Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Akting Sempurna
"Tentu saja, Sayang. Leluconmu lucu sekali," tawa Cala mengalun renyah memecah ketegangan udara di antara mereka. Ia memiringkan kepalanya, menyandarkannya dengan sangat pas di bahu lebar Ronan.
Jari-jari lentik Cala bergerak natural, meremas pelan lengan kemeja jas pria itu. Ia mendongak, menatap mata tajam Ronan dengan tatapan memuja yang sering ia lihat dari klien-klien pengantinnya. Sandiwara ini harus terlihat sempurna agar nyawanya selamat.
"Bagus. Pertahankan posisimu," bisik Ronan tepat di depan bibir Cala. Napas pria itu terasa hangat menyapu kulit wajahnya. "Dia terus membidikkan lensa ke arah kita."
Cala tersenyum semakin lebar, menampakkan deretan giginya. Padahal jantungnya berpacu gila-gilaan menabrak tulang rusuk.
Sentuhan fisik Ronan benar-benar di luar dugaan. Lengan kokoh pria itu melingkar sangat posesif di pinggangnya, menyalurkan kehangatan yang membuat akal sehat Cala mendadak tumpul.
"Aku tidak tahu kamu punya bakat akting sehebat ini, Dokter," balas Cala dengan suara berbisik pelan. Ia tetap mempertahankan senyum manjanya, seolah mereka sedang bertukar kalimat cinta. "Jantungmu berdetak keras sekali sampai aku bisa mendengarnya. Apakah perangkat medismu akan berbunyi lagi?"
"Itu hanya respons biologis otomatis karena peningkatan hormon adrenalin akibat posisi waspada," elak Ronan cepat. Telinganya kembali memerah. "Fokus saja pada pria bertopi hitam di arah jam tiga. Jangan menatapnya langsung. Gunakan sudut matamu."
Cala mematuhi instruksi tersebut. Di sela-sela tawanya, ia melirik sekilas dari sudut mata kirinya. Benar saja, ada seorang pria yang duduk menyendiri di meja sudut. Tangan pria itu memegang sebuah kamera lensa panjang berukuran kecil yang sengaja disembunyikan di balik buku menu kafe.
"Aku melihatnya. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Menangkapnya?" tanya Cala. Ia sengaja mengelus kerah jas Ronan, menambah bumbu kemesraan palsu mereka demi meyakinkan sang pengintai.
"Tidak. Menangkapnya di tempat ramai terlalu beresiko. Dia bisa melukai pengunjung lain atau mengambil sandera," jawab Ronan rasional. Otaknya selalu bekerja berdasarkan perhitungan taktis. "Kita hanya perlu memancing reaksi dan merusak penyamarannya saat ini juga."
Tiba-tiba, Ronan melepaskan pelukannya dari pinggang Cala. Pria itu berdiri tegak dengan gerakan secepat kilat. Wajah dinginnya berubah menjadi sangat garang. Tangannya menunjuk lurus ke arah pria bertopi di sudut ruangan.
"Keamanan! Tolong tahan pria bertopi hitam itu! Dia mengambil foto wanita di bawah umur secara diam-diam dari tadi!" teriak Ronan dengan suara bariton yang menggelegar memekakkan telinga seluruh penjuru Kafe Aroma Hitam.
Seketika, seluruh pengunjung menoleh serempak ke arah yang ditunjuk Ronan. Suasana yang tadinya santai berubah tegang dan penuh kecurigaan. Dua orang petugas keamanan berbadan besar yang berjaga di dekat pintu masuk langsung merespons. Mereka berlari cepat menghampiri meja pria bertopi tersebut.
Pria bertopi itu panik bukan kepalang. Wajahnya pucat pasi menyadari penyamarannya terbongkar dengan tuduhan yang sangat memalukan. Tanpa berpikir panjang, ia melempar buku menu ke wajah petugas keamanan pertama. Ia lalu menendang meja kayunya hingga terbalik menabrak pengunjung lain, dan berlari lari-lari menerobos pintu keluar kafe dengan brutal. Lonceng kafe berbunyi sangat nyaring di tengah kekacauan itu.
"Kejar dia! Jangan sampai orang mesum pedopil itu lolos!" teriak salah satu pengunjung pria yang ikut marah besar. Petugas keamanan langsung berlari keluar mengejar pria itu menyusuri trotoar jalan raya.
Suasana kafe menjadi sangat kacau balau. Beberapa pelanggan menjerit kaget karena es kopi mereka tumpah berantakan ke lantai, sementara yang lain sibuk merekam kejadian itu menggunakan kamera ponsel masing-masing.
"Ayo kita pergi dari sini," perintah Ronan sambil meraih pergelangan tangan Cala. Ia menarik wanita itu berdiri dan setengah menyeretnya keluar melalui pintu samping kafe yang sepi dari kerumunan.
Mereka berjalan sangat cepat menyeberangi jalan raya aspal yang panas, menghindari tatapan orang-orang yang mulai berkerumun penasaran di depan kafe. Langkah panjang Ronan memaksa Cala untuk berlari-lari kecil agar tidak terjatuh dengan sepatu hak tingginya. Genggaman tangan pria itu di pergelangan tangannya terasa sangat kuat, menyalurkan rasa aman yang aneh di tengah situasi berbahaya ini.
Mereka bergegas masuk menembus lobi Apartemen Zenith. Petugas lobi menyapa mereka dengan hormat, namun Ronan mengabaikannya dan langsung menarik Cala masuk ke dalam lift khusus penghuni VIP. Pintu lift tertutup rapat, memutus mereka dari dunia luar yang bising.
