Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Ribut besar dengan bos, sampai Vinda pergi
"Apa yang kamu lihat?! Kembali ke mejamu sana!" Bentak Kenzo. Vinda berpikir sebaiknya memindahkan meja kerjanya ke ruang depan saja, daripada tiap hari harus satu ruangan, dan melihat wajah bos yang makin menjijikkan di matanya.
"Saran saya, jangan bermain api. Hubungan keluarga yang retak jauh lebih sulit diperbaiki."
"Apa kamu paham soal keluargaku dan hidupku? Cih, lebih baik jangan suka Ikut campur!" Ketus Kenzo.
'Dasar pria sialan!' Batin Vinda. Dia berbalik dan membanting pintu dengan keras.
Blaammm!!!!!
"Sialan… kenapa mulutku tak ada remnya?" Umpat Kenzo sambil menepuk bibir sendiri. Mungkin karena ciuman tadi belum tuntas, ucapannya jadi tak terkontrol.
Sementara itu, Vinda berada di kamar kecil, mencuci tangan sambil menangis tersedu di depan cermin. Kenapa rasanya sesakit ini? Padahal Kenzo cuma bosnya. Kenapa hatinya perih melihat pria itu bisa berciuman dengan wanita lain tepat di depan matanya. Apa jangan‑jangan dia mulai jatuh hati pada bosnya.
Vinda menggeleng kuat, mengusap air mata kasar. Gila saja! Dia tak seperti staf wanita di sini yang bodoh berharap perhatian bos. Dia masih waras dan ingin mendapatkan pria baik, bukan tukang main wanita, semacam Kenzo.
"Lupakan saja dia dan kejadian tadi," Gumamnya, lalu merapikan rambut berantakan. "Masih banyak pekerjaan di tempat lain. Aku tak mau lagi di sini besok, dan melihat dia mencium wanita baru lagi." Hutang pada Kenzo tak jadi soal, dia akan tetap melunasinya, tak akan lari dari tanggung jawab.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Kenzo melirik sekilas ke meja sekretarisnya. "Saya pulang duluan, pak, permisi" Pamit Vinda. Nadanya terdengar aneh, sedih dan enggan berdekatan. Kenzo hanya mengangguk diam sampai pintu tertutup rapat.
"Cih, bodohnya aku. Seharusnya tadi minta maaf. Mungkin ucapanku terlalu kasar, ya ampun masa dia masih marah sih?" Keluh kesahnya pada diri sendiri.
Sebelum pulang, Kenzo biasa berhenti sebentar di meja sekretaris. Kali itu dia terkejut melihat amplop putih tergeletak di sana.
"Apa ini? Sejak kapan ada berkas pakai amplop begini?" Karena penasaran dia membukanya dan membaca isi tulisan di dalamnya. Wajahnya langsung berubah marah.
"Sialan! Berani sekali dia mengundurkan diri. Lihat saja kamu, Vinda!"
****
"Oh sialan, ke mana dia?" Kenzo sudah lelah dan makin gelisah, berjalan gontai menuju mobilnya sambil menendang kerikil di depan rumah kontrakan tempat tinggal gadis itu tadi. Dia baru saja ke rumah orang tua Vinda, tapi ayahnya malah bilang Vinda belum pulang sejak pagi, gadis itu hanya menelepon bilang akan pulang larut karena lembur. Lebih repot lagi.
Pak Agus jadi curiga—kenapa bosnya sendiri tampak bingung saat sekretarisnya harus lembur? Akhirnya Kenzo mengarang alasan kalau tadi dia baru saja pulang dari luar kota mengunjungi cabang outlet dan lupa memberi kabar. Alasan yang agak konyol, untung saja ayah Vinda mempercayainya begitu saja.
Kenzo mengacak rambutnya kesal lalu melirik jam tangan, sudah jam sepuluh malam. Astaga, ke mana saja gadis itu berkeliaran di jam begini? Bahkan ponselnya pun tak bisa dihubungi.
"Sialan… seharusnya aku tak mengusirnya tadi siang. Karena mulutku yang kurang ajar itu dia menganggap serius ucapanku," Gerutunya sendiri. Dia lantas menyusuri jalanan kota, berhenti di setiap halte— atau taman mungkin saja Vinda ada di sana.
Angin malam bertiup kencang. Meski sudah mengenakan jaket tebal, Vinda masih kedinginan, dia berjalan sendirian di trotoar taman dengan langkah gontai, sesekali mendongak menatap bintang‑bintang di langit seolah langit pun tahu betapa sedih dan bimbangnya hatinya.
Lalu Vinda duduk di bangku taman yang sepi, meremas kedua tangannya tanpa sadar, lalu air mata bening menetes deras. "Ayah… maafkan anakmu yang kembali jadi pengangguran begini…"
Vinda menggeleng sedih. Kenapa hidupnya selalu terasa tak beruntung? Sejak SD dia harus kehilangan ibu, lalu pindah ke ibukota tempat ayahnya bekerja di pabrik ikan—meski sudah banting tulang, keadaan tetap sulit. Setelah lulus kuliah di Universitas program D3 sambil bekerja paruh waktu di kedai, pun tak pernah tenang, ada saja masalah mulai dari rekan kerja yang menyukainya hingga nyaris berbuat kasar.
Dia terpaksa pergi, lalu bekerja di kafe dengan gaji lumayan, tapi lagi‑lagi pemiliknya berniat melamar jadi istri ketiga. Tentu saja Vinda menolak dan pergi. Baru sebulan bekerja di Tous Les Jours, dia kembali bertemu tipe bos yang sama.
Ah, kenapa nasibnya begini buruk?
Sebenarnya hati Vinda masih perih terkena ucapan Kenzo tadi. Entah kenapa hatinya terasa sesak saat melihat pria itu berbuat hal tak pantas di kantor, lalu menyuruhnya pergi kalau tak suka. Memang seharusnya itu bukan urusannya, tapi wanita yang dicium Kenzo bukan dirinya— justru kenyataan itulah yang membuat perasaannya kacau tanpa alasan jelas.
"Besok aku harus cari kerja baru. Lupakan saja Tous Les Jours dan Kenzo sialan itu… semangat, aku pasti bisa," Gumamnya sambil tersenyum pahit, mengusap air mata lalu berdiri kembali melangkah menuju halte. Baru sadar waktu sudah pukul sebelas malam.
"Aduh, aku sampai lupa waktu tadi. Semoga saja masih ada taksi yang lewat," Pikirnya.
Di halte yang sepi, Vinda makin menggigil kedinginan. Jalanan makin lengang, hanya sesekali ada mobil lewat.
Dia menimbang lebih baik memesan taksi online saja, percuma berharap ada yang lewat. Namun rasa tak nyaman mulai muncul, seolah ada bahaya mengintai. Dia pun beranjak dan berjalan lebih cepat di trotoar yang hanya diterangi lampu jalan.
"Nona cantik, sendirian saja ya? Hahaha…"
Vinda terkejut dan mundur ketakutan saat melihat dua pria menghadang di depannya, masing‑masing memegang botol bir. Mata mereka merah dan tampak mabuk, perlahan makin mendekat.
"Mundur! Jangan mendekat! Pergi kalian…!"
"Wah, cantik sekali dia, bro," ujar satu pria.
"Iya benar, manis sekali… sini nona, main sebentar saja sama kami," Sahut yang lain sambil tertawa serak.
Vinda menggeleng panik lalu lari sekuat tenaga meski kakinya sakit karena sepatu hak tinggi. Sialnya dia salah arah dan masuk ke gang sempit yang makin gelap. Kedua pria itu sudah memotong jalan di ujung sana.
"Heh mau lari ke mana? Hahaha, ayo layani kami sekarang, nona manis!"
"Tidak! Lepaskan aku… tolong!" Vinda mundur terhuyung, lalu terdorong jatuh ke aspal saat salah satu pria mendorongnya kasar. Dia berteriak histeris saat tubuhnya langsung ditindih, sosok berbadan besar yang berusaha merobek jaketnya.
"Tahan dia, cepat!"
"Apa maumu?! Jangan… tolong aku!" Mereka malah tertawa puas. Satu sibuk membuka pakaian Vinda sementara yang lain membuka celananya sendiri. Kedua pria itu bersiap melakukan hal keji, sementara Vinda makin panik berteriak minta tolong.
"Tutup mulutnya! Jangan berontak terus!"
"Tolong… jangan… hiks…" Vinda menendang‑nendang di udara tapi tak berguna, dia sudah terbaring di aspal, perutnya tertindih berat, kedua tangan diikat dengan sobekan kain gaunnya sendiri. Air mata makin deras jatuh, dadanya terlihat jelas makin membusung karena posisi terikat di atas kepala. Dia menangis tanpa suara, berharap ada keajaiban datang menolongnya.
Saat gaunnya robek terbuka, dalaman putihnya terlihat jelas. Pria yang masih menindih perutnya makin bersemangat, menjilat leher Vinda, lalu meremas gundukannya kasar hingga gadis itu menahan sakit dan perih. Yang lain sudah membuka celananya, siap merobek dalaman Vinda.
— Tolong… siapa saja tolong aku… — batinnya berdoa. Kepalanya makin pening, tenaganya habis berteriak dan meronta. Kini da hanya bisa merintih karena perut dan dadanya makin sakit.
— Ibuk… apakah aku akan mati sekarang? Kenapa nasibku harus seburuk ini… —
Vinda mencoba berontak lagi saat merasakan benda asing menyentuh bagian paling pribadinya yang masih tertutup kain. Seperti gunting yang berusaha merobek sisa penutupnya.
Bugh!
"Argh, sialan!" Pria yang sedang asyik berbuat jahat tiba‑tiba terlempar jatuh ke aspal, bibirnya berdarah terkena tendangan keras. Temannya yang sibuk meraba tubuh Vinda ikut terbatuk hebat, karena lehernya dicekik kuat lalu ikut terlempar jatuh.
"Sialan! Siapa kamu?!"