Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Dingin di Ujung Pelarian
Kereta kuda kayu yang membawa Naomi dan kedua orang tuanya bergerak membelah malam, meninggalkan siluet menara-menara tinggi Kerajaan Sanjaya yang perlahan tenggelam di balik kabut tebal. Roda-roda kayu berderit keras, beradu dengan jalanan berbatu yang tak rata. Pelarian ini dilakukan terburu-buru, tanpa persiapan, dan yang paling menyakitkan, tanpa sepengetahuan Pangeran Ares.
Ratu Ara telah mengatur semuanya dengan sangat rapi. Kereta yang mereka gunakan adalah kereta logistik istana yang biasa, sengaja dipilih agar tidak memancing perhatian para mata-mata dari Kerajaan Warden yang masih berkeliaran di sekitar perbatasan dalam. Dua pengawal elit kepercayaan sang Ratu berkuda di sisi kanan dan kiri kereta, memastikan bahwa aib Raja Sanjaya ini benar-benar lenyap dari tanah mereka tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal kepada sang Putra Mahkota.
Di dalam kereta yang sempit dan pengap, Naomi berbaring di pangkuan Martha. Kain selimut tebal berlapis-lapis telah dibalutkan ke tubuhnya, namun tubuh gadis itu justru bergetar hebat. Bukan karena rasa takut, melainkan karena hawa dingin yang luar biasa mendadak menyerang dari dalam tulang-tulangnya.
"I-Ibu... dingin sekali..." bisik Naomi, suaranya nyaris habis, bergetar di sela-sela gigi yang saling berantuk.
Martha mencengkeram tangan Naomi, dan seketika itu juga wajahnya berubah pias. Kulit Naomi terasa seperti es yang baru diambil dari puncak gunung utara. "Ayah! Cepat tambahkan kayu bakar di tungku kecil atau berikan selimut lagi! Tubuhnya membeku!" seru Martha dengan nada suara yang mulai naik karena panik.
Ayah angkat Naomi, yang duduk di sudut kereta dekat jendela kecil, segera meraba kening Naomi. Bibir gadis itu yang biasanya kemerahan kini berubah menjadi putih pucat, bahkan nyaris membiru. Napas yang keluar dari mulut Naomi membentuk kepulan uap putih, seolah-olah mereka sedang berada di tengah badai salju, padahal udara di luar kereta malam itu hanya angin musim gugur yang biasa.
"Ini bukan dingin biasa, Martha," ujar ayah angkatnya, matanya menyiratkan kegelisahan yang mendalam. Ia menyibak sedikit tirai kereta, melihat ke luar di mana hamparan pohon-pohon mati menandakan mereka telah melewati gerbang perbatasan timur Sanjaya. "Kita sudah keluar terlalu jauh dari tanah Sanjaya. Ini reaksi dari rune itu."
"Apa maksudmu?!" Martha berteriak kecil, air matanya mulai mengalir melihat mata Naomi yang perlahan-lahan mulai membalik lemas.
"Kau lupa apa yang tertulis di kitab kuno istana?" Ayah angkatnya memegangi kepala dengan kedua tangannya yang gemetar. "Rune Sanjaya... kekuatan purba itu terikat dengan inti bumi tempat ia dilahirkan. Ia hanya bisa hidup dan bernapas di dalam atmosfer Kerajaan Sanjaya. Energi di tanah Sanjaya-lah yang selama ini mengimbangi hawa dingin mematikan dari sihir rune. Jika inangnya keluar dari batas kerajaan, rune itu akan membekukan darah pemiliknya sendiri!"
Mendengar hal itu, Naomi mencoba mencengkeram lengan ibunya dengan sisa tenaga yang ada. Rajah hitam di lengan kirinya kini tidak lagi berpendar merah hangat, melainkan tertutup oleh lapisan tipis embun beku yang keluar dari pori-pori kulitnya sendiri. Rasa sakitnya begitu hebat, seolah-olah setiap tetes darah di dalam nadinya sedang berubah menjadi jarum-jarum es yang menusuk jantung.
"A-Ares..." lirih Naomi, kesadarannya mulai timbul tenggelam. Dalam dingin yang mematikan itu, entah mengapa memori tentang kehangatan tubuh Ares saat mereka berpelukan di kamar tempo hari adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh pingsan sepenuhnya. Hanya di dekat Ares, hanya di dalam tembok Sanjaya, ia merasa utuh.
"Bertahanlah, Nak, demi Ibu, bertahanlah!" Martha mendekap tubuh Naomi erat-erat, mencoba membagikan kehangatan tubuhnya sendiri yang sebenarnya tak seberapa. Ia menatap suaminya dengan tatapan putus asa yang menyayat hati. "Kita tidak bisa meneruskan perjalanan ini ke Tang Yang! Jika kita terus berjalan, Naomi akan mati sebelum kita mencapai perbatasan luar! Kita harus kembali, kita harus membawa Naomi pulang ke Sanjaya!"
"Kau gila?!" sahut suaminya, wajahnya dipenuhi rasa dilema yang menyiksa. "Ratu Ara mengawasi kita melalui para pengawal di luar! Jika kita memutar balik kereta ini, mereka tidak akan ragu untuk menebas leher kita di tempat!"
Kereta terus melaju, semakin menjauh dari satu-satunya tempat di dunia yang bisa menjaga Naomi tetap hidup. Di dalam kegelapan kereta yang bergoyang, waktu seolah berjalan mundur bagi Naomi, menghitung mundur sisa-sisa napasnya yang kian mendingin, sementara di balik dinding istana Sanjaya, sang Pangeran masih mencari-cari keberadaan saudarinya tanpa tahu bahwa Naomi sedang meregang nyawa di batas timur yang beku.