-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Jakarta di malam hari adalah labirin lampu yang angkuh, dan bagi Bianca, setiap jengkal aspalnya terasa seperti paku panas yang menembus memori. Setelah hari yang melelahkan di kantor, ia mengira Arlan akan membawanya pulang ke penthouse untuk bersembunyi dari badai yang mulai ditiupkan Stella. Namun, sedan hitam itu justru berhenti di depan lobi sebuah restoran fine dining di kawasan SCBD yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki nama atau saldo tanpa batas.
"Tuan, saya rasa ini bukan tempat yang tepat untuk saya," bisik Bianca sambil menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Gaun wol yang dibelikan Arlan tadi pagi memang membalutnya dengan sempurna, namun mentalnya masih tertinggal di dapur villa desa.
Arlan tidak menjawab. Ia hanya mematikan mesin, lalu menoleh dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Malam ini, aku tidak sedang makan dengan asistenku. Aku makan dengan wanita yang berani menatap mataku saat semua orang menunduk. Turunlah."
Kalimat itu bukan permintaan, melainkan perintah yang dibungkus dengan nada protektif yang dalam.
Suasana di dalam restoran begitu tenang, hanya ada denting harpa yang samar dan aroma bunga lili segar. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat mereka diarahkan menuju meja di sudut ruangan. Di tengah jalan, langkah Arlan melambat, dan Bianca merasakannya—sebuah tarikan gravitasi negatif yang berasal dari sebuah meja di tengah ruangan.
Di sana, duduklah Stella. Ia tampak mempesona dengan gaun sequin emas yang berkilau, ditemani oleh seorang pria paruh baya yang tampak berpengaruh. Stella sedang tertawa renyah, namun tawa itu terhenti di tenggorokan saat matanya menangkap sosok Arlan, dan kemudian beralih pada wanita yang berjalan di sisi pria itu.
"Arlan?" Stella berdiri, suaranya cukup keras untuk membuat beberapa tamu menoleh. "Aku tidak menyangka kamu punya selera makan yang serendah ini sampai harus membawa... pelayanmu ke tempat seperti ini?"
Stella melangkah mendekat, aroma parfumnya yang berat menyerang indera penciuman Bianca. Ia menatap Bianca dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina yang kental.
"Baju yang bagus, Sayang," Stella menyentuh lengan baju Bianca dengan ujung kukunya yang runcing. "Tapi sayang, kain mahal tidak bisa menutupi bau kemiskinan, bukan?"
Arlan melangkah maju, tubuhnya yang tegap menghalangi pandangan Stella pada Bianca. "Stella, aku sedang tidak ingin membuang waktu untuk dramamu. Minggirlah."
"Drama?" Stella tertawa sinis, matanya melirik pria di mejanya, lalu kembali pada Bianca. "Aku hanya ingin mengingatkan asistenmu ini, Arlan. Jangan terlalu nyaman. Kursi yang kamu duduki sekarang adalah kursiku. Dan kamu," Stella menatap tajam ke arah Bianca, "hanya sisa-sisa yang kupakai. Kamu pikir kamu terlihat berkelas? Kamu hanyalah barang rongsokan yang dipoles ulang."
Bianca menarik napas dalam-dalam. Dulu, Bianca yang berumur dua puluh tahun mungkin akan menyiramkan segelas anggur ke wajah Stella. Namun, Bianca yang sekarang adalah wanita yang telah ditempa oleh dinginnya dinding jeruji dan heningnya perkebunan teh.
Ia melangkah keluar dari balik punggung Arlan. Ia tidak berteriak. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat tenang hingga membuat Stella terlihat kecil.
"Nyonya Stella," suara Bianca mengalir dengan diksi yang sangat teratur. "Berlian yang Anda pakai sangat indah. Tapi sayangnya, berlian itu tidak bisa membeli satu hal yang sangat saya hargai saat ini: kedamaian. Jika menurut Anda saya adalah sisa-sisa, maka saya adalah sisa yang cukup berharga untuk membuat Anda masih merasa perlu berdiri dan berteriak seperti ini. Orang yang benar-benar berkelas tidak perlu mengumumkan siapa yang ia benci di depan umum."
