Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJI COBA SEBUAH RASA.
Damar menatap tumpukan berkas di atas meja kerjanya dengan pandangan kosong. Fokusnya benar-benar buyar pagi ini. Setiap ucapan Kirana, mulai dari foto rahasia, isi dompet, hingga kejadian yang menimpa Susan di taman kampus kemarin, terbukti akurat tanpa meleset sedikit pun. Rasa resah yang mendalam perlahan mulai menggerogoti ketenangan jiwanya. Karena tidak tahan lagi dilingkupi kegelisahan, Damar akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dicky dan memintanya segera datang ke kantor.
Begitu Dicky tiba dan mendudukkan diri di sofa ruang kerja, Damar langsung mengutarakan seluruh isi pikirannya tanpa basa-basi.
"Dicky, bagaimana kalau semua hal buruk yang ditakutkan Kirana itu benar-benar akan terjadi di dunia nyata? Apa menurut lo, gue harus mulai mempersiapkan surat wasiat untuknya dari sekarang?" tanya Damar dengan nada suara yang terdengar sangat frustrasi.
Dicky seketika membelalakkan matanya dan langsung menggeleng keras. "Jangan berbicara sembarangan seperti itu, Damar! Ucapan bisa menjadi doa. Menurut pandanganku, semua rentetan kejadian aneh ini mungkin sengaja diberikan sebagai peringatan keras untuk kalian berdua."
Damar mengernyitkan dahinya. "Peringatan bagaimana maksud lo?"
"Selama dua tahun ini, hubungan pernikahan kalian berdua terlalu dingin," ujar Dicky yang memang tahu betul seluk beluk kehidupan rumah tangga sahabatnya itu. "Padahal, kalian ini sebenarnya mungkin sama-sama saling mencintai. Tapi kalian juga sama-sama egois, tidak ada satu pun yang mau mengalah sedikit saja untuk memperbaiki keadaan."
Damar mengembuskan napas berat, menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran. "Gue bukan tidak ingin memperbaiki hubungan kami, Dic. Hanya saja gue merasa takut. Dulu, setiap kali kulit kami tidak sengaja bersentuhan, tubuh Kirana pasti langsung gemetar hebat. gue tahu dia memiliki trauma mendalam karena pernah hampir diperkosa. Yaa, daripada dia tersiksa berada di dekat gue, jadi gue pikir lebih baik kami menjaga jarak agar dia merasa aman."
"Tapi tindakan lo itu salah besar, Kawan! Seharusnya lo bantu dia mengobati trauma itu, bukan malah membiarkannya larut dalam ketakutan dan menarik diri," tegas Dicky memberikan pandangan medisnya. "Justru karena sikap dingin lo itu, mungkin dia sempat berpikir untuk bercerai. Ingat tidak, di dalam mimpinya dia bilang kalian bercerai? Itu tandanya alam bawah sadarnya memang sempat memikirkan jalan perpisahan."
Damar seketika terdiam seribu bahasa. Kalimat Dicky barusan bagai hantaman keras yang menyadarkannya. Spekulasi itu terasa sangat masuk akal di kepalanya.
"Sudahlah, sekarang lebih baik lo mengambil hikmah positif dari semua kejadian ini," lanjut Dicky memecah keheningan. "Bukankah sekarang Kirana sudah tidak takut lagi saat berbicara atau bahkan saat mendadak memeluk lo? Itu adalah tanda yang sangat jelas kalau traumanya terhadap sentuhan fisik sudah sembuh total."
Damar mendongak, mendengarkan saran sahabatnya dengan saksama.
"Jadi, manfaatkan momen dari mimpi Kirana ini untuk memperbaiki hubungan kalian dari dasar. Siapa tahu, dengan semakin membaiknya hubungan kalian, malapetaka mengerikan itu bisa benar-benar terhindari," pungkas Dicky menyemangati.
Setelah Dicky pamit undur diri, Damar kembali termenung seorang diri. Kalau dipikir-pikir kembali, beberapa hari ini Kirana memang menjadi sangat hobi menubruk dan memeluk tubuhnya. Namun, karena saat itu Damar terlalu panik memikirkan ramalan kematian, ia sampai lupa memperhatikan detail kecil, apakah tubuh Kirana masih gemetar seperti dulu atau tidak.
