Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Terlalu Dipaksakan
Pintu terbuka, memperlihatkan wajah tegang Gilang. Begitu melihat Aira membawa nampan, ekspresi tegang asisten muda itu langsung mencair berganti dengan senyum hormat.
"Eh, Ibu Aira. Silakan masuk, Bu. Pak Arsen ada di dalam," ucap Gilang pelan.
"Terima kasih, Mas Gilang. Semangat kerjanya ya," ucap Aira tulus.
"Terima kasih kembali, Bu," pamit Gilang sembari melangkah pergi dengan membawa tumpukan map berkas.
Aira melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang bernuansa maskulin dengan rak-rak buku menjulang tinggi, Arsen tampak duduk di balik meja kerja raksasa dan bersandar pada kursi kulitnya dengan mata terpejam dan dua jemari yang memijat pangkal hidungnya sendiri, guratan lelah tercetak jelas di wajah tegasnya.
"Mas Arsen...," panggil Aira lembut.
Arsen membuka matanya seketika dan begitu mendapati sosok istri mungilnya berdiri di sana sambil membawa secangkir kopi hangat, binar dingin di sepasang mata tajam itu langsung menguap tanpa bekas dan digantikan oleh kehangatan yang instan.
"Ra? Kok belum istirahat?" Arsen bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Aira dan langsung mengambil alih nampan dari tangan istrinya, meletakkannya di atas meja kopi yang ada di sudut ruangan.
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Makanya aku buatkan kopi hitam ini," ujar Aira lembut.
Arsen menatap cangkir kopi yang masih mengepulkan asap tipis itu, lalu beralih menatap wajah Aira. Tiba-tiba, ia meraih pinggang Aira dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Arsen menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aira, mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban pekerjaan yang menghimpit pundaknya mendadak luruh begitu saja hanya karena aroma tubuh istrinya.
"Terima kasih, ya. Kopinya pas sekali, tapi pelukan ini jauh lebih manjur buat menghilangkan pusingku," bisik Arsen dengan suara rendahnya yang bergetar.
Aira awalnya membeku, namun perlahan kedua tangannya bergerak naik dan mengusap punggung tegap Arsen dengan lembut.
"Masalah di kantor... berat banget ya, Mas?" tanya Aira, mencoba basa-basi.
Arsen merenggangkan pelukannya sedikit, menatap lurus ke dalam netra teduh Aira. "Hanya masalah kecil dalam bisnis, sayang. Jangan dipikirkan, selama kamu dan Ibu ada di rumah ini, masalah apa pun di luar sana pasti bisa aku lewati," balas Arsen.
Wajah Aira kembali memerah mendengar panggilan sayang yang diucapkan oleh Arsen, ia berdehem kecil dan mencoba mengalihkan rasa salah tingkahnya.
"Ya sudah, buruan diminum kopinya sebelum dingin. Aku mau ke kamar Ibu dulu ya, mau memastikan kondisinya," ucap Aira.
"Sebentar, Ra. Kayak gini dulu ya, aku nyaman banget posisi ini," ucap Arsen.
Aira akhirnya pasrah, membiarkan tubuhnya kembali tenggelam dalam dekapan hangat Arsen. Detak jantung pria itu terdengar konstan di telinganya, seolah menjadi irama baru yang menenangkan jiwanya yang sempat gamang.
"Mas Arsen manja sekali kalau sedang lelah," bisik Aira, jemarinya bergerak tanpa sadar merapikan kerah kemeja Arsen yang sedikit tertekuk.
Arsen terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa langsung ke pipi Aira. "Hanya sama kamu, aku manja, Ra. Di luar sana aku harus jadi batu, tapi di depan istri sendiri, boleh kan kalau aku mau jadi manusia biasa?" sahut Arsen dengan nada separuh menggoda namun sarat akan kesungguhan.
Setelah beberapa menit menikmati keheningan yang intim itu, Arsen perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengecup kening Aira sekilas lalu meraih cangkir kopi buatan istrinya, menyesapnya perlahan hingga senyum puas terbit di wajah tampannya.
"Sempurna. Rasa pahitnya pas, persis seperti yang aku butuhkan," puji Arsen, menaruh kembali cangkir itu ke atas meja.