Wajah Stella memerah padam. "Kamu—!"
"Cukup," Arlan menyela, suaranya rendah dan sangat berbahaya. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu untuk menghinanya, Stella, dan aku pastikan pria yang bersamamu malam ini akan menarik seluruh investasinya dari perusahaan keluargamu besok pagi. Kamu tahu aku tidak pernah menggertak."
Stella terdiam, matanya berkilat penuh dendam. Ia menoleh pada pria di mejanya yang tampak tidak nyaman, lalu kembali pada Arlan.
"Kamu melindunginya karena kamu buta, Arlan!"
Arlan mengabaikan Stella. Ia meraih tangan Bianca—sebuah genggaman yang kuat dan posesif—lalu menuntunnya melewati Stella seolah wanita itu hanya patung yang tidak berarti.
Makan malam itu berlangsung dengan ketegangan yang merambat. Bianca hampir tidak menyentuh makanannya.
**
Malam di Jakarta Pusat selalu terasa mencekam dengan caranya sendiri. Bagi Bianca, penthouse Arlan adalah sangkar emas yang jauh lebih menyesakkan daripada sel penjara yang pernah ia huni. Setelah insiden di restoran dan ketegangan dengan Stella, udara di dalam lift pribadi menuju lantai teratas gedung itu terasa sangat tipis.
Saat pintu lift berdenting terbuka, Bianca segera melangkah menuju koridor bawah, arah di mana kamar tamu kecil untuk asisten dan pelayan berada. Namun, sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun sangat menuntut.
"Mau ke mana?" suara rendah Arlan memecah kesunyian.
"Ke kamar saya, Tuan. Saya perlu membersihkan diri dan istirahat," jawab Bianca tanpa menoleh. Ia mencoba menjaga suaranya tetap datar, meski jantungnya berdegup tidak keruan.
"Mulai malam ini, kamarmu bukan di sini," Arlan menarik Bianca pelan namun pasti, membimbingnya kembali ke arah lift pribadi yang menuju lantai kedua penthouse itu—area yang hanya diperuntukkan bagi pemilik rumah.
"Kamarmu ada di lantai atas. Di samping kamarku."
Bianca tersentak. Ia menghentikan langkahnya, membuat Arlan terpaksa berhenti dan berbalik.
"Tuan Arlan, itu tidak pantas. Saya di sini sebagai asisten, sebagai pelayan Anda. Menempatkan saya di samping kamar utama hanya akan memicu fitnah."
Arlan memicingkan mata. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Bianca bisa mencium aroma sisa-sisa wine dan parfum maskulin yang berat dari tubuh pria itu. Arlan menunduk, menatap Bianca dengan intensitas yang nyaris bersifat predator.
"Aku tidak peduli dengan apa yang dunia katakan, Gita. Aku sedang tidak memintamu, aku sedang memerintahmu," desis Arlan. Ia mengangkat tangan satunya, menyelipkan sejumput rambut Bianca ke belakang telinga wanita itu. Sentuhannya dingin namun membakar.
"Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milikku, bahkan seujung kuku pun, tanpa izin dariku."
"Milik Anda?" Bianca tertawa getir, matanya yang tajam kini menatap langsung ke manik mata Arlan. Identitasnya sebagai Bianca yang cerdas dan berani mulai muncul, mengoyak topeng "Gita" yang lembut.
"Sejak kapan saya menjadi milik Anda, Tuan? Saya adalah manusia bebas, bukan aset perusahaan yang bisa Anda pindahkan sesuka hati."
"Sejak aku bertemu kamu di villa," balas Arlan cepat. Arlan menarik Bianca lebih dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu di masa lalu, tapi aku ingin memperbaiki hidupmu yang sempat hancur itu, Gita."
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh