NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

badai di luar jendela

Hujan deras disertai angin kencang akhirnya benar-benar mengguyur seluruh penjuru kota Jakarta begitu mobil kami terparkir dengan aman di area parkir bawah tanah apartemen. Suara gemuruh petir yang sesekali menggelegar membuatku reflek merapatkan jaket rajut cokelat mudaku ke tubuh saat melangkah keluar dari lift menuju koridor unit apartemen lantai dua puluh delapan.

"Masuk dan langsung mandi air hangat, Karin. Badan kamu agak gemetaran dari tadi karena kedinginan," perintah Mas Arkan begitu pintu kayu unit 28-B terbuka. Ia meletakkan kunci mobilnya di atas meja konter dapur dengan gerakan cepat.

"Iya, Mas. Terima kasih," jawabku pelan, segera berlari kecil menuju kamarku untuk mengambil handuk dan baju ganti bersih yang nyaman.

Setelah selesai mandi air hangat yang sangat menyegarkan tubuh, aku keluar kamar mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna biru tua dan celana training panjang abu-abu yang sangat longgar. Rambut panjangku yang masih setengah basah kubiarkan terurai bebas di bahu, hanya ditutup oleh handuk kecil putih yang melingkar di leher.

Di ruang tengah, Mas Arkan tampak sudah berganti pakaian santai mengenakan kaos abu-abu lengan pendek yang pas di tubuh tegapnya dan celana kain hitam panjang yang kasual. Ia sedang duduk di atas sofa panjang berkarpet tebal, dengan laptop MacBook-nya yang sudah menyala terang menampilkan lembaran bagan diagram alur sistem informasi milikku di layar.

"Sini duduk, Karin. Bawa draf proposal kamu," panggil Mas Arkan tenang, menepuk-nepuk bagian karpet bulu di sebelah meja kaca yang berada tepat di hadapannya.

Aku berjalan pelan mendekat, lalu mengambil posisi duduk bersila di atas karpet bulu abu-abu yang sangat lembut itu, tepat di sebelah kaki panjang Mas Arkan yang sedang bersandar di sofa. Aku meletakkan tumpukan kertas drafku di atas meja kaca dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Coba tunjukkan bagian mana dari diagram alur ini yang membuat kamu bingung," tanya Mas Arkan sembari mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajahnya berada dalam jarak yang cukup dekat dengan pundakku. Aroma wangi sabun mandi rasa kayu pinus yang sangat maskulin dari tubuhnya langsung menyergap penciumanku, membuat konsentrasiku sempat sedikit buyar selama beberapa detik.

"Ini, Mas..." Aku berdeham pelan untuk menjernihkan suaraku yang tiba-tiba terasa serak karena gugup. Aku menunjuk ke arah bagan relasi antar tabel data di halaman pertengahan diagram alurku. "Saya bingung bagaimana cara menghubungkan tabel transaksi pengguna dengan tabel draf laporan bulanan ini agar datanya tidak mengalami redundansi saat diakses oleh administrator sistem nanti."

Mas Arkan memperhatikan bagian yang kutunjuk dengan seksama. Keningnya berkerut dalam, sepasang matanya yang tajam membaca baris kode penjelasan yang kutulis di bawah gambar diagram dengan sangat teliti.

"Kesalahan kamu ada pada penentuan relasi kunci asing (foreign key) di sini, Karin," jelas Mas Arkan lembut. Ia mengambil sebuah pulpen hitam di atas meja, lalu mulai menggambar garis bantu baru di atas kertas drafku untuk memperjelas alur datanya yang benar. "Tabel transaksi pengguna ini tidak boleh langsung dihubungkan dengan tabel draf laporan secara linier. Kamu harus membuat satu tabel perantara baru yang berfungsi sebagai jembatan transaksi agar datanya tetap konsisten dan tidak berulang saat dibaca oleh sistem database."

Ia menjelaskan detail rumit itu dengan nada suara yang sangat tenang, runut, dan sangat mudah dipahami oleh otakku yang biasanya sangat lambat jika berhadapan dengan logika pemrograman database yang rumit seperti ini. Cara menjelaskannya di rumah ini terasa jauh lebih bersahabat dan sabar dibandingkan saat ia mengajar di depan papan tulis kelas kampus yang menegangkan.

"Oh! Jadi harus lewat tabel jembatan ini dulu ya, Mas? Biar kunci utamanya bisa saling membaca dengan aman?" tanyaku bersemangat dengan binar mata yang tampak sangat cerah karena akhirnya berhasil memahami materi yang membuatku pusing selama berminggu-minggu ini.

Mas Arkan menghentikan penjelasan pulpennya, menatapku langsung dari jarak dekat dengan senyuman tipis yang sangat menawan di kedua sudut bibirnya yang tegas. "Iya, tepat sekali, Karin. Ternyata otak mahasiswi ceroboh saya ini bisa berjalan dengan cepat juga kalau diberi penjelasan dengan sabar di luar jam kuliah."

"Ih, Mas Arkan menyindir saya lagi ya!" gerutuku pura-pura kesal sambil memukul pelan lengan tegapnya menggunakan ujung pulpenku, membuat tawa renyah yang sangat merdu kembali terdengar dari mulut dosen killer-ku itu di tengah gemuruh hujan badai yang masih deras mengguyur kaca jendela apartemen kami malam itu.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!