Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terputus
Guncangan ombak Selat Sunda menghantam dinding kapal motor yang membawa Rendy Baskoro membelah kegelapan malam. Di langit, sisa-sisa awan badai masih menggantung rendah, menyembunyikan sinar bulan dan bintang. Rendy berdiri di dek buritan, tatapannya terpaku pada siluet daratan Pulau Jawa yang perlahan-lahan tenggelam dan menghilang di balik cakrawala malam.
Di tangannya, sebuah ponsel satelit—satu-satunya alat komunikasi yang tidak bisa dilacak oleh menara pemancar lokal—berkedip pelan. Satria melangkah mendekat dari balik kemudi kapal dengan wajah yang masih diselimuti kecemasan.
"Pak Rendy, kapten kapal mengatakan kita akan memasuki perairan internasional dalam waktu tiga puluh menit. Kapal cepat dari agen kita di Singapura sudah bersiap melakukan penjemputan di koordinat yang ditentukan," lapor Satria, suaranya parau karena terpaan angin laut yang asin.
Rendy tidak menoleh. Ia hanya menempelkan ponsel satelit itu ke telinganya saat sebuah panggilan terhubung.
"Bagaimana situasi di Jakarta?" tanya Rendy langsung tanpa basa-basi.
"Mabes Polri sudah berkoordinasi dengan Interpol, Rendy," suara seorang pria paruh baya dengan nada berat—salah satu sekutu politik lama Rendy yang masih tersisa—terdengar samar di seberang telepon. "Pencekalanmu sudah masuk ke seluruh bandara internasional. Adrian Dirgantara benar-benar menutup semua celahmu di dalam negeri. Jika kamu tidak keluar dari perairan Indonesia malam ini, kamu selesai. Aset-aset Baskoro Logistics di Jakarta sudah resmi disita untuk penyelidikan."
Rendy menyipitkan matanya, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. "Biarkan mereka mengambil gedung-gedung beton itu. Kekuatanku bukan pada fisiknya, tapi pada informasi. Pastikan seluruh rekening cangkang di Cayman Islands tetap aktif. Aku akan memantau semuanya dari Singapura."
"Hati-hati, Rendy. Adrian tidak akan berhenti sampai dia memastikanmu mengenakan baju tahanan," peringat pria itu sebelum memutus sambungan.
Rendy menurunkan ponselnya, lalu menatap telapak tangannya yang gemetar bukan karena dingin, melainkan karena hasrat membalas dendam yang membakar habis sisa kewarasannya. "Kamu pikir kamu sudah menang, Adrian? Kamu hanya berhasil mengusirku dari rumahku sendiri, tapi kamu tidak akan pernah bisa tidur nyenyak setelah ini."
---
Kembali di apartemen *penthouse* Menteng, fajar mulai menyingsing, membiaskan warna jingga keunguan di langit Jakarta yang bersih pasca-hujan deras semalaman. Di dalam ruang tengah yang kini sudah kembali bersih dari puing-puing perkelahian, Adrian duduk di sofa panjang dengan kemeja bersih berlengan panjang yang sengaja dikancingkan longgar di bagian kiri untuk menutupi balutan perban luka tembaknya.
Di depannya, Rendra sedang sibuk memeriksa tabletnya, sementara dua orang penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya duduk dengan sikap hormat.
"Kami sudah mengamankan keempat pelaku penyusupan semalam, Pak Adrian," ujar salah satu penyidik senior, meletakkan beberapa berkas laporan. "Dari hasil interogasi awal, mereka mengaku diperintah oleh seseorang bernama Satria, sekretaris pribadi Rendy Baskoro. Mereka diberikan cetak biru sistem utilitas gedung ini secara ilegal."
"Apakah Rendy Baskoro sudah tertangkap?" tanya Adrian langsung, suaranya dingin dan mengintimidasi.
Penyidik itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Tim kami di lapangan menemukan mobil yang digunakan Rendy dan Satria ditinggalkan begitu saja di sebuah dermaga liar di kawasan Anyar, Banten. Berdasarkan keterangan nelayan setempat, sebuah kapal motor tak resmi bertolak ke arah barat laut sekitar dua jam sebelum tim kami tiba. Kami menduga... Rendy Baskoro melarikan diri lewat jalur laut menuju perairan internasional."
Adrian mengepalkan tangan kanannya di atas lutut, membuat urat-urat di lengannya menonjol tajam. "Jadi, bajingan itu berhasil lolos dari kepungan kalian?"
"Kami sudah menerbitkan *Red Notice* melalui Interpol, Pak Adrian. Ke mana pun dia pergi, statusnya adalah buronan internasional," bela penyidik itu cepat-cepat.
Rendra menghela napas pendek dan menepuk bahu Adrian, memberi isyarat agar sahabatnya itu menahan amarah di depan petugas. "Terima kasih, Pak. Tolong pastikan perkembangan sekecil apa pun dari Interpol langsung dikabarkan kepada tim hukum kami."
Setelah para penyidik itu berpamitan dan dikawal keluar oleh penjaga, Rendra berbalik menatap Adrian. "Rendy melarikan diri ke luar negeri, Adrian. Ini berarti dia tahu dia tidak bisa menang melawan kita di atas tanah hukum Indonesia. Tapi, ini juga berarti dia berada di luar jangkauan radar perlindungan fisik kita secara langsung."
"Dia pengecut, Rendra," desis Adrian, bangkit berdiri dari sofa dengan perlahan. "Dia tahu jika dia tetap di sini, aku akan menyeretnya ke sel isolasi dengan tanganku sendiri. Tapi pelarian ini membuktikan satu hal: dia tidak akan pernah melepaskan obsesinya pada Kirana."
Tepat saat itu, pintu kamar tidur terbuka perlahan. Kirana melangkah keluar dengan mengenakan pakaian kasual yang rapi. Wajahnya tidak lagi sepucat semalam, meski lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia tidak tidur setelah insiden baku tembak tersebut.
Kirana menatap Adrian dan Rendra bergantian, ketakutan kembali membayangi matanya yang indah. "Aku mendengar semuanya dari dalam kamar... Rendy berhasil kabur ke luar negeri?"
Adrian segera melangkah mendekati Kirana, memangkas jarak di antara mereka dan menatapnya dengan pandangan yang melembut seketika. "Ya, dia kabur. Tapi jangan takut, Kirana. Dia tidak memiliki kekuatan atau jaringan bisnis lagi di Jakarta. Dia hanyalah seorang buronan yang bersembunyi di balik bayang-bayang sekarang."
Kirana menggelengkan kepalanya pelan, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Kamu tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya, Mas. Rendy tidak akan pernah bersembunyi selamanya. Dia pergi untuk mengumpulkan kekuatan. Selama dia masih menghirup udara bebas, aku... aku akan selalu merasa bahwa dia berdiri di belakang punggungku, siap menarikku kembali ke dalam sangkar itu."
Melihat keputusasaan Kirana, Adrian tidak bisa menahan dirinya lagi. Mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di lengan kirinya, ia melangkah maju dan membawa Kirana ke dalam pelukan hangat tangan kanannya, mendekap kepala wanita itu di dadanya yang bidang.
"Aku bersumpah demi hidupku, Kirana," bisik Adrian di dekat telinga Kirana, suaranya bergetar oleh tekad yang mutlak. "Aku tidak akan pernah membiarkan fajar kebebasan yang sudah kita rebut semalam kembali direnggut olehnya. Jika dia berani kembali, aku yang akan menjadi akhir dari hidupnya. Kamu aman bersamaku."
Kirana memejamkan matanya, menyandarkan seluruh sisa kekuatannya pada dada Adrian. Di tengah rasa aman yang ia rasakan dalam pelukan itu, jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah firasat buruk berbisik bahwa pelarian Rendy Baskoro bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih gelap dan penuh darah.
---
Bersambung ke Episode 13