"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angka yang Bicara dan Semangkuk Soto Hangat
Ruang Sidang Senat mendadak senyap. Bunyi dengung pendingin ruangan yang sebelumnya tak terdengar kini terasa dominan. Di ujung meja, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Pak Haris, membetulkan letak kacamatanya. Pria paruh baya itu menarik ordner biru milik Lyana, membuka halaman pertamanya dengan gerakan pelan yang terasa menyiksa bagi siapa pun yang menonton.
Satria mendengus pelan. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada. "Kertas bisa dicetak ulang kapan saja, Pak. Apalagi kalau mereka punya waktu semalaman untuk merekayasa angka."
Lyana tidak menoleh pada Satria. Pandangannya tetap lurus, tertuju pada Pak Haris. Buku-buku jarinya yang bertumpu di atas meja tampak memutih, namun suaranya keluar dengan sangat stabil.
"Di halaman tiga, Bapak bisa melihat salinan rekening koran asli dari bank, dicetak dengan stempel basah pihak customer service pagi ini jam tujuh tepat," terang Lyana. "Saldo kas BEM per detik ini adalah lima juta delapan ratus ribu rupiah. Tidak ada mutasi keluar sejak tanggal empat belas bulan lalu. Sama sekali tidak ada."
Pak Haris membalik halaman. Matanya menelusuri deretan angka di atas kertas berlogo bank tersebut, lalu membandingkannya dengan buku kas besar BEM yang ditulis tangan oleh Lyana.
"Lalu, dari mana uang yang diberikan Rumi kepada orang di foto ini?" tanya Pak Haris. Nada bicaranya netral, murni menuntut penjelasan logis.
Kali ini, Rumi yang mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia meletakkan selembar kertas print-out dari mobile banking miliknya, bersebelahan dengan tiga lembar foto kuitansi yang dikirimkan Bimo subuh tadi.
"Itu uang tabungan pribadi saya, Pak," jawab Rumi tegas. Ia menunjuk deretan waktu yang tertera di kertas. "Saya melakukan penarikan tunai di ATM bank depan gerbang kampus pada pukul 14.15 WIB sebesar satu juta rupiah. Di sebelah kanan Bapak, itu adalah nota pembelian cat, kuas, dan penyewaan scaffolding dari toko besi 'Maju Jaya' di Pasar Legi, tertanggal kemarin pukul 15.30 WIB. Totalnya sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah. Fotokopi KTP penerima dana, Bimo, juga sudah saya lampirkan."
Satria mencondongkan tubuhnya, rahangnya mulai terlihat kaku. "Tunggu dulu. Kalau memang itu uang pribadi, kenapa dibungkus pakai amplop berlogo BEM? Lo pikir kita bodoh? Lo pasti sengaja bawa-bawa institusi buat flexing di depan anak jalanan!"
"Saya mengaku salah soal amplop itu," Rumi menoleh ke arah Satria, menatap mata lawannya tanpa gentar. "Saya ceroboh. Saya buru-buru dan mengambil satu-satunya amplop kosong yang ada di tas saya, yang kebetulan adalah sisa surat menyurat acara bulan lalu. Itu murni kesalahan administrasi yang bodoh dari saya secara personal. Tapi menuduh saya dan bendahara saya melakukan korupsi dana mahasiswa? Itu fitnah yang terlalu jauh, Satria."
Pak Haris mengangkat tangannya, menghentikan Satria yang baru saja membuka mulut untuk mendebat. Ruangan kembali hening. Pria paruh baya itu membolak-balik bukti penarikan pribadi Rumi, nota toko besi, dan rekening koran BEM. Angkanya, waktunya, alur logikanya—semuanya mengunci dengan sempurna. Tidak ada celah.
"Saya rasa buktinya sudah sangat jelas," Pak Haris akhirnya menutup ordner biru itu, melepaskan kacamatanya, dan memijat pangkal hidungnya. "Secara finansial, BEM terbukti bersih. Tidak ada penyelewengan dana satu rupiah pun. Laporan kas kalian sangat rapi, Lyana. Saya apresiasi itu."
Lyana menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan di rongga dadanya. Bahunya yang tegang seketika merosot sedikit. Ia melirik Rumi dari sudut matanya, dan menemukan laki-laki itu sedang menatapnya dengan lengkungan senyum tipis yang sarat akan kelegaan.