Rasa penasaran mulai membuncah di dalam dada pria tegap itu. Ia bertekad kuat untuk mencoba memeluk Kirana kembali sore nanti, murni untuk membuktikan apakah trauma terhadap sentuhan fisik itu memang sudah sembuh total seperti yang dikatakan oleh Dicky.
Sore harinya, Damar mengemudikan mobilnya menuju area kampus Kirana untuk menjemput sang istri. Memang, semenjak Kirana dilingkupi ketakutan masif tentang masa depan, Damar sudah berkomitmen untuk selalu menjemput istrinya setiap kali pulang kuliah. Lagipula, hal itu juga merupakan permintaan protektif dari Kirana sendiri.
Begitu pintu mobil terbuka dan Kirana mendudukkan diri di samping kemudi, gadis itu langsung bercerita dengan menggebu-gebu sepanjang perjalanan pulang.
"Kak Damar tahu tidak? Tadi siang di kampus ada kehebohan besar! Tiba-tiba saja datang beberapa mobil polisi dan langsung menangkap si Hendi itu di depan koridor utama!" seru Kirana dengan sepasang mata yang berbinar puas.
Damar melirik sekilas ke arah istrinya sembari tetap fokus pada jalanan di depan. "Oh ya? Atas kasus apa dia ditangkap?"
"Kasus penipuan dan penggelapan dana mahasiswa, Kak! Rasakan itu! Dasar laki-laki brengsek tidak tahu diri! Mampus kan sekarang dia harus membusuk di dalam penjara!" umpat Kirana berapi-api, mengepalkan tangan mungilnya ke udara.
Damar yang mendengar rentetan umpatan tersebut langsung berdeham pelan untuk menegur tingkah istrinya. "Kiran, jaga bicaramu. Jangan berkata kasar seperti itu, tidak baik didengar orang lain."
Kirana langsung menoleh dan menjulurkan lidahnya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan. "Biarkan saja, Kak. Habisnya aku kesal sekali dengan pria model begitu."
Sesampainya di rumah mereka yang sepi, Damar memutuskan bahwa inilah waktu yang paling tepat untuk membuktikan perkataan Dicky. Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang tengah, Damar sengaja menghentikan langkahnya. Ia memegangi pelipisnya dengan tangan kanan, memasang raut wajah yang tampak sangat kesakitan.
"Aduh..." keluh Damar dengan suara melengking rendah, sengaja menyandarkan tubuh tegapnya ke dinding pembatas seolah-olah hampir limbung dan kehilangan keseimbangan.
Kirana yang berjalan di belakangnya seketika tersentak kaku. Wajahnya mendadak berubah menjadi sangat pucat karena panik melihat kondisi suaminya yang tidak biasa. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Kirana langsung menghambur maju dan menangkap tubuh Damar, membiarkan tubuh tegap suaminya bersandar sepenuhnya pada bahu mungilnya.
"Kak Damar! Kakak kenapa? Ada apa dengan Kakak?" tanya Kirana dengan nada suara yang sangat panik dan gemetar, kedua tangannya bergerak cepat memeluk pinggang Damar dengan erat agar pria itu tidak terjatuh ke lantai.
Damar memejamkan matanya, berpura-pura menahan sakit yang luar biasa. "Kepalaku mendadak terasa sangat pusing dan berputar, Kiran."
"Kalau begitu Kakak harus segera istirahat! Ayo, kita ke kamarku saja yang ada di lantai bawah ini," perintah Kirana dengan tegas sembari menuntun langkah kaki Damar dengan sangat hati-hati. "Kakak sama sekali tidak diperbolehkan naik ke lantai dua dulu untuk saat ini. Tangganya terlalu tinggi, aku takut nanti Kakak malah pingsan dan menggelinding jatuh ke bawah."
Sembari membiarkan tubuhnya dituntun oleh sang istri menuju kamar tidur di lantai bawah, Damar diam-diam membuka sedikit kelopak matanya. Ia memperhatikan jemari tangan Kirana yang mencengkeram erat lengan kemejanya. Tidak ada lagi guncangan ketakutan. Tidak ada lagi tubuh yang gemetar hebat karena trauma masa lalu. Sentuhan Kirana kini terasa sangat hangat, kokoh, dan sarat akan rasa kepedulian yang tulus. Damar mengulas senyuman tipis yang sangat samar di sudut bibirnya, istrinya memang benar-benar telah sembuh.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