NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Runtuhnya Jangkar Samudra dan Panen Akbar Poin Kosmik

Raungan Ki Ageng Segoro menggetarkan sisa-sisa karang yang masih berdiri di Pulau Karang Terlarang.

Sebagai penguasa tunggal yang telah mencengkeram jalur hitam Samudra Selatan selama hampir satu abad, ia belum pernah merasakan kehancuran sedahsyat ini.

Seluruh armada kebanggaannya, ribuan murid dan kultivator setianya, hancur berkeping-keping menjadi kabut darah hanya dalam satu tebasan ghaib dari pemuda misterius di hadapannya.

Dengan mata yang menyala merah darah akibat murka dan kegilaan, Ki Ageng Segoro mengerahkan seluruh sisa Prana hitam dari Inti Emas Ranah Raja Tahap 2 miliknya.

Gada raksasa di tangannya membesar hingga seukuran batang pohon kelapa tua, dilapisi oleh Api Hitam Purgatori Lautan yang mendesis ghaib, siap menghancurkan apa saja yang disentuhnya.

"Ajian Gada Penghancur Jagad: Hantaman Badai Segoro Muncar!"

Ki Ageng Segoro melesat membelah udara, meninggalkan jejak kepulan asap hitam beracun. Momentum serangannya begitu masif, menciptakan riak tekanan udara vertikal yang seolah-olah hendak meruntuhkan langit malam di atas mereka.

Satria Pamungkas yang melayang dengan tenang menggunakan kemampuan Penerbangan Kosmik-nya sama sekali tidak menggeser posisinya.

Di balik tudung caping bambunya, sepasang mata emas murninya menatap gerak-gerik sang Pemimpin Besar dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat badut yang meronta di ujung ajalnya.

Sifat anti-hero-nya yang angkuh namun dipenuhi perhitungan dingin telah memetakan setiap celah dari pergerakan Ki Ageng Segoro melalui pemindaian sistem yang berjalan secara real-time di dalam kesadarannya.

[Bip! Mengunci target utama: Ki Ageng Segoro (Ranah Raja Tahap 2).]

Analisis Serangan: Ajian Gada Penghancur Jagad memiliki daya hancur fisik 100%, namun mengorbankan 40% kecepatan gerak.

Strategi Optimal: Gunakan Kitab Langkah Bayang Angkasa untuk menghindari benturan langsung, lalu aktifkan efek aktif Belahan Bintang Penghancur Raga dari Pedang Kosmik untuk mengeksekusi target dalam satu serangan telak.

"Sistem, jalankan kalkulasi teleportasi ke titik buta di belakang punggungnya tepat saat gada tersebut berjarak dua meter dari wajahku," perintah Satria dingin.

[Bip! Perintah diterima. Mengunci koordinat ruang...]

Ki Ageng Segoro semakin dekat, wajah tuanya yang dipenuhi kerutan tampak mengerikan dengan senyum kejam yang mengembang. Ia mengira Satria telah terkunci oleh tekanan mental dari serangan gadanya yang legendaris. "Mati kau, bocah iblis!"

BOOOOOOM!

Gada raksasa itu menghantam tepat di posisi Satria melayang. Ledakan api hitam bercampur Prana korosif meledak dahsyat di angkasa, menciptakan bola api raksasa berdiameter tiga puluh meter yang membakar uap air di sekitarnya hingga kering.

Namun, senyum kejam di wajah Ki Ageng Segoro langsung membeku. Ia tidak merasakan adanya hantaman fisik pada gadanya. Tidak ada tulang yang remuk, tidak ada daging yang hancur. Serangannya hanya menembus udara kosong.

"Hanya sebegini kecepatan seorang Pemimpin Besar?" sebuah suara sedingin es dari kutub utara terdengar tepat di balik tengkuknya.

Jantung Ki Ageng Segoro berdesir hebat. Rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun mendadak menyergap seluruh sukmanya.

Menggunakan Kitab Langkah Bayang Angkasa, Satria telah berpindah secara instan melintasi celah ruang spiritual, muncul di titik buta paling rapuh dari sang penguasa lautan.

Satria mencengkeram gagang Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan dengan kedua tangannya. Delapan permata rasi bintang di bilah pedang hitam keunguan itu mendadak berhenti berdenyut, sebelum akhirnya meledak dalam satu kesatuan cahaya perak-ungu yang begitu pekat. Efek aktif tertinggi dari pedang tersebut telah diaktifkan secara penuh.

"Efek Aktif: Belahan Bintang Penghancur Raga!"

Satria mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, memotong secara vertikal tanpa menggunakan jurus yang rumit. Namun, begitu bilah pedang bergerak, ruang di sekeliling Ki Ageng Segoro seolah-olah mengkerut dan terkunci, menahan tubuh raksasa itu agar tidak bisa bergeser barang satu milimeter pun.

CRAAAAASH!

