat. Hujan gerimis yang turun membuat jalanan setapak menjadi licin dan berlumpur.
"Tolong... Tolong... Siapapun, tolong aku..."
Suara rintihan lemah keluar dari bibir seorang gadis yang sedang berjalan dengan terseok-seok. Pakaian jubah ungunya yang robek-robek dipenuhi noda darah segar dan lumpur hitam. Luka-luka cambukan dan sayatan pedang menghiasi punggung dan lengannya, terus meneteskan darah yang membasahi tanah yang dilaluinya.
Gadis itu adalah Liu Yuanling. Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa sesak bagai dihantam gada besi. Kesadarannya sudah berada di ambang batas, dan ia hanya bergerak mengandalkan insting bertahan hidup yang tersisa. Ibunya, seorang selir malang di Keluarga Liu, telah dibunuh dengan kejam karena mencoba melindunginya dari rencana jahat keluarga utama. Mereka ingin menyerahkan Yuanling kepada Putra Suci dari Sekte Lembah Sunyi untuk dijadikan wadah kultivasi hidup, sebuah takdir yang lebih mengerikan daripada kematian, di mana seluruh energi hidup dan jiwanya akan dihisap habis sampai kering untuk meningkatkan kultivasi.
Yuanling berhasil melarikan diri dengan membakar esensi darahnya, namun para pengejar dari Keluarga Liu dan Sekte Lembah Sunyi pasti tidak jauh di belakangnya.
Tiba-tiba, di tengah pandangannya yang mulai mengabur oleh kabut dan air mata, Yuanling melihat sebuah gerbang batu kuno yang menjulang tinggi di antara dua tebing. Di atas gerbang itu, terukir tiga huruf besar yang samar namun memancarkan aura magis- Sekte Pedang Langit.
"Sekte... Pedang Langit?" Yuanling tertegun, matanya membelalak kecil. Inikah... inikah tempat yang selalu muncul di dalam mimpiku selama sebulan terakhir ini? Tempat yang memanggil jiwaku?
Di hadapannya, terbentang tangga batu kuno yang menanjak tinggi menembus kabut awan. Mungkin ada lebih dari seribu anak tangga yang harus didaki untuk mencapai bangunan utama sekte.
"Aku harus... harus cari perlindungan. Aku harus bertahan hidup... demi membalaskan dendam Ibu..." Yuanling menggertakkan gigi, mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya.
Ia melangkah, menapakkan kaki kirinya ke anak tangga pertama. Namun, baru saja ia berhasil mendaki lima anak tangga, rasa sakit yang teramat sangat meledak di dalam meridian jiwanya. Tubuhnya yang sudah kehabisan esensi kehidupan tidak mampu lagi menahan beban.
"Ibu..." bisik Yuanling lirih.
Pandangannya langsung gelap gulita. Tubuh ringkihnya ambruk, jatuh pingsan di atas anak tangga batu yang dingin di bawah guyuran hujan malam.
Wusss!
Hanya dalam hitungan detik setelah Yuanling pingsan, sesosok bayangan putih mendarat dengan halus di samping tubuhnya. Li Tianchen telah tiba.
Tianchen berjongkok, menatap gadis yang terkapar di depannya dengan dahi mengernyit. "Ckckck, siapa gadis ini? Kenapa dia bisa pingsan di sini dengan kondisi yang begitu mengenaskan? Dan lukanya... benar-benar parah."
Tianchen mengulurkan tangan, menyentuh pergelangan tangan Yuanling untuk memeriksa denyut nadinya. Begitu aliran Qi-nya masuk ke dalam tubuh Yuanling, mata Tianchen mendadak membelalak tak percaya. Riak keterkejutan yang besar melintas di wajah sang Maharaja Agung.
"Ini... ini tidak mungkin!" Tianchen bergumam, suaranya dipenuhi rasa tidak percaya. "Tubuhnya... dia memiliki Tulang Harmoni Selaras! Bakat legendaris yang mampu menyelaraskan diri dengan seluruh hukum energi alam secara mutlak tanpa hambatan!"
Namun, keterkejutan Tianchen tidak berhenti di situ. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh di dalam Dantian gadis ini. "Kultivasinya... basis kultivasinya yang asli telah disegel dengan paksa oleh teknik kuno yang kejam. Dan luka-luka ini... mereka menggunakan cambuk penghancur roh untuk menyiksanya."
Wajah Tianchen mendadak menjadi sangat dingin. Seseorang telah memperlakukan seorang pemilik bakat legendaris seperti ini, mencoba menghancurkan jiwanya untuk tujuan yang jahat.
"Siapapun yang melakukan ini pada murid masa depanku... ," desis Tianchen dengan nada yang sangat berbahaya.
Tanpa membuang waktu lagi, Tianchen mengangkat tubuh ringkih Yuanling ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Dengan satu langkah besar, ruang di sekitarnya meliuk, dan ia langsung berteleportasi menuju Balai Pengobatan yang terletak di puncak utama sekte.
"Su Ziyan! Cepat datang ke Balai Pengobatan!" suara Tianchen menggema di seluruh Puncak Biru menggunakan transmisi suara spiritual.
Ziyan yang baru saja selesai melatih beberapa gerakan awal dari Jurus Gajah Tempur terkejut mendengar nada suara gurunya yang begitu mendesak dan serius. Tanpa menunda sepeser pun, ia langsung menggunakan langkah ringannya, melesat melintasi jembatan pelangi menuju Balai Pengobatan puncak utama.
