Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
"Ke mana?" tanya Rexsaka datar, begitu mereka berdua duduk di dalam mobil yang masih terparkir di area basement Moko Group.
Nadya menyengkerutkan dahi, melayangkan tatapan tak suka. Meski pria itu sudah membuang panggilan formal sesuai permintaannya, Rexsaka tetaplah Rexsaka.
Pria itu tak akan pernah bersikap hangat, apalagi sekadar berbicara ramah padanya.
Enggan membalas, Nadya sibuk mengetikkan lokasi di layar GPS pada dasbor mobil milik perwira muda tersebut. "Ikuti alamat ini saja, Kak," cetusnya. Tanpa sepatah kata pun, Rexsaka langsung menginjak pedal gas dan meluncurkan kendaraannya.
Nadya merogoh tas untuk mengambil ponsel, lalu beralih menyambungkannya ke sistem pemutar musik mobil. Masa bodoh jika dinilai tak sopan karena bertindak lancang di mobil perwira ini, ia hanya ingin membentengi diri agar tak tergiur memulai percakapan yang ujung-ujungnya hanya akan diabaikan oleh Rexsaka. Beberapa detik kemudian, alunan denting piano yang syahdu memenuhi setiap sudut kabin.
Petikan musik dan suara bariton nan syahdu milik penyanyi pria terkenal yang pernah menjadi coach di salah satu ajang pencarian bakat itu, bergema lembut di ruang sempit kendaraan.
"Kukira kita asam dan garam... Dan kita bertemu di belanga... Kisah yang ternyata tak seindah itu..."
"Semoga rindu ini menghilang... Konon katanya waktu sembuhkan... Akan adakah lagi yang sepertimu..."
Nadya melempar pandangannya jauh ke luar jendela. Ia tak ingin Rexsaka mendapati binar matanya yang rapuh saat lirik lagu favoritnya itu mengalun. Namun, di balik kemudi, Rexsaka pun tak kalah terusik. Buaian bait-bait lagu itu menyentuh bagian paling peka yang berusaha ia kubur rapat-rapat. Cengkeraman tangannya pada setir memutih, dan garis rahangnya mengetat kaku.
Terganggu oleh emosi yang membendung, tangan Rexsaka terulur cepat menekan tombol Next pada head unit.
Suara penyanyi itu mendadak terhenti, berganti melodi lain. Nadya memutar tubuhnya seketika.
"Kak Rex! Kenapa diganti?" protesnya tak terima.
"Lagu yang membuat pikiran kacau tidak baik diputar saat berkendara," kilih Rexsaka dengan nada dingin tanpa cela.
Namun, pilihan lagu selanjutnya seakan berkonspirasi untuk menguji batas kesabaran Rexsaka.
"Telah kucoba terus bertahan... Tentang cinta yang kurasa... Ku mencinta, kau tak cinta..."
"Sadar, ku tak berhak untuk terus memaksamu... Memaksamu mencintaiku sepenuh hati... Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu..."
Rexsaka mengembuskan napas pelan.
Klik!
Suasana kabin mendadak senyap seketika. Tanpa kompromi sedikit pun, Rexsaka mematikan total sistem audio mobilnya.
"Kak Rex sebenarnya kenapa, sih?!" sergah Nadya gusar. Napasnya memburu menahan amarah, benar-benar dibuat jengkel oleh tindakan impulsif pria di sampingnya yang dengan semena-mena mematikan lagu favoritnya.
"Mengganggu konsentrasi," sahut Rexsaka pendek, tanpa sedikit pun menoleh.
"Lagunya?" celetuk Nadya meminta penegasan. Namun, tak ada jawaban yang keluar dari bibir pria itu. Rexsaka tetap bergeming, membiarkan jemarinya mencengkeram kemudi tegap sembari membuang pandangan lurus menembus jalanan.
"Kak Rex aneh, tahu gak..." cibir Nadya akhirnya, memalingkan wajah kembali ke luar jendela dengan napas berembus kencang.
Ruang kabin yang sempit itu kembali dilingkupi keheningan usai ucapan Nadya diabaikan begitu saja. Pasrah, Nadya memilih memalingkan wajah menatap luar jendela, hingga akhirnya mobil yang dikemudikan Rexsaka memasuki pelataran sebuah gedung asing.
