NovelToon NovelToon
LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗

Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.

Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.

Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.

Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditentang

Suasana Rumah Sakit Militer Semarang siang itu cukup sibuk. Seorang wanita berseragam dinas TNI-AD tampak tengah memeriksa berkas pasien di ruang kerjanya.

Saat sedang fokus membaca laporan medis, ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Wanita itu segera meraih ponselnya.

“Selamat siang, Letda."

“Selamat siang, Lettu Rama," balasnya tegas. Ia langsung mengenali suara di seberang sana.

Rama adalah ajudan Komandan Batalyon yang cukup sering berhubungan dengannya jika ada urusan kedinasan.

“Letkol Rangga meminta Letda segera menghadap ke ruangannya.”

Wanita itu sedikit mengernyit. “Ada keperluan apa ya, Lettu?” tanyanya heran.

“Maaf, saya kurang tahu. Letkol Rangga hanya meminta Letda segera datang ke markas.”

“Baik, saya mengerti.”

Setelah panggilan berakhir, wanita itu menatap layar ponselnya beberapa saat. Entah mengapa jantungnya berdebar pelan.

Beberapa bulan lalu ia memang mengajukan permohonan untuk ikut dalam penugasan ke Papua. Namun hingga saat ini belum ada kabar apa pun.

Mungkinkah...? Ia segera menggelengkan kepalanya dan jangan terlalu berharap.

Setelah memastikan tidak ada lagi tugas mendesak yang harus diselesaikan, wanita itu merapikan seragam dinasnya lalu berjalan menuju area parkir rumah sakit.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarainya melaju meninggalkan Rumah Sakit Militer Semarang menuju markas batalyon.

Sekitar lima belas menit kemudian, ia tiba di markas.

Setelah memarkirkan kendaraannya, wanita itu berjalan menuju gedung komando dan berhenti tepat di depan ruangan Komandan Batalyon.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk!”

Wanita itu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Selamat siang, Letda Kaluna,” sapa seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang menjabat sebagai komandan batalyon di tempat tugasnya.

Seorang wanita cantik yang baru saja disebutkan namanya segera memberi hormat. “Selamat siang, Komandan,” sahutnya.

Pria bernama Letnan Kolonel Rangga Subrata itu mempersilahkan Kaluna untuk duduk. “Silakan duduk.”

Kaluna mengangguk lalu duduk di depan sang komandan.

Letkol Rangga menatap Kaluna sejenak sebelum mengutarakan maksudnya. Ia tahu betul siapa wanita di hadapannya ini.

Seorang dokter militer TNI-AD yang bertugas di Rumah Sakit Militer Semarang, sekaligus putri dari almarhum Letnan Dua Kirana Lestari, mantan prajurit yang sudah lama pensiun sebelum akhirnya meninggal sebelas tahun yang lalu.

Letkol Rangga mengenal Kirana dengan sangat baik. Dulu, saat masih di Akademi Militer, Letkol Rangga dan Kirana pernah satu angkatan.

Mereka tidak terlalu dekat, tetapi Letkol Rangga selalu ingat Kirana sebagai salah satu prajurit wanita yang paling kuat, keras kepala, dan tidak mudah menyerah.

Dan kini anaknya duduk di hadapannya.

“Ada hal yang ingin saya sampaikan, perihal permintaan Letda Kaluna beberapa bulan lalu,” ucap Letkol Rangga kemudian.

Mata Kaluna langsung berbinar. Ia berharap besar permohonannya untuk ikut dalam penugasan ke Papua bisa dikabulkan.

“Jadi bagaimana, Komandan?” tanya Letnan Dua yang bernama lengkap Kaluna Seraphina Wijaya itu.

“Ada dua hal. Satu kabar baik dan satu kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?” tanya Letkol Rangga.

“Kabar baik dulu, Ndan,” jawab Kaluna.

Letkol Rangga mengangguk. “Permintaan kamu untuk bergabung dalam penugasan ke Papua disetujui.”

Kaluna hampir tidak bisa menyembunyikan senyum yang ingin meledak dari bibirnya.

Namun sesaat kemudian, senyum itu hilang.

“Dan kabar buruknya...” Letkol Rangga menjeda ucapannya sejenak.

“Ayah kamu tidak memberikan izin,” lanjutnya.

Kaluna langsung terdiam. “Tapi Ndan—”

Letkol Rangga mengangkat tangannya pelan. “Saya sarankan kamu bicara dulu dengan Ayah kamu. Pak Raynand pasti punya alasan sendiri.”

Kaluna menghela napas pelan. Jika sudah begini, ia tidak bisa berkata-kata. Ia tahu betul mengapa Papanya melarang ia ikut penugasan seperti ini.

Sejak awal, Raynand tidak pernah setuju Kaluna menjadi tentara. Bukan karena tidak percaya pada kemampuan putrinya, tetapi karena ia takut kehilangan Kaluna seperti ia kehilangan Kirana.

Istrinya itu memang sudah lama pensiun dari dunia militer sebelum akhirnya meninggal karena sakit saat Kaluna masih duduk di bangku kelas dua SMA.

Namun bagi Raynand, seragam itu tetap menjadi pengingat paling menyakitkan tentang kehilangan yang pernah ia alami.

Bahkan dulu ia sempat menentang keras keputusan Kaluna untuk masuk TNI-AD. Adiknya pun tidak diizinkan mengikuti jejak sang ibu.

Namun pada akhirnya Raynand mengalah, meski dengan berat hati. Saat itu Kaluna harus bersujud dan memohon berkali-kali hingga akhirnya sang ayah memberi izin.

“Baik, Komandan. Saya akan bicara dengan Papa saya dulu.”

Kaluna bangkit, memberi hormat kepada Rangga, lalu meninggalkan ruangan komandan.

Selesai dengan tugasnya, Kaluna memutuskan pulang. Bagaimanapun, ia harus berbicara dengan Papanya. Ia yakin, jika ia memohon dan merayu seperti dulu, Raynand akan memberi izin lagi.

...****************...

Tepat setelah makan malam, Kaluna berniat menyampaikan maksudnya. Wanita itu duduk dengan gelisah di sisi sang adik yang tengah fokus menatap layar televisi di hadapan mereka.

Telapak tangan Kaluna berkeringat. Setiap kali menyampaikan keinginan yang berkaitan dengan dunia militer, Papanya pasti akan marah sekaligus sedih. Kepergian Mama mereka menimbulkan trauma mendalam bagi sang Papa.

Namun, Kaluna tidak bisa mengabaikan impiannya. Sebelum meninggal, Mamanya telah memberikan izin untuk menjadi prajurit TNI.

Selain sebagai permintaan terakhir sang Mama, menjadi tentara juga merupakan mimpi Kaluna sejak kecil. Ia ingin mengikuti jejak almarhum ibunya yang pernah mengabdi sebagai prajurit TNI AD.

“Pah,” panggil Kaluna lirih, membuat Raynand dan Rafanza menoleh.

“Ada apa, Luna?” tanya Raynand.

Kaluna menghela napas. Ia melirik adiknya sekilas sebelum kembali menatap sang Papa yang tengah menunggu jawabannya.

“Ada yang ingin Luna sampaikan, tapi Papa jangan marah,” ucap Kaluna hati-hati.

“Kalau kamu ingin meminta izin soal penugasanmu di Papua, Papa tegaskan sekali lagi, Papa tidak memberi izin,” potong Raynand.

“Papa sudah kehilangan Mama kamu. Papa nggak mau kehilangan kamu juga, Kaluna. Mungkin bagi kamu itu hanya tugas, tapi bagi Papa itu tempat yang berbahaya. Di sana masih ada KKB. Papa nggak akan pernah tenang kalau kamu berangkat ke sana,” ujar Raynand dengan suara bergetar.

Sebelum menetap di Semarang, mereka sekeluarga tinggal di Jakarta. Raynand memutuskan pindah ketika Kaluna berusia lima tahun dan Rafanza baru satu tahun.

Saat itu, ia dan Kirana ingin membesarkan anak-anak mereka di lingkungan yang lebih tenang sambil mengembangkan perusahaan keluarga di Semarang.

Kini waktu telah berlalu begitu cepat. Kaluna yang dulu selalu menggenggam tangan mamanya ke mana pun ia pergi kini telah berusia dua puluh delapan tahun.

Sementara Rafanza, yang dahulu masih bayi, kini telah tumbuh menjadi pria berusia dua puluh empat tahun.

Namun, sebesar apa pun kedua anaknya telah tumbuh, di mata Raynand mereka tetaplah anak-anak yang harus ia lindungi.

Rafanza membantu Raynand mengurus perusahaan keluarga. Sementara Kaluna memilih menempuh jalan yang berbeda dengan mengejar cita-citanya sebagai dokter sekaligus prajurit TNI.

Kaluna terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar nada khawatir dalam suara sang Papa.

“Usiamu juga sudah dua puluh delapan tahun. Sudah saatnya kamu memikirkan masa depan. Papa ingin kamu menikah dengan anak Om Kaivan,” lanjut Raynand.

Kaluna menunduk. Wajah sang Papa yang memerah dengan mata berkaca-kaca membuatnya tak kuasa membantah.

Meski jauh di dalam hati, ia menolak keinginan Papanya yang mengharuskannya menikah dengan putra dari sahabat orang tuanya itu.

“Maksud Papa itu, Kak Kevan?” tanya Kaluna dengan mata mulai mengembun.

“Iya,” sahut Raynand. Setelah mengatakan itu, ia bangkit dan masuk ke kamarnya.

“Sabar ya, Kak... Kak Luna juga tahu kenapa Papa bersikap seperti itu. Jadi, jangan terlalu memaksakan kehendak,” ucap Rafanza sambil menepuk pelan bahu sang kakak yang kini nampak terduduk lesu.

1
MayAyunda
keren 👍👍
Alfatia🌷
Udah mulai mau ngobrol sedikit lebih banyak nih yaaa🤣
Alfatia🌷
Gak bayangin kalau Kaluna tau itu calon iparnya, terus masih ngira Kalvin penyuka sesama jenis😭🤣
Laela Kurnia
bagus bgt 👌💯
Alfatia🌷
Udah senyum-senyum tipis nihh. Curiga lama-lama ngajak ketawa bareng🤣🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 aku aduin bapakmu loh.
Mutia Kim🍑: Jangan gitu kak, nanti Kalvin malah nggak mau balik ke Jakarta😭🤣
total 1 replies
Alfatia🌷
Kaluna, itu calon iparmu loh😭
Mutia Kim🍑: Kan dia nggak tau kak😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Yang ngasih nama anaknya siapa😭 kenapa inisial nya ngikut bapaknya semua🤣
Mutia Kim🍑: Authornya😎
total 1 replies
Alfatia🌷
Anton nyari kesempatan banget🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 jangan gitu lah. Nanti malah kepincut loh😌
Alfatia🌷
Luna, dia anak camer mu lohh!!😭
Alfatia🌷
Kalvin kayak Bapaknya banget kayaknya, bodo amatan😭
Mutia Kim🍑: Bener. Dua anak laki-laki Kaivan itu sama persis kayak bapaknya yg anti cewek🥲
total 1 replies
Alfatia🌷
Ahhhh😭 sedih banget bawaannya kalau lihat Raynand🥹 sehat-sehat Om Duda tua❤
Alfatia🌷
Raynand pasti kehilangan banget ya, trauma juga. Makanannya butuh waktu lama buat izinin Kaluna😌
Alfatia🌷
Huwaaa... aku juga sedih Kirana jadi gak ada😭😭
Aril Chan
Sangat luar biasa
Alfatia🌷
Kevan ngikut jejak Bapaknya, kah🤣 jangan sampai pas masih pengantin ditinggal tugas juga🤣
Mutia Kim🍑: Tapi dia kan belum mau nikah, katanya mau PDKT dulu😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Masih nyimak, tapi... ini Kirana sahabatnya Ravela, kan? Hah... dia gak lihat anaknya nikah dong😭🥹
Mutia Kim🍑: Iya Kirana meninggal 😭😭
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
keren terus semangat ya/Drool/
Mayraa_Tapaa
semangat ka, aku mampir ya💪
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!