Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pencurian Jantung Reruntuhan
Balkon besi tempat mereka berdiri bergetar pelan, merespons rentetan ledakan yang terjadi jauh di atas permukaan tanah. Fraksi-fraksi manusia yang kelaparan akan kekuasaan sedang bertaruh nyawa, menghancurkan barisan pertahanan luar reruntuhan tanpa menyadari bahwa hadiah utama mereka sedang diincar dari bawah tanah.
Yudha memberi isyarat dengan tangannya. Mereka bertiga menuruni tangga logam berkarat yang menempel di dinding ruangan raksasa tersebut, melangkah masuk ke sela-sela barisan ribuan tabung kaca.
Suasana di lantai dasar terasa jauh lebih mencekam. Cairan pengawet berwarna hijau di dalam tabung-tabung itu memancarkan pendaran cahaya yang menakutkan, memperlihatkan siluet mesin pembunuh berbentuk perpaduan manusia dan hewan buas.
Lin Tian dan Lin Chen berjalan tepat di belakang Yudha. Kedua murid inti itu menahan napas mereka hingga ke titik paling hening. Ilmu bela diri kuno yang mereka pelajari berfokus pada pengendalian aliran tenaga murni, memungkinkan detak jantung dan suhu tubuh mereka ditekan ke titik terendah agar tidak memicu sensor gerak yang mungkin tertanam di lantai baja.
"Jika satu saja dari mereka terbangun, kita tidak akan punya jalan keluar," bisik Lin Chen perlahan, matanya terpaku pada sosok monster berkepala serigala dengan tubuh logam setinggi tiga meter di dalam tabung terdekat.
"Karena itulah kalian harus menahan hawa membunuh kalian," balas Yudha tanpa menoleh. "Mesin-mesin ini dirancang untuk bereaksi terhadap ancaman dan fluktuasi energi."
Langkah mereka sangat terukur. Butuh waktu hampir lima belas menit untuk melintasi lautan tabung kaca pembawa maut tersebut hingga akhirnya mereka tiba di hadapan pilar kristal raksasa di tengah ruangan.
Pilar itu berdiameter sekitar tiga meter, menembus lantai baja dan menyambung lurus ke langit-langit. Di dalamnya, sebuah kubus logam seukuran kepalan tangan melayang bebas, memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut seirama dengan aliran energi seluruh reruntuhan.
Itulah Inti Pengendali Wilayah. Jantung dari Reruntuhan Peradaban Kuno.
Yudha melangkah maju, meletakkan telapak tangan mekanisnya ke permukaan pilar kristal yang dingin. Ia menutup matanya, memanggil seluruh 250 titik Daya Komputasinya. Garis-garis cahaya biru menjalar dari lengannya, memindai struktur pilar tersebut.
[Menganalisis penghalang pelindung inti...]
[Peringatan! Inti terhubung langsung dengan sistem pasokan daya Pasukan Penjaga Bawah Tanah. Pemutusan paksa akan memicu Protokol Kebangkitan Darurat.]
Alis Yudha berkerut. Peradaban kuno ini tidak bodoh. Mereka memastikan bahwa siapa pun yang mencoba mencuri jantung reruntuhan ini harus berhadapan dengan ribuan pasukan penjaga di ruangan ini.
"Tidak ada cara untuk meretasnya tanpa memicu alarm," gumam Yudha membuka mata. "Begitu kubus emas ini ditarik keluar, aliran daya akan terputus, dan seluruh cairan pengawet di tabung-tabung itu akan terkuras habis. Pasukan itu akan terbangun."
Mendengar hal itu, Lin Tian mengeratkan genggamannya pada Tombak Penembus Tulang. "Berapa lama waktu yang kita miliki dari saat Inti itu dicabut sampai tabung-tabung itu pecah, Ketua?"
Yudha menghitung dengan cepat di kepalanya. "Lima belas detik. Mesin kuno membutuhkan waktu pemanasan sebelum sistem saraf mereka sepenuhnya aktif."
Lin Chen menelan ludah. "Lima belas detik untuk berlari sejauh tiga ratus meter kembali ke pintu baja, lalu menguncinya dari luar."
"Tepat," jawab Yudha dingin. Ia memutar Inti Energi Api di punggung tangannya. Lengan mekanisnya mulai memancarkan hawa panas yang menyilaukan. "Aku akan melelehkan dinding pilar kristal ini terlebih dahulu tanpa memutus aliran dayanya. Bersiaplah."
DUARRR! KRAAAAK!
Belum sempat telapak tangan Yudha menyentuh kristal, sebuah ledakan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh ruangan. Langit-langit baja di atas pilar kristal itu melengkung ke dalam, dan debu tebal berjatuhan.
Suara raungan manusia dan benturan logam bergema samar dari saluran ventilasi di atas mereka. Fraksi Darah Besi dan kelompok lainnya tampaknya telah berhasil menghancurkan gerbang utama reruntuhan dan sedang merangsek masuk ke lantai atas.
Seketika itu juga, pilar kristal di depan Yudha berkedip dari warna biru menjadi merah darah.
[Peringatan: Lapisan pertahanan utama tertembus.]
[Mengalihkan 80% daya ke sistem pertahanan atas. Mengaktifkan sebagian Pasukan Penjaga Bawah Tanah.]
Cairan hijau di dalam ratusan tabung kaca terdekat tiba-tiba mulai mendidih. Gelembung-gelembung udara naik ke permukaan. Mata merah menyala dari dalam tabung-tabung itu terbuka secara serentak.
"Sial! Mereka datang terlalu cepat!" rutuk Lin Chen.
"Tidak ada waktu lagi!" seru Yudha.
Ia tidak peduli lagi dengan kehalusan. Yudha menghujamkan lengan baja peleburnya yang bersuhu delapan ratus derajat Celcius langsung menembus dinding pilar kristal.
TSSSS! KRAK!
Kristal yang diklaim tak bisa dihancurkan itu meleleh dan retak di bawah suhu ekstrem dan kekuatan fisik Yudha yang telah mencapai Tingkat 5. Ia mendorong tangannya masuk, menahan sengatan aliran listrik tegangan tinggi yang berusaha menolak lengan mekanisnya, lalu menggenggam kubus keemasan tersebut.
Dengan satu tarikan brutal, Yudha mencabut Inti Pengendali Wilayah dari kedudukannya.
WUNGGG!
Suara dengungan energi yang sangat keras dan memekakkan telinga meledak di seluruh ruangan. Seluruh lampu di dalam fasilitas bawah tanah itu padam seketika, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang berkedip menyilaukan.
[Pencurian Inti Terdeteksi!]
[Protokol Penghancuran Diaktifkan. Membangunkan seluruh Pasukan Penjaga!]
Ratusan tabung kaca di sekitar mereka retak seketika, menumpahkan berton-ton cairan hijau kental ke lantai baja. Makhluk-makhluk mekanis bertubuh serigala dan manusia buas melangkah keluar dari tabung mereka, mencengkeram senjata bawaan yang menyatu dengan lengan logam mereka.
"LARI!" teriak Yudha.
Ia memasukkan kubus emas itu ke dalam balik jubahnya dan melesat ke arah pintu baja di ujung ruangan. Atribut Agilitasnya membuat ia bergerak layaknya kilat hitam.
Lin Tian dan Lin Chen membayangi di belakangnya. Mereka menolak lantai baja dengan kekuatan penuh, melompati genangan cairan hijau.
Di belakang mereka, ratusan monster mekanis Tingkat 6 yang baru terbangun mengeluarkan raungan mekanis yang menggetarkan tulang. Kaki-kaki logam mereka menghantam lantai berbondong-bondong, mengejar tiga manusia yang berani mencuri jantung wilayah mereka.
Seekor monster berwujud singa baja melompat jauh melewati barisan, berusaha menerkam Lin Chen dari belakang.
"Jangan menoleh!" teriak Lin Tian.
Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, memutar tubuhnya, dan menyabetkan Tombak Penembus Tulangnya ke udara. Ujung tombak yang dialiri tenaga murni itu menghantam rahang singa baja tersebut.
TRANG!
Benturan itu menciptakan percikan bunga api raksasa. Kekuatan hantaman tersebut mementalkan monster Tingkat 6 itu ke belakang, menabrak kerumunan mesin lainnya. Lin Tian menggunakan daya tolak itu untuk melontarkan dirinya kembali ke depan, menyusul adiknya.
"Lima detik!" seru Yudha saat ia mencapai celah pintu baja raksasa yang belum tertutup penuh. Ia menyelipkan tubuhnya ke luar, disusul oleh Lin Chen dan Lin Tian.
Begitu mereka berada di lorong segi delapan tempat bangkai mata pengintai berserakan, Yudha segera menempatkan kedua tangannya di permukaan pintu baja.
"Tutup dan segel!"
Daya komputasinya meledak, menimpa sisa perintah di dalam jaringan pintu. Pintu baja tebal itu bergeser menutup.
Tepat sebelum pintu itu tertutup rapat, rentetan cakar baja dan tubuh logam menghantam dari dalam.
BAM! BAM! BRAK!
Pintu itu bergetar hebat, nyaris terlepas dari engselnya. Monster-monster di dalam sana merobek-robek baja dengan brutal.
Yudha tidak berhenti. Ia mengaktifkan kemampuan Genggaman Tungku pada lengannya, lalu menempelkannya ke sela-sela perpotongan pintu. Ia melelehkan lapisan baja di antara celah tersebut, mengelas mati pintu raksasa itu dengan cairan logam.
"Itu hanya akan menahan mereka beberapa menit," napas Yudha memburu, menarik lengannya yang berasap. "Jalan terus! Kita kembali ke Kumbang Pengangkut!"
Mereka bertiga berlari menyusuri lorong logam panjang, mendaki kembali ke saluran pembuangan. Di atas mereka, ledakan demi ledakan terus terjadi, menandakan bahwa Fraksi Darah Besi benar-benar masuk ke dalam perangkap maut. Saat ribuan pasukan bawah tanah itu gagal menembus pintu yang disegel Yudha, mereka pasti akan dialihkan ke atas, membantai manusia-manusia malang tersebut.
Yudha, Lin Tian, dan Lin Chen melompat melewati kisi-kisi pembuangan yang terbuka, kembali mendarat di genangan air terowongan kereta bawah tanah.
Di sudut peron, gundukan besi rongsokan itu kembali menyala. Lensa mata Kumbang Baja Pengangkut berkedip biru, bangkit berdiri dari mode hibernasinya.
Yudha menatap ke arah lubang pembuangan yang memancarkan cahaya merah, menyeringai dengan tatapan penuh kemenangan.