Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. penangkapan buronan utama yang dramatis.
"Hei Pak Marcus, kamu di mana?" Tanya Arka lewat komunikasi. "Aku berhasil mengamankan tangan kanannya. Ririn dan bang Herman juga di sini, tapi Ta Xhelin bisa lolos ke luar. Tugasku menjaga yang tertangkap, bang kamu yang kejar dia!" Jawab Marcus cepat.
Arka menggeram kesal, dia takkan membiarkan penjahat itu lolos lagi. Dia lalu menatap wajah Nayyara lembut, "Dengar, Nay… kamu percayakan padaku?" Gadis itu mengangguk pelan sambil terisak.
"Bersembunyi di sini, jangan keluar sebelum aku sendiri datang menjemputmu. Mengerti?" Arka menyerahkan dua senjatanya pada Nayyara, belati hitam dan pistolnya, dia yakin gadis itu lebih membutuhkan perlindungan sekarang. "Lakukan seperti yang pernah kuajarkan, tarik pelatuk, arahkan tepat ke sasaran, dan jangan panik. Paham?"
"Iya paham… Hati‑hatilah, mas," Jawab Nayyara parau. "Ayo cepat sembunyi sana, jangan sampai musuh melihatmu," Pesan Arka sambil mengecup dahinya. Dia mengantar Nayyara masuk ke lemari besi besar besar, tak jauh dari tangga darurat.
"Di sana! Arah jam satu! Dia lari ke sana! Tangkap cepat!" teriak AKBP Syarif sambil berlari menyusul Pak Rangga.
"Sial, kalau dia lolos lagi, kita bisa habis!" Seru Rangga cemas.
"Aku tahu, buronan itu tanggung jawabku! Aku akan kejar duluan!" Sahut Arka mantap.
Dia melihat Syarif dan Rangga berlari menuju pintu belakang tempat buronan melarikan diri. Beberapa langkah di belakang, Marcus juga ikut mengejar tiga orang yang berusaha kabur. Arka berlari paling depan, berhasil menyusul dua orang penjahat itu, satu orang sudah jatuh ke tangan Marcus dan diborgol setelah perkelahian singkat. Arka hampir kehilangan jejak, saat ada mobil Toyota Veloz hitam meluncur menjemput Ta Xhelin dan dua orang kepercayaannya.
Brak… syut… bruak!!!
"Hei, berhenti! Kalian buronan negara!" Seru Arka keras dengan lari maksimal mengunakan setengah kekuatan dewa Hades nya. Arka melompat tepat ke atas kap mobil hitam itu, memukul kaca depan dengan gagang kayu yang dia bawa, hingga retak dan pecah.
Bruak… brak… pyar…
Arka berpegangan kuat di kap mobil yang melaju tak tentu arah. Dengan sekuat tenaga dia menendang jendela sebelah pengemudi sampai pecah total juga. Mobil oleng hebat lalu menabrak pagar pembatas jalan sebelum sampai ke jalan raya utama.
Bugh… bruak…!!!
Tubuh Arkanendra sedikit oleng terkena hantaman keras pengendara mobil yang berusaha melawan, beberapa luka terlihat di wajah pria tampan itu. Dia diserang dua orang sekaligus yang baru turun dari kendaraan, ternyata mereka anak buah buronan yang ada di dalam sana. Dengan gerak capat Arka melompat tinggi bertumpu satu kaki, lalu menghantamkan kaki satunya ke arah kepala kedua penyerang dengan putaran cepat.
Hingga mereka terjerembab jatuh dan satu di antaranya langsung pingsan, ketangkasan taekwondo yang di kuasai Arka banyak berguna saat seperti ini, ketika dia tak bisa memakai kekuatan dewa Hades saat beradu hantam dengan bangsa manusia
Melihat anak buahnya tak berdaya, Ta Xhelin berusaha kabur sendiri. Dia berlari cepat lalu bersembunyi di samping mobil saat mendengar suara tembakan peringatan dari Syarif.
"Ta Xhelin, menyerah lah kamu atau peluruku akan menembus kepalamu!" Seru Brigjen Pol Rangga sambil mengacungkan pistolnya ke arah pria berusia sekitar 45 tahun itu. Buronan itu malah terkekeh mengejek dia memang terpojok karena dihadang tiga petugas sekaligus.