Tepat saat kendaraan terparkir sempurna, Nadya buru-buru memasukkan ponsel ke tas sambil merapikan penampilannya. "Kak Rex tunggu di mobil saja, ya," cetusnya, hendak membuka pintu.
Namun, pergerakannya terhenti. Cengkeraman tangan Rexsaka di lengannya menahan langkah gadis itu.
"Mau apa ke sini?" tanya Rexsaka dengan tatapan menyelidik.
"Aku ada jadwal casting film di sini, Kak. Jadi Kakak tunggu di mobil saja ya," jawab Nadya sembari menepis pelan cengkeraman tersebut. Ia lantas keluar dari mobil dan bergegas melangkah masuk ke dalam gedung.
Begitu tiba di lobi rumah produksi tersebut, suasana riuh langsung menyambutnya. Puluhan peserta casting sudah memenuhi ruangan. Gadis-gadis dengan map portofolio di tangan duduk berderet di kursi tunggu, sebagian sibuk menghafal naskah, sementara sebagian lainnya bercermin merapikan riasan. Riuh bisik-bisik dan panggilan nomor antrean bersahut-sahutan di udara.
Saat Nadya hendak mencari seseorang, sosok tegap di belakangnya sukses membuat langkahnya terhenti seketika.
"Lho, kok ikut masuk? Kak Rex tunggu di mobil saja, kan tadi Nad sudah bilang!" protes Nadya heran.
"Saya di sini untuk bekerja, bukan bersantai di dalam mobil," balas Rexsaka dingin tanpa cela.
Nadya mendengus pasrah. "Ya sudah, terserah Kakak saja."
Mengabaikan presensi tegap pria di dekatnya, Nadya kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, sibuk mencari sosok yang sejak tadi ia nantikan.
"Nad! Di sini!" panggil sebuah suara memotong keriuhan lobi.
"Ris!" sahut Nadya lega begitu matanya menemukan sosok sang sahabat.
Riska, sahabat sekaligus manajernya, tersenyum lebar. Tadi pagi, Riska menghubungi dan menawarkan proyek film layar lebar ini. Meski syaratnya harus melalui proses casting dan Nadya sendiri belum pernah merambah dunia seni peran selain menjadi model iklan, rayuan maut Riska berhasil meluluhkan pertahanannya. Lagipula, awalnya Nadya menerima tawaran itu sebagai sarana pelarian demi bisa melupakan Rexsaka. Namun, takdir rupanya punya selera humor yang licik. Kini, ia justru terikat untuk menghabiskan dua puluh empat jam penuh di bawah pengawasan pria itu.
Melihat Nadya datang, Riska langsung berlari kecil menghampiri dengan kedua tangan yang sudah terentang, berniat memeluk sahabatnya.
Namun, sebelum jarak di antara mereka benar-benar terpangkas, sebuah lengan kokoh lebih dulu terulur menghalangi.
Rexsaka melangkah setengah langkah ke depan, berdiri di antara Nadya dan gadis yang baru dikenalnya itu. Tatapannya yang tajam menyapu wajah Riska sejenak, lalu turun mengamati gerak-geriknya dengan waspada. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, tetapi sikap tubuhnya sudah cukup menjelaskan bahwa siapa pun tak diizinkan mendekati Nadya sebelum identitasnya dipastikan.
Riska sontak menghentikan langkahnya.
"Eh...?"
Nadya memijat pelipisnya. "Dia Riska. Sahabat sekaligus manajerku kak."
Rexsaka tetap menatap Riska beberapa saat, seolah mencocokkan informasi yang diterimanya dengan ekspresi gadis itu. Setelah yakin tak ada ancaman, barulah ia menurunkan lengannya dan bergeser satu langkah ke samping, memberi jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meski terkesan berlebihan, peran sebagai pengawal pribadi ini hanyalah sebuah penyamaran. Selama misi belum selesai, Rexsaka tak boleh membiarkan siapa pun mendekati Nadya tanpa memastikan bahwa orang itu benar-benar bukan ancaman.
