Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13 Dokter Hana Masuk Kelas
Pagi itu, suasana di SD Desa Sekar jauh lebih berisik dan semarak dari biasanya. Anak-anak terlihat berlarian ke sana kemari di koridor kayu, saling kejar dengan wajah yang dipenuhi binar semangat. Kabar bahwa Dokter Hana akan datang ke sekolah untuk memberikan penyuluhan kesehatan rupanya sudah menyebar luas sejak sore kemarin, memicu kehebohan masal di kalangan murid.
Di dalam kelas, Kael berdiri tegak di samping meja guru. Tangannya bersendekep di dada saat matanya yang tajam mengawasi pergerakan anak-anak yang luar biasa sulit untuk ditenangkan hari ini.
"Pak Guru, Dokter Hana bawa jarum suntik tidak?" tanya seorang murid laki-laki dari bangku depan, menatap Kael dengan wajah penuh kewaspadaan.
"Iya, Pak! Kalau Dokter Hana bawa suntikan, saya mau melompat lewat jendela dan pulang sekarang juga!" sahut murid lain di sudut belakang, memicu gelak tawa instan dari teman-teman sekelasnya.
Kael menggeleng-gelengkan kepala geli melihat tingkah mereka. Ia mengangkat satu tangannya pelan, memberi isyarat agar suasana kembali kondusif.
"Tenang saja. Hari ini dokter Hana tidak membawa suntikan apapun"
"Syukurlah..." Beberapa anak langsung mengembus napas lega secara serentak, seolah baru saja lolos dari hukuman berat.
Tepat pada saat itu, bayangan seseorang muncul di ambang pintu. Hana berdiri di sana dengan senyum cerah, kedua tangannya mendekap sebuah tas kain besar yang tampak penuh berisi alat peraga kesehatan.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Hana riang, melangkah masuk ke dalam kelas.
"PAGI, DOKTER HANA!"
Jawaban kor itu menggelegar begitu keras hingga membuat Hana sempat tersentak kaget, sebelum akhirnya terkekeh renyah melihat antusiasme yang meluap-luap tersebut.
Sesi penyuluhan kesehatan pun dimulai dengan suasana yang sangat santai. Hana dengan cekatan menempelkan beberapa poster berwarna-warni di papan tulis mulai dari gambar anatomi gigi yang jenaka, langkah-langkah mencuci tangan dengan sabun, hingga piramida berbagai makanan sehat.
"Nah, sekarang Dokter mau tanya. Siapa yang tahu kenapa kita wajib mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan?" tanya Hana, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas.
Seketika, beberapa tangan mungil langsung terangkat ke udara. Seorang anak perempuan bertubuh mungil berdiri dari kursinya dengan percaya diri.
"Supaya makanannya tidak kabur, Dok!"
Seluruh kelas langsung meledak dalam tawa. Hana bahkan harus menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menahan tawa agar tidak merusak wibawanya sebagai dokter.
"Ah, bukan begitu sayang."
"Kalau begitu... supaya nasinya tidak sakit dan meriang, Dok?" timpal murid laki-laki lain dengan polosnya.
Kael yang sejak tadi berdiri menyendiri di sudut belakang kelas terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya berguncang hebat karena berusaha keras menahan tawa yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Melihat reaksi anak-anak, Hana akhirnya menjelaskan dengan penuh kesabaran. Menggunakan bahasa yang sederhana dan analogi yang mudah dimengerti, ia menjabarkan tentang bahaya kuman tak kasatmata yang bisa memicu penyakit perut. Anak-anak pun mendengarkan dengan mata berbinar antusias.
"Sekarang, kita praktik cara mencuci tangan yang benar, ya!" seru Hana memecah keheningan.
Sebuah ember plastik berisi air bersih lengkap dengan satu botol sabun cair telah disiapkan di atas meja depan kelas.
"Siapa yang mau maju ke depan untuk mencoba duluan?" tantang Hana.
Bukannya mengajukan diri, anak-anak justru kompak saling tunjuk dan mendorong teman di sebelahnya.
"Tono saja, Dok!"
"Bukan, Budi saja yang maju!"
"Pak Guru saja!"
Kael yang awalnya merasa aman di posisinya mendadak tersentak saat menyadari bahwa dirinya kini menjadi sasaran empuk dari telunjuk seluruh murid di kelas.
"Pak Guru! Pak Guru! Pak Guru!" Sorak anak-anak mulai menggema, menuntut sang guru untuk turun tangan.
Hana menoleh ke arah Kael, menyunggingkan sebuah senyuman jahil yang tertuju langsung padanya.
"Wah, sepertinya seluruh murid kompak memilih Pak Guru Kael untuk jadi contoh."
Kael hanya bisa menghela napas pasrah. Dengan langkah berat yang dibuat-buat, ia berjalan maju ke depan kelas.
"Baiklah."
Kael mulai membasahi tangannya dan menekan botol sabun. Namun, tepat saat ia sedang memperagakan gerakan menggosok sela-sela jari dengan serius, seorang murid kecil yang duduk di barisan paling depan mendongak, memperhatikan tangan Kael dengan saksama lalu bertanya dengan kepolosan mutlak.
"Pak Guru, tangan Bapak besar sekali."
Kael menghentikan gerakannya sejenak, melirik anak itu. "Terus?"
"Kalau mencuci tangan pakai sabun, sekali cuci langsung habis satu botol tidak, Pak?"
Seketika itu juga, pertahanan kelas runtuh. Ruangan itu meledak oleh tawa paling riuh sepanjang hari. Bahkan Hana sampai harus memegangi perutnya yang kram karena tertawa terlalu keras, matanya sampai berair melihat ekspresi kaku di wajah Kael.
Sementara itu, Kael hanya bisa berdiri mematung di depan ember dengan tangan berbusa. Ia mengangkat tangan kirinya untuk memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang mantan agen elit harus mengakui kekalahan telak bukan karena senjata musuh, melainkan karena pertanyaan acak dari seorang anak SD.
Setelah kehebohan sesi cuci tangan mereda, Hana melanjutkan materi ke topik berikutnya: pentingnya menyikat gigi minimal dua kali sehari. Dari dalam tas besarnya, ia mengeluarkan sebuah model rahang gigi berukuran raksasa beserta sikat gigi plastiknya.
Anak-anak spontan menjerit heboh, beberapa bahkan sampai berdiri dari kursi mereka.
"Wah!"
"Giginya besar sekali!"
"Itu pasti gigi monster raksasa ya, Dok?"
Hana tertawa kecil mendengarnya. "Ini cuma model contoh, kok. Nah, perhatikan baik-baik ya, caranya itu digosok dari atas ke bawah..." Hana mulai memperagakan gerakan menyikat dengan telaten.
Dari sudut belakang kelas, Kael kembali mengamati Hana. Sudut matanya melembut saat menyadari sesuatu yang baru. Hana tampak sangat berbeda ketika berada di tengah-tengah anak-anak. Dokter muda yang biasanya terlihat tegas, lelah, dan penuh beban saat di poskesdes itu kini menjelma menjadi sosok yang sangat santai, hangat, dan dipenuhi kesabaran tanpa batas. Senyum tulusnya terus merekah tanpa henti.
Entah sejak kapan, pemandangan itu membuat sudut bibir Kael perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum.
Menjelang siang hari, seluruh rangkaian kegiatan penyuluhan kesehatan akhirnya selesai. Anak-anak segera berhamburan berkumpul di halaman sekolah yang luas untuk sesi foto bersama dengan para guru dan Kepala Sekolah.
Rani, seperti biasa, berdiri menempel ketat di samping Kael. Keduanya tampak tak terpisahkan bak perangko, dengan tangan kecil Rani yang mendekap erat buku gambar kesayangannya. Sementara itu, Hana berdiri tepat di sisi lain Kael, melengkapi formasi di tengah lingkaran anak-anak yang gaduh.
Matahari siang itu bersinar sangat cerah, menembus celah-celah daun pohon ketapang dan menyinari wajah-wajah riang di sana. Suara tawa polos anak-anak menggema, memenuhi seluruh pekarangan sekolah, berbaur manis dengan suara deburan ombak dari kejauhan.
Untuk sesaat, Kael memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam. Semuanya terasa begitu damai. Sangat damai, hingga rasanya hampir tidak nyata. Seolah-olah seluruh dunia yang kejam dan berdarah di luar sana menghilang, menyisakan kebahagiaan sederhana yang tercipta di atas tanah Desa Sekar ini.
Di bawah langit biru itu, di antara tawa anak-anak dan kehangatan yang mengelilinginya, Kael tahu bahwa sesuatu di dalam dadanya telah runtuh, dan sebuah awal yang baru perlahan-lahan mulai mengubah arah hidupnya secara perlahan.
Bersambung