NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Isabella melempar kepalanya ke belakang, mencengkeram erat bahu kokoh Dominic saat bibir dan lidah pria itu mulai menjelajahi kulit lehernya yang sensitif.

Embusan napas Dominic yang panas membuat sekujur tubuh Isabella meremang. Rasa geli dan sensasi nikmat yang bergolak di dadanya membuat sebuah desahan halus tanpa sadar lolos dari bibirnya.

​"Ah... Dom..." lenguh Isabella lirih.

​Pikiran tentang kondisinya yang belum bisa berjalan dengan baik sempat melintas, memicu sedikit rasa cemas. Namun, cara Dominic memperlakukannya malam ini—begitu intens namun penuh kehati-hatian—membuat seluruh keraguan Isabella melebur begitu saja. Di bawah kuasa pria ini, ia selalu merasa utuh dan diinginkan.

​Mendengar desahan pertama istrinya, gairah Dominic semakin tersulut hebat. Otot-otot tubuhnya menegang. Sentuhan lembut Isabella di bahunya terasa seperti bahan bakar yang menyiram api yang sudah menyala di dalam dadanya.

​"Aku tidak akan menyakitimu, Sayang. Percayalah padaku," bisik Dominic serak tepat di depan bibir Isabella. Tatapan matanya yang menggelap total mengunci mati kesadaran sang istri.

​Tanpa menunggu lebih lama, Dominic menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan menuntut. Ia tidak lagi menahan diri, namun tetap memastikan posisinya tidak menekan kaki Isabella yang masih lemah.

 Lidahnya menyapu rongga mulut Isabella dengan dominasi penuh, menghisap dan mengecap setiap jengkal kemanisan yang selalu berhasil membuatnya candu.

​Isabella membalas ciuman itu dengan kepasrahan total. Kedua tangannya beralih menyusup ke dalam rambut hitam Dominic, meremasnya pelan seiring dengan ciuman mereka yang semakin memanas dan menuntut. Kamar utama yang sejuk itu seketika terasa gerah oleh atmosfer intim yang membakar.

​Tangan kekar Dominic mulai bergerak liar namun terukur. Ia menyusupkan telapak tangannya ke balik gaun tidur berbahan sutra yang dikenakan Isabella, mengusap kulit mulus pinggang istrinya, lalu perlahan naik ke atas. Setiap sentuhan tangan Dominic yang hangat meninggalkan jejak anyep yang membuat Isabella semakin merapatkan tubuhnya pada sang suami.

​Dengan satu gerakan perlahan yang penuh kehati-hatian terhadap kondisi fisik istrinya, Dominic menuntun tubuh Isabella untuk berbaring sepenuhnya di atas ranjang king size mereka.

 Ia ikut merangkak naik, memposisikan tubuh tegapnya mengungkung Isabella tanpa memberikan beban berat pada bagian bawah tubuh wanita itu.

​Napas keduanya berburu, saling berkejaran di antara keheningan malam. Dominic memutus ciuman mereka sejenak, memberikan ruang bagi Isabella untuk meraup oksigen, sementara matanya menatap liar lekuk tubuh istrinya yang begitu menggoda di bawah temaram lampu kamar.

​"Kamu milikku, Isabella. Selamanya hanya milikku," geram Dominic rendah sebelum kembali menunduk, menjatuhkan kecupan-kecupan panas yang menuntut ke arah dada istrinya, menenggelamkan mereka berdua dalam lautan gairah yang semakin memuncak malam itu.

Isabella hanya bisa mendesah pasrah, mencengkeram sprei ranjang dengan erat saat Dominic terus memberikan kecupan-kecupan panas yang semakin turun ke bawah. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Dominic terasa begitu intens, membakar seluruh akal sehat yang tersisa di dalam benak Isabella. Rasa hangat dan desiran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya benar-benar melupakan rasa sakit pada kakinya.