"Namun, Rumi," nada bicara Pak Haris memberat, kali ini berubah menjadi teguran seorang pendidik. "Tindakanmu menggunakan atribut resmi institusi untuk kegiatan pribadi, sekecil apa pun itu, adalah pelanggaran etika administrasi. Organisasi ini punya wibawa yang harus dijaga. Kesalahan konyol seperti ini memberi ruang bagi kecurigaan yang tidak perlu, seperti yang terjadi hari ini."
"Saya mengerti, Pak. Saya siap menerima sanksi administratif untuk itu," jawab Rumi tanpa ragu.
"Saya berikan Surat Peringatan Tertulis pertama untuk Saudara Presiden. Dan saya minta, semua urusan bantuan sosial di luar program kerja resmi tidak lagi menggunakan embel-embel kampus tanpa izin dekanat. Mengerti?"
"Mengerti, Pak," sahut Rumi patuh.
Pak Haris menoleh ke arah barisan Senat. "Dan untuk Satria, dan seluruh anggota Senat. Fungsi pengawasan kalian memang diperlukan. Tapi sebelum memanggil sidang darurat dan menyebarkan tuduhan fatal, pastikan kalian melakukan konfirmasi awal yang komprehensif. Jangan sampai energi kita habis hanya karena selembar amplop bekas."
Satria menelan ludah. Wajahnya merah padam menahan malu, namun ia terpaksa mengangguk kaku. Palu kayu diketuk pelan oleh Pak Haris. Sidang ditutup.
Satu per satu anggota Senat keluar ruangan dengan langkah canggung. Satria adalah orang pertama yang meninggalkan ruangan tanpa menatap Rumi atau Lyana, membanting pintu kayu itu sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Lyana membereskan kembali dokumen-dokumennya ke dalam ordner biru. Tangan gadis itu sedikit gemetar saat memasukkan klip kertas terakhir. Adrenalin yang membakarnya sejak jam dua dini hari tadi perlahan menyusut, meninggalkan rasa kebas dan lelah yang luar biasa hebat.
"Kita menang," bisik Rumi. Laki-laki itu berdiri, lalu bersandar pada tepi meja, menatap Lyana.
"Kita nggak menang, Mas. Kita cuma selamat," koreksi Lyana pelan. Ia memeluk ordner itu ke dadanya, lalu berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. "Ayo keluar. Aku butuh oksigen. AC di sini bikin perutku mual."
Mereka melangkah keluar dari gedung rektorat. Gerimis pagi sudah reda, menyisakan udara Solo yang sejuk dan bau tanah basah yang menenangkan. Langit masih tertutup awan abu-abu, tapi bagi Lyana, hari ini terasa jauh lebih cerah dari sebelumnya.
Saat mereka tiba di anak tangga terakhir pelataran fakultas, lutut Lyana akhirnya menyerah. Pertahanannya runtuh. Gadis itu terhuyung, nyaris jatuh terduduk jika Rumi tidak dengan sigap menangkap lengan kirinya.
"Lyan!" Rumi menahan tubuh Lyana, wajahnya seketika panik. "Hei, kamu kenapa? Pusing?"
Lyana memejamkan mata, bersandar sejenak pada pegangan tangan Rumi. Ia menggeleng lemah. "Cuma... cuma lemas. Aku baru sadar aku belum makan dari kemarin sore karena mual mikirin sidang ini."
Rasa bersalah kembali melintas di mata Rumi. Laki-laki itu menggeser posisinya, membiarkan Lyana bersandar lebih nyaman di lengannya. "Kamu duduk di lobi dulu. Biar aku yang bawa motor ke sini."
Sepuluh menit kemudian, motor Rumi membelah jalanan kota Solo yang belum terlalu padat. Lyana duduk di boncengan, mencengkeram ujung jaket Rumi dengan sisa tenaga yang ia punya. Udara pagi yang menerpa wajahnya perlahan mengembalikan kesadarannya.
Rumi tidak membawanya kembali ke kos. Motor itu justru berbelok masuk ke sebuah gang kecil di daerah Gading, dan berhenti di depan sebuah warung tenda sederhana yang sudah mengepulkan asap kaldu yang menggugah selera. Soto Gading Pak Kardi.
"Turun," perintah Rumi halus saat ia menurunkan standar motornya. "Kita isi bensin dulu. Muka kamu udah pucat kayak kapas."
Warung itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa bapak-bapak yang sedang membaca koran sambil menyeruput teh hangat. Rumi memilih meja kayu di sudut yang agak terlindung dari angin luar. Tanpa bertanya, ia memesan dua mangkuk soto ayam pisah nasi, lengkap dengan teh kampul hangat.