"Aku sama sekali tak menyangka kepolisian bisa melacak jejakku, hahaha… untung saja anak buahku melapor ada orang dari Polda dan kejaksaan yang berani menyusup masuk," Ujarnya sambil menatap tajam Rangga dan Syarif.
"Kurangi bicara! Simpan semua keteranganmu untuk di pengadilan!" Bentak Rangga, hampir saja menarik pelatuk.
"Menyerah kamu sekarang juga," Tambah Syarif tegas. Arka baru saja membereskan dua orang penyerang dan memborgol mereka. Dia mengusap bibirnya yang berdarah dan lecet, kesal karena selalu bagian itu yang terluka.
"Sial… nanti jadi tak bisa kalau mau mencium Nayyara," Batinnya sambil meludah pelan, dasar Arka narsis. "Siapa di antara kalian yang bernama Jaksa Arka?" tanya Ta Xhelin.
Rangga menoleh ke arah Arka yang berdiri dekat mobil buronan. Dengan senyum miring Arka berjalan perlahan mendekat, dia tak membawa pistol karena tadi diserahkan pada Nayyara. "Aku yang kamu cari? Kenapa hah?" Sahut Arka dingin.
"Sudah lama aku mendengar sosokmu yang terkenal tangguh, dan sangat populer di kejaksaan, hahaha… ternyata malam ini kita bisa bertemu langsung," Ujar Ta Xhelin.
"Apa maumu hah?" Tanya Arka makin mendekat, meski tangan kosong dia sama sekali tak gentar walaupun buronan itu masih memegang senjata.
"Hanya ingin bilang, silakan pak Arka duluan saja masuk neraka!"
Syut…
Jleb…
"Argh!"
Dooorrr!!!!!
Rangga melotot kaget, menoleh ke arah Arka dengan tangan gemetar tak karuan masih menggenggam revolver. Tembakan Ta Xhelin meleset jauh karena tepat saat itu Arka melempar pisau ke kaki pria itu. Wajah Rangga tegang luar biasa, terpaku dan diliputi rasa takut. Peluru panas nyaris meluncur ke arah Rangga dan Syarif, namun sebelum sempat mengenai mereka, pisau lemparan Arka sudah menancap kuat di paha kanan Ta Xhelin. Akibatnya tembakan itu menyimpang ke tempat aman.
"Ya Tuhan!" Seru Rangga terengah. Dia jatuh berlutut lemas, memegangi dadanya, Syarif sampai hampir pingsan dan pandangannya berkunang‑kunang. Rangga mengusap dahinya yang pening, seandainya peluru itu mengenai salah satu dari mereka, entah apa jadinya.
"Buronan utama sudah tertangkap! Posisi kami di pintu belakang klub malam, misi malam ini tuntas dan sukses! Segera kumpul ke sini!" Seru Arka lewat alat komunikasi. Dia mengeluarkan borgol dari saku jasnya, memborgol kedua tangan Ta Xhelin yang masih terbaring merintih kesakitan memegang pahanya. Penjahat itu akhirnya menyerah kalah telak sambil terus mengerang.
"Cih, kalau mau menembak sebaiknya latihan dulu. Bidikan kamu payah sekali, pak!," Ejek Arka dengan kejam sambil menepuk‑nepuk pipi pria tua, yang masih terbaring kesal karena dicemooh.
"Brigjen, minumlah dulu, wajah Bapak masih pucat sekali," Ucap salah satu petugas. Rangga mengangguk lalu menyesap teh hangat buatan Herman yang duduk di sebelahnya, sambil tersenyum geli.
"Aduh, jantungku sempat berhenti sebentar tadi, mengira peluru itu akan merobek perutku… huft, benar‑benar menakutkan. Syarif saja wajahnya masih pucat pasi," Cerita Rangga lega.
Herman tertawa lalu melirik Arka dari kejauhan. Di sana Arka sedang memeriksa layar laptop milik Henry sambil berdiskusi dengan petugas intelijen dan salah satu petugas reserse kepolisian unit tindak pidana dari Polda metro jaya.
"Kalau tak ada Arka, entah bagaimana nasibku dan Syarif tadi. Dia benar‑benar hebat, lho. Pakai pisau bukan senjata api, dan lemparannya pas sekali sasaran. Aku heran, dari mana dia belajar keahlian seperti itu?" Gumam Rangga kagum.