​Dominic yang bisa merasakan kepasrahan dan penyatuan istrinya, semakin kehilangan kendali diri. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati namun penuh tuntutan, tangan kekarnya mulai menyingkap gaun tidur sutra Isabella sepenuhnya. Ia memastikan posisi tubuhnya mengunci Isabella dengan sempurna tanpa memberi beban sedikit pun pada bagian bawah tubuh istrinya yang masih lemah.

​"Dom... pelan-pelan..." bisik Isabella dengan suara yang terputus-putus, napasnya memburu di sela-sela ciuman panas yang kembali Dominic daratkan di bibirnya.

​"Aku tahu, Sayang. Percaya padaku," jawab Dominic dengan suara yang sangat serak dan dalam, sarat akan gairah yang sudah berada di puncaknya.

Dominic tidak lagi memberi celah bagi Isabella untuk berpikir. Hasrat yang telah lama tertahan kini tumpah seutuhnya, membakar habis sisa-sisa udara di dalam kamar utama mereka. Suara gesekan kain sutra yang tersingkap kasar berpadu dengan deru napas Dominic yang semakin memberat, memenuhi keheningan malam dengan atmosfer yang begitu intim dan pekat.

​Dengan satu sentakan pelan namun penuh dominasi, Dominic mencengkeram kedua pergelangan tangan Isabella, membawanya ke atas kepala dan menguncinya di sana dengan satu tangan kekarnya. Gerakan itu mengunci gerakan Isabella sepenuhnya, membuat tubuh wanita itu melengkung pasrah di bawah kungkungan tubuh tegap sang suami.

​"Dom... emhh..."

​Isabella melenguh tertahan saat Dominic kembali merunduk, menenggelamkan wajahnya di antara ceruk leher dan tulang selangka istrinya. Ia tidak lagi sekadar mengecap; Dominic menggigit kecil kulit mulus di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang kemerahan, membuat Isabella meremang hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sensasi geli yang berganti menjadi letupan nikmat yang panas membuat jantung Isabella berdentang liar.

​"Kau sangat tidak sabar, hm?" bisik Dominic serak di sela-sela kecupannya. Suara baritonnya yang dalam terdengar begitu seksi di telinga Isabella, memicu desiran aneh yang semakin menuntut di bagian bawah perutnya.

​Dominic melepaskan cengkeraman tangannya, membiarkan jemari Isabella yang bebas langsung menyusup ke dalam rambut hitamnya, meremasnya dengan kuat sebagai pelampiasan atas rasa nikmat yang kian membuncah. Tangan kekar Dominic kini beralih menelusuri lekuk pinggang Isabella, meraba kulit hangatnya dengan tekanan yang pas, menuntun tubuh istrinya untuk semakin merapat tanpa menyentuh bagian kakinya yang masih lemah.

​Atmosfer di dalam kamar itu benar-benar mendidih. Setiap sentuhan tangan Dominic bagaikan api yang menyulut gairah Isabella hingga ke puncaknya. Isabella tidak lagi memikirkan kondisinya yang lumpuh; seluruh eksistensinya saat ini telah diambil alih sepenuhnya oleh dominasi mutlak suaminya.

​Dominic menatap wajah Isabella yang merona merah dengan mata yang sayu berair karena gairah. Pemandangan indah itu semakin meruntuhkan sisa kendali diri Dominic.

Ia menyatukan kembali bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih menuntut, kasar namun penuh perasaan, menghisap habis sisa napas Isabella seiring dengan penyatuan mereka yang semakin intens dan panas di atas ranjang mewah tersebut, mengabaikan dunia luar yang sedang carut-marut demi kepuasan malam ini.

Malam ini Dominic kembali mengambil hak nya sebagai seorang suami. Kalau bukan di malam hari mereka melakukan ini, kapan lagi.

Apalagi dirinya setiap hari bekerja.

Tapi malam ini Dominic bermian dengan lembut dan intens karena bagian bawah istrinya masih belum sepenuhnya pulih.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!