Saat mangkuk soto yang mengepul itu disajikan di meja mereka, Lyana hanya menatapnya kosong selama beberapa detik. Aroma kaldu ayam yang gurih, taburan bawang merah goreng, dan irisan seledri itu entah mengapa membuat matanya tiba-tiba memanas.
Ia baru saja hampir kehilangan segalanya. Kuliahnya, masa depannya, harapan ibunya di kampung. Semua itu nyaris direnggut oleh selembar amplop cokelat.
Terdengar bunyi logam beradu dengan porselen. Rumi meletakkan sendok ke dalam mangkuk Lyana, lalu mendorong mangkuk itu lebih dekat ke arah gadis itu.
"Dimakan, Lyan. Jangan diaduk pakai air mata, nanti asin," ucap Rumi pelan, berusaha mencairkan suasana dengan nada usilnya yang khas.
Lyana mendongak. Setetes air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos, membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan, merasa bodoh karena menangis di depan Rumi hanya gara-gara semangkuk soto.
"Aku nggak nangis," kilah Lyana dengan suara serak, mulai menyendok kuah sotonya. Hangatnya kaldu itu mengalir ke tenggorokannya, perlahan mengurai simpul-simpul ketegangan di perutnya.
Rumi tersenyum maklum. Ia ikut memakan sotonya dalam diam, membiarkan Lyana menikmati waktu untuk memulihkan diri. Tidak ada pembicaraan soal birokrasi kampus, tidak ada Satria, tidak ada Senat. Di meja kayu lapuk ini, mereka hanyalah dua orang mahasiswa yang kelaparan setelah terjaga semalaman.
Setelah separuh mangkuknya tandas, Lyana meletakkan sendoknya. Ia menatap Rumi yang sedang sibuk memisahkan potongan tomat dari piringnya—kebiasaan kecil yang baru Lyana sadari hari ini.
"Mas Rumi," panggil Lyana.
Rumi mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Hm?"
"Semalam... waktu kamu bilang mau mundur buat ngelindungin namaku," Lyana menelan ludah, menatap cangkir teh kampul di depannya. "Itu serius?"
Gerakan tangan Rumi terhenti. Laki-laki itu meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap Lyana, dan kali ini, tidak ada dinding pelindung atau topeng Presiden BEM yang kaku. Hanya ada kejujuran.
"Serius," jawab Rumi mantap. "BEM itu penting. Idealisme itu penting. Tapi, nggak ada satu pun dari itu yang sepadan kalau harus numbalin kamu. Kamu berhak ada di kampus ini lebih dari siapa pun, Lyan. Kamu berjuang lebih keras dari siapa pun yang aku kenal."
Dada Lyana berdesir hangat. Kalimat itu diucapkan tanpa nada merayu, tanpa dramatisasi. Murni sebuah pengakuan atas keberadaan dan kerja kerasnya.
"Makasih," bisik Lyana, membalas tatapan laki-laki itu. "Tapi aku juga nggak bakal biarin kamu mundur. Anak-anak mural itu, mereka butuh kamu. BEM butuh kamu. Meskipun cara kerjamu kadang bikin aku pengen lempar kalkulator ke kepalamu."
Rumi tertawa renyah, tawa yang menggetarkan bahunya dan menular begitu saja ke udara di sekitar mereka. Lyana ikut tersenyum. Beban berat yang bertengger di pundak mereka selama dua puluh empat jam terakhir akhirnya benar-benar terangkat.
"Berarti mulai sekarang, kalau ada apa-apa, nggak ada lagi yang disembunyiin?" Rumi mencondongkan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan, menatap Lyana dengan sorot mata yang terasa lebih dalam dari sekadar rekan kerja.
"Nggak ada," Lyana mengangguk pasti. "Mulai besok, kamu bawa proposal muralmu ke sekre. Kita bedah bareng-bareng. Aku bakal ajarin anak-anak jalanan itu cara bikin RAB yang benar biar dekanat nggak bisa nolak."
"Siap, Bendahara." Rumi tersenyum lebar.
Mereka kembali menghabiskan sisa soto di dalam mangkuk masing-masing, ditemani suara rintik hujan yang kembali turun membasahi atap terpal warung. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas pagi kota Solo, Lyana menyadari satu hal. Dunia mereka mungkin memang berbeda. Rumi dengan ketidakteraturannya yang berani, dan dirinya dengan perhitungannya yang kaku. Namun, di atas meja ini, di antara tumpukan kertas semalam dan mangkuk soto pagi ini, mereka telah menemukan cara untuk membuat kedua dunia itu saling melengkapi.