Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebut kalau bisa!
Setelah sore yang penuh gejolak di rumah Karin interaksi mereka berpindah ke layar ponsel. Arvin hanya sesekali membagikan sisa hasil ujian semesterannya lewat chat, tanpa banyak membahas kejadian yang sempat mendebarkan hari itu. Karin pun, meski diam-diam merindukan sentuhannya, memilih menjaga jarak demi kewarasan mereka berdua.
Hingga akhirnya, hari pembagian raport pun tiba.
Pagi-pagi, ponsel Karin berdering. Telepon dari Maya. Suaranya terdengar panik dan tergesa-gesa mengabarkan kalau Lulu tiba-tiba sakit. Demamnya tinggi sejak semalam dan tidak kunjung turun, sehingga Maya harus segera membawanya ke rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena tidak ada orang lain, Maya meminta tolong agar Karin menggantikan dirinya pergi ke sekolah Reza untuk mengambilkan raportnya.
Karin yang tentu saja tidak tega langsung mengiyakan permintaan itu. Dia bersiap-siap dan segera memacu motornya menuju sekolah keponakannya itu.
Setibanya di sekolah, suasana koridor dan lapangan sudah dipadati oleh para murid dan orang tua wali. Saat berjalan melewati pinggir lapangan utama, mata Karin menangkap pemandangan yang sangat dia kenali. Di sana, di bawah rindangnya pohon, sedang berkumpul gerombolan Reza, Bima, Dito, beserta para pacar mereka.
Di antara kerumunan itu, ada Arvin duduk berdampingan dengan Reza. Kebetulan posisi mereka berdua sedang membelakangi arah kedatangan Karin, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
Karin tersenyum jahil. Sifat kekanak-kanakannya mendadak muncul. Dia mulai melangkah mengendap-endap dari arah belakang, menaruh telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat kepada teman-temannya yang melihat agar tetap diam.
Begitu jaraknya sudah sedekat jangkauan tangan, Karin langsung melompat maju di antara Reza dan Arvin.
"Daarrrr!!" seru Karin heboh, seraya dengan kilat merangkul pundak Reza dengan tangan kanannya dan pundak Arvin dengan tangan kirinya sekaligus.
"Anjing!" umpat Reza spontan, melompat saking kagetnya sampai dadanya naik turun dengan napas memburu.
Teman-teman yang lain langsung ledak dalam tawa renyah melihat ekspresi kocak Reza.
"Lo ngapain sih?! Bikin orang jantungan aja!" omel Reza sewot sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang, mukanya kesal tapi campur malu.
Arvin yang berada di rangkulan tangan kiri Karin pun sebenarnya sama kagetnya. Jantungnya sempat mencelos, bukan hanya karena gertakan tiba-tiba itu, melainkan karena aroma parfum vanilla Karin yang langsung menyeruak masuk ke inderanya, ditambah sentuhan tangan wanita itu di bahunya. Namun, Arvin yang bermuka tembok, responnya tetap terlihat biasa saja, hanya tangan kanannya yang refleks memegang dada dengan tenang.
"Ya habisnya seru banget sih kalian ngobrolnya, Tante kan pengen ikutan," sahut Karin santai tanpa dosa, namun tangannya sama sekali belum turun dari bahu Arvin, membiarkan jemarinya bertengger nyaman di sana.
"Hai, Tante!" sapa Aurel yang baru saja bergabung dengan gerombolan setelah dari toilet.
"Hai, sayang," jawab Karin ramah, membalas lambaian tangan pacar keponakannya itu dengan senyuman manis.
Karin kemudian sedikit merapatkan rangkulannya pada Reza. "Mana kelasmu, Ja?"
"Di sana, Tan," jawab Reza ketus sambil menunjuk ke arah salah satu pintu kelas di lantai dua yang ramai antrian orang tua.
"Oh ya udah, Tante ke kelas dulu ya," ucap Karin. Sebelum melangkah pergi, dia dengan gemas mengacak-ngacak rambut Reza sampai berantakan.
"Ih, Tante! Apaan sih!" Reza menepis tangan Karin dengan wajah cemberut, merasa harga dirinya jatuh karena diperlukan seperti anak kecil di depan teman-temannya, terlebih di depan Aurel yang sekarang malah menertawakannya.
Karin hanya tertawa menang dan mulai membalikkan badannya untuk berjalan menuju tangga. Namun, baru dua langkah Karin menjauh, suara Reza kembali memanggilnya.
"Tante! Raport-nya Arvin bawain sekalian ya!" teriak Reza dari pinggir lapangan.
Karin menghentikan langkahnya sejenak. Dia menoleh ke belakang, menatap langsung ke arah Arvin yang sejak tadi diam namun matanya terus mengunci pergerakan Karin. Karin menaikkan alisnya seolah bertanya, dan Arvin hanya memberikan anggukan kecil yang sopan sebagai jawaban.
Karin tersenyum tipis. "Oke!" jawabnya tegas, lalu melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Karin menaiki anak tangga satu per satu dengan santai. Begitu menapakkan kakinya di koridor lantai dua yang agak ramai, dia berpapasan dengan seorang siswi berwajah familiar yang sedang berjalan berlawanan arah. Karin melemparkan senyum ramah.
Namun, tepat setelah melewati siswi tersebut, sebuah suara bernada ketus menghentikan langkahnya.
"Hei."
Karin menghentikan langkah, lalu menoleh ke belakang. Siswi tadi rupanya sudah berbalik badan dan kini menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan.
"Kamu ada hubungan apa sama Arvin?" tanya siswi itu tanpa basa-basi.
Karin mengangkat sebelah alisnya, merasa bingung sekaligus heran mendadak diinterogasi oleh anak sekolah yang tidak dia kenal. "Maksudnya?" tanya Karin balik, nadanya masih mencoba tenang.
"Lo pacarnya Arvin, kan? Lo sekarang datang ke sini buat jadi walinya, kan? Biar apa lo begitu sampai rangkul-rangkul dia di sekolah?!" ucap siswi itu dengan nada yang mulai meninggi, mengundang perhatian beberapa orang di sekitar koridor. "Arvin itu masih anak sekolahan, harusnya lo tahu diri, cari cowok yang seumuran atau yang lebih tua!"
Karin terdiam sesaat. Dia menatap lekat-lekat wajah gadis di depannya. Ingatannya berputar cepat, dan dia langsung mengenali suara melengking serta garis wajah itu. Gadis yang sempat marahin Arvin lewat video call saat mereka berada di pantai tempo hari.
Menyadari siapa yang sedang dihadapinya, ketakutan Karin menguap begitu saja. Dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas oleh emosi labil seorang remaja. Karin perlahan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengubah gestur tubuhnya menjadi sangat defensif sekaligus dominan.
"Oh... jadi kamu ya," ucap Karin, bibirnya mengulum senyum tipis yang sarat akan intimidasi balik. "Siapa nama kamu?"
Bukannya menjawab tuduhan, Karin justru mengajukan pertanyaan acuh tak acuh yang seketika membuat tensi di sana memanas.
Sementara itu di bawah, Bima yang kebetulan sedang berjongkok di dekat pohon tidak sengaja mendongak ke lantai dua. Matanya melebar saat melihat siluet Karin dan Sherly yang sedang berdiri berhadapan dalam jarak dekat.
"Hey, hey! Eja! Tante lo sama si Sherly di atas!" seru Bima panik, menepuk-nepuk paha Reza dengan heboh. "Tante lo kayaknya mau marahin dia, mukanya serius banget njir, gak pernah gue lihat dia kayak gitu. Pisahin, cok! Pisahin, keburu ribut!"
Mendengar nama tantenya disebut bersamaan dengan nama Sherly, semua langsung menoleh serempak. Reza dan Arvin langsung berlari kencang menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Di lantai dua, Karin menatap Sherly dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan, lalu menghembuskan napas pendek seolah sedang menghadapi kecoa kecil yang mengganggu jalannya.
"Dek, denger ya," ucap Karin, suaranya sangat tenang, berat, namun setiap katanya terdengar seperti belati yang menusuk langsung ke harga diri Sherly. "Aku gak tertarik debat sama bocah ingusan yang bahkan beli bedak sama bayar SPP-nya aja masih minta duit sama orang tua."
