NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Bram Gunawan tidak bisa tidur.

Sejak pulang dari tepian Sungai Kapuas, tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri. Ia sudah mandi dua kali, mengganti pakaian, bahkan meneguk kopi hitam pekat yang biasanya cukup membuat kepalanya kembali jernih.

Namun bayangan itu tidak juga hilang.

Raka Pratama.

Pemuda miskin yang seharusnya sudah terkapar tak berdaya di tanah basah.

Pemuda yatim piatu yang selama ini tidak punya siapa-siapa.

Pemuda yang tadi malam membuat lutut Bram jatuh ke tanah tanpa menyentuhnya.

Bram duduk di tepi ranjang kamar kontrakannya. Lampu kamar menyala redup. Kipas angin tua berputar pelan di langit-langit, mengeluarkan bunyi berderit yang biasanya tidak ia pedulikan. Tapi malam ini, setiap suara kecil terasa seperti bisikan dari tempat gelap.

Tangannya masih gemetar.

Bram menatap kedua telapak tangannya.

Ia ingat jelas bagaimana tubuhnya menolak perintahnya sendiri.

Ia ingin berdiri.

Ia ingin lari.

Ia ingin memaki Raka seperti biasa.

Tapi tubuhnya malah berlutut.

Bukan karena takut biasa. Bram sudah pernah takut sebelumnya. Ia pernah berhadapan dengan orang bersenjata, pernah dikejar kelompok lain, pernah hampir mati dalam perkelahian antar preman. Tapi ketakutan yang ia rasakan di depan Raka berbeda.

Itu bukan ketakutan manusia kepada manusia.

Itu seperti ketakutan seekor binatang kecil ketika menyadari langit akan runtuh di atas kepalanya.

Bram mengusap wajahnya kasar.

“Sial…”

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya efek panik. Mungkin ia terlalu lelah. Mungkin cahaya aneh di sungai membuatnya berhalusinasi. Mungkin ia hanya terkejut karena Raka masih bisa berdiri setelah dihajar.

Tapi semakin ia mencoba mencari alasan, semakin wajah Raka muncul di pikirannya.

Mata emas tipis itu.

Tatapan dingin itu.

Bayangan takhta dan pedang yang muncul di belakang tubuh Raka.

Bram menggigil.

“Tidak mungkin,” gumamnya. “Dia cuma anak miskin. Cuma Raka.”

Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.

Bram tersentak.

Ia menatap layar ponsel dengan napas tertahan.

Nama yang muncul di sana membuat wajahnya semakin tegang.

Reza Mahendra.

Bram menarik napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.

“Ya, Bang Reza.”

Dari seberang telepon, suara Reza terdengar tajam dan tidak sabar.

“Kau di mana?”

“Di rumah, Bang.”

“Ke rumahku sekarang.”

Bram menelan ludah. “Sekarang?”

“Menurutmu aku menelepon tengah malam karena rindu sama suaramu?”

Bram langsung menunduk meski Reza tidak bisa melihatnya.

“Baik, Bang. Saya berangkat.”

Panggilan terputus.

Bram duduk diam beberapa detik. Ia tahu kenapa Reza memanggilnya. Kabar soal kegagalannya pasti sudah sampai. Atau mungkin Reza sudah mendengar dari Jaya tentang Raka yang membuat masalah di warung kopi Pak Harun.

Bram berdiri dengan berat.

Kakinya masih terasa lemas.

Sebelum keluar kamar, ia melirik cermin kecil di dekat pintu.

Dan saat itulah napasnya berhenti.

Di dalam cermin, untuk satu kedipan saja, ia melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya.

Seorang pemuda dengan mata keemasan.

Bram berbalik cepat.

Tidak ada siapa pun.

Kamar itu kosong.

Hanya kipas angin tua yang masih berputar pelan.

Bram menatap sudut ruangan dengan wajah pucat. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

“Bukan apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma halusinasi.”

Namun ketika ia kembali melihat cermin, pantulan wajahnya sendiri tampak sangat pucat.

Seperti wajah orang yang baru saja melihat kematian.

Beberapa puluh menit kemudian, Bram tiba di rumah besar keluarga Mahendra.

Rumah itu berdiri di kawasan elit Pontianak, jauh dari gang kecil tempat Bram tinggal. Pagar tinggi, halaman luas, lampu taman yang menyala terang, dan penjaga berpakaian rapi di dekat gerbang membuat tempat itu terlihat seperti dunia lain.

Bram selalu merasa kecil setiap kali datang ke sana.

Bukan karena ia miskin.

Tapi karena ia tahu orang-orang seperti keluarga Mahendra tidak perlu mengotori tangan mereka sendiri untuk menghancurkan seseorang. Mereka cukup memberi perintah, dan orang seperti Bram yang akan bergerak.

Gerbang terbuka setelah penjaga mengenalinya.

Bram masuk dengan langkah kaku.

Di teras utama, seorang pelayan membawanya ke ruang tengah. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung besar. Aroma parfum mahal bercampur dengan pendingin ruangan yang dingin menusuk kulit.

Di sofa panjang, Reza Mahendra duduk dengan wajah kesal.

Usianya sekitar dua puluh empat tahun. Pakaiannya rapi, jam tangannya mahal, dan sikapnya penuh keyakinan bahwa semua orang di ruangan itu berada di bawahnya.

Reza menatap Bram seperti menatap barang rusak.

“Jadi,” ucap Reza pelan, “kau gagal mengurus anak yatim itu?”

Bram menunduk.

“Maaf, Bang.”

Reza tertawa pendek. Tidak ada humor dalam tawa itu.

“Maaf? Kau tahu berapa kali aku dengar kata itu dari orang tidak berguna?”

Bram mengepalkan tangan, tapi tidak berani membantah.

Reza berdiri dan berjalan mendekat.

“Aku suruh kau beri pelajaran. Bukan membuat dia keliling kota seolah tidak terjadi apa-apa.”

Bram mengangkat wajah sedikit. “Bang, Raka itu… ada yang aneh.”

Reza berhenti.

Matanya menyipit.

“Aneh?”

Bram ragu.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kejadian tadi malam tanpa terdengar seperti orang gila.

“Dia hampir mati, Bang. Saya lihat sendiri. Tapi setelah itu… dia berdiri. Lukanya hilang. Terus…”

“Terus apa?”

Bram menelan ludah.

“Kami semua berlutut.”

Ruangan menjadi hening.

Reza menatap Bram beberapa detik, lalu tertawa keras.

“Kau berlutut?”

Wajah Bram memanas karena malu.

“Bukan karena saya mau, Bang. Tubuh saya… seperti dipaksa.”

Reza mendekat lagi, lalu menepuk pipi Bram dengan kasar.

“Bram. Kau itu preman, bukan anak kecil yang takut cerita hantu.”

“Saya serius, Bang.”

“Serius?” Reza tersenyum sinis. “Jadi menurutmu Raka punya ilmu? Jadi dukun? Bisa bikin orang berlutut?”

Bram tidak menjawab.

Karena di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu.

Reza mendengus, lalu kembali duduk.

“Kau tahu apa yang lebih masuk akal? Kau takut. Kau malu mengakuinya, jadi kau karang cerita.”

Bram menunduk semakin dalam.

Ia ingin membantah. Tapi bagaimana caranya? Tidak ada bukti. Anak buahnya juga pasti sama takutnya. Dan kalau pun mereka bicara, Reza tetap tidak akan percaya.

Bagi Reza Mahendra, dunia sangat sederhana.

Orang kaya memerintah.

Orang miskin menurut.

Orang lemah dihancurkan.

Tidak ada tempat untuk hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Reza mengambil gelas minuman di meja, lalu meneguknya pelan.

“Ada laporan dari Jaya,” katanya. “Raka ikut campur urusan tanah warung Pak Harun.”

Bram mengangkat wajah.

“Dia juga tahu nama keluarga kami,” lanjut Reza. “Itu masalah.”

Bram teringat tatapan Raka di tepi sungai. Dadanya kembali terasa berat.

“Bang, mungkin lebih baik kita jangan ganggu dia dulu.”

Reza menatapnya dingin.

“Kau memberi saran?”

Bram langsung menunduk. “Bukan begitu, Bang. Saya cuma…”

“Kau takut.”

Bram diam.

Reza berdiri lagi. Kali ini wajahnya tidak hanya kesal, tapi juga tersinggung. Bagi Reza, fakta bahwa seorang preman seperti Bram takut pada Raka adalah penghinaan untuk namanya.

“Raka itu siapa?” tanya Reza. “Anak yatim. Tidak punya keluarga. Tidak punya uang. Tidak punya backing. Orang seperti dia bisa hilang dari kota ini dan tidak ada yang peduli.”

Bram merasakan tenggorokannya kering.

Reza melanjutkan dengan suara rendah.

“Besok malam, bawa dia ke gudang lama.”

Bram membeku.

“Gudang lama, Bang?”

“Iya. Gudang dekat pelabuhan kecil itu. Tempat biasa kau mengurus orang yang sulit diatur.”

Bram ingin menolak.

Tapi ia tahu menolak perintah Reza berarti menggali kubur sendiri.

“Bawa dia hidup-hidup,” kata Reza. “Aku mau lihat sendiri sehebat apa anak itu sampai membuat Bram Gunawan berlutut seperti anjing.”

Kata-kata itu menusuk harga diri Bram.

Namun rasa takutnya kepada Raka jauh lebih dalam daripada rasa malunya kepada Reza.

“Kalau dia melawan, Bang?”

Reza tersenyum tipis.

“Patahkan kakinya. Selama dia masih bernapas, aku tidak peduli.”

Bram menunduk.

“Baik, Bang.”

Pada saat itu, pintu ruang tengah terbuka pelan.

Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah tenang.

Surya Mahendra.

Ayah Reza.

Kehadirannya langsung mengubah udara di ruangan itu. Berbeda dari Reza yang meledak-ledak, Surya selalu tampak tenang. Wajahnya rapi, matanya tajam, dan setiap gerakannya membawa wibawa orang yang terbiasa membuat orang lain patuh tanpa perlu meninggikan suara.

Reza langsung menoleh.

“Papa?”

Surya tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan ke kursi utama, lalu duduk.

Matanya menatap Bram.

“Kau yang melihat langsung kejadian di sungai?”

Bram merasa punggungnya dingin.

“Iya, Pak.”

“Ceritakan.”

Reza mengerutkan kening. “Pa, dia cuma takut. Ceritanya tidak masuk akal.”

Surya mengangkat tangan kecil.

Reza langsung diam, meski wajahnya tetap tidak senang.

Bram menelan ludah, lalu mulai bercerita dari awal. Tentang Raka yang dihajar sampai hampir tidak bergerak. Tentang cahaya di tepi sungai. Tentang angin yang berhenti. Tentang lututnya yang jatuh sendiri. Tentang mata Raka yang berubah keemasan.

Ia tidak menceritakan semuanya. Ia menyembunyikan bagian tentang bayangan takhta dan pedang, karena bahkan di telinganya sendiri, itu terdengar terlalu gila.

Namun saat Bram selesai bicara, Surya tidak tertawa.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!