Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Perjalanan Sang Harimau
Perjalanan rahasia dari Harau berakhir di sebuah celah sempit di Lembah Anai. Di sini, suara gemuruh air terjun setinggi puluhan meter terus menderu, menciptakan kabut abadi yang menyembunyikan pintu masuk ke Sarang Harimau.
Di balik tebing-tebing batu yang tegak lurus menantang langit itulah jantung Kerajaan Dharmapuri berdenyut dalam sembunyi, hanya dipisahkan oleh dinding batu raksasa yang seolah-olah dipahat oleh tangan dewa.
"Jangan kalian kira di sini tempat beristirahat?" suara Datuk Tarang memecah suara air terjun. "Ini adalah tempat di mana kalian akan ditempa menumbuhkan kuku dan taring, atau hancur menjadi debu!"
Datuk Tarang tidak memberikan ampun. Sebagai veteran Pasukan Harimau, ia tahu betul bahwa musuh yang mereka hadapi adalah mesin perang Singasari yang tidak mengenal belas kasih.
Sena, Balun, dan yang lainnya dipaksa melakukan latihan fisik yang melampaui batas kewarasan. Mereka harus memanjat akar-akar gantung di dinding tebing Anai yang licin terkena uap air terjun, merayap di celah batu yang sempit, dan menahan napas di bawah derasnya kucuran air dingin yang menghantam kepala.
Bagi Balun dan kawan-kawannya, ini adalah penyiksaan.
Fisik mereka yang biasa bekerja di ladang dipaksa untuk mencapai batas maksimal. Mereka sering tersungkur, muntah karena kelelahan, atau meringis kesakitan karena otot yang serasa dipelintir.
Namun bagi Sena, tantangannya berbeda.
Secara fisik, raga Sena memang sudah "jadi" berkat latihan keras di Puncak Harau sebelumnya. Ia tidak kesulitan dengan daya tahan atau kekuatan.
Namun, saat Datuk Tarang mulai mengajarkan langkah dasar Silek Harimau, Sena menemui ganjalan besar.
"Kau sangat lincah, Sena! Tapi kau tidak punya akar!" bentak Datuk Tarang sambil mengayunkan tongkat kayunya ke arah betis Sena.
Plakk—!
Sena kehilangan keseimbangan di atas batu yang berlumut. Teknik gerak kaki Shinobi yang biasa ia gunakan cenderung ringan dan berada di ujung kaki—siap untuk melesat ke atas. Namun Silek Harimau menuntut sebaliknya.
"Di Lembah Anai ini, tanahnya basah dan tebingnya curam. Jika kau bertumpu di ujung kaki seperti itu, kau akan jatuh ke jurang sebelum sempat menancapkan Kerambit leher mangsamu!" Datuk Tarang mendekat, wajahnya hanya terpaut beberapa inci dari Sena. "Rendahkan kuda-kudamu! Cengkeram bumi dengan tumit dan jemarimu. Kau harus membumi sebelum bisa menerkam!"
Sena bangkit, mengusap sisa percikan air terjun dari wajahnya. Ia mulai menyadari kelemahannya. Kekuatan otot kaki dan kelenturannya memang mumpuni, tapi ia harus mengubah pusat gravitasinya.
Ia harus belajar bertarung dengan tubuh yang hampir menyapu tanah, menyesuaikan tumpuannya agar setiap gerakan menyatu dengan gravitasi bumi Sumatera yang berat dan lembap.
Di sela-sela latihan, Sena menatap ke arah tebing curam yang memisahkan mereka dengan Dharmapuri. Di balik sana, ada sebuah kerajaan yang menggantungkan harapan pada pemuda-pemuda yang kini sedang merintih kesakitan di bawah instruksi Datuk Tarang.
Sena melihat kawan-kawannya yang bersusah payah. Ia tahu ia harus belajar lebih cepat dari siapa pun. Bukan hanya untuk menguasai Silek, tapi untuk memastikan bahwa suatu saat nanti, ia bisa berdiri di depan mereka sebagai pemimpin yang sanggup membawa mereka pulang dengan selamat.
Sena merendahkan tubuhnya kembali, membiarkan pusat badannya turun hingga hanya beberapa inci dari lantai batu yang basah. Ia tidak lagi mencoba melawan kelicinan batu itu, melainkan mencengkeramnya.
Datuk Tarang memperhatikan dalam diam. Ada kilat keheranan di matanya. Pemuda ini... kemajuan fisiknya tidak masuk akal. Seolah-olah raga itu sudah siap, hanya tinggal menunggu jiwa di dalamnya menemukan "kunci" yang tepat untuk membuka kekuatan sejatinya.
Setelah fisik mereka dihajar latihan gila-gilaan, mereka tidak lantas bisa beristirahat. Perut yang keroncongan memaksa Balun dan yang lainnya menyisir tepian sungai di Lembah Anai.
Dengan tombak bambu runcing, mereka berburu ikan di sela bebatuan, sementara yang lain mengumpulkan tanaman hutan yang bisa dimakan.
Malam harinya, di dalam gua yang hanya diterangi pendar api unggun, aroma ikan bakar dan uap air rebusan menyeruak, melawan dinginnya udara Lembah Anai yang menusuk tulang.
Puti Kirai, yang dilarang keras oleh Mak Rangkayo untuk kembali ke Istana demi keselamatannya, tampak sibuk dengan periuk tanah liatnya. Ia melangkah mendekat, membawa bumbung bambu berisi ramuan herbal hangat.
Dengan gerakan anggun yang canggung, ia duduk tepat di samping Sena.
"Minumlah. Ini akan membantu memulihkan memar di tubuhmu," bisik Kirai sambil menyodorkan minuman itu pada Sena.
Suasana Hening seketika. Balun yang sedang asyik mengunyah ikan bakar mendadak berhenti. Jagu dan Danta saling lirik dengan senyum yang mulai melebar nakal.
"Oh... andai saja ada yang memberiku perhatian seperti itu, selamanya terjebak di lembah yang lembab ini pun aku rela!" celetuk Balun dengan suara yang sengaja dikeraskan, menyindir Sena.
"Oh Dewa..." timpal Jagu sambil menengadah ke langit-langit gua, berpura-pura berdoa. "Kirimkanlah aku kekasih yang baik hati, yang mau membawakanku minum, bukan hanya memberi perintah untuk memanjat tebing!"
Tawa kembali pecah seketika. Latihan berat yang membuat otot mereka serasa copot seolah sirna oleh candaan itu.
Hattori dalam raga Sena, sang mantan Jonin yang terbiasa menghadapi pedang lawan tanpa berkedip, kini justru tampak kewalahan menghadapi godaan teman-temannya. Ia merasa canggung luar biasa.
Anehnya Puti Kirai tak marah dengan candaan mereka, dia memalingkan wajahnya yang merah merona dengan hati berbunga-bunga.
"Putri, um... hamba bisa membuat minum sendiri, jadi Anda tidak perlu..." Kalimat Sena tercekat.
Puti Kirai tiba-tiba memalingkan wajahnya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata Sena. Sorot matanya tidak lagi menunjukkan keraguan seorang putri yang diculik, melainkan ketegasan seorang wanita yang sedang mengklaim tempatnya.
"Panggil saja aku Arai," ucapnya lembut namun menuntut. Ia berdiri, sedikit ragu ingin mengatakan sesuatu lagi, lalu dengan cepat menambahkan, "Habiskan itu. Kau baru saja sembuh, jaga kesehatanmu!"
Tanpa menunggu jawaban, Puti Kirai berlari kecil meninggalkan tempat peristirahatan para calon Harimau itu.
Sena terpaku, bumbung bambu di tangannya terasa hangat, atau mungkin telapak tangannya yang mendadak panas?
Sena menoleh ke arah teman-temannya, berharap mendapat simpati. Namun yang ia temukan hanyalah lima pasang jempol yang terangkat tinggi disertai tawa lebar yang mengejek.
"Sena, jika kau jadi Raja Dharmapuri kelak, kami tidak perlu lagi kerja rodi. Kami akan jadi pengawal pribadimu yang paling setia! Ha ha ha!" tawa mereka menggelegar, memantul di dinding-dinding gua.
"Cih! Jangan bicara sembarangan! Habiskan ikanmu, lalu istirahat!" balas Sena jengkel, meski telinganya memerah.
Di balik lorong batu yang tersembunyi, Puti Kirai menyandarkan punggungnya ke dinding gua yang dingin. Namun hatinya terasa sangat hangat.
Candaan Balun dan kawan-kawannya terdengar seperti nyanyian surga di telinganya. Sepanjang malam, sang putri hanya bisa menatap kegelapan dengan senyum yang tak kunjung hilang.
Membayangkan sebuah masa depan di mana mahkota Dharmapuri bersanding dengan sosok pemuda misterius yang kini menjadi harapan seluruh rakyatnya.