Bilah kosmik itu memotong menembus zirah cangkang kura-kura purba yang diklaim tidak bisa dihancurkan oleh pusaka apa pun di Dwipantara. Zirah legendaris itu terbelah sehalus kain sutra basah, diikuti oleh robeknya daging dan tulang punggung Ki Ageng Segoro hingga menembus ke bagian dadanya.

"AAAGKKKKHHH!"

Jerit kesakitan tertinggi meledak dari mulut sang Pemimpin Besar. Tidak hanya fisiknya yang terbelah, energi delapan rasi bintang kosmik menjalar liar ke dalam meridiannya, menghancurkan Inti Emas Ranah Raja Tahap 2 miliknya menjadi serpihan energi liar yang langsung membakar organ dalamnya dari dalam.

BOOM!

Tubuh Ki Ageng Segoro meledak di udara, berubah menjadi hujan serpihan daging dan darah hitam yang berjatuhan ke atas reruntuhan pulaunya sendiri. Penguasa tunggal Samudra Selatan yang ditakuti oleh seluruh kadipaten di Dwipantara itu telah tewas dalam satu tebasan dingin tanpa sempat mengeluarkan kartu as keduanya.

[Bip! Anda telah memusnahkan Pemimpin Besar Faksi Laut Selatan 'Ki Ageng Segoro' (Ranah Raja Tahap 2).]

[Mendapatkan: 250.000 Poin Sistem!]

[Bip! Faksi Bajak Laut Laut Selatan dinyatakan punah secara total dari peta ghaib Dwipantara.]

[Mendapatkan Hadiah Kelompok Pemusnahan: 100.000 Poin Sistem!]

[Total Saldo Poin Saat Ini: 372.500 Poin!]

Satria melayang turun dengan perlahan, mengibaskan pedangnya yang bersih tanpa setetes darah pun melekat karena ketajaman kosmiknya.

Ia mendarat di atas sisa-sisa reruntuhan aula benteng yang kini telah sunyi senyap. Hamparan poin di layar batinnya yang mendekati angka empat ratus ribu membuat sifat anti-hero-nya yang haus akan kekuatan merasa sangat puas.

Dengan modal sebesar ini, ia bisa langsung menyapu bersih isi Toko Kategori 4 dan bersiap untuk kembali ke daratan utama demi mengguncang takhta kerajaan-kerajaan besar yang tersisa.

Dari arah pantai, bayangan kapal perang bertiang tiga perlahan mendekat. Dyah Sekar Ayu melompat turun dari geladak begitu kapal merapat di antara puing-puing dermaga yang hancur. Langkah kakinya tampak tergesa-gesa, namun tetap menjaga keanggunan seorang putri.

Begitu tiba di hadapan Satria, ia langsung berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya yang indah dengan rasa hormat yang telah mencapai batas mutlak.

"Satria... tidak, Yang Mulia Raja," suara Sekar Ayu terdengar bergetar penuh kekaguman dan ketakutan yang suci. "Hamba telah menyaksikan kehancuran total pangkalan pusat ini dari kejauhan. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi perompak ghaib yang berani menginjakkan kaki di perairan Dwipantara. Seluruh lautan selatan kini berada di bawah bayang-bayang jubah Anda."

Satria berjalan mendekati Sekar Ayu, lalu menggunakan ujung bilah pedangnya yang masih tersarung untuk mengangkat dagu sang putri dengan lembut namun tegas, memaksa sepasang mata indah itu menatap langsung ke arah sepasang mata emas murninya.

"Laut Selatan hanyalah awal, Sekar Ayu," ucap Satria dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ambisi yang mampu membakar dunia. "Blambangan telah jatuh, Faksi Laut Selatan telah punah. Target kita berikutnya adalah kembali ke daratan tengah. Aku mendengar bahwa Kerajaan Kadiri dan Singasari sedang mempersiapkan aliansi besar untuk menentang pergerakanku. Bagaimana menurutmu?"

Mendengar nama kerajaan asalnya disebut, kilatan dingin muncul di mata Sekar Ayu. Kesetiaannya kini telah berpindah sepenuhnya kepada Satria; baginya, dinasti lamanya tidak lebih dari sekadar batu loncatan bagi kejayaan pria di hadapannya.

"Jika mereka berani menghalangi jalan Anda, Yang Mulia, hamba sendiri yang akan memimpin barisan mata-mata untuk meracuni sumur-sumur istana mereka sebelum Anda tiba," jawab Sekar Ayu dengan senyum patuh yang kejam.

"Bagus," Satria melepaskan pedangnya dan berbalik menuju kapal. "Bersihkan sisa jarahan ghaib di pulau ini yang masih bisa diselamatkan dalam waktu satu jam. Setelah itu, kita berlayar kembali ke utara. Daratan tengah Dwipantara telah damai terlalu lama... saatnya menumpahkan darah di atas tanah leluhur mereka."

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!