"Sekarang, pergilah tengok Ibu. Aku akan menyelesaikan beberapa pesan singkat dengan tim di Surabaya, setelah itu aku akan menyusul," ucap Arsen.
"Iya, Mas. Jangan terlalu dipaksakan, kalau capek ya istirahat sebentar ya dan kopinya jangan lupa dihabiskan," pesan Aira lembut sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang kerja.
Langkah kaki Aira membawa dirinya kembali menyusuri koridor lantai satu yang sunyi. Begitu sampai di depan pintu kamar Ibu Astri, ia mengetuknya pelan sebelum akhirnya mendorong pintu kayu tersebut.
Di dalam, Ibu Astri rupanya sudah terbangun. Beliau sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, memandangi langit-langit kamar yang tinggi dengan raut wajah yang masih diliputi sisa-sisa rasa takjub.
"Ibu... sudah mendingan kepalanya?" tanya Aira sembari berjalan mendekat dan mendudukkan diri di tepi ranjang.
Ibu Astri menoleh, tersenyum lemah lalu meraih tangan putrinya. "Sudah, Nduk. Tadi setelah minum teh hangat dan tiduran sebentar, pusingnya sudah hilang. Ibu cuma... ya Allah, Ra, Ibu masih merasa seperti mimpi. Kasurnya empuk sekali, sampai Ibu takut mau bergerak," bisik Ibu Astri dengan suara lirih, seolah takut dinding-dinding megah itu bisa mendengarnya.
Aira tersenyum haru, digenggamnya jemari ibunya yang mulai keriput. "Ini bukan mimpi, Bu. Ini nyata. Mas Arsen benar-benar tulus ingin merawat Ibu di sini, Ibu nggak perlu sungkan atau merasa tidak enak lagi, nggih?" ucap Aira.
Ibu Astri menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Ibu tahu, Nduk. Arsen itu anak yang luar biasa mulia hatinya, tapi melihat rumah sepadat dan semewah ini, Ibu rasanya ingin menangis. Mengingat bagaimana dulu kita kesusahan hanya untuk membeli beras, sekarang... Gusti Allah membalas kesabaranmu dengan cara yang tidak pernah Ibu duga," ucap Ibu Aira.
Tepat saat Aira hendak membalas ucapan ibunya, pintu kamar kembali terbuka. Arsen melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung terulas di wajahnya, menghilangkan seluruh sisa ketegangan dari ruang kerjanya tadi.
"Ibu, bagaimana? Kamarnya nyaman?" tanya Arsen sopan, berjalan mendekat dan mengambil posisi berdiri di samping Aira.
"Sangat nyaman, Le. Malah terlalu bagus untuk Ibu yang sudah tua ini," jawab Ibu Astri sungkan.
Arsen menggelengkan kepala, ia membungkuk sedikit untuk menyamakan tinggi pandangannya dengan ibu mertuanya. "Ibu, di rumah ini tidak ada kata terlalu bagus untuk Ibu, semua yang ada di sini adalah milik Ibu juga. Jadi, Arsen mohon Ibu jangan sungkan lagi, ya? Kalau Ibu perlu apa saja, tinggal bilang ke Bu Sumi atau langsung panggil Arsen dan Aira," ucap Arsen dengan nada bicara yang begitu runtut dan penuh penghormatan.
Ibu Astri menyeka sudut matanya yang basah menggunakan ujung jemarinya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Le. Terima kasih banyak. Ibu ndak tahu harus membalas semua kebaikanmu ini pakai apa," lirihnya.
"Ibu cukup sehat dan bahagia di sini, itu sudah lebih dari cukup untuk membalas semuanya. Oh ya, katanya Ibu tadi pusing, jadi sekarang Ibu lanjut istirahat aja, untuk makan malam biar Bu Sumi atau yang lainnya bawa ke kamar Ibu ya," ucap Arsen.
"Iya, terima kasih ya, Le," ucap Ibu Astri dan diangguki Arsen.
Arsen menggenggam tangan Aira dan tersenyum pada sang istri, "Ayo kita pergi, biar Ibu bisa istirahat. Kamu juga butuh istirahat," ucap Arsen.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal