Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Penyesalan
Hujan badai menyapu kaca depan mobil. Penyeka kaca berdecit liar ke kiri dan ke kanan, kewalahan menembus tirai air yang membutakan pandangan. Stefanus menekan pedal gas habis-habis. Deru mesin mobilnya membelah sunyinya jalanan kompleks elite yang kosong melompong.
Napas Stefanus memburu, berkejaran dengan detak jantungnya yang menggila. Panggilan telepon dari Pak Hartono sepuluh menit lalu terus berdengung di telinganya.
"Den Stefanus... Non Shaquena berantem hebat sama Tuan Sebastian di lantai dua! Ada suara barang pecah... Non Shaquena menjerit histeris!" Suara kepala pelayan tua itu gemetar hebat, melanggar aturan mutlak mansion demi menyampaikan kabar itu. Tiga puluh tahun pernikahan mereka, belum pernah sekalipun pertengkaran sebrutal ini terjadi.
Stefanus membanting setir, meliuk tajam memasuki pekarangan mansion Mahendra. Ban mobil berdecit keras di atas aspal basah. Tanpa sempat mematikan mesin, ia menendang pintu mobil hingga terbuka lalu berlari menerobos amukan badai menuju pintu utama.
Mansion megah itu senyap, kesunyian yang tidak wajar menyeruak dari setiap sudut. Tak ada penjaga di pos depan, tak ada pelayan yang biasanya berlalu-lalang.
Stefanus menghantam pintu utama dengan bahunya. Daun kayu berat itu berderit terbuka lebar, membiarkan angin dingin malam ikut menyusup ke dalam.
Langkah Stefanus seketika membeku di ambang pintu.
Di dasar tangga marmer melingkar, sesosok tubuh terkapar tengkurap dengan posisi kaki dan lengan meliuk tak wajar. Gaunnya robek, basah oleh cairan pekat yang terus meleleh lambat dari bawah kepalanya.
"Shaquena..." bisik Stefanus parau.
Lututnya mendadak lemas, namun kakinya memaksa berlari kencang. Ia menjatuhkan diri, mengabaikan hantaman keras lututnya pada pualam dingin yang kini basah oleh darah yang merembes ke celananya.
Kedua tangannya mengambang di udara, gemetar hebat. Ia tidak berani menyentuh ataupun membalikkan tubuh itu, takut memperparah retakan tulang di dalamnya. Stefanus hanya bisa mencondongkan wajah, menatap lekat wanita yang separuh hidupnya ia cintai dalam diam.
Wajah cantik itu kini seputih kertas. Luka robek menganga di pelipis kirinya, mengalirkan darah yang mengotori sudut mata dan bibir. Sepasang matanya yang biasa bersinar kini setengah terbuka, menatap kosong lantai marmer.
"Shaquena!" panggil Stefanus lagi, suaranya pecah digulung keputusasaan. "Tolong! Siapa pun... tolong panggil ambulans!"
Teriakannya memantul sunyi di langit-langit mansion yang tinggi. Tak ada sahutan.
Shaquena menarik napas yang pendek dan putus-putus. Dadanya naik turun dengan payah.
"Shaquena! Bangun, tolong bangun..."
Butiran hangat menetes dari pelupuk mata Stefanus, mendarat di pipi pucat yang mulai mendingin itu. Bahunya berguncang hebat.
Di sisa kesadarannya yang meredup, Shaquena mencoba memfokuskan pandangan. Bayangan di depannya begitu buram, tetapi garis rahang tegas dan aroma khas kayu cendana itu sangat ia kenali.
Stefanus.
Pria yang biasanya hanya diam mematung di sudut ruangan saat acara keluarga. Pria yang nyaris tak pernah menyapanya.
Kenapa dia ada di sini? Kenapa pelukannya begitu erat, seolah aku adalah dunianya yang sedang hancur?
Stefanus menyisipkan lengannya di bawah leher Shaquena dengan amat hati-hati, memindahkan kepala wanita itu ke pangkuannya. Jari-jarinya mengusap lembut helai rambut Shaquena yang mulai lengket oleh darah.
"Seharusnya aku yang melamarmu saat itu," bisik Stefanus parau di sela isak tangisnya yang sesak. "Seharusnya aku..."
Sesuatu yang hangat mendesak dada Shaquena yang kaku. Dari sekian banyak orang yang ia beri limpahan harta di rumah ini, mengapa justru pria yang selalu terabaikan ini yang menangisinya?
