Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah-Langkah di Kegelapan
Di balik pintu kayu jati kokoh di lantai dua, Clara Wijaya duduk meringkuk di atas tempat tidurnya. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kardigan rajut abu-abu yang dikenakannya.
Di dalam kamar yang kini gelap gulita karena padamnya aliran listrik, suara derai hujan yang menghantam jendela kaca terdengar seperti ketukan ribuan jemari yang tidak sabar. Namun, bukan suara hujan yang membuat jantung Clara berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya.
Melainkan kesunyian di dalam rumah.
Kesunyian yang tidak biasa. Sunyi yang begitu pekat, seolah-olah seluruh udara di kediaman ini sedang tertahan, menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi. Clara teringat kata-kata terakhir Nathan sebelum memintanya mengunci diri. Badai di luar sudah mulai mendekat, Nona.
Apakah yang dimaksud Nathan adalah badai hujan ini? Ataukah ada hal lain yang jauh lebih mengerikan sedang merayap di dalam kegelapan rumahnya? Clara meraba saku kardigannya, mengeluarkan ponselnya. Layar ponselnya menyala, menampilkan visual jam yang menunjukkan pukul 20.15 malam, namun di sudut kanan atas, tidak ada satu pun baris sinyal yang terdeteksi. Hanya ada tulisan dingin: Tidak Ada Layanan.
Di lantai bawah, di tengah koridor gelap yang menghubungkan dapur dan ruang tengah, Nathan berdiri diam tak bergerak. Ia menyatu sempurna dengan bayangan pilar marmer besar. Napasnya teratur, perlahan, dan hampir tanpa suara, sebuah teknik pernapasan militer (tactical breathing) yang dirancang untuk menjaga detak jantung tetap berada di bawah 90 denyut per menit, memastikan fokus visual dan pendengarannya tetap tajam di batas maksimal.
Dari arah lobi utama, suara derit halus dari alat pemotong kaca taktis milik Tim Alpha akhirnya terhenti.
Clek.
Suara kunci pintu kaca depan yang diputar secara paksa terdengar samar. Nathan menggeser pandangannya secara mikro. Matanya yang telah sepenuhnya beradaptasi dengan kegelapan menangkap siluet empat orang berpakaian taktis hitam yang melangkah masuk ke dalam lobi dengan gerakan menyebar.
Mereka menggunakan formasi berlian, saling menjaga sudut pandang 360 derajat. Laras senapan serbu pendek mereka bergerak perlahan ke kiri dan ke kanan, membelah kegelapan menggunakan sinar inframerah yang hanya bisa dilihat melalui kacamata malam yang mereka kenakan.
Namun, penglihatan malam memiliki satu kelemahan besar, kedalaman ruang yang terbatas dan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan cahaya mendadak. Dan Nathan mengetahui hal itu dengan sangat baik.
Di headset komunikasi internal musuh yang sempat ia sita dari jasad di dapur, suara desisan statis kembali terdengar.
"Alpha Satu, di sini Gamma Satu," suara pria dengan luka bakar di tangan, pemimpin Tim Gamma yang berada di pintu darurat belakang berbisik dengan nada menuntut. "Bagaimana situasi di depan? Beta tidak merespons panggilan rutin kami sejak tiga menit lalu. Sesuatu yang aneh sedang terjadi di dalam."
Pria yang memimpin Tim Alpha di lobi depan menekan tombol komunikator di kerah bajunya. "Alpha Satu di sini. Pintu depan berhasil dijebol. Ruang tengah kosong dan gelap gulita. Kami akan bergerak memutar menuju area dapur untuk memeriksa Tim Beta. Tetap waspada."
Pria itu memberi isyarat tangan kepada tiga anak buahnya. Dua orang bergerak maju untuk mengamankan tangga utama yang menuju ke lantai dua, sementara satu orang bergerak di belakangnya untuk menjaga koridor kiri yang mengarah ke dapur.
Nathan tidak terburu-buru untuk menyerang. Ia membiarkan mereka menyebar. Di dalam pertempuran jarak dekat (Close Quarters Battle), memisahkan unit musuh adalah kunci utama untuk menghabisi mereka tanpa menimbulkan kepanikan massal.
Salah satu anggota Tim Alpha, seorang pria dengan tubuh sedang yang membawa senapan serbu berperedam suara, melangkah perlahan menyusuri koridor gelap tempat Nathan bersembunyi. Sinar inframerah dari monokular malam di helmnya menyapu dinding kayu mahoni, melewati pilar tempat Nathan berdiri.
Pria itu melangkah satu kali lagi. Jaraknya dengan Nathan kini hanya tersisa 1 meter.
Dengan kecepatan yang melampaui refleks manusia biasa, Nathan bergerak keluar dari balik pilar. Tangan kirinya melesat maju, telapak tangannya menangkis laras senapan musuh ke arah atas, sementara tangan kanannya yang memegang pisau taktis berujung karbon hitam meluncur ke depan dengan presisi yang mengerikan.
Jleb.
Pisau itu menusuk tepat di celah antara rompi antipeluru dan helm taktis musuh, menembus bagian belakang leher dan memotong sumsum tulang belakangnya seketika.
Tubuh pria itu langsung kehilangan seluruh fungsi motoriknya. Sebelum senapan serbunya jatuh menghantam lantai marmer dan menimbulkan suara bising, Nathan sudah terlebih dahulu menangkap senjata tersebut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menahan dada pria itu agar tidak ambruk dengan keras.
Nathan menurunkan jasad pria itu ke lantai dengan kelembutan yang aneh. Ia mengambil kacamata malam milik musuh, memasangkannya ke kepalanya sendiri, dan mengaktifkan dayanya.
Seketika, dunia yang gelap gulita di matanya berubah menjadi hamparan visual hijau terang yang sangat jelas. Seluruh koridor, sudut pilar, hingga partikel debu yang melayang di udara kini terlihat dengan detail yang mutlak.
Ia melirik jam taktisnya.
Tersisa dua belas musuh.
Nathan mengambil senapan serbu pendek milik musuh yang telah ia amankan, melepaskan magasinnya, lalu mengantonginya di balik jas hitamnya. Ia tidak akan menggunakan senjata api tersebut kecuali dalam kondisi terdesak. Keheningan adalah senjata terkuatnya malam ini.
Sementara itu, di area lobi depan, pemimpin Tim Alpha mulai menyadari ada yang tidak beres.
"Alpha Empat, laporkan posisimu," bisiknya melalui radio internal. "Kamu terlalu jauh di koridor barat. Jawab."
Hanya ada suara desisan statis yang dingin di seberang saluran.
"Sial," umpat pemimpin Alpha dengan suara sangat rendah. Ia segera memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang berada di dekat tangga utama. "Alpha Empat kehilangan kontak. Batalkan pengamanan tangga. Kita berkumpul kembali dan bergerak dalam formasi rapat ke koridor dapur."
Kedua anak buahnya langsung memutar arah laras senjata mereka, bergerak mundur dengan sangat hati-hati menuju lobi tengah. Mereka kini bergerak dalam formasi segitiga yang sangat rapat, saling melindungi punggung masing-masing.
Namun, di bawah pengawasan kacamata malam yang kini dikenakan Nathan, gerakan mereka tampak seperti target latihan menembak yang lambat. Nathan berdiri di ujung lorong tengah yang gelap, memegang pistol taktis berperedam kaliber 9 mm miliknya dengan kedua tangan yang sangat stabil.
Ia membidik pria yang berada di posisi paling belakang dari formasi segitiga tersebut.
Pfft!
Suara desisan halus berbarengan dengan suara gemuruh guntur dari luar rumah yang meredam bunyi tembakan. Peluru kaliber 9 mm melesat tanpa suara, menembus bagian belakang kepala pria tersebut dengan presisi mutlak. Pria itu langsung tersungkur maju ke depan tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Kontak! Dari arah lorong tengah!" teriak pemimpin Alpha panik saat melihat anak buahnya ambruk di depannya.
Kedua orang yang tersisa langsung melepaskan tembakan beruntun ke arah lorong gelap tempat Nathan berada.
Pfft-pfft-pfft-pfft!
Rentetan peluru berperedam suara menghantam dinding marmer dan pilar kayu koridor, mengirimkan serpihan kayu dan debu ke udara. Namun, Nathan sudah tidak berada di posisi tersebut. Begitu melepaskan satu tembakan, ia langsung berguling dengan sangat halus ke balik sofa beludru besar di ruang tengah, lalu bergerak memutar ke arah buta mereka.
"Dia bergerak! Dia sangat cepat, sialan!" teriak anggota Alpha yang kedua, matanya yang panik mencoba mencari bayangan hijau di balik kacamata malamnya yang kini terganggu oleh kepulan debu akibat tembakan mereka sendiri.
Dalam kebingungan mereka, Nathan muncul dari balik kegelapan di sisi kanan mereka. Ia tidak menembak. Ia melompat maju, menggunakan berat tubuhnya untuk menghantam anggota Alpha kedua hingga terjatuh ke lantai. Sebelum pria itu sempat mengangkat senjatanya, Nathan menghantamkan gagang pistol taktisnya dengan kekuatan penuh tepat ke arah pelipis helm musuh yang tidak terlindungi.
BRAKK!
Pria itu langsung pingsan dengan tengkorak yang retak di bagian samping.
Pemimpin Tim Alpha, yang kini menjadi satu-satunya orang yang tersisa dari tim depan, memutar tubuhnya dengan panik. Laras senjatanya mengarah liar ke sekeliling ruangan yang gelap. Keringat dingin mengalir deras di balik topeng balaclavanya. Ia adalah seorang veteran tentara bayaran yang telah melewati berbagai pertempuran di jalanan, namun malam ini, di dalam rumah mewah ini, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan hantu yang tidak bisa disentuh oleh peluru.
"Siapa kamu?!" teriaknya dengan suara gemetar, melupakan protokol senyap mereka. "Tunjukkan dirimu, keparat!"
Dari kegelapan di depan pilar lobi, sebuah bayangan tegap melangkah keluar perlahan. Di bawah visual hijau kacamata malam pemimpin Alpha, ia bisa melihat Nathan berdiri tegak dengan jas hitamnya yang tetap rapi, memegang pistol taktis dengan ujung laras yang masih mengeluarkan asap tipis.
Aura membunuh yang terpancar dari tubuh Nathan begitu pekat, begitu menindas, hingga pemimpin Alpha itu merasa lututnya lemas seolah seluruh oksigen di dalam ruangan telah dihisap habis.
"Alpha Satu! Apa yang terjadi di sana?! Kami mendengar suara tembakan!" suara pemimpin Tim Gamma terdengar berteriak panik melalui radio komunikasi di telinga pemimpin Alpha.
Pemimpin Alpha mencoba mengangkat senjatanya untuk membidik dada Nathan. Namun sebelum jarinya sempat menyentuh pelatuk, sebuah kilatan dingin melesat di udara.
JLEB!
Pisau lempar berujung karbon hitam milik Nathan bersarang tepat di tengah tenggorokan pemimpin Alpha tersebut.
Pria itu melepaskan senjatanya, kedua tangannya mencengkeram gagang pisau yang menancap di lehernya. Ia mengeluarkan suara desisan udara yang tersedak darah, matanya melotot menatap Nathan dengan ketakutan yang luar biasa sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa di atas lantai marmer lobi yang dingin.
Nathan berjalan mendekat dengan langkah yang sangat teratur. Ia membungkuk, mengambil radio komunikasi yang masih berdesis dari telinga jasad pemimpin Alpha tersebut.
Ia menekan tombol bicaranya, lalu mendekatkannya ke mulutnya.
"Tim Alpha telah dilumpuhkan," ucap Nathan dengan suara berat dan dingin yang tidak membawa emosi manusia sedikit pun. "Tersisa sembilan orang. Aku menunggu kalian di ruang tengah."
Pernyataan dingin itu menggantung di udara, mengirimkan gelombang horor yang instan kepada sisa-sisa pasukan Robert yang kini menyadari bahwa mereka tidak sedang melakukan misi penculikan biasa... melainkan sedang mengantre di depan gerbang kematian mereka sendiri.