NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Nenek Mira Pergi

Pagi hari tiba dengan langit yang kelabu. Awan tebal menggantung di atas Kerajaan Kencana, menandakan akan turun hujan. Tapi ada sesuatu yang lebih gelap dari awan itu. Ada firasat buruk yang menyelimuti hati Bobon.

Dia bangun dari tempat tidurnya dan merasakan ada yang tidak beres. Penglihatannya yang baru memungkinkan dia melihat energi di sekitarnya. Dan pagi ini, energi itu terasa berbeda. Ada kehampaan di suatu tempat.

Bobon keluar kamar dan berjalan menuju ruang Nenek Mira. Dia mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Dia membuka pintu dan melihat pemandangan yang membuatnya berhenti bernapas.

Nenek Mira terbaring di tempat tidurnya dengan wajah pucat. Matanya terpejam dan dadanya tidak bergerak.

"Nenek!" teriak Bobon.

Dia berlari mendekat dan memeriksa neneknya. Tubuh Nenek Mira sudah dingin. Tidak ada denyut nadi. Tidak ada napas.

"Nenek! Bangun, Nek! Tolong bangun!"

Bobon mengguncang tubuh neneknya. Air mata mengalir deras di pipinya. Tapi Nenek Mira tidak bergerak. Tidak ada tanggapan.

"TIDAK! NENEK!"

Jeritan Bobon memecah kesunyian pagi. Wulan dan Aditya berlari masuk. Mereka melihat Bobon menangis di samping tubuh Nenek Mira.

"Apa yang terjadi?" tanya Wulan dengan suara bergetar.

"Aku tidak tahu. Aku datang dan dia sudah... dia sudah..."

Wulan memeluk Bobon. "Aku turut berduka, Bobon. Aku sangat turut berduka."

Bobon menangis tersedu-sedu di pelukan Wulan. "Dia pergi, Wulan. Nenek Mira pergi. Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal."

"Aku tahu, Bobon. Tapi dia pasti pergi dengan tenang. Dia pasti tidak menderita."

Aditya memeriksa tubuh Nenek Mira. "Dia pergi dalam tidurnya. Mungkin karena usianya yang sudah lanjut, atau mungkin karena lukanya yang belum pulih sepenuhnya."

Bobon mengangkat kepalanya. "Tapi dia bilang dia baik-baik saja. Dia bilang dia sudah pulih."

"Kadang orang tidak ingin membebani orang lain dengan penderitaan mereka, Bobon. Nenek Mira pasti tidak ingin kau khawatir."

Bobon menangis lebih keras. Dia merasakan kehilangan yang begitu besar. Nenek Mira adalah satu-satunya keluarga yang dia kenal. Dia yang merawatnya, melindunginya, dan membesarkannya.

"Aku belum sempat mengatakan betapa aku mencintainya," isak Bobon. "Aku belum sempat berterima kasih atas semua yang dia lakukan."

"Dia tahu, Bobon. Dia tahu kau mencintainya. Dia selalu tahu."

Kabar tentang kematian Nenek Mira menyebar cepat ke seluruh istana. Semua orang datang untuk memberi penghormatan. Raja Arya, Ratu Mawar, Pangeran Bima, Putri Laras, dan semua penghuni istana.

Mereka mengadakan upacara pemakaman sederhana untuk Nenek Mira. Bobon berdiri di depan makam neneknya dengan air mata yang terus mengalir. Tono berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Aku akan merindukanmu, Nek," bisik Bobon. "Aku akan selalu mengingat semua yang kau ajarkan padaku. Tentang kebaikan, tentang keberanian, tentang cinta."

Dia menaruh sehelai kain biru di atas makam itu. Kain yang sama yang dia temukan di kedai. Kain yang menjadi penghubungnya dengan Wulan.

"Aku akan menjadi Pendekar Dewata yang kau inginkan, Nek. Aku akan melindungi semua orang. Aku berjanji."

Setelah upacara, Bobon duduk sendirian di taman istana. Hujan mulai turun, membasahi tubuhnya. Tapi dia tidak bergerak. Dia hanya duduk di sana, merenungkan semua yang terjadi.

Wulan mendekatinya dengan payung. "Kau akan sakit jika terus di sini, Bobon."

"Aku tidak peduli, Wulan. Aku merasa kosong. Seperti ada bagian dari diriku yang hilang."

"Aku tahu. Tapi Nenek Mira tidak ingin kau bersedih terlalu lama. Dia ingin kau melanjutkan hidupmu."

"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpa dia?"

Wulan duduk di samping Bobon. "Kau bisa, Bobon. Karena dia akan selalu ada di hatimu. Setiap kali kau berbuat baik, dia akan tersenyum padamu dari surga."

Bobon menatap Wulan. "Kau benar. Aku harus terus maju. Untuk Nenek Mira. Untuk semua orang yang percaya padaku."

Dia berdiri dan memandang ke langit. Hujan mulai reda. Matahari muncul di balik awan, menyinari taman dengan cahaya keemasan.

"Aku akan melakukannya, Nek," bisik Bobon. "Aku akan mengalahkan Kaisar Kegelapan. Aku akan membawa kedamaian. Aku akan membuatmu bangga."

Di kejauhan, di atas bukit, Kaisar Kegelapan mengamati istana dengan mata penuh amarah. Dia tahu Bobon semakin kuat. Dia tahu waktunya semakin sempit.

"Besok," geramnya. "Besok aku akan menyerang. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku."

Tapi Bobon tidak tahu tentang itu. Dia hanya duduk di taman, memandangi makam Nenek Mira, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat.

Besok adalah hari yang akan menentukan segalanya.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!