Riska mengembuskan napas lega, lalu mendekat sambil berbisik pelan di telinga Nadya. "Siapa?" gadis manis itu menunjuk Rexsaka yang berdiri tegap di belakang Nadya lewat isyarat matanya.
"Kak Rex," sahut Nadya singkat.
"What?! Rexsaka, Rexsaka Pramuja...cowok yang Lo kejar-kejar itu?" teriak Riska membahana. Suaranya yang nyaring sukses memancing perhatian orang-orang di sekitar loby, tak terkecuali Rexsaka, yang sempat melirik sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya mengawasi sekeliling menyapu seluruh lobi, mengamati semua hal yang memantik kecurigaan.
"Suara Lo bisa dikecilin dikit gak, sih?!" sergah Nadya panik, seketika membekap mulut Riska rapat-rapat.
Riska hanya mengangguk pasrah. "Kenapa dia bisa ada di sini?" tanyanya begitu Nadya melepas bekapannya.
"Dia jadi bodyguard gue."
"Ap..." Refleks cepat Nadya kembali menyelamatkan keadaan dengan membekap mulut sahabatnya untuk kedua kali sebelum teriakan Riska pecah lagi.
"Kok bisa?! Gimana ceritanya?" bisik Riska menyingkirkan tangan Nadya dari mulutnya, matanya membelalak tak percaya.
"Gue juga gak tahu, terjadi gitu aja," keluh Nadya pasrah.
Nadya menyenggol bahu sahabatnya begitu mendapati mata Riska tak lepas memperhatikan perwira di belakang mereka.
"Kenapa Lo lihat dia sebegitunya?"
"Gak ada apa-apa, gue cuma lagi menilai... Pantas Lo ngejar-ngejar dia, ternyata ketampanannya gak ngotak!" aku Riska jujur terkagum-kagum.
"Ck, Lo naksir?"
"Ya gak, lah! Sorry ya, gue bukan teman makan teman. Lagian dia bukan tipe gue," kekeh Riska santai.
"Maksud Lo?"
"Gue lebih suka tipe Grizzly daripada Ice Bear begitu, asal Lo tahu," celetuk Riska merujuk pada karakter kartun bertema tiga beruang tersebut. Nadya hanya memutar matanya pasrah mendengar racauan sahabatnya itu.
"Udah, ah! Ngapain malah bahas tipe gue, sih? Nah, ini nomor antrean Lo," potong Riska terkekeh sembari menyematkan lembaran kertas bernomor urut lima di rok sahabatnya.
Nadya memperhatikan kertas itu lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling lobi. "Ris... Lo yakin gue bisa? Lihat tuh, saingan gue gak main-main, tahu! Para aktris berpengalaman semua. Lah gue? Cuma pernah jadi bintang iklan doang."
"Udah, Lo jangan pesimis gitu dong! Gue tahu Lo berbakat, Nad. Dan Lo tahu sendiri ini film garapan Arga Mahendra kan? Dia sutradara sekaligus penulis terkenal, dan hampir gak ada filmnya yang gak sukses. Makanya, Lo usahain banget harus dapat peran utama ini!"
"Tapi Ris... kalau gak dapat gimana?" bisik Nadya cemas.
"Ya sudah, kalau gak dapat, berarti belum rezeki kita. Tapi Lo coba dulu aja! Gue yakin Lo bisa, hm?" ujar Riska mantap sembari menepuk pelan bahu sahabatnya, berusaha menularkan rasa percaya diri.
Nadya menarik napas panjang, berusaha mengurai ketegangan yang mendadak menghimpit dadanya. Namun, saat mengedarkan pandangan, sudut matanya tak sengaja menangkap sosok Rexsaka yang berdiri tegap tak jauh dari sana. Pria itu berdiri kaku bak patung es, menatap lurus ke arahnya dengan raut datar tanpa ekspresi. Di tengah keriuhan lobi dan ancaman kegagalan casting yang membayangi, Nadya sendiri tak pasti, apakah presensi perwira muda itu justru meruntuhkan mentalnya, atau malah menjadi bahan bakar terselubung untuk membuktikan kemampuannya.