"Itu sudah biasa. Arka memang penembak paling jitu di kejaksaan. Syukurlah semuanya berakhir baik," Jawab Herman tersenyum lebar.
Rangga mengangguk pelan sambil mengusap wajah lelahnya. "Sepertinya berkas kerja sama kita bisa segera diajukan ke pimpinan kejaksaan, kita butuh dia dan Jaksa Marcus untuk kerja cepat bagian tindak pidana," Usul Syarif pada atasannya.
"Baik, akan segera ku sampaikan dan urus perizinannya," Jawab Rangga. Syarif tersenyum puas lalu berjalan menghampiri Arka yang sedang berpamitan pada rekan‑rekan sebelum pulang.
****
"Kamu tak apa‑apa kan?" Tanya Arka sambil melirik sekilas ke jok penumpang tempat Nayyara duduk. Seperti dugaannya, wajah gadis itu masih pucat dan penuh ketakutan. Arka menghela napas, sedikit menyesal membawa Nayyara masuk ke tempat berbahaya dan melibatkannya dalam tugas berat. Namun, kalau harus memilih wanita lain, hatinya sama sekali tak mau. Nayyara pacarnya mana mungkin dia bisa menyentuh wanita lain, Pemikiran tepat bagi Arka.
"Maaf tadi aku terpaksa membawamu ke sana, Nay… maafkan aku," Ucapnya pelan.
Nayyara baru menoleh, meremas ujung jaket berbulu yang sedikit kusut, lalu menunduk dalam. Dia masih ingat kejadian tadi, nyaris saja dia menjadi sasaran nafsu pria berbadan besar saat bersembunyi di dalam lemari besi. Saat itu dia menjerit panik dan berpikir takkan selamat lagi, sebelum Arka datang tepat waktu.
****
Kilas balik kejadian:
"Kyaa… lepaskan aku! Argh!"
"Wah, gadis cantik, kamu mau bersenang‑senang sebentar denganku? Tubuhmu benar‑benar menggoda," Desis pria itu penuh gairah. Nayyara mundur gemetar, menutup dada penuhnya dengan kedua lengan karena mantelnya robek karena ditarik paksa. Lebih parah lagi, revolver pemberian Arka tadi terjatuh ke lantai, dan tak terjangkau tangannya.
"Kamu pasti polisi yang menyamar ke sini, kan?" tuduh pria itu makin mendekat.
"Tidak! Tolong pergi kamu" Nayyara menangis makin keras, dia panik merogoh tas kecilnya mencari belati hitam yang masih terbungkus, dia mengusap pelan dengan menangis
"Mas!! Tolong aku!" Mohonnya memanggil Arka. Dia sudah terdesak, punggungnya sudah menempel rapat ke dinding, tak bisa mundur lagi.
"Kya, jangan!" Jerit Nayyara menghunuskan belati itu ke lengan si pria besar.
Bugh!
Baru saja Nayyara memejamkan mata ketakutan karena pria itu sudah mengunci tubuhnya, tiba‑tiba sebuah tendangan keras melayang dari samping tepat mengenai kepala penyerang. Tubuh Nayyara langsung lemas jatuh ke lantai karena takut luar biasa. Dia lega sekali saat menyadari Arka datang tepat waktu.
"Berani‑beraninya kamu menyentuh wanitaku, hah?!" Bentak Arka berapi‑api. "Jaksa… Arka?" Gumam pria itu tergagap.
"Apa hah?! Mau rasakan bogem mentah ku?!" Seru Arka sambil tersenyum dingin. Dia langsung mencekik leher pria raksasa itu hingga tak berdaya. Nayyara ternganga melihat keberanian Arka yang luar biasa. "Argh… ampun! Lepaskan!" Rintih pria itu.
"Kalau berani kamu ulangi akan ku cincang kamu sampai tak bersisa!" ancam Arka tajam.
Bug!
Dengan gerakan cepat dia menjegal kaki lawan hingga jatuh tersungkur, lalu mengeluarkan borgol sisa di saku jas dan mengamankannya. Anak buah mafia itu hanya bisa meronta pasrah.
Akhir kilas balik kejadian.