Ia ingin bersuara. Ia ingin mengangkat jemarinya untuk menyentuh rahang kokoh itu, membalas binar tulus yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya. Namun, kelopak matanya terasa seberat timah.
Kegelapan pekat menyapu pandangannya. Shaquena mengembuskan napas terakhir seiring jemarinya yang jatuh terkulai di atas pualam dingin.
Stefanus memejamkan mata erat-erat, mendekap tubuh yang mulai kehilangan kehangatan itu ke dadanya. Sebuah raungan pilu meledak dari tenggorokannya, memecah keheningan malam dengan segala penyesalan dan amarah yang terlambat.
Sesaat kemudian, ia meletakkan kembali tubuh Shaquena ke lantai dengan sisa-sisa kelembutan. Menyeka air matanya dengan punggung tangan yang berlumur darah, Stefanus mendongak perlahan ke puncak tangga.
Sebastian berdiri tegak di puncak sana, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana. Tatapan matanya yang dingin mengarah ke bawah, mengamati tubuh tak bernyawa sang istri layaknya menatap seonggok sampah yang baru saja disingkirkan.
Darah Stefanus mendidih. Kebencian yang belum pernah ia rasakan seumur hidup mendadak membakar dadanya. Sosok di atas sana bukan lagi saudaranya, melainkan iblis yang harus ia lenyapkan.
Stefanus bangkit berdiri. Kepalan tangannya mengunci begitu rapat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangan. Ia melangkah lebar, bersiap menyeret iblis itu ke neraka.
Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh anak tangga pertama.
Brak!
Hantaman keras menghantam telak bagian belakang kepalanya.
Dunia Stefanus mendadak berputar hebat disertai rasa kebas yang menjalar cepat. Keseimbangannya runtuh. Ia ambruk ke lantai marmer tepat di samping tubuh kaku Shaquena, membiarkan cairan hangat mengalir deras dari belakang kepalanya dan merendam kerah kemeja.
Dengan sisa tenaga, ia memiringkan wajahnya yang berat.
Henry berdiri tegak menjulang di belakangnya. Di tangan pemuda yang ia besarkan dengan limpahan kasih sayang itu, tergenggam sebuah patung perunggu berat yang kini berlumur darah segar. Napas Henry memburu, tetapi seringai kejam terukir jelas di wajah mudanya.
"Kerja bagus, Henry," suara Sebastian mengudara, diiringi tepuk tangan pelan yang menggema dari puncak tangga. "Tanpa ragu memukul orang yang membesarkanmu dari belakang. Tanpa ampun. Itulah naluri predator sejati."
Stefanus membelalak lebar meski pandangannya mulai berkabut, menatap pemuda itu dengan sisa detak jantung yang hancur.
"Ini bukti nyata yang tidak bisa diganggu gugat," Sebastian melangkah turun dengan santai sembari terkekeh rendah. "Kamu darah dagingku, Henry. Kamu mewarisi gen pemangsaku secara utuh."
Kalimat itu menghantam dada Stefanus jauh lebih menyakitkan dari pukulan perunggu tadi.
Bukan darah dagingnya.
Belasan tahun ia mengorbankan segalanya demi membesarkan dan melindungi Henry, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa anak itu lahir dari perselingkuhan mendiang istrinya dengan Sebastian. Kebohongan busuk ini telah merampas seluruh hidupnya. Pengkhianatan berdarah dingin dari istri, kakak kandung, dan anak yang ia sayangi.
Stefanus terbatuk, menyemburkan noda merah pekat ke atas pualam yang dingin. Pandangannya perlahan menyempit, ditarik paksa ke dalam kegelapan oleh denyut luka di kepalanya.
Namun, ia memaksakan matanya menatap wajah pucat Shaquena yang terbaring kaku di sampingnya. Dengan sisa kekuatan terakhir, Stefanus menggerakkan jemarinya yang mati rasa, merayap lambat di atas lantai hingga berhasil menyentuh ujung jemari Shaquena. Menggenggamnya erat, seerat napasnya yang tersisa.
Penyesalan teramat dalam menghimpit dadanya. Mengapa ia harus selalu diam selama ini? Mengapa ia membiarkan wanita ini berjuang dan hancur sendirian?
Jika... bisikan terakhir itu bergaung sunyi di dalam kepalanya. Jika aku diberi satu kesempatan lagi... aku bersumpah akan merebutmu dari mereka, Shaquena. Dan aku akan menyeret mereka semua ke neraka.