Keheningan yang sangat pekat langsung menyergap ruang sempit di dalam lift. Tidak ada lagi keramaian pengunjung kafe, tidak ada lagi suara lonceng atau teriakan marah petugas keamanan. Yang ada hanyalah suara napas mereka berdua yang memburu keras setelah berlari-lari menyeberang jalan.
Cala melepaskan genggaman tangan Ronan secara perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lift yang terbuat dari baja mengkilap. Matanya menatap ujung sepatunya sendiri, tiba-tiba merasa canggung luar biasa. Adegan mesra pelukan di kafe tadi terasa sangat nyata dan menguras emosi, sampai-sampai tubuhnya masih bereaksi aneh dengan gemetar halus.
Ronan berdiri kaku di sudut lift yang berseberangan. Pria itu sibuk merapikan lengan kemejanya, berusaha keras menghindari kontak mata dengan Cala. Wajahnya kembali membeku, mencoba membangun kembali dinding es tebal yang sempat runtuh saat ia memeluk pinggang ramping wanita itu.
Denting lift berbunyi nyaring. Pintu terbuka di lantai delapan. Mereka melangkah keluar dan berjalan menyusuri lorong panjang menuju unit apartemen Ronan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ronan memasukkan kode sandi, menempelkan sidik jarinya, dan pintu baja itu bergeser terbuka.
Begitu masuk ke dalam apartemen yang bersuhu sangat dingin itu, kecanggungan di antara mereka justru semakin terasa tebal dan menyesakkan dada. Ruangan ini terlalu luas, terlalu sepi, dan terlalu steril untuk mendinginkan kepala mereka.
"Aku mau mandi," ucap Cala memecah keheningan yang menyiksa itu. Suaranya terdengar sedikit parau. Ia meletakkan tas selempangnya di atas sofa kulit dengan gerakan kaku. "Keringatku banyak sekali. Aku tidak mau kamu mengomel soal kontaminasi bakteri jalanan lagi."
"Pakai sabun antiseptik yang ada di botol biru. Jangan sentuh botol putih, itu cairan disinfektan keras untuk lantai," balas Ronan kaku. Pria itu melepaskan jas mahalnya, menggantungnya di rak dekat pintu dengan gerakan sangat mekanis seolah ia adalah robot.
Cala mengangguk pelan. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi tamu. Ia menutup pintu kayu itu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Napas lega yang panjang langsung keluar dari mulutnya begitu ia benar-benar sendirian. Sandiwara hidup dan mati tadi benar-benar menguras seluruh energi emosional dan fisiknya.
Cala menyalakan kran wastafel. Air jernih mengalir deras membasahi permukaan marmer putih bersih. Ia menatap wajahnya sendiri di cermin besar. Pipinya masih bersemu merah cerah, matanya sedikit sayu. Ia terlihat persis seperti wanita bodoh yang sedang dimabuk cinta.
"Sadarlah, Cala. Dia hanya menggunakanmu sebagai umpan memancing," bisiknya pada bayangan di cermin sambil menepuk kedua pipinya sendiri keras-keras agar kembali sadar pada realita mematikan ini.
Ia mengulurkan kedua tangannya ke bawah aliran air. Rasa dingin air itu sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang maksimal. Ia mengambil sabun cair dari botol biru, menggosok telapak tangannya sampai berbusa tebal dan wangi.
Sekarang, ia harus melepaskan cincin platina bertahtakan berlian asimetris yang super mahal itu. Ia harus menyimpannya di tempat yang sangat aman agar tidak hilang tersiram air saluran pembuangan atau merusak lapisannya saat ia mandi. Cincin seharga mobil mewah itu terlalu berbahaya dan berharga jika dipakai sembarangan ke dalam kamar mandi.
Cala menjepit cincin berlian itu menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya. Ia menariknya pelan ke arah ujung buku jari.
Cincin itu tidak bergeser sama sekali.
Cala mengernyitkan dahi. Ia menambahkan lebih banyak sabun licin ke pangkal jarinya, membuatnya selembut mungkin. Ia mencoba menariknya lagi, kali ini dengan tenaga tarikan yang sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
"Aduh," ringis Cala tertahan. Kulit pangkal jarinya terasa perih tergesek logam platina yang keras itu. Cincin tersebut tetap diam kaku di tempatnya, menempel erat seolah sudah menyatu permanen dengan tulang jarinya.
Kepanikan kecil mulai melanda pikiran Cala. Ia memutar-mutar cincin itu ke kiri dan kanan, mencoba mencari celah untuk melonggarkannya perlahan. Namun semakin ia berusaha keras memutarnya, jari manis kirinya justru semakin membengkak karena gesekan kasar dan tekanan yang berulang kali terjadi. Ruas jarinya mulai memerah.
Cala menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar tidak panik. Ia meletakkan tangannya di bawah aliran air dingin yang sangat deras untuk menyusutkan pembengkakan pembuluh darah akibat suhu tubuhnya yang masih panas.
Ia menunggu dengan sabar selama dua menit penuh, lalu mengeringkan tangannya perlahan menggunakan handuk bersih. Ia memegang cincin itu lagi, meremasnya kuat, lalu menariknya dengan satu sentakan bertenaga.
Hasilnya tetap nihil mutlak. Cincin pertunangan palsu seharga satu mobil mewah Eropa edisi terbatas itu benar-benar tersangkut kuat menjerat jarinya.
berasa nonton adegan action