Begitu Ziyan melangkah masuk ke dalam ruangan, ia melihat gurunya sedang berdiri di samping ranjang giok, sementara di atas ranjang terbaring seorang gadis dengan pakaian yang hancur dan berlumuran darah.
"Guru, apa yang terjadi? Siapa dia?" tanya Ziyan dengan wajah cemas, melangkah mendekat.
"Aku menemukannya pingsan di tangga gerbang bawah gunung. Luka-lukanya sangat parah, dan dia adalah seorang wanita," Tianchen menoleh ke arah Ziyan, ekspresinya kembali tenang namun tegas. "Ziyan, bantu Guru. Gantikan pakaiannya yang kotor dan penuh darah itu dengan jubah bersih sekte. Bersihkan luka-lukanya dengan air obat di baskom itu. Setelah selesai, panggil aku di luar."
"Baik, Guru. Serahkan padaku," jawab Ziyan dengan cepat. Rasa empatinya langsung bangkit melihat kondisi gadis di atas ranjang yang mengingatkannya pada dirinya sendiri saat dibuang oleh keluarganya.
"Baik, Guru!"
Tianchen melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat, dan berdiri di koridor luar dengan tangan terlipat di belakang punggung. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam di luar Perbukitan Wuji. Indra ilahinya yang tajam sudah bisa merasakan ada beberapa riak energi kultivasi tingkat tinggi yang sedang berputar-putar di luar batas formasi pelindung luar sekte, tampak seperti anjing pemburu yang sedang kehilangan jejak mangsanya.
Tianchen tersenyum dingin. "Siapapun kalian... jika kalian berani melangkah melewati batas gerbang batu malam ini, tempat ini akan menjadi kuburan massal kalian."
Pintu ruangan terbuka perlahan. Ziyan melangkah keluar dengan wajah yang masih menyiratkan rasa ngeri. "Guru, saya sudah mengganti pakaiannya dan membersihkan lukanya. Tapi... luka cambukan di punggungnya benar-benar kejam. Jalur meridiannya seolah sengaja dirusak agar dia tidak bisa mengalirkan Qi-nya sendiri."
Tianchen mengangguk perlahan. "Aku tahu. Ayo masuk, kita harus menstabilkan kondisinya sebelum segel di dalam tubuhnya justru menghancurkan jiwanya."
Mereka berdua kembali ke dalam ruangan. Gadis itu, Liu Yuanling, kini sudah mengenakan jubah putih bersih Sekte Pedang Langit. Meskipun wajahnya masih pucat pasi, sisa-sisa kecantikan yang murni dan rapuh terpancar dari garis wajahnya.
Tianchen duduk di tepi ranjang giok, menempelkan jarinya ke dahi Yuanling. Energi keemasan tingkat Maharaja Agung kembali dialirkan, menyelimuti seluruh tubuh Yuanling untuk menekan rasa sakit dan memperbaiki meridian yang robek akibat cambukan.
"Guru... apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Ziyan yang berdiri di samping, menatap dengan cemas.
"Namanya mungkin belum kita ketahui, tapi dia memiliki bakat yang sangat ditakuti oleh dunia luar," ucap Tianchen sambil terus fokus menyembuhkan luka dalam Yuanling. "Dia memiliki Tulang Harmoni Selaras. Seseorang telah menguncinya dengan segel terlarang, berniat menjadikannya wadah kultivasi hidup untuk orang lain. Dia melarikan diri untuk bertahan hidup, dan takdir menuntunnya ke gerbang sekte kita."
Ziyan mengepalkan tinjunya, matanya memancarkan kilatan es yang dingin karena amarah. "Dijadikan wadah hidup? Itu... itu lebih kejam daripada dibuang oleh keluarga seperti diriku! Bagaimana bisa ada orang yang setega itu pada darah daging mereka sendiri?"
"Dunia kultivasi di luar sana dipenuhi oleh manusia egois yang bersedia melakukan apa saja demi kekuatan, Ziyan," jawab Tianchen dengan nada datar namun penuh filosofi. "Itulah alasan mengapa Sekte Pedang Langit harus bangkit kembali. Untuk menghancurkan tatanan menjijikkan yang mereka buat."
Saat energi Tianchen berhasil meredakan badai di dalam tubuh Yuanling, bulu mata gadis itu mendadak bergetar pelan. Sebuah lenguhan lemah keluar dari bibirnya yang kering.
"Ibu... jangan... lari..." Yuanling mengigau, air mata menetes dari sudut matanya yang masih tertutup.
"Tenanglah, kau sudah aman di sini," bisik Tianchen, suaranya mengandung energi penenang jiwa yang kuat.
Perlahan tapi pasti, kelopak mata Yuanling terbuka. Sepasang mata yang jernih namun dipenuhi oleh ketakutan dan trauma yang mendalam menatap langit-langit ruangan yang asing, sebelum akhirnya pandangannya terfokus pada sosok Tianchen dan Ziyan yang sedang berdiri di dekatnya.
Yuanling tersentak panik, mencoba menggerakkan tubuhnya untuk mundur hingga meringkuk di sudut ranjang giok, memegang dadanya yang masih sakit. "S-Siapa... siapa kalian? Apakah kalian orang-orang dari Sekte Lembah Sunyi?! Jangan sentuh aku! Lebih baik aku mati daripada menjadi wadah kalian!" teriaknya dengan suara parau dipenuhi keputusasaan, seluruh tubuhnya gemetar hebat menghadapi ancaman yang membayangi pikirannya.
tuhh dengar apa kata guru mu ziyan ikut aja..
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit