NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di dalam ruang tengah yang berlantai marmer Italia berkilau, suasana sudah tampak sibuk. Tiga buah manekin tinggi berlapis kain beludru memajang draf gaun kebaya modern dengan hiasan berlian yang berkilauan di bawah lampu kristal. Di sudut ruangan, Ibu Sofia Baskara sedang duduk di sofa kulit, menyesap teh bersama seorang wanita paruh baya lainnya yang tampak glamor dengan perhiasan zamrud di lehernya.

Dan tepat di samping salah satu manekin, berdiri Valerie. Wanita itu tampak memukau dengan gaun terusan sabrina berwarna merah muda pastel, dia memegang pita ukur satin di jemarinya yang lentik seolah dia adalah penguasa absolut ruangan tersebut.

"Ah, Radit, Kirana! Kalian akhirnya datang" Sofia bangkit berdiri dengan senyuman hangat, lalu berjalan mendekat untuk menyambut mereka.

Kirana membungkuk hormat, mencium tangan Sofia dengan takzim, yang dibalas dengan elusan lembut di bahunya. Namun, pandangan Kirana segera beralih pada wanita paruh baya di sofa yang menatapnya dengan pandangan menilai yang sangat dingin.

"Kirana, perkenalkan ini Jihan, ibunda Valerie. Keluarga mereka baru saja kembali dari Singapura pagi ini" Sofia memperkenalkan wanita tersebut.

"Selamat sore, Ibu Jihan" sapa Kirana sopan.

Jihan hanya mengangguk sekilas, memutar gelas tehnya tanpa niat untuk berdiri.

"Jadi ini sekretaris yang beruntung itu, Sofia? Memang terlihat rapi. Tapi kurasa, untuk acara sebesar pertunangan Baskara Group di Bali nanti, penampilan yang rapi saja tidak akan cukup untuk menutupi kurangnya latar belakang keluarga".

Kalimat itu meluncur dengan begitu halus namun tajam, sengaja dirancang untuk menusuk harga diri Kirana di depan Radit.

Sebelum Kirana sempat merespons, cengkeraman tangan Radit di pinggang Kirana mengeras. Wajah tampan CEO itu seketika mendingin, memancarkan aura intimidasi yang pekat.

"Tante Jihan, Kirana berada di sini bukan karena keberuntungan. Dia berada di sini karena dia adalah Direktur Operasional utama saya dan wanita yang saya pilih. Saya rasa, standar keluarga Baskara ditentukan oleh kontribusi dan kecerdasan, bukan sekadar silsilah di atas kertas".

Suasana ruangan mendadak menjadi kaku. Jihan tampak tersentak, tidak menyangka Radit akan membela Kirana secara terang-terangan dan sekasar itu di depan ibunya sendiri.

Valerie yang melihat ibunya tersudut, segera mengambil langkah tengah dengan tawa kecil yang anggun, mencoba mencairkan ketegangan.

"Maafkan Mama, Radit. Mama hanya bercanda. Kirana, mari kita mulai fitting-nya. Waktu kita tidak banyak, dan aku sudah memodifikasi beberapa bagian gaun utama ini agar terlihat lebih pas, sesuai dengan gayamu".

Valerie menuntun Kirana menuju area cermin besar di sudut ruangan, sementara Radit terpaksa tinggal di ruang tengah bersama Sofia dan Jihan untuk membahas dokumen hukum keluarga.

Di balik tirai ruang ganti yang luas, Valerie menyerahkan sebuah gaun kebaya brokat putih gading yang sangat indah kepada Kirana. Namun, begitu tirai ditutup dan mereka hanya tinggal berdua, senyuman manis di wajah Valerie lenyap seketika, digantikan oleh tatapan sedingin es.

"Kamu tahu, Kirana," Valerie membuka suara sambil melipat tangannya di dada, bersandar pada pilar kayu di dalam ruang ganti. "Kontrak pertunanganmu dengan Radit untuk menstabilkan saham itu adalah ide yang cerdas. Aku harus memujimu untuk strategi korporat yang hebat itu".

Kirana yang sedang merapikan bagian lengan gaunnya di depan cermin, menghentikan gerakannya. Dia memutar tubuhnya perlahan, menatap Valerie melalui pantulan cermin.

"Jadi Anda sudah tahu?"

"Tentu saja aku tahu. Keluarga kami memegang sepuluh persen saham gabungan di anak perusahaan Baskara di Singapura. Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan dariku," Valerie melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum mahalnya mendominasi udara. "Kamu bisa memenangkan pertempuran melawan Amar Wijaja atau Pak Baskoro karena mereka menggunakan logika kasar. Tapi dunia sosial keluarga besar tidak berjalan seperti itu, Kirana".

Valerie menyentuh bahu gaun yang dikenakan Kirana dengan ujung kuku merahnya yang tajam.

"Tante Sofia membiarkan permainan kontrak ini berjalan hanya karena Radit membutuhkannya untuk mengamankan posisinya saat ini. Tapi begitu proyek koridor timur selesai dan pasar stabil, pernikahan yang sesungguhnya harus melibatkan aliansi bisnis yang nyata, yaitu aku dan keluarga Wirdana Singapura. Kamu hanya sebuah pion mitigasi krisis, Kirana. Jangan pernah lupa di mana tempatmu berdiri".

Kirana menatap jemari Valerie di bahunya, lalu dengan gerakan yang sangat tenang namun bertenaga, dia menepis tangan wanita itu. Tidak ada kepanikan di mata bulat Kirana, yang ada hanyalah kilat baja yang biasa dia tunjukkan di ruang rapat.

"Terima kasih atas kuliah sosialnya, Nona Valerie," ucap Kirana, suaranya sangat rendah, stabil, dan bergaung dengan kekuatan yang membuat Valerie sedikit tertegun. "Anda benar, saya memulai semua ini dari kursi sekretaris. Dan sebagai seorang sekretaris yang mengurus seluruh hidup Raditya Baskara selama lima tahun, saya tahu satu hal yang tidak tertulis di dalam draf analisis bisnis mana pun".

Kirana memajukan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Valerie dengan senyuman tipis yang mematikan.

"Radit adalah tipe pria yang akan menghancurkan aliansi bisnis bernilai triliunan rupiah jika ada orang luar yang mencoba mendikte hidupnya. Anda mengira Anda adalah masa depannya yang tertunda? Jika Radit benar-benar menginginkan Anda, dia tidak akan membiarkan Anda menunggu selama lima tahun hanya untuk melihat seorang sekretaris mengambil posisimu di sampingnya".

Wajah Valerie mendadak berubah kaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Kata-kata Kirana menghantam tepat pada titik tidak amannya yang paling dalam selama bertahun-tahun ini.

"Gaun ini sangat pas di tubuh saya," Kirana merapikan bagian depan kebayanya dengan gerakan anggun sebelum berbalik menuju tirai pembatas. "Mari kita keluar. Saya tidak ingin membuat calon suami saya menunggu terlalu lama".

Kirana mendorong tirai pembatas dan melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Valerie yang berdiri terpaku dengan tangan mengepal erat menahan badai kemarahan yang bergemuruh di dalam dadanya. Di luar, Radit yang sedang menunggu langsung berdiri dari sofanya begitu melihat Kirana keluar, matanya terpaku penuh kekaguman pada kecantikan wanitanya yang mutlak.

Langkah kaki Kirana yang anggun saat keluar dari ruang ganti disambut oleh keheningan sesaat di ruang tengah. Radit berdiri terpaku, mengabaikan cangkir tehnya yang mulai mendingin. Tatapannya terkunci pada sosok Kirana yang berbalut kebaya putih gading tersebut. Potongan kain yang melekat pas di tubuh Kirana seolah menegaskan bahwa wanita itu tidak lagi sekadar berdiri di bayang-bayang sebagai sekretaris, melainkan telah menjelma menjadi pusat gravitasi baru di lingkaran Baskara.

"Sempurna," gumam Radit lirih, dia melangkah mendekat tanpa memedulikan pandangan menusuk dari Jihan Wirdana di sudut sofa. Dia mengulurkan tangannya, membantu Kirana menuruni anak tangga kecil di area cermin.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!