Karin memotong jarak, mencondongkan tubuhnya tepat di depan wajah Sherly yang mulai memucat. "Arvin itu udah nolak kamu mentah-mentah karena selera dia emang bukan bocah labil kayak kamu. Jadi, berhenti bertingkah murah dan urus aja dulu nilai sekolah kamu yang mungkin masih jeblok. Tapi... kalau kamu ngerasa punya harga diri dan emang mau Arvin, coba aja kamu rebut dia dari aku. Kalau bisa."
"Maksud lo ngomong gitu apaan—?!"
Srett!
Kalimat Sherly terputus kasar saat sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik bahunya dari belakang. Tubuh Sherly tersentak dan didorong cukup kuat hingga dia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Lo ngapain tante gue, hah?! Berani banget lo ngebentak dia!" bentak Reza yang baru saja sampai dengan napas memburu, langsung memasang badan di depan Karin. Matanya menatap Sherly dengan amarah.
Sherly yang masih kaget akibat dorongan itu mendadak terbata-bata. "Tan... Tante?" gumamnya lirih, matanya beralih menatap Karin lalu ke arah Arvin yang kini sudah berdiri kokoh di samping Karin dengan tatapan mata yang sangat dingin, siap menguliti Sherly hidup-hidup setelah mendengar ucapan kasarnya pada Karin.
Karin yang melihat situasi mulai terlalu tegang segera menepuk bahu keponakannya. "Udah, Ja. Dia cuma mau kenalan kok sama Tante."
"Mana ada orang kenalan gayanya kayak yang mau ribut begitu?!" sahut Reza masih tidak terima, dadanya naik turun karena emosi.
"Udah ah, gak usah diributin. Ayo anterin Tante ke kelas kalian," kata Karin santai. Dia kemudian merangkul dan menggandeng kedua cowok jangkung itu di sisi kiri dan kanannya.
Saat mereka mulai melangkah berjalan menyusuri koridor, Karin diam-diam menengok ke belakang lewat bahunya. Di sana, Sherly masih berdiri mematung menatap mereka dengan mata berkaca-kaca menahan malu luar biasa karena harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan umum. Tepat saat mata mereka bertemu, Karin menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek.
Tak hanya itu, tangan kiri Karin yang semula menggandeng lengan Arvin, perlahan turun dan beralih melingkar dengan berani di pinggang kokoh cowok itu, merapatkan tubuh mereka saat berjalan. Pemandangan itu sukses membuat Sherly yang menyaksikannya semakin kepanasan dan terbakar cemburu.
Arvin yang merasakan kehangatan telapak tangan Karin melingkar erat di pinggangnya langsung menoleh ke samping. Dia menatap Karin dengan tatapan bertanya yang dalam, namun Karin hanya membalasnya dengan senyuman manis tanpa dosa, seolah tindakan beraninya barusan adalah hal yang wajar.
Reza yang berjalan di sisi lain masih penasaran dengan kejadian tadi. "Emang tadi si Sherly ngomong apaan sih, Tan, sampai ngebentak Tante kayak begitu?"
"Biasa... dia cemburu karena Tante terlalu cantik," jawab Karin asal sambil terkekeh renyah.
"Yang bener, Tante ah! Jangan bercanda mulu," keluh Reza jengkel.
"Iya, nanti Tante ceritain," kata Karin meredam rasa penasaran keponakannya karena mereka kini sudah tiba di depan pintu kelas.
Begitu sampai di ambang pintu, Karin perlahan menurunkan tangannya dari pinggang Arvin. Dia merapikan pakaiannya sejenak bersiap untuk masuk ke dalam.
"Ayo, Vin, turun lagi," ajak Reza, bersiap memutar badannya.
Arvin menggeleng pelan, pandangannya tertuju pada punggung Karin yang mulai melangkah masuk ke dalam kelas. "Gue nemenin Tante Karin aja ya, Ja?" ujar Arvin datar.
Reza sempat heran dengan keputusan sahabatnya, namun dia hanya mengedikkan bahu acuh. "Ya udah deh, gue ke bawah lagi aja."
Arvin mengangguk singkat sebagai salam perpisahan. Setelah Reza menjauh dan menuruni tangga, Arvin langsung membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam kelas, mengekor di belakang Karin dengan senyum samar yang tersembunyi di sudut bibirnya.